Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menu Istimewa
Matahari telah sepenuhnya tenggelam di balik perbukitan, seolah ditelan bumi tanpa sisa. Sisa-sisa cahaya jingga di ufuk barat perlahan memudar, digantikan warna biru gelap yang kian pekat. Udara senja berubah menjadi dingin, menyelinap halus ke kulit, membawa aroma tanah, rumput liar, dan kayu basah yang khas setelah seharian terpapar sinar matahari. Suara serangga malam mulai terdengar, berpadu dengan desir angin yang menggerakkan dedaunan, menciptakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Dua ekor kuda berhenti tepat di depan sebuah kediaman sederhana namun terawat. Pagar besi rendah mengelilingi halaman, sementara lentera kecil di sisi teras telah dinyalakan, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Ningning menarik tali kekang dengan lembut, lalu melompat turun dari punggung kuda dengan gerakan cekatan. Tubuhnya terasa pegal, tetapi wajahnya justru dipenuhi rasa puas. Wu Zetian menyusul di belakangnya, sedikit kaku namun jelas terlihat jauh lebih percaya diri dibandingkan saat pertama kali ia menunggang kuda tadi siang. Meski napasnya sedikit berat, ada kepuasan tersendiri di matanya.
“Tidak terasa ya,” gumam Ningning sambil menepuk leher kuda itu pelan, seolah mengucapkan terima kasih. “Biasanya perjalanan sejauh ini bisa membuat kakiku mati rasa.”
Wu Zetian tersenyum kecil mendengarnya. Ia menatap langit yang kini sepenuhnya gelap, hanya dihiasi bintang-bintang yang mulai bermunculan satu per satu. Ia menghela napas lega, perasaan hangat mengalir di dadanya. Mereka telah sampai. Dengan selamat. Tanpa hambatan. Tanpa masalah.
Namun, di balik pepohonan yang berdiri tak jauh dari gerbang, sebuah bayangan bergerak nyaris tak terlihat. Prajurit bayangan itu berdiri diam, menyatu dengan kegelapan, seperti bagian dari malam itu sendiri. Sejak mereka keluar dari pasar hingga kini tiba di kediaman Wu Zetian, ia tidak pernah benar-benar pergi. Tatapannya tajam, penuh kewaspadaan, memastikan tidak ada sosok mencurigakan yang mendekat atau mengikuti dari kejauhan. Hanya setelah melihat Wu Zetian dan Ningning benar-benar masuk ke halaman rumah dan menutup gerbang, ia akhirnya berbalik perlahan. Langkahnya senyap, tanpa suara, sebelum tubuhnya benar-benar lenyap ditelan malam.
Wu Zetian dan Ningning sama sekali tidak menyadari keberadaan itu.
Dengan wajah cerah meski tubuh terasa lelah, mereka mengangkat berbagai belanjaan yang digantung di pelana kuda. Ada karung kecil berisi beras yang masih terasa hangat karena disimpan dekat tubuh, ayam utuh yang dibungkus rapi dengan daun, sayuran segar yang masih mengeluarkan aroma tanah, tepung-tepungan, minyak, serta beberapa kantong kecil berisi bumbu. Langkah mereka terdengar ringan di atas tanah halaman, seolah rasa lelah tak berarti dibandingkan kepuasan setelah seharian beraktivitas.
Di teras rumah, seorang lelaki tua duduk di kursi kayu sambil memegang cangkir. Asap tipis mengepul dari permukaan minuman hangat itu. Kakek Zhou, yang sejak sore menunggu, langsung bangkit berdiri begitu melihat mereka.
“Ah, akhirnya pulang juga,” ucapnya dengan suara hangat bercampur lega. Kerutan di wajahnya terlihat lebih lembut saat ia tersenyum.
Wu Zetian tersenyum balik dan sedikit membungkuk hormat. “Maaf, Kek membuatmu khawatir. Pasarnya tadi lebih ramai dari yang kami duga.”
Tatapan Kakek Zhou lalu beralih pada barang-barang yang mereka bawa. Alisnya terangkat, lalu ia tertawa kecil.
“Wah… banyak sekali belanjaan kalian,” katanya terkekeh. “Sepertinya dapur kita akan sibuk malam ini.” ucapnya yang dibalas tawa kecil dari kedua gadis yang berada di depannya.
Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, Wu Zetian sudah duduk di bangku teras, wajahnya penuh semangat seolah masih terbayang suasana pasar tadi siang. “Kakek tahu? Itu pertama kalinya aku ke pasar tradisional di sini. Suasananya… luar biasa. Ramai, berisik, tapi sangat seru.”
“Benar,” sela Ningning cepat sambil ikut duduk. “Hari ini sepertinya pasar sedang ramai-ramainya. Aku sempat pusing karena banyak orang berlalu-lalang.”
Wu Zetian tertawa kecil. “Awalnya aku juga. Tapi lama-lama justru menyenangkan. Melihat orang-orang tawar-menawar, mendengar teriakan pedagang, rasanya berbeda dari biasanya.”
Kakek Zhou tertawa pelan, mengangguk-angguk. “Pasar memang seperti itu. Jadi, apa saja yang kalian dapat?”
Wu Zetian berdiri sambil mengangkat ayam utuh itu. “Banyak. Dan karena hari ini kita sudah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, malam ini aku akan memasak sesuatu yang istimewa untuk kalian,” katanya sambil terkekeh ringan.
