Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Gelar Senior Tertua
Wan Ju perlahan-lahan bangkit dari duduknya dan melangkah menuju Han Chuan. Mode Fondasi Dewanya sudah hilang. "Han Chuan, sekarang aku akui kamu memang hebat," ujarnya sambil mengulurkan tangan. "Dan sekarang kau adalah senior tertua di Akademi Heiyun," sambungnya lagi, lalu menarik Han Chuan untuk berdiri.
Para murid bersorak lantang. "Senior Han Chuan! Senior Han Chuan! Kau sangat hebat!" teriakan mereka bergema, disertai tepuk tangan yang memenuhi arena. Suara dentingan senjata dan gema langkah masih terasa di udara, menyisakan getar setelah pertarungan.
Xue Lin mendekati mereka berdua. Ia memandang Han Chuan dan Wan Ju, lalu menggelengkan kepala serentak. "Kalian berdua tidak apa-apa kan?" tanyanya. Mendengar itu, Xue Lin menghela napas lega. "Untunglah kalian tidak apa-apa. Dan Han Chuan, teknikmu sangat luar biasa," ujarnya dengan mata berbinar.
Dari belakang terdengar langkah kaki mendekat. Seorang guru datang menghampiri mereka. "Han Chuan, kau memang hebat. Sekarang Akademi Heiyun tak lagi bisa mengajarkan banyak hal padamu. Ke depannya, carilah pengalaman sendiri dan kembangkan dirimu tanpa bimbingan siapa pun," kata sang guru.
"Terima kasih, guru. Untuk ke depannya saya akan mencari pengalaman sendiri. Tentunya terima kasih juga kepada semua guru yang sudah memberi bimbingan kepada kami di sini saya tidak akan sampai di tahap ini tanpa bantuan guru," jawab Han Chuan sambil membungkuk.
Sang guru hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kami para guru hanya mengajarkan dasarnya saja. Kau yang membangunnya sendiri dari dasar hingga sekarang, tentunya dengan bakatmu sendiri," balasnya.
"Terima kasih, guru, atas bimbingannya," ucap Han Chuan sekali lagi sambil membungkukkan badan.
Sementara itu, Bai Ling yang mendengar semuanya dari kejauhan pergi meninggalkan akademi tanpa diketahui siapa pun. "Han Chuan... aku akan melakukan apa pun untuk membunuhmu," gumamnya sambil melangkah keluar dari gerbang akademi.
Setelah berbincang-bincang sedikit dengan Wan Ju dan juga Xue Lin, Han Chuan memutuskan untuk pulang ke kediaman keluarga Han. “Hmm, sepertinya ada sesuatu yang berubah di ruang kesadaranku... tapi apa ya? Aku harus cepat kembali untuk memeriksanya,” ucap Han Chuan sambil berlari cepat ke arah kediamannya.
Begitu sampai, ia langsung menuju ke ruang pribadinya
tempat yang hanya diketahui olehnya sendiri. Ia meletakkan pedangnya di samping, lalu menempelkan dua jarinya di dahi. Dalam sekejap, kesadarannya masuk ke ruang ruang kesadaran milik nya
Di hadapannya tampak bola energi berwarna biru yang sebelumnya hanya bersinar lembut. Namun kini, ada sesuatu yang berbeda. Han Chuan menatapnya tajam, matanya membulat kaget. “Sekarang ada bentuknya... tapi kenapa bentuknya seperti anak bayi ya?” gumamnya sambil terus memperhatikan dengan saksama.
Ia menghela napas panjang. “Hahhh, sudahlah. Aku juga tidak tahu ini apa. Mungkin latihan sedikit juga bagus untuk menyempurnakan teknikku,” ucapnya pelan.
Sebuah pedang muncul dalam genggamannya dengan suara clang! yang tajam dan bergetar ringan. “Sekarang waktunya berlatih,” katanya tegas.
Han Chuan lalu menyalurkan energi spiritualnya, menciptakan bayangan-bayangan hitam di udara. Dalam sekejap, ratusan binatang iblis dan monster muncul makhluk-makhluk buas yang dulu pernah menyerang desanya. Mereka menggeram, mengeluarkan suara raungan mengerikan yang menggema di ruang latihan itu.
“Sekarang waktunya berlatih!” teriak Han Chuan, matanya bersinar tajam.
Pedangnya berputar cepat, mengeluarkan cahaya kebiruan saat menebas udara. Srak! Bam! Crang! Suara benturan senjata dan jeritan monster memenuhi ruangan. Darah hitam ciptaan menguap di udara seperti kabut. Han Chuan bergerak gesit, tubuhnya berkelip seolah lenyap lalu muncul kembali di belakang musuh, menebas tanpa ragu.
Seekor iblis bertanduk besar melompat menyerangnya dari sisi kanan. Han Chuan memutar pedang dan menebasnya dari bawah ke atas. Swiiing! Tubuh iblis itu terbelah dua, menghilang menjadi asap hitam.
Beberapa serangan sempat mengenainya cakar iblis menggores bahunya, darah menetes sedikit. Namun luka itu langsung menutup kembali dengan kilatan cahaya biru dari tubuhnya.
“Bagus... ini baru latihan yang layak,” ucap Han Chuan dengan senyum tipis. Ia melompat tinggi, menghunus pedangnya ke depan, lalu menyalurkan energi spiritual penuh ke dalam bilahnya."Teknik Rahasia: Lukisan Dalam Pedang! Tebasan Musim Gugur "
Tebasan biru bergaris hitam langsung bergerak dengan cepat Bumm! Cahaya biru menyilaukan meledak, menghancurkan seluruh iblis dan monster ciptaannya dalam satu tebasan besar. Han Chuan berdiri dengan tenang dan mengatur nafas nya.
“Latihan untuk hari ini selesai,” ujarnya pelan sambil mengayunkan pedangnya dan pedang di tangan nya menghilang dari genggaman nya menjadi butiran cahaya biru
Matanya kembali menatap ke arah bayi yang berada di dalam bola energi biru itu. Han Chuan tersenyum tipis. “Saatnya keluar dari sini,” ucapnya pelan sambil menempelkan jarinya di dahi. Dalam sekejap, kesadarannya kembali ke tubuh.
“Hahh… sangat melelahkan. Hari juga sudah malam, lebih baik aku tidur sekarang,” gumamnya, lalu merebahkan tubuh di lantai dan menutup mata perlahan.
Sementara itu, di kediaman keluarga Yan, suasana malam terasa hening. Di dalam sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya lentera hijau, seorang kakek tua duduk bersila. Aura berwarna hijau berputar lembut di sekeliling tubuhnya. Dia adalah Yan Long, pemimpin keluarga Yan.
Perlahan-lahan, matanya terbuka. Tatapannya tajam menembus kegelapan menuju arah pintu, karena ia mendengar langkah kaki mendekat. “Siapa yang berani menggangguku saat berlatih?” gumamnya dengan nada kesal.