Lantai marmer putih di lobi kementerian ini masih sama dinginnya seperti sepuluh tahun lalu. Bedanya, dulu sepatuku adalah pantofel Italia seharga belasan juta yang langkahnya memicu sujud sembah para bawahan. Sekarang, aku berdiri di atas lantai yang sama dengan sepatu karet murah yang solnya sudah menipis, memegang nampan berisi lima cangkir kopi pesanan staf-staf muda yang bahkan belum lahir saat aku pertama kali menjabat sebagai eselon tinggi.
Namaku Walid Zamani. Dahulu, aku adalah kebanggaan sebuah pesantren besar di Jawa Timur. Aku adalah santri yang hafal ribuan bait Alfiyah, yang lidahnya fasih melantunkan ayat-ayat tentang amanah dan siksa neraka bagi pemakan harta anak yatim. Namun kini, aku hanyalah bayang-bayang kusam yang membusuk di pojok ruang administrasi.
Semua ini bermula dari satu kata yang menjadi racun bagi setiap manusia: khilaf. Sepuluh tahun lalu, saat aku pertama kali memegang kendali dana abadi umat, aku melihat angka-angka nol yang berderet tak berujung di layar monitor. Sebagai anak pesantren, aku tahu itu haram. Namun, iblis membisikkan pembenaran yang sangat halus: "Hanya pinjam sebentar untuk membesarkan yayasan pesantrenmu, Walid. Ini demi kemaslahatan." Satu geseran kecil, satu tanda tangan yang tersamar, dan beberapa miliar berpindah. Aku menyebutnya khilaf. Namun, syaitan adalah akuntan yang sangat teliti.
Khilaf itu berubah menjadi keenakan. Ketika tidak ada satu pun sistem audit yang mampu menyentuhku, ketika malaikat seolah menutup mata, aku merasa sedang berada dalam puncak istidraj. Aku, yang seharusnya paling paham tentang makar Tuhan, justru merasa diberkati oleh keberuntungan yang tak habis-habis. Aku merasa bahwa Tuhan sedang setuju dengan caraku, padahal Ia sebenarnya sedang mengulur tali yang akan menjerat leherku di kemudian hari.
Keenakan itu menemukan muaranya pada dua lubang hitam yang menghancurkan seluruh marwah kesantrianku: Maya dan meja judi online.
Maya adalah model majalah dewasa yang datang sebagai "konsultan" dalam sebuah acara kementerian. Lidahnya lebih manis dari madu, dan jemarinya lebih lincah daripada pemeriksa keuangan. Ia merayuku dengan bisikan yang membuatku lupa pada sarung dan peci yang pernah kupakai. "Mas Walid, orang sehebat kamu tidak pantas hidup kaku seperti di asrama dulu. Nikmati dunia, Mas," bisiknya di sela-sela malam-malam kami di hotel berbintang. Maya adalah selingkuhan yang tak pernah kenyang. Untuknya, aku membelikan apartemen penthouse, tas-tas kulit buaya yang harganya setara dengan biaya haji sepuluh orang, dan perhiasan yang kilaunya membutakan mata batinku.
Lalu ada judi online. Berawal dari mencoba satu putaran slot di ponsel untuk melepas penat rapat anggaran, aku terjebak dalam pusaran kecanduan yang brutal. Sensasi jantung yang berdegup saat layar menampilkan simbol-simbol digital itu jauh lebih memabukkan daripada debat kitab kuning mana pun. Aku merasa aman karena selama bertahun-tahun, perbuatanku lancar tanpa hambatan. Aku merasa kebal hukum. Aku merasa istidraj ini adalah bentuk perlindungan Tuhan, padahal itu adalah jebakan yang melenakan bagi santri murtad seperti aku.
Miliaran rupiah dana milik kakek-nenek penjual sayur, buruh tani, dan nelayan yang menabung puluhan tahun, berpindah hanya dalam satu ketukan jari di layar ponselku. Aku memasang taruhan ratusan juta dalam sekali putaran—seringkali di sela-sela waktu salat yang mulai kutinggalkan—sementara di luar sana, seorang nenek sedang menangis karena antrean hajinya mundur lima tahun lagi. Aku tidak peduli. Aku sudah kecanduan. Aku merasa aman dalam "keenakan" yang terkutuk ini.
Namun, seperti halnya judi, hidup pun punya titik game over.
Skandal itu meledak saat audit besar-besaran dilakukan. Semua "keenakan" itu berubah menjadi mimpi buruk yang dingin. Aku divonis dua belas tahun penjara. Hartaku disita habis hingga ke sendok terakhir. Istri sahku, wanita salihah pilihan kiai yang selama ini kubohongi, menceraikanku di sidang pertama dengan mata sembab yang menghujam jantungku. Maya? Ia menghilang membawa sisa perhiasan sebelum polisi sempat memasang garis kuning. Ia bahkan tidak pernah menoleh saat aku digiring menuju mobil tahanan.
