Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia kaisar? dia suamiku?
Deg..
Melihat Sosok yang ada di depannya itu membuat Jenderal Tanzo terkejut luar biasa, seorang wanita yang kabarnya sudah meninggal malah sekarang memanjat tembok bersembunyi di balik pohon besar.
Jenderal Tanzo terpaku sejenak, matanya membelalak melihat sosok yang sama sekali tak dia duga, wanita yang selama ini dianggap telah tiada, berdiri tegap di atas tembok istana, menatap tajam ke arah selir Jia. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup kencang, seolah waktu berhenti sesaat. “Permaisuri,” suaranya keluar dengan nada campur aduk antara tak percaya dan waspada.
Di sisi lain, Ling Xu-Mei menatap Jenderal Tanzo dengan senyum dingin dan penuh sindiran, bibirnya melengkung membentuk satu kata yang menusuk hati, “Tampan.” Tatapan matanya tajam, penuh keangkuhan dan rahasia yang hanya dia yang tahu. Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah menantang sang jenderal yang kini terperangah.
Suara Kaisar Han menggema dengan tegas, memecah keheningan, “Seret mereka turun, jenderal!” Perintah itu bagaikan palu godam yang menghantam keheningan malam, memaksa semua yang hadir tunduk pada otoritasnya.
Jenderal Tanzo segera menarik pedangnya, gerak cepat namun penuh kewaspadaan. Matanya tak lepas dari permaisuri yang berdiri di atas tembok, sosok yang seharusnya sudah hilang dari dunia ini, kini menimbulkan kekacauan dan pertanyaan yang tak terjawab.
Ling Xu-mei diturunkan oleh jenderal Tanzo, sang Jenderal sedikit tidak percaya dengan apa yang ada di depannya.
"Kamu ini ngapain sih menurunkan aku seperti menurutkan kucing dari atas tembok." Ling Xu-mei yang kemudian menepis tangan jenderal Tanzo.
"Beraninya kamu berkata...," perkataan Kaisar Han terhenti ketika melihat siapa gerangan yang sudah mengintip paviliun selir kesayangannya. kedua matanya menatap tajam kepada Ling Xu-mei, wanita yang tidak lain juga adalah istrinya, permaisuri kerajaan Hanzo. "Kau...," ucap Kaisar seolah tidak percaya.
"Apaan sih kalian ini, tidak sopan banget mengganggu pekerjaan orang lain." Ling Xu-mei berbalik memarahi Jenderal Tanzo dan Kaisar Han dia tidak tahu siapa sosok yang ada di depannya itu.
Sedangkan Yura dia menarik lengan baju Ling Xu-mei. "Kamu ini apaan sih narik-narik pakaianku?" kesal Ling Xu-mei yang kemudian menepis tangan Yura juga.
Yura mendekat dia membisikkan sebuah nama di telinga Ling Xu-mei. "Nyonya, dia adalah Kaisar Han." ucapnya pelan kemudian menundukkan kepalanya.
Ling Xu-mei mendongakkan kepalanya, dia menatap pria tinggi di depannya. "Kaisar Han? Apakah maksudmu pria ini adalah Kaisar Han?" tanya Ling Xu-mei.
Yura menganggukkan kepalanya tanpa berani menatap 2 pria yang ada di depannya itu. Terkejut, itulah yang dirasakan oleh Ling Xu-mei sekarang ini, dia langsung mengangkat tangannya menunjuk tepat di depan wajah Kaisar Han. "Maksudmu pria ini adalah Kaisar Han? dia adalah suamiku suami dari permaisuri Ling?" tanya Ling Xu-mei yang mencoba untuk meyakinkan diri.
Yura menganggukkan kepalanya sedikit lambat, hal itu membuat kedua bola mata Ling Xu-mei membulat dengan mulut mengangah. "Heh... Oh my god, dia Kaisar Han? suami permaisuri Ling?" ucapnya. kemudian Ling Xu-mei menganggukkan kepalanya. "Cih.., aku kira dia tampan.. ternyata wajahnya pas-pasan." ucap Ling Xu-mei yang membuat Yura langsung menatap junjungannya itu.
Sedangkan sang Kaisar kedua matanya langsung membulat ketika dirinya mendapatkan beberapa kalimat yang sangat tidak menyenangkan. "Apa maksudmu?" tanya Kaisar Han dengan nada marah.
"Aku kira suamiku itu tampan, tinggi, tubuhnya kekar dan sangat...," perkataan Ling Xu-mei terhenti. dia menatap Kaisar Han yang ada di depannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Malah lebih tampan jenderalnya." ucapnya tanpa takut. nada bicaranya seolah melayangkan sebuah penghinaan besar.