“Istimewa?” Ningning mengulang, matanya langsung berbinar penuh antusias.
Wu Zetian hanya mengedipkan mata. “Adalah pokoknya.”
Kakek Zhou terkekeh, mengelus janggutnya perlahan. “Baiklah. Kalau begitu, Kakek akan menunggu menu istimewa malam ini.”
Mereka lalu mengangkut semua belanjaan ke dapur. Wu Zetian menaruh barang-barang di meja kayu panjang, menyusunnya dengan rapi, sementara Ningning mengambil air untuk mencuci tangan dan wajah. Air dingin itu terasa menyegarkan, seolah menghapus sisa lelah dan debu perjalanan.
Tak lama kemudian, dapur yang biasanya sunyi mulai hidup. Bunyi pisau bertemu talenan terdengar ritmis, diselingi suara kayu terbakar di tungku yang menyala perlahan. Cahaya api menari-nari, memantulkan bayangan hangat di dinding dapur.
Wu Zetian tampak antusias saat mencari peralatan, sesekali mengangkat satu benda, lalu meletakkannya kembali. Sesaat kemudian ia mengambil pisau dan tersenyum kecil.
“Mari kita mulai.”
Ia menunjuk panci besar di atas tungku. “Ningning, tolong masak nasi dulu.”
“Baik,” jawab Ningning cepat, langsung mencuci beras dan menyiapkannya dengan hati-hati.
Wu Zetian lalu mengambil ayam utuh. Dengan gerakan mantap dan terlatih, ia memotong ayam itu menjadi delapan bagian. Tangannya cekatan, setiap potongan tampak rapi dan proporsional.
“Caramu memotong rapi sekali,” komentar Ningning sambil melirik dari balik panci.
“Hehe, terima kasih,” jawab Wu Zetian dengan kekehan kecil.
Ia lalu menghaluskan bawang putih, ketumbar, kunyit, merica, dan garam. Aroma bumbu segar segera memenuhi dapur, menyatu dengan wangi kayu bakar.
“Ayam ini akan kita marinasi selama empat puluh lima menit,” katanya sambil menuang bumbu ke atas potongan ayam.
Ningning berhenti mencuci beras. “Marinasi? Apa itu?”
Wu Zetian menoleh. “Marinasi itu proses merendam bahan makanan dengan bumbu agar rasanya meresap ke dalam. Jadi nanti ayamnya bukan cuma enak di luar.”
“Oh…” Ningning mengangguk paham. “Aku baru dengar istilah itu.”
“Sambil menunggu, kita buat lauk lain,” lanjut Wu Zetian.
Ia menyerahkan pisau kecil pada Ningning. “Tolong potong sawi dan labu siam. Setelah itu dicuci bersih.”
Ningning menurut. Meski potongannya tidak terlalu rapi, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Wu Zetian tidak mengomentari, hanya tersenyum tipis melihat usaha itu.
Wu Zetian lalu memotong bawang merah, bawang putih, dan beberapa cabai rawit agar tidak terlalu pedas dan bisa dinikmati semua orang. Ia menumis bumbu hingga harum, lalu memasukkan labu siam dan air secukupnya. Setelah labu agak matang, ia menambahkan sawi, garam, dan sedikit micin.
Ningning menelan ludah. “Baunya… benar-benar enak. Kau hebat sekali, Wu Zetian.”
Wu Zetian terkekeh. “Terima kasih.”
Aroma itu rupanya menarik perhatian Kakek Zhou. Lelaki tua itu melangkah masuk dapur dengan wajah antusias. “Wah, ini aroma apa? Tajam dan menggugah selera.”
Wu Zetian menoleh lalu menimpali, “Terima kasih untuk pujiannya, Kek. Ningning juga banyak membantuku malam ini. Makanannya sebentar lagi akan siap. Nanti aku panggil.”
“Baiklah, baiklah. Kalian memanga luar biasa,” kata Kakek Zhou tulus sebelum kembali ke kamarnya dengan langkah ringan.
Setelah itu, Wu Zetian membuat adonan tepung basah. Tepung terigu, tepung beras, telur, merica, garam, micin, dan air diaduk hingga rata. Ia lalu menyiapkan tepung kering dengan campuran tepung terigu dan sedikit tepung beras lalu diaduk rata.
Satu potongan ayam dicelupkan ke tepung kering, lalu ke tepung basah, lalu kembali ke tepung kering sambil dipijat perlahan.
“Kenapa dipijat?” tanya Ningning penasaran.
“Supaya tepungnya bertekstur. Nanti hasilnya lebih renyah.”
Minyak sudah panas. Wu Zetian menyerahkan tugas menggoreng pada Ningning. “Pelan-pelan. Jangan terburu-buru.”
Ningning mengangguk tegang, lalu perlahan memasukkan ayam. Suara desisan memenuhi dapur.
“Jangan terlalu dekat ya, nanti kena minyak panas,”
“Baik, aku mengerti,” jawab Ningning serius.
Mereka menggoreng hingga semua potongan ayam habis. Dapur malam ini dipenuhi aroma lezat dan juga tawa kecil antara keduanya.
_______________
Yuhuuuu💖
Author is back.
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author.
Happy Reading~
See youuu💓