Lampu neon di ruang latihan agensi "The Origin" tidak pernah benar-benar padam, sama seperti ambisiku yang dulu menyala terang namun kini perlahan menjadi abu. Namaku Saras, setidaknya itu nama yang diberikan ibuku sebelum aku menjadi komoditas tanpa jiwa berkode A-7. Di Seoul yang sedingin es ini, aku bukan lagi gadis Jakarta yang bangga dengan kulit sawo matangnya. Aku adalah sebuah eksperimen estetika yang gagal.
Dua tahun lalu, aku terbang ke sini dengan harapan setinggi langit. Audisi global itu terasa seperti tiket keluar dari kemiskinan. Namun, yang kutemukan di Distrik Gangnam bukanlah kemuliaan, melainkan bengkel bedah plastik. "Wajahmu terlalu 'tropis', tidak menjual," ucap Mr. Park, kepala departemen pengembangan bakat, dengan nada sedingin pisau bedah. Dalam enam bulan, hidungku dipatahkan dan dibangun ulang, rahangku dikikis, dan kelopak mataku dijahit. Aku melihat ke cermin dan tidak menemukan Saras di sana. Hanya ada sebuah boneka porselen dengan mata kosong.
Latihan berlangsung dua puluh jam sehari. Kami hanya diberi makan satu butir telur rebus dan segelas air lemon untuk menahan lapar. Jika berat badanku naik seratus gram, pelatih tari akan memukul betisku dengan rotan hingga memar membiru. "Kau itu investasi, bukan manusia!" teriaknya. Namun, rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan pelecehan mental yang kuterima. Sebagai trainee asing, aku diperlakukan seperti warga kelas dua. Aku sering disuruh membersihkan toilet asrama oleh trainee lokal, sementara manajer hanya membuang muka.
Puncaknya terjadi saat musim dingin tahun lalu. Aku dipaksa menghadiri "jamuan privat" dengan para sponsor agensi di sebuah bar tersembunyi. Di sana, aku melihat sisi paling busuk dari industri ini. Gadis-gadis muda, yang beberapa di antaranya masih di bawah umur, dipaksa menuangkan minuman dan duduk di pangkuan pria-pria tua yang tangannya menjalar ke mana-mana. Saat aku menolak dan mencoba lari, Mr. Park menamparku di depan semua orang.
"Kau berutang miliaran pada kami untuk biaya operasimu, Saras! Kau milik kami!"
Malam itu, aku pulang ke asrama dengan langkah gontai. Salju turun lebat, tapi hatiku jauh lebih beku. Aku naik ke atap gedung agensi yang tinggi menjulang. Angin malam menusuk tulang, namun itu terasa melegakan dibandingkan sesak di dadaku. Aku berdiri di tepian beton, menatap lampu-lampu Seoul yang berkelap-kelip seperti mata iblis yang menagih janji.
Aku ingin mengakhirinya. Aku ingin melompat. Aku ingin Saras kembali, meski dalam bentuk jasad yang hancur di atas aspal. Aku sudah menggenggam botol obat tidur yang kukumpulkan diam-diam selama berbulan-bulan. "Maafkan aku, Ibu," bisikku sambil menangis sesenggukan. Namun, tepat saat aku hendak melangkah ke kehampaan, tanganku ditarik paksa. Bukan oleh malaikat, tapi oleh staf keamanan agensi yang memantau kamera CCTV.
Bukannya pelukan atau rehabilitasi yang kudapatkan, aku justru diseret ke ruang bawah tanah dan dipukuli karena dianggap "merusak aset agensi". Sejak hari itu, pengawasanku diperketat. Aku diberi obat penenang dosis tinggi setiap hari agar tetap patuh. Aku hidup seperti zombi yang dipaksa menari.
Hingga akhirnya, hari debut itu tiba. Aku diperkenalkan sebagai bagian dari girl group "MYTH". Tapi ada yang aneh. Suaraku di rekaman terdengar berbeda. Gerakanku di video klip tampak terlalu sempurna. Saat konser perdana, aku menyadari sesuatu yang mengerikan: aku tidak benar-benar menyanyi. Bahkan di balik panggung, ada sensor yang menempel di seluruh tubuhku.
Sebulan setelah debut, aku didepak secara brutal. Agensi mengumumkan bahwa aku mengalami gangguan jiwa dan mencoba bunuh diri, yang mana itu benar, namun mereka memutarbalikkannya seolah aku yang tidak bersyukur. Aku dipulangkan ke Jakarta dengan denda kontrak yang akan menghantuiku seumur hidup.
Tiga tahun aku hidup dalam bayang-bayang trauma di Jakarta. Hingga sore ini, adikku menunjukkan sebuah video musik terbaru dari grup K-Pop papan atas bernama "E-LIT".
"Kak, lihat member barunya, namanya Luna. Kok dia... mirip banget sama Kakak ya?"
Aku menatap layar ponsel itu. Jantungku serasa berhenti. Gadis itu, Luna, memiliki bentuk mata yang sama denganku. Hidung yang sama. Bahkan tahi lalat kecil di sudut bibirnya—tahi lalat yang menurut Mr. Park dulu harus dibuang—ada di sana, persis di posisi yang sama. Tapi yang membuatku benar-benar tercekik adalah suaranya. Itu adalah suaraku. Cengkok suaraku, warna vokalku yang unik, yang selama ini mereka klaim sebagai "cacat".
Aku teringat prosedur medis terakhir sebelum aku didepak. Mereka mengambil sampel sumsum tulang belakangku dan memindai seluruh struktur otak serta pita suaraku dengan alasan "pemeriksaan kesehatan rutin".
PLOT TWIST:
Aku berlari ke gudang, mencari berkas kontrak lamaku yang sempat kuselundupkan. Aku membuka halaman terakhir, di bagian syarat dan ketentuan yang tertulis dalam huruf Korea yang sangat kecil, yang dulu tak sempat kupahami. Aku menggunakan aplikasi penerjemah dan membacanya perlahan.
"Pihak agensi berhak penuh atas data biologis, representasi digital, dan kecerdasan buatan yang dikembangkan dari profil fisik serta vokal Trainee A-7. Dalam hal pemutusan kontrak, agensi berhak menggunakan teknologi Deep-Neural-Clone untuk memindahkan identitas performa ke subjek lain yang lebih kooperatif."
Duniaku runtuh. Gadis bernama Luna itu bukan manusia biasa. Dia mungkin seorang trainee lain yang wajahnya dioperasi total agar identik denganku, atau mungkin dia adalah produk CGI yang sangat sempurna. Agensi itu tidak hanya membuangku; mereka mengkloning jiwaku. Mereka mencuri semua penderitaanku, latihan keras belasan jamku, dan bakat alamiku, lalu memasukkannya ke dalam wadah baru yang tidak akan pernah mencoba bunuh diri atau melawan.
Aku melihat video itu lagi. Luna tersenyum ke kamera. Itu senyumku. Tapi mata itu... mata itu tidak memiliki rasa sakit yang kupunya. Dia adalah versi "sempurna" dari diriku yang mereka inginkan. Aku hidup, tapi eksistensiku sudah dicuri dan diperdagangkan di bawah lampu neon Seoul. Aku adalah sampah asli, sementara dia adalah berlian palsu yang dipuja dunia.
Aku tertawa histeris sambil merobek kertas kontrak itu. Di luar, hujan turun deras, membilas air mataku yang kini tak lagi berarti. Aku telah menjadi hantu di duniaku sendiri.