Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih di atas kehancuran
Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah matahari pun enggan menyoroti tragedi yang terus berlanjut di kediaman Vance. Di dalam kamar utama yang megah namun terasa seperti penjara bawah tanah, Alana terbangun dengan rasa sakit yang jauh lebih hebat dari hari-hari sebelumnya. Setiap inci tubuhnya terasa seberat timah, dan rasa mual yang luar biasa hebat kini menyerang ulu hatinya secara konstan. Ia bahkan tidak sanggup mengangkat tangannya untuk sekadar menyeka keringat dingin yang membanjiri keningnya.
Namun, di sampingnya, sang monster telah bangun.
Brixton Alistair Vance tidak peduli dengan wajah pucat istrinya atau napasnya yang pendek-pendek. Baginya, pagi hari adalah waktu di mana ketegangannya berada di puncak, dan ia membutuhkan pelampiasan sebelum menghadapi dunia bisnis yang keras di luar sana. Baginya, Alana bukanlah manusia yang sedang sekarat; Alana hanyalah wadah.
Tanpa sepatah kata manis, tanpa menanyakan kabar, Brixton menarik tubuh lemah Alana.
"Brixton... kumohon," bisik Alana, suaranya nyaris hilang, hanya berupa hembusan napas yang menyakitkan. "Aku... aku sangat sakit. Rasanya duniaku sedang runtuh. Tolong, jangan sekarang..."
"Diamlah, Alana," desis Brixton dingin. Ia tidak menatap mata hijau yang kini redup itu. Ia hanya fokus pada kebutuhannya sendiri. "Kau punya satu fungsi di rumah ini, dan kau akan menjalankannya selama aku menginginkannya."
"Tapi aku... aku tidak bisa bernapas dengan benar," rintih Alana, air matanya jatuh membasahi bantal, bukan karena sedih, tapi karena rasa sakit fisik yang tak tertahankan.
Brixton mengabaikannya. Ia menutup pendengarannya terhadap rintihan istrinya. Dalam pikirannya, ia hanya ingin melegakan rasa frustrasi yang menumpuk. Ia melakukannya dengan kasar, tanpa kelembutan sedikit pun, seolah-olah ia sedang mencoba menghancurkan apa yang tersisa dari wanita itu. Ia terus memaksakan kehendaknya, menanamkan benihnya ke dalam rahim Alana berulang kali, terobsesi untuk memenuhi apa yang disebutnya sebagai "kewajiban ahli waris," meskipun sebenarnya itu hanyalah cara untuk menunjukkan kekuasaan mutlaknya.
Setelah kepuasan egois itu tercapai, Brixton bangkit dengan wajah tanpa ekspresi. Ia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri seolah-olah baru saja melakukan rutinitas olahraga biasa, lalu mengenakan setelan jas mahalnya yang bernilai ribuan dolar.
Sebelum melangkah keluar pintu untuk pergi bekerja, ia melirik sekilas ke arah tempat tidur. Alana tergeletak di sana seperti boneka kain yang rusak, tidak bergerak, dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit.
"Aku akan pulang terlambat. Jangan cari aku," ucap Brixton datar sambil membetulkan letak jam tangan emasnya. Ia tidak menunggu jawaban—dan memang tidak ada jawaban yang sanggup diberikan Alana—lalu ia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang kini terasa seperti aroma kematian bagi Alana.
Beberapa jam kemudian, kegemparan terjadi di lantai atas kediaman Vance. Bibi Martha, yang masuk untuk membawakan sarapan, menjerit histeris saat menemukan Alana dalam kondisi tidak sadar dengan suhu tubuh yang sangat panas namun tangan yang sedingin es.
Dokter keluarga, Dr. Aris, segera dipanggil dengan status darurat. Seluruh pelayan di rumah itu berdiri dengan cemas di depan koridor, sementara di dalam kamar, Dr. Aris melakukan pemeriksaan intensif. Denyut nadi Alana sangat lemah, tekanan darahnya anjlok ke titik yang membahayakan, dan tubuhnya menunjukkan tanda-tanda dehidrasi serta stres fisik yang parah.
Setelah satu jam yang menegangkan, Dr. Aris keluar dari kamar dengan wajah yang sangat serius, bahkan tampak sedikit marah. Ia adalah dokter keluarga yang sudah melayani keluarga Vance selama puluhan tahun, namun apa yang ia lihat hari ini benar-benar menguji profesionalismenya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Bibi Martha dengan suara gemetar.
Dr. Aris menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. "Dia sangat lemah. Tekanan batin dan kelelahan fisiknya sudah melampaui batas yang bisa ditanggung manusia normal. Tapi... ada hal lain yang harus segera diketahui oleh Tuan Brixton."
"Apa itu, Dok?"
"Nyonya Alana hamil," ucap sang dokter singkat. "Tapi dalam kondisi tubuhnya yang seperti ini, kehamilan ini adalah ancaman besar bagi nyawanya. Rahimnya menerima benih itu, tapi tubuhnya menolak untuk bertahan."
Di kantor pusat Vance International, Brixton sedang memimpin rapat direksi saat ponsel pribadinya bergetar berkali-kali. Ia mengabaikannya pada awalnya, namun saat melihat nama Dr. Aris muncul di layar untuk kelima kalinya, ia memberikan tanda pada asistennya untuk mengambil alih rapat dan berjalan keluar menuju balkon kantor.
"Ada apa, Dok? Aku sedang rapat," ucap Brixton dengan nada tidak sabar.
"Brixton, pulanglah sekarang," suara Dr. Aris terdengar tegas dan dingin, tanpa basa-basi yang biasanya ia berikan. "Istrimu sedang berada dalam kondisi kritis."
