Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Zahra Mulai Melawan
Zahra tahu, diam terlalu lama akan selalu disalahartikan sebagai pengakuan.
Pagi ini, ponsel ku bergetar tanpa henti, layarnya terus menyala, lalu mati, lalu menyala kembali..
Pesan masuk bertubi-tubi, dari kerabat jauh yang hanya muncul saat ada kabar miring, dari tetangga lama yang dulu sering tersenyum ramah, bahkan dari orang-orang yang nyaris tak pernah benar-benar peduli pada ku
("Zahra kamu kenapa sih sama suami mu, katanya kamu ninggalin rumah tanpa izin, masalah rumah tangga kok diumbar ke orang tua? Istri itu harus sabar, jangan egois")
Zahra menutup mata, dadanya terasa sesak, bukan karena ia merasa bersalah, melainkan karena ia tahu cerita itu sudah dipelintir, dirapikan, dan disebarkan dengan rapi...
Sebuah narasi yang sengaja dibangun untuk menjadikannya tokoh antagonis..
Aku menarik napas panjang, lalu membuka media sosial..
Jari ku bergetar saat melihat sebuah pesan panjang di grup keluarga besar Mas Genta
Nama pengirimnya membuat perut ku terasa dingin, Bu Ratna
("Sebagai seorang ibu, saya sangat sedih dan kecewa, menantu saya meninggalkan rumah tanpa izin suami, menolak di nasihati, dan melawan kewajiban sebagai istri, kami sudah berusaha sabar dan membimbing, tapi sikapnya semakin sulit diterima, mohon doa agar keluarga kami dijauhkan dari perpecahan")
Tak ada nama Zahra disebut, tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud.
Komentar berdatangan, sebagian berupa simpati palsu, sebagian berupa nasihat yang terasa seperti vonis.
Zahra meletakkan ponselnya perlahan tangannya dingin, tapi wajahnya justru tenang..
Ia berdiri dan melangkah menuju cermin di kamar ibunya...
Ia menatap pantulan dirinya sendiri lama, mata yang lelah, wajah yang pucat, namun ada sesuatu yang berbeda di sorotnya.
Bukan lagi ketakutan.
“Kalau aku diam, aku akan dikubur hidup-hidup oleh cerita mereka.” ucap nya pada pantulan dirinya di cermin
Dan Zahra menolak mati dengan cara seperti itu.
***
Siang itu, Zahra duduk di ruang tamu rumah orang tuanya, ibunya menyiapkan teh, ayahnya hanya mengamati dari kejauhan, tak banyak bicara tapi penuh perhatian..
Dengan tangan sedikit gemetar, Zahra menghubungi seseorang yang selama ini ia hindari, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu langkah ini akan mengubah banyak hal.
Pak Hasan, paman Genta, lelaki yang disegani di keluarga besar nya Genta
Suaranya jarang terdengar, tapi ketika bicara, orang-orang mendengarkan..
Ia dikenal adil, tidak mudah terpengaruh gosip, dan tak segan menegur siapa pun termasuk ibu mertuaku
Telepon tersambung.
“Assalamualaikum, Om,” ucap ku sopan.
“Waalaikum salam, ada apa, Zahra?” jawab pak Hasan suaranya tenang
Aku menelan ludah.
“Aku ingin bicara, bukan untuk mengadu om, tapi untuk meluruskan.”
Hening sejenak di seberang sana.
"Datang ke rumah sore ini, kita bicara baik-baik.” ucap Pak Hasan akhirnya
Telepon ditutup, Zahra menghembuskan napas panjang, keputusan sudah diambil, tak ada jalan mundur.
Sementara itu, di rumah Bu Ratna, suasana justru tampak puas..
Dini duduk sambil memainkan ponselnya, tertawa kecil membaca komentar-komentar di grup keluarga.
"Lihat,” katanya sambil mengangkat layar ke arah ibunya.
“Semua orang sudah di pihak kita.” ucap Dini
Bu Ratna mengangguk, bibirnya melengkung tipis.
“Perempuan itu akan malu sendiri, dicap durhaka, lama-lama capek juga, nanti juga pulang minta maaf.” ucap Bu Ratna
Genta duduk di sudut ruang tamu, gelisah, tangannya saling bertaut, pikirannya tak tenang..
“Tapi kalau Zahra buka mulut..” ucapnya ragu.
"Dia gak akan berani, dia terlalu baik, terlalu takut dianggap salah.” potong Bu Ratna cepat
Genta diam, namun perasaan tidak nyaman terus menggerogoti dadanya.
Tiba-tiba ponsel Bu Ratna berdering, di layar tertera nama Hasan, Bu Ratna agak ragu mengangkat telpon dari adiknya itu
("Assalamualaikum Ratna, aku mengundang mu sekeluarga untuk datang sore ini kerumah ku") ucap Hasan dari sebrang sana
("Ok aku akan datang, kalau boleh tau ada apa ya?") tanya Bu Ratna
("Datang saja kalian kerumah ku nanti sore kalau kalian ingin tahu") jawab pak Hasan dan langsung mematikan ponselnya secara sepihak
("hello.. hello... hello") ucap Bu Ratna tidak ada jawaban lagi dari pak Hasan
"Ada apa Bu? dan siapa yang telpon?" tanya Dini dan Genta
"Yang telpon Om kalian Hasan nanti sore ia menyuruh kita untuk kerumahnya" ucap Bu Ratna tegang sedangkan Genta dan Dini saling berpandangan
***
Di tempat lain, Rena duduk di apartemennya, membaca kabar yang sama dari ponselnya..
