Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 Bertemu saingan
Kael membuka matanya perlahan lahan. Dia mengerjap karena matanya harus menembus silaunya cahaya lampu yang benderang.
Dia mengerjap lagi sampai bisa menyesuaikan cahaya yang menerangi ruangan luas yang dia tempati.
"Kael.....? Kael...... Kamu sudah sadar, nak?"
Teguran itu membuat tatapannya yang mengarah ke langit langit kamarnya, berpindah ke dekat arah suara yang memanggil namanya.
Kael menatap bingung, awalnya. Kemudian ragu pada dua wanita tua yang sudah mendekat. Juga dua orang laki laki tua yang berada di ujung kakinya. Tatap mereka sama, dengan air mata yang menggenang.
"Oma...... Opa.....?" ucapnya begitu saja.
Tangisan kedua wanita tua yang masih cantik ini langsung pecah.
"Kamu ingat, nak? Kamu sudah ingat?" isak Oma Hastuti sambil mengusap kening cucunya lembut.
Oma Diana menci-um pelan punggung tangan Kael. Opa Jaya Pangestu dan Opa Adi Nugroho sama sama mengusap mata yang sudah menjadi telaga itu.
Kael tambah bingung.
Ada yang dia lupakan?
"Masih ingat opa, kan?" Opa Jaya Pangestu dengan senyum haru sambil mendekat. Opa Adi Nugroho juga ikut mendekat.
Kael mengangguk. Dia ngga mungkin melupakan keluarganya, kan?
Kedua opanya tertawa bahagia, juga oma omanya yang kemudian memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya sekarang.
Kael tersenyum walau masih bingung. Dia merasa aneh dengan reaksi kedua opa omanya dan bertambah heran karena keduanya tampak akur.
"Uuughh ......," er@ngnya pelan ketika akan menggerakkan tangannya ya g berada di genggaman Oma Diana.
Terasa berat dan menyakitkan.
Dia mulai memperhatikan keadaannya dengan lebih teliti. Mencoba menggeser kakinya. Kembali dia menger@ng. Sama seperti tangannya, terasa berat. dan menyakitkan. Malah satu senti pun tidak mau berpindah tempat.
"A... Aku kenapa?" tanyanya bingung dan mulai panik. Dia merasa..... lumpuh!
"Tenanglah. Kamu baru saja mengalami kecelakaan, Kael. Sebentar lagi kamu akan sembuh. Sabar, ya," bujuk Oma Hastuti lembut.
Kael terdiam, mencoba berpikir apa.yang sudah terjadi dengan dirinya. Dia merasa blank. Kael berusaha mengingat, tapi banyak ingatan samar yang mulai bermunculan tanpa dia duga. Saling bertubrukan hingga membuat kepalanya mulai pusing, berdenyut dan matanya berkunang kunang.
Sesaat lagi dia akan pingsan, tatapannya tertuju pada buket mawar yang kelopaknya berwarna putih dan ada noda darahnya
Semoga dia suka.
Kalimat itu terngiang di telinganya.
Dia siapa?
Kenapa ngga yakin dia suka?
Pertanyaan pertanyaan itu hadir begitu saja di dalam benaknya.
Satu wajah samar dengan senyun malu malunya muncul dan hilang begitu cepat
Kepala Kael tambah pusing. Semua ingatan itu seakan ngga ada yang mau mengalah. Datang dan pergi sesukanya.
"Kael..... Kamu ngga apa apa?"
"Kael....?"
"KAEL....!"
Suara teriakan teriakan oma dan opanya terdengar makin sayup hingga Kael tidak bisa mendengar lagi.
*
*
*
"Tadi malam Kael sempat sadar." Luna memberitau Adelia yang datang ke ruangannya bersama Ayra.
"Trus bagaimana keadaannya?" tanya Adelia harap harap cemas. Ingat dia atau engga?
"Dia bisa mengingat opa dan omanya."
Ayra menatap Adelia yang fokus menatap Luna.
"Hanya opa omanya?" Hati Adelia mencelos.
Luna mengangguk.
"Kael kelihatan bingung. Dia mungkin mencoba mengingat apa yang sudah terjadi, tapi ngga lama kemudian pingsan."
