Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Seluloid
Suara mesin kapal kargo Arunika Jaya yang mulai menderu menciptakan getaran konstan yang merambat melalui lantai besi ruang mesin, menembus sol sepatu dan memberikan sensasi tak nyaman di dada. Bagi orang awam, suara itu mungkin hanya kebisingan mekanis, namun bagi Baskara, Reno, dan Alea, itu adalah pengingat bahwa waktu mereka terus menyusut. Di dalam perut kapal yang pengap, udara terasa semakin berat, bercampur dengan aroma pelumas panas dan kecemasan yang tak kasat mata.
Reno masih berkutat dengan lensa kamera laptopnya. Ia menggunakan selotip hitam dan potongan plastik dari botol minuman untuk menciptakan diffuser darurat. Tujuannya adalah memfokuskan cahaya LED agar bisa menembus gulungan mikrofilm yang sangat tipis tanpa membakar emulsinya. Jemarinya yang biasanya lincah kini bergerak sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Satu milimeter saja meleset, kita kehilangan gambarnya," gumam Reno lebih kepada dirinya sendiri. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya, jatuh ke atas meja besi yang berkarat.
Baskara berdiri tepat di belakang Reno, matanya tak lepas dari layar monitor yang masih menampilkan titik-titik cahaya yang kabur. "Fokuskan pada bagian tengah, Reno. Jangan paksa gulungannya terbuka sepenuhnya jika masih terasa kaku."
Di sudut ruangan, Alea duduk di atas peti kayu kecil. Ia memegang gelas air mineral dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar. Pikirannya tidak di sini. Ia masih terjebak di koridor rumah mewah Sarah, mendengar suara wanita yang ia anggap ibu itu memerintahkan pengawalnya untuk "melakukan apa yang harus dilakukan" jika Alea melawan. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, menghancurkan setiap lapisan kepercayaan yang tersisa.
Alea menatap Baskara. Pria itu tampak begitu tenang, namun ia tahu itu hanyalah topeng. Baskara sedang berperang dengan iblis di dalam dirinya sendiri—dendam yang telah ia pelihara selama lima tahun. Alea menyadari bahwa mereka berdua hanyalah dua orang yang terombang-ambing di atas lautan kebohongan, dan kapal tua ini adalah satu-satunya daratan yang mereka miliki.
"Dapat!" seru Reno tiba-tiba.
Suaranya yang melengking membuat Alea tersentak. Baskara segera membungkuk lebih dekat ke layar.
Sebuah citra hitam putih muncul di monitor. Gambarnya kasar, penuh dengan butiran (grain) khas film lama yang disimpan di tempat lembap, namun sosok di dalamnya masih bisa dikenali. Itu adalah foto sebuah dokumen resmi. Di bagian atasnya tertulis: "BERITA ACARA PENGALIHAN ASET - PROYEK ERASE (RAHASIA NEGARA/PERUSAHAAN)".
"Ini dokumen notaris dari tahun 1995," bisik Baskara. Suaranya terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman. "Lihat daftar asetnya. Lahan Tambora, perkebunan di Sukabumi, gudang di pelabuhan... semuanya."
Reno menggeser kursornya, mencoba menajamkan bagian bawah dokumen. "Lihat tanda tangannya, Bas."
Ada tiga tanda tangan di sana. Yang pertama adalah Hendra Mahardika. Yang kedua adalah Markus Siregar, pengacara yang baru saja ditemui Sarah. Dan yang ketiga... sebuah tanda tangan yang membuat Alea berdiri dan mendekat ke meja dengan langkah gontai.
"Itu... tanda tangan ayahku," suara Alea tercekat di tenggorokan. "Tapi kenapa garisnya terlihat begitu kaku? Ayahku adalah seorang arsitek, dia selalu menulis dengan garis yang halus dan tegas."
Baskara menyipitkan mata. "Reno, perbesar bagian tanda tangan Yusuf."
Reno melakukan pemindaian ulang dengan intensitas cahaya yang lebih tinggi. Saat gambar itu diperbesar hingga ke level piksel, terlihat sesuatu yang ganjil. Garis-garis tanda tangan itu memiliki sedikit 'getaran' di tepinya, dan ada bercak kecil tinta yang tidak wajar di awal huruf.
"Ini bukan tanda tangan asli," ujar Baskara dengan nada dingin yang mematikan. "Ini hasil jiplakan manual yang dilakukan dengan sangat teliti. Seseorang menggunakan meja lampu untuk meniru tanda tangan Yusuf di atas dokumen kosong, lalu mereka mengisi kontennya kemudian."
Alea menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... ayahku bahkan tidak pernah setuju untuk menyerahkan aset-aset ini? Mereka membunuhnya dan kemudian memalsukan persetujuannya?"
"Itu bukan bagian terburuknya," potong Reno. Ia menggeser ke slide berikutnya dari mikrofilm tersebut. "Lihat foto ini."
