Aku tidak pernah bisa tahan melihat noda. Satu tetes saus di atas meja marmer, atau bekas sidik jari di gagang pintu perak, bagiku adalah teriakan yang memekakkan telinga. Mungkin itu sebabnya Jeffrey memilihku. Di Little St. James—pulau yang oleh orang lokal dijuluki sebagai "Pulau Pedofil"—aku bukan sekadar pengurus rumah tangga. Aku adalah hantu yang memastikan bahwa setelah badai nafsu para elit mereda, ruangan itu kembali suci, putih, dan tak berjejak.
Namaku Elias. Sekarang aku tinggal di sebuah kabin terpencil di Nome, Alaska. Di sini, salju adalah sahabat terbaikku; ia menutupi segalanya dengan warna putih yang sempurna. Aku menderita OCD akut. Setiap pagi, aku menghabiskan tiga jam hanya untuk menyikat lantai kabinku dengan pemutih hingga paru-paruku perih.
Gen Z di internet menyebut kasus Jeffrey sebagai teori konspirasi terbesar abad ini. Mereka memburu "Buku Hitam", mereka mencari nama-nama artis dan politisi. Mereka pikir mereka tahu segalanya lewat utas di X atau video TikTok berdurasi satu menit. Lucu sekali. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya membersihkan sisa-sisa "pesta" di kamar bawah tanah yang dindingnya dilapisi kedap suara.
Ponsel satelitku bergetar di atas meja kayu yang sudah kusikat licin. Sebuah pesan masuk. Hanya satu kata: "KOTOR."
Jantungku berdegup. Itu adalah kode. Sejak Jeffrey "bunuh diri" di selnya—kejadian yang kita semua tahu adalah lelucon paling tidak lucu di dunia—mantan pegawai Little St. James mulai menghilang. Sarah, si resepsionis, tewas karena rem blong di Malibu. Marcus, si pilot jet Lolita Express, ditemukan gantung diri di garasinya. Publik mengira itu adalah operasi "pembersihan" oleh kaum elit. Mereka takut rahasia itu bocor.
Aku pun merasa diikuti. Setiap kali aku melihat bayangan di balik jendela kabinku yang beku, aku merasa mereka datang untukku. Aku adalah pemegang rahasia terakhir. Aku tahu siapa saja yang datang ke pulau itu tanpa tercatat di manifes penerbangan.
Malam ini, badai salju mengamuk. Aku mendengar suara langkah kaki di atas dek kayu di luar. Ini dia, pikirku. Mereka akhirnya datang untuk membungkam sang pembersih. Aku mengambil sepucuk Glock dari laci meja, tanganku gemetar—bukan karena takut mati, tapi karena aku melihat ada noda debu di laras senjataku. Aku harus membersihkannya dulu. Aku harus sempurna saat ajal menjemput.
Pintu kabinku didobrak. Dua orang pria bertopeng hitam masuk dengan senjata peredam suara.
"Elias," salah satu dari mereka mendesis. "Waktunya membersihkan noda terakhir."
Aku mengangkat senjataku, tapi tiba-tiba pria itu menurunkan senjatanya. Ia melepas topengnya. Ternyata itu adalah Sarah. Sarah yang diberitakan tewas di Malibu. Di belakangnya stands Marcus, si pilot yang harusnya sudah membusuk di liang lahat.
"Kalian... masih hidup?" bisikku.
"Tentu saja," Sarah tersenyum, senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Kami tidak pernah mati, Elias. Kami hanya 'diperbarui'. Dan sekarang, giliranmu untuk menyelesaikan tugas terakhirmu."
Aku bingung. "Tugas apa? Aku sudah diam selama bertahun-tahun!"
Sarah berjalan mendekat, ia mengeluarkan sebuah tablet transparan dan menunjukkannya padaku. Di layarnya, ada daftar nama. Daftar itu bukan berisi nama politisi atau miliarder. Daftar itu berisi nama-nama aktivis muda, jurnalis investigasi, dan para pembuat konten media sosial yang paling gencar membongkar kasus Epstein tahun ini.
"Kau pikir Jeffrey itu adalah bosnya?" Sarah tertawa kecil, suara yang membuat bulu kudukku berdiri. "Jeffrey hanyalah 'umpan'. Dia adalah algoritma yang diciptakan untuk mengumpulkan semua orang kotor di satu tempat agar mereka bisa dikendalikan. Tapi sekarang, ada noda baru. Orang-orang yang terlalu banyak bertanya. Para 'pahlawan' keadilan di internet itu."
Otakku berputar. Mind blowing. Selama ini, aku pikir aku adalah korban yang bersembunyi.
"Dunia butuh pembersihan berkala, Elias," ucap Marcus sambil menyerahkan sebuah tas hitam berisi cairan kimia yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Kami bukan pegawai Jeffrey. Kami adalah unit pembersih global. Jeffrey hanyalah salah satu 'proyek' yang sudah kadaluwarsa, jadi kami menghapusnya. Sekarang, tugasmu adalah membersihkan mereka yang mencoba menggali kuburannya."
Aku menatap cermin di dinding kabinku. Tiba-tiba, memori yang selama ini terkunci rapat meledak di kepalaku. Aku melihat diriku sendiri, bukan sedang membersihkan tumpahan minuman, melainkan sedang menyuntikkan sesuatu ke leher Jeffrey di dalam sel penjara yang gelap. Aku melihat diriku sedang memotong kabel rem mobil Sarah. Aku melihat diriku sedang memasang tali jemuran di leher Marcus.
Aku bukan bersembunyi dari para eksekutor. AKU ADALAH EKSEKUTORNYA.
Setiap kali aku "membersihkan" rekan-rekanku, organisasi ini menghapus memoriku dan memberiku identitas baru sebagai "pelarian yang paranoid" agar aku tetap waspada dan tidak terdeteksi. Rasa OCD-ku? Itu adalah efek samping dari pemrograman mental agar aku tidak meninggalkan jejak sekecil atom pun di setiap lokasi pembunuhan.
Pesan "KOTOR" di ponselku bukan berarti aku dalam bahaya. Itu adalah perintah kerja.
Sarah dan Marcus di depanku? Mereka bukan manusia. Mereka adalah proyeksi AR (Augmented Reality) dari pusat kendali yang dikirim ke lensa kontak pintarku untuk memberiku instruksi baru.
Aku menurunkan pistolku. Rasa takutku hilang, digantikan oleh kepuasan dingin yang aneh. Aku melihat daftar target di tablet itu. Seorang YouTuber terkenal yang baru saja merilis dokumenter tentang Epstein berada di urutan teratas.
"Target teridentifikasi," ucapku, suaraku kini datar tanpa emosi.
Aku mengambil lap mikrofiber dari kantongku, mengelap sidik jariku di gagang pintu dengan gerakan refleks yang sempurna. Aku sangat suka kebersihan. Dan malam ini, dunia akan menjadi sedikit lebih bersih.
Aku melangkah keluar ke dalam badai salju. Elias si pengurus rumah tangga sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah sang Pembersih. Dan noda di dunia ini... masih sangat banyak.