Mencintai Alester itu seperti memeluk patung marmer di tengah badai salju. Indah, agung, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang sumsum.
Namaku Elara. Usiaku dua puluh empat tahun, dan aku jatuh cinta pada pria yang berhenti menua di usia yang sama, tiga abad yang lalu.
Malam ini, hujan turun deras di luar jendela apartemenku di lantai dua puluh. Alester berdiri di balkon, membiarkan air hujan membasahi kemeja hitamnya. Dia tidak kedinginan. Tentu saja tidak. Suhu tubuhnya sudah sedingin suhu ruangan.
Aku berjalan mendekatinya, meletakkan tanganku di punggungnya yang lebar. Melalui kain kemejanya yang basah, aku tidak merasakan hangat. Aku hanya merasakan kekerasan otot yang diam, seperti batu.
"Kau tidak bernapas lagi, Al," bisikku.
Alester menoleh. Gerakannya cair dan terlalu anggun untuk manusia biasa. Wajahnya pucat, dengan tulang pipi yang tajam dan mata kelabu yang seolah menampung abu dari ribuan kota yang terbakar.
"Aku lupa," jawabnya datar.
Dia menarik napas buatan—sebuah kebohongan kecil untuk menenangkanku—lalu dadanya naik turun dengan irama yang dipalsukan.
"Masuklah, Elara. Nanti kau sakit."
Aku menggeleng, justru memeluk pinggangnya erat-erat, menempelkan pipiku ke dadanya yang sunyi. Tidak ada detak jantung di sana. Hening. Kontras sekali dengan jantungku sendiri yang berpacu cepat, memompa darah panas yang bisa kudengar berdesir di telingaku sendiri.
Darah yang dia inginkan, namun dia tolak mati-matian.
Alester adalah monster. Dia memberitahuku itu pada kencan ketiga kami, saat matanya berubah merah pekat karena mencium bau darah dari jariku yang tergores kertas.
Dia tidak menyerangku. Dia justru lari, menghilang selama seminggu, lalu kembali dengan wajah penuh penyesalan dan cerita tentang masa lalu yang kelam.
Tapi cinta itu bodoh. Cinta tidak peduli pada taring atau diet hemoglobin. Cinta hanya peduli pada bagaimana dia menatapku seolah aku adalah satu-satunya bintang di langit malamnya yang gelap.
Namun, malam ini berbeda. Aku menemukan uban pertamaku pagi tadi.
Satu helai rambut perak di antara hitam legam. Itu hal sepele bagi manusia biasa. Tapi bagi kekasih seorang abadi, itu adalah lonceng kematian.
"Al," panggilku, suaraku teredam di dadanya.
"Hmm?"
"Ubah aku."
Tubuh Alester menegang. Lebih keras dari sebelumnya. Dia melepaskan pelukanku perlahan, namun tegas, lalu memegang kedua bahuku. Matanya menatapku tajam, pupilnya mengecil.
"Jangan mulai lagi, Elara."
"Kenapa tidak?!" aku menuntut, air mata mulai menggenang.
"Lihat aku! Aku menua, Al! Setiap detik yang berlalu, sel-sel tubuhku mati. Aku berjalan menuju kuburan sementara kau... kau akan tetap seperti ini selamanya. Apa kau mau melihatku keriput? Apa kau mau melihatku mati?"
"Ya," jawabnya. Singkat. Kejam.
Aku tersentak, mundur selangkah. "Kau ... kau ingin aku mati?"
"Aku ingin kau hidup!" bentaknya. Suaranya menggelegar, membuat kaca jendela bergetar. Itu adalah pertama kalinya dia meninggikan suara padaku.
Alester memejamkan mata, menghela napas panjang tanpa udara. Dia mendekatiku lagi, kali ini dengan lembut, menangkup wajahku dengan tangan dinginnya.
"Elara, dengarkan aku. Keabadian bukanlah hadiah. Itu adalah kutukan. Itu adalah penjara waktu di mana kau dipaksa menonton semua yang kau cintai menjadi debu, lagi dan lagi, sampai kau lupa caranya menangis."
"Tapi aku mau bersamamu, selamanya," sergahku.
"Dan suatu hari nanti, kau akan membenciku karenanya," bisiknya pedih.
"Kau akan membenciku karena aku menahanmu di dunia ini saat jiwamu seharusnya sudah pulang. Kau akan bosan dengan bulan yang sama, matahari yang sama, dan rasa darah yang sama."
Dia menempelkan dahinya ke dahiku.
"Menjadi manusia itu indah, Elara. Karena kau punya akhir. Karena waktumu terbatas, setiap ciuman kita menjadi berharga. Jika kita punya selamanya ... ciuman ini tidak akan ada artinya lagi."
"Berhenti omong kosong!" Aku menangis, memukul dadanya lemah. "Aku tidak mau berpisah darimu! Aku takut sendirian di dalam tanah!"
Alester memelukku. Erat sekali. Seolah dia ingin menyerapku ke dalam dirinya.
"Kau tidak akan sendirian. Aku akan menjagamu. Dari detik ini sampai napas terakhirmu. Aku berjanji."
Janji itu ditepatinya.
Tahun-tahun berlalu dengan kejam. Waktu adalah pengukir yang sadis; dia memahat garis-garis halus di wajahku, memudarkan warna rambutku, dan membungkukkan tulang punggungku.
Sementara Alester? Dia tetaplah patung marmer berusia 24 tahun yang sempurna.
Saat aku berusia 40 tahun, orang-orang mulai mengira dia adalah adikku.