Layar monitor kini menampilkan foto sebuah laporan laboratorium kedokteran forensik yang sudah menguning. Judulnya: "LAPORAN TOKSIKOLOGI - KORBAN: RATNA MAHARDIKA".
Darah Baskara seolah membeku. Ratna Mahardika adalah ibunya.
"Ibuku meninggal karena kecelakaan mobil," ujar Baskara, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Remnya blong di jalanan pegunungan."
"Laporan ini mengatakan hal yang berbeda, Bas," Reno menatap temannya itu dengan tatapan penuh simpati. "Hasil otopsi menunjukkan adanya zat penenang dosis tinggi di dalam darahnya sebelum kecelakaan terjadi. Zat itu tidak terdeteksi di pemeriksaan awal kepolisian karena... yah, karena Sarah sudah menyuap laboratorium daerah."
Baskara mencengkeram tepian meja besi hingga buku-buku jarinya memutih. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada peluru manapun. Selama lima tahun ia mengira ibunya hanyalah korban dari kelalaian ayahnya yang membiarkan mobil tua tetap dipakai. Namun kenyataannya jauh lebih mengerikan: ibunya dibuat tidak sadar sebelum mobilnya didorong menuju jurang.
"Mereka tidak hanya mencuri perusahaan," gumam Baskara. "Mereka melakukan eksekusi massal terhadap siapa saja yang memiliki hak atas Mahardika Group. Yusuf, ibumu, ibuku... mereka semua dibersihkan dalam waktu yang hampir bersamaan."
Alea merasakan air mata mulai mengalir di pipinya, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata amarah. "Kita sedang melihat bukti pembunuhan berantai, bukan sekadar korupsi."
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang mesin. Di atas dek, terdengar suara peluit panjang kapal yang menandakan mereka akan segera lepas sauh. Kapal mulai bergoyang lebih hebat saat mulai bergerak meninggalkan dermaga kayu Sunda Kelapa.
Baskara menarik napas panjang, mencoba mengendalikan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia tidak boleh hancur sekarang. Ia butuh pikiran yang tajam untuk langkah selanjutnya.
"Reno, berapa banyak lagi slide di mikrofilm ini?" tanya Baskara.
"Masih ada sekitar sepuluh slide lagi, Bas. Tapi lensanya mulai panas. Aku harus mendinginkannya dulu agar tidak merusak filmnya," jawab Reno sambil mematikan sumber cahaya.
Baskara menoleh pada Alea. Gadis itu tampak berbeda sekarang. Ada bara api yang mulai menyala di matanya yang tadinya layu. "Alea, kunci perak ini... Sarah akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya kembali. Dia tahu isi film ini bisa membawanya ke kursi listrik."
Alea mengangguk perlahan. "Aku tidak akan membiarkannya, Bas. Selama ini aku hidup dalam bayang-bayang kebaikannya yang palsu. Sekarang, aku ingin dia merasakan bayang-bayang ketakutan yang sama."
Baskara mendekati Alea, lalu meletakkan tangannya di bahu gadis itu. "Kita tidak bisa hanya menyebarkan ini ke media. Sarah punya kekuatan untuk membungkam berita besar dalam sekejap. Kita harus menggunakan bukti ini untuk menghancurkannya dari dalam. Kita harus membuat para pemegang saham Mahardika berbalik melawannya sebelum dia sempat melarikan diri ke luar negeri."
"Tapi bagaimana cara kita kembali ke Jakarta tanpa ditangkap polisi?" tanya Alea.
Baskara menatap ke arah pintu ruang mesin yang tertutup rapat. "Kita tidak akan kembali sebagai buronan. Kita akan kembali sebagai hantu yang membawa surat panggilan dari masa lalu."
Baskara kemudian beralih ke tasnya dan mengeluarkan sebuah peta satelit. "Reno, setelah kau selesai dengan slide terakhir, aku ingin kau melacak semua rekening offshore yang disebutkan di dokumen ini. Sarah pasti menggunakan dana dari Proyek Erase untuk membiayai pelariannya. Jika kita bisa membekukan uangnya, kita bisa menghentikan langkahnya."
Malam semakin larut di tengah laut utara Jakarta. Kapal Arunika Jaya terus melaju, membawa tiga jiwa yang kini terikat oleh rahasia yang sama. Di dalam kegelapan perut kapal, rencana besar mulai disusun. Mereka bukan lagi mangsa yang melarikan diri; mereka sedang bertransformasi menjadi pemburu yang paling mematikan.
Baskara kembali duduk di samping Reno, memandangi layar monitor yang kini gelap, namun bayang-bayang dokumen kematian ibunya masih terpatri jelas di retinanya. Fase kedekatan mereka kini telah diperkuat oleh penderitaan yang serupa. Dan di bawah langit malam yang tanpa bintang, dendam Baskara kini telah menemukan arah yang paling presisi: jantung pertahanan Sarah Mahardika.