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Akhirnya, sedikit lagi.” gumamnya
Ia menyesap kopi dengan santai, seolah ini hanya permainan strategi yang hampir dimenangkan.
Akan tetapi mereka semua salah besar.
Sore nya Zahra datang ke rumah Pak Hasan bersama ibunya..
Ia mengenakan pakaian sederhana tanpa riasan berlebihan, tanpa perhiasan mencolok..
Wajahnya tenang, meski jantungnya berdegup cepat.
Ruang tamu rumah Pak Hasan dipenuhi beberapa anggota keluarga yang sengaja diundang..
Ada sepupu-sepupu Mas Genta, ada bibi-bibi yang biasanya suka bergosip, bahkan Bu Ratna dan mas Genta juga hadir...
Suasana terasa kaku, tegang, dan penuh rasa ingin tahu.
Pak Hasan duduk di kursi utama, tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Zahra
"Zahra katanya ingin bicara, Kita dengarkan.” ucap nya tegas
Zahra berdiri, tangannya sedikit gemetar, tapi ia menggenggam tasnya erat-erat, seolah dari sanalah keberaniannya mengalir..
Ia menarik napas dalam, lalu membuka suara.
"Saya meninggalkan rumah bukan karena durhaka, saya pergi karena saya disakiti secara batin dan martabat saya telah diinjak-injak.” ucap ku jelas
Bisik-bisik langsung terdengar dari saudara-saudara yang pada hadir
"Saya difitnah tidak becus sebagai istri, dituntut untuk legowo, dimadu, tanpa pernah diberi ruang untuk bicara, tanpa pernah ditanya apakah saya siap atau tidak.” lanjut Zahra
Bu Ratna berdiri tiba-tiba..
“Kamu memutarbalikkan fakta!” bentaknya.
Zahra menoleh, tatapannya tenang, tidak menantang, tapi juga tidak tunduk..
“Kalau begitu, izinkan saya menunjukkan fakta.”
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map cokelat, tangannya mantap saat ia mengeluarkan lembar demi lembar dokumen..
"Ini bukti transfer rutin dari rekening usaha Mas Genta ke rekening atas nama Rena Puspita, dan ini bukti cicilan apartemen yang dibayar Mas Genta tapi ditempati perempuan lain.” ucap Zahra tegas
Ruangan mendadak sunyi, wajah Genta pucat pasi, bibirnya terbuka, tapi tak ada suara keluar.
Pak Hasan mengambil berkas itu, ia membaca dengan saksama, satu lembar, dua lembar, lalu semakin lama, semakin lama, rahangnya mengeras.
"Genta.. apa ini benar?” ucap nya berat
Mas Genta menunduk, tidak menjawab.
Keheningan itu lebih keras dari pengakuan apa pun..
Bu Ratna berdiri dengan wajah merah padam..
“Itu urusan suami-istri! Tidak pantas dibawa ke sini!” Teriaknya
Zahra mengangguk pelan..
“Benar, Mak, tapi fitnah juga urusan semua orang dan saya hanya meluruskan.”
Dini menunduk, wajahnya pucat, tidak ada lagi senyum licik..
Pak Hasan menghela napas panjang. “Cukup. Untuk sementara, tidak ada yang boleh menyudutkan Zahra, masalah ini belum selesai, dan jelas ada hal serius yang harus dipertanggungjawabkan.”
Zahra menatap semua orang di ruangan itu.
“Saya tidak menuntut cerai, saya tidak menuntut siapa pun dihukum, saya hanya menuntut satu hal, dihormati sebagai manusia, sebagai istri, sebagai perempuan.” ucap nya pelan tapi tegas
Kalimat itu menggema di ruangan yang sunyi, seketika semua orang terdiam termasuk Genta dan keluarga nya..
"Baik Zahra, kalau itu mau kamu nanti om akan bicara kan ini pada Genta dan Ratna" ucap pak Hasan tegas sambil melirik Genta dan Bu Ratna
Tak berapa lama Zahra izin pamit karena apa yang mau dia jelaskan sudah ia sampai kan..
Malamnya, Zahra kembali ke rumah orang tuanya...
Tubuhnya lelah, tapi hatinya terasa lebih ringan..
Saat ia meletakkan tasnya, ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari mas Genta
("Kamu memalukan aku di depan keluarga besar ku")
Aku membacanya tanpa emosi, aku membalas singkat.
("Kamu memalukan dan menghancurkan pernikahan kita jauh sebelum itu")
Tak lama kemudian, pesan lain masuk dari Rena.
("Kamu pikir kamu menang? Ini belum selesai")
Zahra menatap layar itu lama, lalu, tanpa ragu, ia menghapus pesan tersebut.
Ia berdiri di dekat jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang, udara terasa sejuk, dadanya lapang.
“Bismillah, fitnah sudah lahir, kebenaran sedang berjalan.” bisik nya mantap
Dan kali ini, semua orang mulai sadar Zahra bukan lagi perempuan yang bisa diinjak tanpa perlawanan.