Jantung Brixton berdegup kencang secara tiba-tiba. "Kritis? Dia hanya butuh istirahat, Dok. Jangan terlalu mendramatisir."
"Ini bukan drama, Brixton! Dia pingsan lagi, dan kali ini kondisinya jauh lebih buruk. Dan ada satu hal yang harus kau tahu... Alana sedang mengandung anakmu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Brixton. Gelas kopi yang ia pegang hampir terlepas dari tangannya. Hamil? Kata itu bergema di kepalanya, menghantam tembok kebencian yang selama ini ia bangun.
"Dia hamil?" suaranya bergetar, sebuah reaksi manusiawi yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ya, dia hamil sekitar empat minggu. Tapi dengarkan aku baik-baik," suara Dr. Aris semakin tajam. "Tubuhnya sangat lemah. Sangat hancur. Jika kau terus menekannya secara fisik dan mental seperti yang kulihat dari bekas-bekas luka dan kondisinya, kau tidak hanya akan membunuh anak itu, tapi kau juga akan membunuh ibunya. Dia tidak punya cukup energi untuk menopang satu nyawa lagi di dalam dirinya jika kau tetap memperlakukannya seperti ini."
Brixton terdiam. Ia mematikan ponselnya tanpa menjawab. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap pemandangan kota dari lantai lima puluh. Perasaan yang campur aduk mulai menggerogoti jiwanya. Ada rasa bangga karena ia berhasil mendapatkan ahli waris, namun ada rasa takut yang asing—sebuah rasa takut akan kehilangan yang sangat nyata.
Namun, egonya kembali berbisik. Itu hanya taktiknya. Dia hamil agar aku tidak bisa menceraikannya. Dia menggunakan anak itu untuk mengikatku selamanya.
Tapi bayangan Alana yang terbaring lemah pagi tadi kembali muncul. Ia ingat betapa dingin tangannya saat ia menyentuhnya dengan kasar. Ia ingat betapa pucat wajahnya saat ia melampiaskan nafsunya. Untuk pertama kalinya, rasa jijik itu bukan ia tujukan pada Alana, melainkan pada dirinya sendiri.
Brixton sampai di rumah saat senja mulai tenggelam. Ia berjalan menuju kamar Alana dengan langkah yang tidak lagi seangkuh biasanya. Saat ia masuk, ia melihat Alana terbaring dengan berbagai selang infus yang menempel di tangannya. Wajahnya tertutup masker oksigen kecil. Ia tampak begitu transparan, seolah-olah jika ada angin kencang berhembus, ia akan menghilang selamanya.
Dr. Aris masih di sana, mencatat sesuatu di papan medisnya. Ia melirik Brixton dengan tatapan menghakimi.
"Dia sudah sadar?" tanya Brixton pelan.
"Sempat sadar sebentar tadi, tapi dia hanya menangis dan menyebut namamu dengan ketakutan sebelum kembali pingsan," jawab Dr. Aris pedas. "Brixton, aku tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu ini, tapi sebagai dokter, aku memperingatkanmu. Wanita ini sedang berada di ambang kematian. Rahimnya mungkin sedang menjaga anakmu, tapi jantungnya sedang menyerah."
Brixton mendekat ke sisi tempat tidur. Ia melihat perut Alana yang masih rata, tempat di mana benihnya sekarang bersemi. Di sana, ada kehidupan baru yang tercipta dari kebencian dan kekerasan yang ia berikan. Ada Ironi yang begitu menyakitkan; ia menginginkan pewaris untuk melanjutkan kejayaan keluarganya, namun ia hampir membunuh sumber dari pewaris itu sendiri.
Ia mengulurkan tangan, ingin menyentuh pipi Alana, namun jarinya berhenti di udara. Ia takut jika ia menyentuhnya, Alana akan terbangun dan menatapnya dengan ketakutan yang sama seperti yang dikatakan dokter.
"Kau hamil..." bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.
Alana tidak merespon. Matanya yang hijau tetap tertutup rapat. Denyut jantungnya yang terpantau di mesin monitor terdengar lambat dan tidak stabil, sebuah irama yang menggambarkan betapa rapuhnya kehidupan yang kini ia bawa.
Brixton duduk di kursi samping tempat tidur, menundukkan kepalanya di atas kedua tangannya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini dimulai, ia tidak merasa menang. Ia tidak merasa berkuasa. Ia merasa seperti seorang penghancur yang baru saja menyadari bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya hal yang sebenarnya bisa menyelamatkannya dari kegelapan.
Malam itu, Brixton tidak pergi ke bar. Ia tidak minum wiski. Ia hanya duduk di sana, di dalam kegelapan kamar istrinya, mendengarkan bunyi mesin monitor jantung yang monoton. Rasa haus akan nafsunya tadi pagi kini berganti dengan rasa sesak yang luar biasa. Ia menyadari bahwa rahim Alana kini berisi masa depannya, namun ia juga menyadari bahwa ia telah mengubah masa depan itu menjadi sebuah tragedi yang berdarah-darah.
"Bertahanlah..." gumamnya lirih, sebuah permintaan yang terdengar sangat egois setelah apa yang ia lakukan. "Bertahanlah demi anak itu."
Namun, di balik masker oksigennya, Alana tetap diam. Jiwanya seolah sudah menyerah, membiarkan tubuhnya menjadi medan tempur terakhir bagi ego seorang Brixton Vance. Dan di dalam rumah yang megah itu, benih baru telah tertanam, namun ia tumbuh di atas tanah yang gersang dan penuh dengan luka yang tak kunjung sembuh.