NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Debu, Keringat, dan Sebuah Permulaan

Kawasan industri Rungkut pagi itu tampak seperti monster raksasa yang baru bangun tidur. Asap hitam mulai mengepul dari cerobong-cerobong pabrik, truk-truk kontainer raksasa meraung berebut jalan, dan ribuan manusia berseragam bergegas masuk ke gerbang-gerbang besi demi menukar keringat dengan rupiah.

Alina berjalan di trotoar yang berdebu, menutupi hidungnya dengan masker medis. Ia mengenakan kemeja putihnya yang paling layak, dipadukan dengan celana bahan hitam dan sepatu pantofel yang haknya sudah agak aus. Penampilannya terlihat sedikit "salah tempat" di antara para buruh pabrik yang mayoritas memakai kaos oblong atau seragam lapangan.

Ia berhenti di depan sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi. Di sana, terpasang plang besi besar dengan tulisan yang mulai berkarat namun masih terbaca jelas:

PT. ABRAHAM TEXTILE GROUP - GUDANG PUSAT 2

Alina menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena gugup menghadapi wawancara seperti dulu saat ia melamar ke bank, tapi karena takut ditolak. Jika ia gagal hari ini, ia benar-benar tidak tahu harus makan apa lusa.

"Mbak yang mau interview?" tanya satpam bertubuh kekar di pos penjagaan, menatap Alina dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik.

"Iya, Pak. Saya dapat panggilan email kemarin." Alina menunjukkan layar ponselnya.

"Tinggal KTP di sini. Masuk lurus, belok kiri ke bangunan yang cat abu-abu. Cari Pak Heru, Kepala Gudang."

Alina mengangguk, menyerahkan KTP-nya, lalu melangkah masuk.

Suasana di dalam kompleks pergudangan itu jauh dari kata nyaman. Hawa panas langsung menyergap, bercampur dengan aroma bahan kimia pewarna kain yang menyengat dan debu kapas yang beterbangan. Suara bising forklift yang wara-wiri dan teriakan para kuli panggul membuat telinga berdengung.

Alina berjalan menunduk, berusaha mengabaikan beberapa siulan nakal dari para pekerja pria yang sedang memuat gulungan kain ke dalam truk. Ia mempererat cengkeraman pada tasnya. Tahan, Alina. Kamu butuh ini, batinnya.

Ia akhirnya menemukan ruangan bertuliskan KEPALA GUDANG. Pintunya terbuka lebar. Di dalam, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan rompi oranye sedang sibuk memarahi seseorang lewat telepon. Itu pasti Pak Heru.

Alina mengetuk pintu pelan. "Permisi, Pak."

Pak Heru menoleh, menutup teleponnya dengan kasar, lalu menatap Alina tajam. "Kamu Alina Oktavia?"

"Benar, Pak."

"Duduk."

Alina duduk di kursi plastik yang ada di depan meja kerja yang berantakan penuh faktur jalan dan sampel kain. Pak Heru mengambil lembaran CV Alina, membacanya sekilas, lalu alis tebalnya terangkat tinggi.

"Lulusan Ekonomi S1. Pengalaman tiga tahun jadi admin bank," Pak Heru meletakkan kertas itu dan menatap Alina curiga. "Mbak, kamu nggak salah alamat? Ini gudang, bukan kantor pusat di Sudirman. Di sini panas, kotor, isinya kuli kasar semua."

"Saya tahu, Pak," jawab Alina tenang, meski tangannya berkeringat dingin.

"Terus ngapain kamu ngelamar jadi admin gudang? Gaji di sini UMR pas-pasan, nggak ada bonus tahunan kayak di bank. Kerjanya input data stok, cek barang keluar-masuk, kadang harus turun ke lapangan kena debu. Yakin kamu betah?"

Ini pertanyaan yang sudah Alina antisipasi.

