Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Yudiz tidak ingin mengambil risik dan ia tetap membawa istrinya ke rumah sakit untuk memastikan tidak ada infeksi.
Di sepanjang jalan, Rani hanya terdiam, memandangi tangannya yang kini dibalut kasa putih.
Ia merasa seperti pecundang yang baru saja jatuh di tikungan paling mudah.
Sesampainya di ruang pemeriksaan, dokter membersihkan luka tersebut dengan cairan khusus yang membuat Rani meringis menahan perih.
"Luka bakarnya derajat dua, tapi untungnya tidak terlalu dalam," ujar Dokter sambil merapikan perban baru.
"Ini saya resepkan salep khusus. Tolong, selama beberapa hari ke depan, luka ini jangan sampai terkena air dulu ya, apalagi sabun. Biarkan kering sendiri."
Rani mengangguk patuh, wajahnya tertunduk lesu.
Setelah menyelesaikan administrasi, mereka berjalan menuju parkiran rumah sakit.
Udara siang mulai terasa panas, namun genggaman tangan Yudiz di bahu Rani terasa begitu hangat.
"Maafkan aku, Abi. Aku benar-benar istri yang merepotkan. Baru dua hari nikah, aku sudah bikin dapurmu berasap dan sekarang malah merepotkanmu ke rumah sakit," ucap Rani lirih saat mereka sudah di dalam mobil.
Yudiz menoleh, menatap Rani yang tampak begitu rapuh di balik hoodie besarnya.
Ia tersenyum tipis, senyum tulus yang meruntuhkan sisa-sisa kemarahan di hatinya.
"Sudah kubilang, kan? Luka ini lebih sakit buatku daripada cuma sekadar direpotkan. Jangan dipikirkan lagi."
Tiba-tiba, ponsel Yudiz bergetar di saku jasnya. Nama "Lilis" muncul di layar. Yudiz menekan tombol loudspeaker.
"Assalamualaikum, Mas Yudiz! Besok di pondok ada acara syukuran khataman santri, Abi sama Umi minta tolong banget. Besok Mbak Rani datang ya? Ajak Mbak Rani bantu santriwati di dapur buat adonan kue apem. Biar makin akrab sama lingkungan pondok, Mas!" suara Lilis terdengar sangat bersemangat dari seberang telepon.
Yudiz terdiam sejenak, melirik tangan kanan Rani yang terbungkus perban.
Ia tahu Rani sangat ingin membuktikan diri setelah kejadian di dapur tadi, tapi instruksi dokter sangat jelas.
"Waalaikumsalam, Lilis. Rani akan datang besok, tapi jangan diminta menyentuh adonan atau pekerjaan dapur dulu ya," jawab Yudiz tenang.
"Loh, kenapa Mas? Kan seru kalau Mbak Rani ikut nimbrung masak apem bareng santriwati. Biar nggak kaku, Mas!" tanya Lilis bingung.
Yudiz menarik napas panjang, kemudian menceritakan kejadian di dapur tadi secara singkat, termasuk luka bakar yang dialami Rani.
"Tangannya kena api barusan, Lis. Dokter melarang lukanya terkena air atau kotoran. Jadi, besok biarkan dia duduk menemani kalian saja, jangan diberi tugas berat."
Di seberang telepon, suara Lilis mendadak berubah prihatin.
"Ya Allah, Mbak Rani! Maafin Lilis ya, Mbak, Lilis nggak tahu. Ya sudah, besok Mbak Rani duduk manis saja di samping Lilis, jadi mandor bagian icip-icip kue apem saja. Oke?"
Rani tersenyum kecil mendengar ocehan adik iparnya.
"Iya, Lis. Makasih ya."
Setelah telepon ditutup, Yudiz menatap Rani lekat-lekat.
"Besok jangan dipaksakan. Kalau kamu merasa perih, kita pulang. Mengerti?"
Rani menganggukkan kepalanya saat mendengar perkataan dari suaminya.
"Mengerti, Abi. Tapi, kalau besok aku datang ke pondok cuma buat duduk manis, apa nggak makin bikin Nyai Salmah curiga kalau aku ini menantu yang manja?"
Yudiz menggenggam tangan kiri Rani yang tidak terluka.
"Umi tidak akan bicara apa-apa kalau aku yang berdiri di depanmu. Tugasmu besok cuma satu: sembuh."