Jenderal tanzo mengerutkan keningnya. Dia seolah masih mencerna Apakah benar yang ada di depannya itu adalah permaisuri kerajaan Hanzo yang sudah meninggal itu.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" tanya Kaisar Han marah.
Dengan santai dan tidak takut dengan suara keras yang dikeluarkan oleh kaisar Han, Ling Xu-mei malah mengangkat sebelah tangannya. "Ya itu urusanku dong.. ngapain juga ikut campur." jawab Ling Xu-mei kemudian memutar tubuhnya, berbalik meninggalkan suaminya itu sembari melambaikan tangan seolah dia tidak melakukan kesalahan sama sekali. Hal itu membuat Kaisar Han dan jenderal Tanzo dibuat terkejut.
"Yang mulia, bukankah itu adalah permaisuri Ling?" tanya jenderal Tanzo yang berusaha untuk meyakinkan dirinya.
"Iya." jawab singkat sang Kaisar. dia menatap kepergian permaisuri yang belum dia lihat setelah kabar dia hidup kembali dari kematian.
Melihat ekspresi dan raut wajah junjungannya hal itu membuat Yura benar-benar terkejut, wanita yang biasanya selalu berusaha untuk mencari perhatian Kaisar Han itu sekarang wanita itu seolah tidak peduli.
"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja?" tanya Yura.
Ling Xu-mei menoleh menatap Yura. "Memangnya ada apa? apa ada yang salah? apa ada yang tidak benar dengan pakaianku?" tanya Ling Xu-mei sembari melihat tubuhnya.
Yura menggelengkan kepala. "Maksud hamba itu, dia adalah yang mulia Kaisar nyonya, Kenapa nyonya tidak menyapanya." jawab Yura.
Ling Xu-mei menghentikan langkahnya, setelah itu dia menatap Yura. "Yang aku dengarkan aku sudah diturunkan dari jabatan permaisuri, aku sudah diasingkan, aku sudah dibuang. Jadi, ngapain juga aku harus menyapa pria itu." jawab Ling Xu-mei yang kemudian segera pergi dari tempat itu.
Sebenarnya dalam hati Ling Xu-mei juga takut, dia takut jika tiba-tiba kaisar yang terkenal jahat dan suka menyiksa pemilik tubuh yang sekarang dia tempati itu akan kembali menyiksanya. "Jika sampai pria itu berani menyiksaku, lihat saja apa yang akan terjadi, aku bakal menyiksa Dia. pria tidak tampan seperti dia itu kenapa jadi Kaisar? Kenapa dalam serial TV dan film-film kolosal kaisarnya itu selalu tampan, menawan rupawan tinggi besar tubuhnya kekar dan sangat menggiurkan. Lah... ini tubuhnya tinggi wajahnya garang tidak tampan dan senyumnya itu seperti makhluk astral." Ling Xu-mei berbicara sendiri. hal itu membuat Yura benar-benar tidak percaya.
"Nyonya benar-benar melupakan yang mulia Kaisar, mungkin benar yang dikatakan tabib kalau nyonya sudah tidak mencintai yang mulia Kaisar." ucap Yura pelan. kepalanya terus mengangguk sembari mengiyakan setiap perkataannya sendiri.
"Oh ya Yura, berapa tahun aku menikah dengan pria jelek itu?" tanya Ling Xu-mei.
"Maksud nyonya?"
"Ya itu Kaisar itu, pria jelek itu. berapa tahun aku menikah dengannya?"
Yura mengedipkan matanya berulang kali, dia kemudian menghitung dengan jari. "Dua tahun nyonya." jawab Yura.
"Hidupku sangat sia-sia, selama 2 tahun ini mencintai pria yang tidak mencintaiku. wajahnya tidak tampan tapi sudah menyakitiku, orangnya tidak menawan tapi dia membuat hancur hidupku.' ucap Ling Xu-mei yang kemudian berjalan meninggalkan area paviliun selir Jia.
Di tempat Kaisar Han sendiri pria itu yang tadi melihat istrinya Dia sempat berpikir mengenai apa yang dikatakan oleh tabib yang memeriksa Ling Xu-mei waktu itu. "Jadi dia tidak ingat setelah mengalami kematian itu." ucap Kaisar Han. Kedua tangannya saling meremas mengingat kembali beberapa informasi yang diberikan oleh tabib.
"Baguslah kalau begitu, jika dia berani mengganggu aku dan selir-selirku maka aku akan menghabisinya lagi." ujar Kaisar Han yang kemudian meminta Jenderal Tanzo untuk menyelidiki mengenai Ling Xu-mei.
"Terus pantau pergerakan wanita itu, jika sampai dia melakukan sesuatu yang mencurigakan langsung bunuh." perintah Kaisar Han.
Jenderal Tanzo terdiam sejenak kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Baik yang mulia.'' jawab jenderal Tanzo.
*bersambung*
semangat berkaryaa