"Saya butuh pekerjaan, Pak," jawab Alina, menatap lurus mata pria itu. Ia tidak lagi menggunakan nada bicara manis ala customer service bank. Suaranya datar dan tegas. "Keluarga saya butuh uang cepat. Saya tidak peduli soal gengsi atau AC. Saya bisa kerja cepat, saya teliti, dan saya nggak banyak menuntut. Bapak bisa pegang omongan saya."

Pak Heru terdiam, mengamati wajah Alina. Ia melihat lingkaran hitam di bawah mata gadis itu, juga gurat kekerasan di rahangnya. Ia sudah sering mewawancarai orang, dan ia tahu bedanya orang yang sekadar cari pengalaman dengan orang yang kepepet butuh bertahan hidup.

Dan Alina jelas tipe yang kedua.

"Kamu nggak bakal lari kalau disuruh lembur sampai jam 9 malam?" tantang Pak Heru.

"Selama dibayar lembur, saya kerjakan," jawab Alina cepat.

Pak Heru mendengus, lalu menyalakan rokoknya. Asap mengepul di ruangan sempit itu, membuat Alina sedikit terbatuk tapi ia menahannya.

"Oke. Saya suka orang yang nggak banyak drama," ucap Pak Heru sambil menghembuskan asap. "Kamu diterima. Masa percobaan tiga bulan. Gaji UMR Surabaya, uang makan harian cair tiap minggu. Kalau kerjamu lelet, langsung saya cut."

Dada Alina rasanya longgar seketika. Beban ribuan ton seolah diangkat dari pundaknya.

"Terima kasih, Pak. Kapan saya bisa mulai?"

"Besok pagi jam 7 teng. Bawa masker yang banyak, di sini debu kapasnya jahat."

Alina mengangguk mantap. Ia menyalami tangan kasar Pak Heru, lalu berpamitan keluar.

Saat ia berjalan kembali menuju gerbang, melewati hiruk pikuk aktivitas gudang yang bising, Alina tidak merasa jijik atau takut lagi. Suara bising mesin pabrik itu terdengar seperti musik harapan.

Ia punya pekerjaan.

Ia punya gaji.

Ia bisa makan.

Di tengah jalan menuju gerbang, sebuah mobil sedan hitam mewah melintas pelan hendak keluar dari area pabrik. Kaca mobilnya gelap, sehingga Alina tidak bisa melihat siapa di dalamnya. Mobil itu berhenti sebentar di pos satpam, membuat satpam yang tadi jutek pada Alina langsung berdiri tegak dan memberi hormat penuh takzim.

Alina menyingkir ke pinggir trotoar agar tidak terserempet, menatap mobil mengkilap itu dengan tatapan kosong.

Ia tidak tahu bahwa di dalam mobil itu duduk Wisnu Abraham, pemilik seluruh kerajaan bisnis ini. Ia tidak tahu bahwa takdir mereka baru saja berselisih jalan hanya dalam jarak beberapa meter.

Mobil itu melaju pergi, meninggalkan debu yang menerpa wajah Alina.

Alina mengusap debu di pipinya, lalu tersenyum miring. Senyum pertamanya sejak keluar dari rumah sakit. Bukan senyum bahagia, tapi senyum kemenangan kecil.

Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak sedikit, membuka aplikasi kalkulator, menghitung estimasi gajinya. Cukup untuk bayar kos, cukup untuk makan sederhana, dan sisanya bisa ia tabung.

"Satu langkah," bisiknya pada diri sendiri. "Ini baru satu langkah, Rendy. Tunggu sampai aku punya cukup kekuatan untuk menarik kakimu jatuh."

Alina melangkah keluar dari gerbang PT. Abraham Textile dengan punggung tegak. Ia bukan lagi Alina si admin bank yang manis. Ia kini adalah Alina si admin gudang yang siap bertarung dengan debu dan nasib, demi satu tujuan akhir: Pembalasan.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!