Saat aku berusia 50 tahun, mereka mengira dia adalah anakku.
Saat aku berusia 70 tahun, mereka mengira dia adalah cucuku yang sangat berbakti.
Kami pindah ke sebuah rumah terpencil di pinggir danau, jauh dari tatapan menghakimi masyarakat. Aku berhenti melihat cermin. Aku membenci pantulan diriku sendiri. Aku membenci kulitku yang kendur dan bintik-bintik tua di tanganku.
Setiap malam, aku tidur di sampingnya. Dia tidak tidur. Dia hanya berbaring, menatapku dengan tatapan memuja yang sama seperti saat aku masih muda.
"Berhenti menatapku," gumamku suatu malam, menarik selimut menutupi wajahku yang keriput. "Aku jelek. Aku tua. Aku bau tanah."
Alester menarik selimut itu turun dengan lembut. Dia mencium keningku, lalu kelopak mataku yang turun, lalu bibirku yang kering.
"Di mataku, kau masih gadis yang berdiri di tengah hujan di balkon apartemen itu," bisiknya. "Jiwamu tidak menua, Elara. Dan itulah yang kucintai. Darahmu masih bernyanyi lagu yang sama untukku."
"Kau pasti sangat lapar," kataku getir. "Menghabiskan 50 tahun tidur di sebelah makananmu tanpa pernah mencicipinya."
Alester tersenyum tipis. Taringnya sedikit terlihat—putih dan tajam.
"Kelaparan terbesarku bukan pada darahmu, Sayang. Tapi pada waktumu. Aku iri padamu. Kau hidup. Kau benar-benar hidup. Sementara aku hanya ... ada."
Hari itu akhirnya tiba.
Langit di luar berwarna abu-abu, mirip warna mata Alester. Aku berbaring di ranjang kami yang besar. Tubuhku seringan kapas.
Napasku berbunyi krek setiap kali aku menarik udara.
Kanker. Itulah nama pembunuhnya. Penyakit manusiawi yang memakan tubuh fana.
Alester duduk di tepi ranjang. Dia memegang tanganku. Tangan yang penuh tulang dan urat biru yang menonjol.
Dia tidak menangis. Tapi aku melihat keretakan di matanya. Aku melihat ribuan tahun kesedihan menumpuk di sana.
"Sudah waktunya ya, Al?" bisikku. Suaraku nyaris tak terdengar.
Dia mengangguk pelan. Dia mengangkat tanganku dan mencium punggung tangannya.
"Jangan takut. Aku di sini."
"Sakit, Al," rintihku. "Rasanya seperti tenggelam."
Alester menunduk. Wajahnya berubah. Topeng ketenangannya retak. Dia terlihat seperti anak kecil yang tersesat.
"Maafkan aku, Elara. Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkanmu. Maafkan aku karena aku pengecut yang tidak mau mengubahmu."
Aku tersenyum lemah. Dengan sisa tenaga terakhir, aku menyentuh pipinya yang dingin.
"Tidak ..." bantahku. "Kau benar. Terima kasih ... sudah membiarkanku menjadi manusia. Terima kasih ... sudah menemaniku sampai akhir."
Pandanganku mulai kabur. Ruangan menjadi gelap. Hanya wajah pucatnya yang masih terlihat bersinar.
"Al..."
"Ya, Cintaku?"
"Aku punya satu permintaan terakhir."
"Apa saja. Katakan."
Aku memiringkan leherku sedikit, memaparkan nadi karotisku yang berdenyut lemah. Denyut kehidupan yang akan segera berhenti.
"Minumlah," bisikku. "Ambil sisa hidupku. Jadikan darahku bagian dari keabadianmu. Dengan begitu ... aku akan selalu hidup di dalam dirimu. Kita akan bersatu, selamanya."
Mata Alester membelalak. Merah darah mulai menyebar di pupilnya. Naluri purbanya berteriak. Tapi dia menahan diri, tangannya gemetar hebat.
"Elara ... aku tidak bisa ..."
"Tolong," pintaku. "Jangan biarkan aku membusuk di tanah sendirian. Bawa aku bersamamu."
Air mata merah—darah—menetes dari sudut mata Alester. Vampir menangis darah saat jiwanya hancur.
Dia menunduk perlahan. Napas dinginnya menyapu leherku, membuatku merinding untuk terakhir kalinya. Bibirnya menyentuh kulitku, lembut sekali, seperti ciuman kupu-kupu.
"Aku mencintaimu, Elara. Dulu, sekarang, dan selamanya."
Lalu, aku merasakan ketajaman itu.
Dua titik tusukan.
Sakit, tapi hanya sedetik. Setelah itu, rasa hangat yang luar biasa.
Aku merasakan darahku mengalir keluar, berpindah dari tubuhku yang sekarat ke dalam tubuhnya yang abadi. Aku merasakan detak jantungku melambat.
Dug... dug...
Dug...
Rasanya seperti pulang. Aku tidak lagi merasa sakit. Aku tidak lagi merasa tua. Aku merasa ringan. Aku menjadi bagian dari dirinya.
Pandanganku menjadi hitam total. Suara terakhir yang kudengar adalah isak tangis Alester yang pecah, meraung memanggil namaku di ruangan yang sunyi.
Dan kemudian, tidak ada lagi waktu.
Tidak ada lagi detak.
Hanya keabadian yang sunyi, di mana aku mengalir dalam nadinya, menemani kesepiannya sampai akhir zaman.
Tamat.
TEMA 2: CINTA PENUH PERBEDAAN
[GC RUMAH MENULIS]