Lantai marmer rumah itu tidak lagi terasa dingin, namun atmosfer di dalamnya mendadak mencekam saat bel pintu berbunyi di suatu sore yang tenang. Nayila, yang baru saja melepas jas putihnya setelah giliran jaga panjang, mendapati seorang wanita berdiri di ambang pintu dengan keanggunan yang mematikan. Wanita itu bernama Claudia, mantan kekasih Arlan dari masa lalu, seorang model internasional yang pernah meninggalkan Arlan tepat saat pria itu berada di titik terendahnya setelah kematian orang tuanya.
Claudia masuk tanpa diundang, aroma parfumnya yang menyengat seolah mencoba mengusir aroma eukaliptus lembut yang biasa Nayila bawa. "Jadi, ini gadis kecil yang menggantikanku?" ucap Claudia sambil menatap Nayila dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Kudengar kau 'merawat' Arlan. Tapi perlu kau tahu, Sayang, dokter hanya bisa menyembuhkan luka, bukan mengisi hati yang sudah sejak lama menjadi milikku."
Kehadiran Claudia menjadi badai baru. Ia mulai masuk ke dalam kehidupan bisnis Arlan, menggunakan relasi lama keluarga mereka untuk sering bertemu dengan Arlan. Claudia adalah manipulasi yang nyata; ia tahu persis titik lemah Arlan. Ia sengaja mengirimkan foto-foto masa lalu mereka ke ponsel Arlan, atau muncul di kantor Arlan dengan dalih urusan yayasan, mencoba memancing memori lama yang belum tuntas.
Nayila mulai merasakan insecure. Di rumah sakit, ia adalah dokter yang tangguh, namun di depan Claudia, ia merasa seperti gadis desa yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kelas atas Arlan. Kecemasan Nayila memuncak saat ia melihat Arlan pulang larut malam dengan aroma parfum Claudia yang menempel di jasnya.
"Kenapa kau membiarkan dia mendekat, Arlan?" tanya Nayila dengan suara bergetar suatu malam. "Apa kau merindukannya? Apa karena dia tahu dirimu sebelum kau hancur, sedangkan aku hanya tahu dirimu saat kau rusak?"
Arlan tertegun, matanya menatap Nayila dengan rasa sakit yang mendalam. Namun, sebelum Arlan sempat menjawab, Claudia melakukan langkah terakhirnya. Ia menelepon Arlan, berpura-pura sedang diserang perampok di apartemennya—sebuah skenario jahat yang ia tahu akan memicu trauma masa kecil Arlan untuk menarik pria itu datang kepadanya.
Arlan panik dan segera menuju apartemen Claudia. Nayila, yang merasa ada yang tidak beres, mengikuti dari belakang. Di sana, ia mendapati Claudia sedang memeluk Arlan yang mulai gemetar ketakutan karena teringat memori perampokan orang tuanya. Claudia berbisik manis, "Lihat, Arlan, hanya aku yang ada di sini saat kau takut. Gadis dokter itu hanya ingin mempelajari penyakitmu, tapi aku mencintai jiwamu."
Namun, Claudia meremehkan satu hal: kekuatan seorang penyembuh.
Nayila melangkah masuk dengan tenang. Ia tidak menjerit atau menjambak rambut Claudia. Ia berjalan ke arah Arlan, meraih tangan suaminya, dan menekan titik nadi di pergelangan tangan Arlan dengan lembut namun tegas—sebuah teknik medis untuk menenangkan saraf.
"Claudia," ucap Nayila dengan suara dingin dan profesional. "Sebagai dokter, aku bisa mendiagnosa bahwa kau menderita gangguan kepribadian narsistik. Dan sebagai istri, aku tahu bahwa suamiku tidak butuh masa lalu yang meninggalkannya saat ia berdarah. Ia butuh masa depan yang bersedia ikut berdarah bersamanya."
Nayila menatap Arlan tepat di matanya. "Arlan, bangun! Ini bukan rumah orang tuamu. Ini hanya apartemen seorang wanita yang putus asa. Kau tidak sendirian lagi."
Seketika, Arlan tersentak. Ia melepaskan pelukan Claudia dengan kasar hingga wanita itu terjatuh. Arlan berdiri di samping Nayila, menggenggam tangan istrinya erat-erat. Ketakutan di matanya berganti menjadi kemarahan yang terkendali.
"Claudia," suara Arlan berat dan rendah. "Kau adalah bagian dari penyakit yang hampir membunuhku. Nayila adalah satu-satunya alasan aku masih ingin hidup. Jika kau muncul sekali lagi, aku akan pastikan kariermu hancur sebusuk hatimu. Keluar!"
Claudia pergi dengan wajah pucat dan rasa malu yang tak tertahankan. Di apartemen yang sunyi itu, Arlan berlutut di depan Nayila, menyembunyikan wajahnya di perut istrinya. "Maafkan aku, Nay. Aku sempat goyah karena memori itu, bukan karena dia."
Nayila mengusap kepala Arlan, tersenyum kecil meski hatinya masih sedikit perih. "Sudahlah. Tapi sebagai hukumannya, kau harus belajar anatomi jantung bersamaku semalam suntuk. Aku ingin kau tahu bahwa jantungmu itu sudah terdaftar secara permanen atas namaku."
Arlan terkekeh, mengangkat wajahnya dan mencium bibir Nayila dengan penuh gairah. "Hanya anatomi jantung? Bagaimana dengan praktik biologi lainnya, Dokter?"
Malam itu berakhir dengan tawa dan kemesraan yang lebih kuat dari sebelumnya. Kehadiran pelakor justru menjadi bumbu yang membuktikan bahwa tidak ada masa lalu yang cukup kuat untuk meruntuhkan cinta yang dibangun di atas kesembuhan dan ketulusan. Mereka kembali ke rumah, menyadari bahwa di balik setiap gangguan, cinta mereka telah mencapai dosis yang sempurna—tak tertandingi dan tak terpisahkan.