Dua minggu setelah hilangnya Maya, seorang jurnalis investigasi bernama Reno datang ke Bukit Duri. Reno tidak percaya pada hantu; ia percaya pada konspirasi, perdagangan manusia, atau skema pencucian uang. Baginya, rumah Kakek Rahman hanyalah sebuah kasus orang hilang yang dibalut oleh kearifan lokal yang menyesatkan. Ia datang membawa kamera saku dan sebuah alat pemindai struktur dinding yang biasa digunakan tim konstruksi.
Malam itu, Bukit Duri diguyur gerimis yang membawa bau karat dari rel kereta api. Reno berdiri di depan rumah yang kini tampak terlalu sempurna. Tidak ada satu pun debu yang menempel di dindingnya. Kayu pilar yang mengkilap seolah-olah baru saja dipoles dengan minyak manusia.
Reno masuk lewat pintu samping yang tidak terkunci. Di dalam, ia tidak menemukan Andra atau Maya. Rumah itu sunyi, namun suasananya tidak kosong. Ada tekanan udara yang berat, seperti berada di dalam paru-paru raksasa yang sedang menahan napas. Reno menyalakan alat pemindai dindingnya (wall scanner). Ia mulai menempelkan alat itu ke dinding ruang tamu.
Bip... bip... bip...
Layar digital menunjukkan kepadatan yang tidak wajar di dalam beton. Reno mengernyit. Bukannya pola kerangka baja, layar itu justru menampilkan struktur yang menyerupai susunan tulang rusuk manusia yang dirajut bersama kabel-kabel tembaga. Ia berpindah ke pilar utama. Di sana, pemindai itu menunjukkan sebuah bentuk lonjong: sebuah tengkorak manusia yang tertanam tegak lurus sebagai inti penopang atap.
"Gila... ini gila," bisik Reno. Ia segera mengeluarkan palu godam dari tasnya. Ia harus membuktikan ini bukan sekadar kerusakan teknis.
Ia menghantamkan palu itu ke dinding ruang tengah. Brak!
Seketika, sebuah jeritan melengking keluar bukan dari mulut manusia, melainkan dari sela-sela retakan tembok yang baru saja ia buat. Cairan merah kental, kental seperti aspal bercampur darah, merembes keluar. Dinding itu berdenyut. Reno terhuyung ke belakang. Dari balik lubang yang ia buat, ia melihat sebuah mata manusia yang masih berkedip, tertanam di antara bata dan semen. Mata itu adalah mata Maya.
"Maya?" suara Reno tercekat.
Namun, Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Mulutnya yang terjepit di antara susunan bata hanya bisa mengeluarkan suara gesekan kayu yang mengerikan. "Tolong... paku... lagi..."
Tiba-tiba, suara kereta api yang melintas di dekat bukit terdengar seperti raungan monster. Getarannya membuat rumah itu berguncang. Di saat itulah, Andra muncul dari kegelapan lorong dapur. Ia tidak lagi tampak seperti manusia. Kulitnya sudah berubah warna menjadi kusam seperti kayu jati, dan jari-jarinya telah menyatu dengan gagang palu berkarat.
"Jangan dirusak, Reno," bisik Andra. Suaranya kini terdengar seperti suara banyak orang yang bicara bersamaan—suara Kakek Rahman, suara orang-orang hilang sebelumnya, dan suara rumah itu sendiri. "Setiap lubang yang kau buat adalah luka bagi kami. Dan luka harus segera ditutup."
Reno mencoba lari, namun lantai kayu di bawah kakinya melunak seperti lumpur hisap. Kakinya terperosok masuk ke dalam sela-sela papan. Ia merasakan ribuan jemari kecil—mungkin jari-jari rayap gaib atau jari-jari tumbal terdahulu—mulai menarik celananya, menarik dagingnya ke bawah.
"Bukit Duri ini butuh penyeimbang, Reno," Andra mendekat dengan langkah kaku. "Tanah di bawah bukit ini terus bergeser karena dosa manusia di sekelilingnya. Rumah ini adalah pasak bumi. Jika kami berhenti membangun, bukit ini akan longsor dan menelan seluruh kampung. Kami tidak jahat... kami sedang menjaga kalian."
Andra mengangkat palunya tinggi-tinggi. Cahaya kilat dari luar jendela menyambar, menyinari wajahnya yang sudah retak-retak seperti porselen tua.
"Kau punya tulang yang kuat, Reno. Kau akan menjadi pilar penyangga yang bagus untuk balkon lantai dua."
Tok! Tok! Tok!
Suara itu bergema ke seluruh penjuru Bukit Duri. Warga di sekitar gang hanya menunduk, menutup telinga mereka dengan bantal, dan merapal doa yang sia-sia. Mereka tahu, selama suara palu itu terdengar, kampung mereka akan aman dari bencana. Kekayaan penguasa daerah, ketenangan pasar, dan keselamatan rumah-rumah mereka dibayar oleh suara palu di rumah Kakek Rahman.
Keesokan paginya, pemukiman Bukit Duri tampak tenang. Di depan rumah megah itu, seorang tukang koran meletakkan koran pagi yang memuat berita: "Seorang Jurnalis Investigasi Hilang Saat Menelusuri Kasus Urban Legend".
Koran itu tertiup angin dan tersangkut di pagar rumah. Di lantai dua, sebuah balkon baru telah selesai dibangun. Ukirannya sangat detail, menggambarkan wajah seorang pria yang sedang berteriak dalam diam, dengan urat-urat kayu yang membentuk pola kamera di dadanya.
Di dalam rumah, Andra duduk di kursi goyang yang terbuat dari tulang belulang yang telah dipernis rapi. Ia menatap dinding yang kini bicara padanya dalam ribuan bisikan. Ia bukan lagi tawanan; ia adalah bagian dari orkestra abadi.
Tok... Tok... Tok...
Suara itu akan terus terdengar selama manusia masih mencintai harta lebih dari nyawanya sendiri. Kandang Bubrah tidak pernah benar-benar selesai dibangun. Karena keserakahan manusia adalah material bangunan yang tak pernah habis. Dan di Bukit Duri, pembangunan baru saja dimulai untuk pewaris-pewaris selanjutnya.
Selesai.