Delapan tahun aku mendekam. Keluar dari penjara, aku adalah rongsokan manusia. Sekretaris Jenderal yang sekarang—dulu ia adalah staf magang yang sering kubentak dan kuhina—menaruh iba yang lebih menyakitkan daripada kebencian. Ia memberiku posisi sebagai staf administrasi honorer. "Hanya ini yang bisa saya bantu, Pak Walid. Untuk mengisi hari tua," ucapnya tanpa berani menatap mataku.
Kini, setiap hari adalah siksaan batin yang luar biasa. Tugas utamaku adalah memfotokopi berkas jamaah dan mengantar surat. Aku, yang dulu menentukan siapa yang berangkat dan siapa yang menunggu, kini harus berhadapan dengan mesin fotokopi yang berisik di pojok ruangan pengap yang berbau kertas tua.
Pagi ini, seorang nenek tua datang. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit, tangannya gemetar memegang map biru yang sudah kusam dan terbungkus plastik. Ia datang ke meja pelayanan depan tempatku berdiri menunggu surat untuk diantar.
"Nak, tolong dicek, tabungan saya sudah cukup belum ya? Saya sudah menabung tiga puluh tahun dari jualan sayur keliling. Saya ingin sekali menyentuh pintu Ka'bah sebelum nyawa saya diambil," ucapnya dengan suara serak yang penuh harap.
Aku mengambil berkasnya. Saat kubuka sistem di layar komputer—sistem yang dulu aku sendiri yang merancangnya untuk mempermudah pencurian dana—jantungku seolah berhenti. Nama Nenek Aminah ada di sana. Di kolom catatan, terdapat kode merah yang sangat kukenal. Itu adalah kode untuk dana yang "dialihkan" ke rekening pribadi penampungku sepuluh tahun lalu. Uang itu habis malam itu juga untuk menutupi kekalahanku di meja judi slot saat aku sedang bersama Maya.
Uang nenek ini sudah habis. Hangus dimakan oleh keserakahanku.
"Bagaimana, Nak? Apakah saya bisa berangkat tahun ini?" tanyanya lagi. Matanya yang berkaca-kaca menatapku seolah aku adalah malaikat pembawa kabar baik.
Tenggorokanku tercekat. Aku melihat tangan nenek itu—tangan yang kapalan, kuku-kuku yang hitam karena tanah pasar. Tangan itulah yang secara tidak langsung membayar tas Hermes Maya dan taruhan judiku yang sia-sia. Aku ingin bicara, tapi lidahku kelu. Aku melihat bayangan diriku di kaca meja pelayanan: seorang lelaki tua renta dengan seragam pegawai rendah yang kusam, tampak sangat hina.
Aku berjalan menuju ruang fotokopi di belakang, namun kakiku lemas. Di lorong sempit menuju gudang arsip, beban dosa itu terasa seperti gunung yang runtuh menimpaku. Aku jatuh terduduk di lantai yang berdebu. Pikiranku melayang pada setiap bait kitab Taqrib tentang pencurian yang pernah kuhafalkan, yang kini justru menghakimiku habis-habisan.
Aku bersujud. Di antara tumpukan kardus arsip dan mesin fotokopi yang mendengung, aku mencium debu lantai kementerian ini. Sujud ini bukan sujud syukur, tapi sujud karena kehancuran batin yang tak tertahankan. Dahiku menempel pada lantai marmer yang dingin dan berdebu. Aku menangis tanpa suara, bahuku terguncang hebat. Di kepalaku, suara riuh mesin judi, bisikan manja Maya, dan suara Talbiyah jamaah bercampur menjadi satu simfoni neraka.
Aku teringat saat-saat "aman" selama bertahun-tahun itu. Ternyata, itu bukanlah perlindungan, melainkan cara Tuhan menjatuhkanku dari tempat yang paling tinggi menuju lantai paling dasar. Aku baru sadar bahwa istidraj adalah bentuk kemurkaan-Nya yang paling halus namun mematikan. Tuhan membiarkanku merasa "enak" agar aku lupa cara bertaubat, hingga saat pembalasan tiba, aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk membela diri.
Di sinilah aku, Walid Zamani. Mantan santri, mantan penguasa, yang kini mencium debu di kaki orang-orang yang dulu kuhisap darahnya. Aku harus menghabiskan sisa hidupku melayani mereka yang kuhancurkan mimpinya. Setiap kali aku memberikan berkas kepada jamaah baru, aku merasa sedang menyerahkan pisau untuk menguliti diriku sendiri.
Tragis. Miris. Dan sangat ironis. Aku adalah bangkai yang masih bernapas, staf kementerian paling hina, yang terkubur hidup-hidup oleh tumpukan berkas dosa yang takkan pernah bisa kufotokopi menjadi pahala. Setiap kali aku pulang ke rumah petakku yang pengap, aku berharap tidak terbangun lagi besok pagi, namun Tuhan seolah ingin aku terus hidup untuk merasapi setiap detik kehinaan ini.
Aku mencium debu lagi. Lantai ini jauh lebih jujur daripada hidupku selama sepuluh tahun terakhir.