Ayra memegang lengan Adelia, seolah mau menguatkannya.
"Pagi ini dia masih belum bangun. Tapi ada calon istri yang batal dia nikahi, lagi berdebat dengan opa oma Kael, dilarang masuk nemuin Kael."
Hening.
"Aku ingin tau siapa perempuan itu." Adelia segera berdiri.
"Del....." Ayra menggelengkan kepalanya, tidak setuju. Dia ngga mau kehadiran Adelia tambah memanaskan keadaan.
"Maaf, Ay. Aku tetap harus ke sana."
"Aku temani." Luna tau, ngga ada gunanya melarang Adelia.
Akhirnya kembaran Luna-Ayra ngga punya pilihan lain selain mengikuti keduanya.
*
*
*
Adelia menatap dengan kening berkerut gadis yang sekarang ada di depan pintu kamar rawat inap Kael. Sementara kedua omanya terlihat jelas melarang gadis itu masuk untuk melihat Kael yang masih memejamkan mata.
Adelia masih ingat dengan gadis itu, yang pernah dia temui dengan teman temannya.
Dia yang ngga jadi dinikahi Kael?
"Adelia...., ayo, masuk. Oh iya, dokter Luna dan Ayra juga. Ayo, sayang," sambut Oma Hastuti dengan suara yang sangat bahagia. Wajah masamnya berubah sumringah. Begitu juga Oma Diana. Tensi mereka memuncak ketika Nafa bersikeras untuk melihat Kael.
Nafa menatap gadis gadis yang ditegur dengan sangat ramah oleh Oma Kael. Terutama bukan yang kembar. Mereka pernah bertemu.
Dia Adelia?
Beberapa jam sebelum Nafa datang ke rumah sakit.....
Nafa yang mengira Arsa yang datang ke kamar di hotel yang dia tinggali selama berada di Jakarta, terdiam begitu melihat siapa yang bertamu.
Wanita itu menengadahkan kepalanya dengan angkuh dan melangkah masuk begitu gadis yang tak pantas dicintai putranya membukakan pintu kamarnya lebih lebar.
"Kamu memang ngga tau malu," decihnya penuh hinaan.
Nafa hanya bisa menghela nafas.
"Tante mau apalagi? Saya sudah menuruti maunya tante. Sekarang biarkan saya hidup bersama Arsa dengan tenang."
Latifa tertawa sinis.
"Enak saja. Kamu itu calonnya Kael. Jangan bilang kamu terpaksa ketika bercint@ dengan Kael. Saya sangat mengenal kamu."
Nafa terdiam. Mereka memang belum dalam tahap bercint@ parah seperti saat dia bersama Arsa. Tapi yang dikatakan mamanya Arsa benar, kalo dia sudah terpikat dengan Kael dan sempat berpikir akan meninggalkan Arsa.
"Rayu kembali Kael. Jauhkan diri kamu dari Arsa atau nasib kamu akan berubah jadi gembel."
Nafa merinding mendengarnya. Dulu dia sempat berpikir bisa menyingkirkan wanita mengerikan ini setelah bisa menikah dengan Kael.
"Kael ngga mungkin mau sama saya lagi, tante," ucapnya putus asa.
"Ya, sudah, berarti karir dan hidup mewahmu tamat. Arsa akan dijodohkan dengan keluarga Airlangga. Atau kamu jauh jauh dari Arsa." Latifa membuat gerak tangan mengusir.
Saat ini......
Nafa menatap.dua gadis kembar yang bersama gadis yang mereka temui. Jantungnya berdebar aneh.
Jadi yang mana yang mau dijodohkan dengan Arsa? Dokter atau yang bukan? tebak Nafa dalam hati. Dia harus tau lawannya.
Jika Kael tetap menolaknya, dia butuh cadangan, kan?
Sekarang dia hanya bisa mematung melihat ketiga gadis cantik itu dengan mudahnya diajak mendekati Kael.
dijamin rencana nafa nggak bakal terlaksana,, apalagi kael di rawat di rs keluarga adelia
aku malahan nggak sabar menanti aksi mak tirinya kael,, biar cpt masuk penjara