Mobil Yudiz meluncur pelan meninggalkan area rumah sakit.
Perut Rani mulai mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring di dalam kabin mobil yang sunyi.
Ia baru sadar, sejak keributan di dapur semalam hingga insiden "masak sawi" pagi tadi, lambungnya benar-benar belum terisi makanan berat.
Yudiz melirik ke arah Rani sambil tersenyum menggoda.
"Sepertinya ada yang sedang protes di dalam sana," ucapnya sambil mengisyaratkan ke arah perut Rani.
Rani merona, menutupi perutnya dengan tangan yang tidak diperban."Ya... namanya juga manusia, Abi. Butuh bensin juga buat jalan."
"Baiklah, karena 'mesin'mu sudah hampir habis energinya, kita cari makan dulu sebelum pulang ke rumah," ujar Yudiz. Ia memutar kemudi menuju kawasan kuliner yang cukup tenang, jauh dari hiruk-pikuk sirkuit maupun pesantren.
Yudiz menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran keluarga yang tampak asri dengan banyak pepohonan. Restoran itu terkenal dengan masakan rumahan yang sehat.
"Kenapa ke sini? Aku kira kita mau makan di pinggir jalan yang banyak micinnya," gumam Rani saat melihat papan nama restoran tersebut.
"Ingat kata dokter tadi? Kamu butuh nutrisi untuk pemulihan jaringan kulitmu. Micin tidak akan membantumu sembuh lebih cepat, Sayang," jawab Yudiz tenang sambil turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rani.
Mereka duduk di sudut ruangan yang cukup privat. Yudiz memesan sup ayam jahe, ikan bakar tanpa banyak kecap, dan sayuran segar. Rani hanya menurut, meski matanya sempat melirik daftar menu mie goreng spesial yang sangat menggoda.
Saat makanan datang, aroma sup yang hangat langsung menusuk hidung. Namun, Rani tampak kesulitan. Ia mencoba memegang sendok dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih terasa kaku dan perih jika digerakkan. Sendok itu bergetar, dan potongan wortel jatuh kembali ke dalam mangkuk.
Rani mendengus kesal. "Sirkuit bisa kutaklukan, tapi kenapa cuma mau makan sup saja susahnya minta ampun!"
Tanpa banyak bicara, Yudiz menggeser kursinya lebih dekat ke arah Rani. Ia mengambil alih sendok di tangan kiri istrinya, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyendokkan kuah sup dan meniupnya pelan agar tidak terlalu panas.
"Ayo, buka mulutmu," ucap Yudiz pelan.
"Abi, aku bukan anak kecil. Malu dilihat pelayan."
"Tidak ada orang yang memperhatikan kita. Lagi pula, menyuapi istri itu dapat pahala, lho. Kamu mau menghalangi suamimu dapat pahala?" goda Yudiz dengan senyuman khasnya.
Rani akhirnya menyerah dan ia membuka mulutnya pelan, menerima suapan demi suapan dari suaminya.
Rasa hangat jahe dan sari pati ayam menyebar di tenggorokannya, namun kehangatan yang menjalar di hatinya jauh lebih besar.
"Enak?" tanya Yudiz sambil membersihkan sedikit kuah di sudut bibir Rani dengan tisu.
"Enak," jawab Rani singkat, wajahnya menunduk karena jantungnya kembali berdegup kencang.
"Laki-laki ini benar-benar berbahaya. Dia bisa membuatku lupa kalau aku ini pembalap sangar hanya dengan satu sendok sup." gumam Rani.
Selesai menyuapi istrinya, gantian Yudiz yang menikmati makanannya.
Setelah selesai makan, tenaga Rani tampak sedikit pulih.
Yudiz membayar tagihan dan mereka berjalan kembali ke mobil.
"Abi," panggil Rani sesaat sebelum masuk ke mobil.
"Ya?"
"Makasih ya, Bi buat semuanya. Buat luka ini, buat supnya, dan maaf karena semalam sempat minta kamu jadi 'sepupu' di depan Galang. Aku tahu itu salah," ucap Rani dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Yudiz menghentikan gerakannya, ia menatap Rani di bawah lampu jalanan yang remang.
"Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu minta maaf. Tapi berjanjilah, mulai besok, jangan ada rahasia lagi di antara kita."
"Iya, janji." ucap Rani sambil menganggukkan kepalanya..