Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Fajar yang menyingsing di Kerajaan Aethelgard hari itu bukanlah fajar biasa. Cahaya matahari yang menyentuh menara-menara emas membawa serta kabar yang menggetarkan seluruh negeri Putri Aurora yang asli telah kembali, dan pengkhianatan keji Raja Malakor serta Putri Morena telah terbongkar. Namun, di balik rasa syukur yang membuncah, suasana di dalam istana tetap tegang. Aroma sihir hitam Malakor masih tertinggal di udara aula utama, menjadi pengingat bahwa kedamaian ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.
Raja Alaric tidak membiarkan Aurora kembali ke gudang atau sel gelap mana pun. Dengan tangannya sendiri, ia menuntun putrinya menuju sayap timur istana, sebuah paviliun yang selama delapan belas tahun dibiarkan tertutup dan berdebu—kamar sang putri.
"Bunda sendiri yang akan memandikanmu, Sayang," ucap Ratu Elara dengan suara yang kini penuh dengan kekuatan baru. Ia tidak lagi tampak sebagai ratu yang rapuh; api perlindungan seorang ibu telah menyala di matanya.
Di dalam kamar mandi kerajaan yang luas, Aurora dibasuh dengan air yang hangat dan wangi. Pelayan-pelayan setia yang dulu melayani Aurora saat bayi menangis terharu saat membersihkan luka-luka di punggung dan tangan gadis itu. Luka cambukan dari Morena dan lebam akibat rantai penjara mulai diobati dengan salep penyembuh paling mujarab. Saat pakaian pelayannya yang sobek dan kotor dibakar, Aurora merasa seolah-olah identitasnya sebagai budak di Noxvallys ikut musnah terbakar api.
Ketika Aurora keluar dari balik tirai, ia mengenakan gaun sutra berwarna biru langit—warna kebanggaan Valerius—dengan bordiran benang perak berbentuk burung phoenix yang seolah hidup. Rambut pirangnya yang semula kusam kini bersinar seperti emas murni setelah disisir dengan minyak bunga cendana.
Saat ia berdiri di depan cermin besar, Aurora terpaku. Gadis yang menatapnya kembali bukanlah Ara sang pelayan dapur yang selalu menunduk. Gadis di cermin itu memiliki dagu yang tegak, mata biru yang jernih, dan martabat yang tidak bisa dihancurkan oleh penderitaan mana pun.
Sementara itu, di ruang rapat ksatria, ketujuh pangeran berkumpul dengan zirah tempur lengkap. Alistair berdiri di depan peta besar wilayah perbatasan. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat keras.
"Malakor tidak akan melarikan diri untuk bersembunyi," ucap Alistair sambil menancapkan sebilah belati di titik utara peta. "Dia akan mengumpulkan pasukan bayangannya di Noxvallys. Morena tahu setiap sudut istana ini karena dia sempat tinggal di sini sebagai tamu agung. Dia adalah ancaman internal yang paling berbahaya."
"Benar," sahut Benedict sambil mengasah pedang besarnya yang berlumuran sisa sihir hitam tadi malam. "Morena memiliki dendam pribadi pada Aurora. Wanita itu tidak akan berhenti sebelum dia melihat istana ini runtuh. Kita harus mulai melatih Aurora. Dia tidak bisa lagi menjadi korban."
Gideon, yang paling muda namun paling protektif, menggeleng. "Dia baru saja pulang, Kak! Berikan dia waktu untuk bernapas. Dia sudah cukup menderita."
"Justru karena dia sudah menderita, dia harus belajar cara membalas," sela Caspian dengan nada logis. "Malakor menggunakan sihir, Morena menggunakan tipu muslihat. Aurora harus memiliki keduanya—kekuatan dan kecerdasan."
Pintu ruang rapat terbuka perlahan. Aurora masuk didampingi Ratu Elara. Ketujuh pangeran seketika berdiri tegak. Mereka tertegun melihat transformasi adik mereka. Keanggunan yang terpancar dari Aurora membuat mereka tersadar betapa butanya mereka selama ini.
Alistair melangkah maju, lalu diikuti oleh saudara-saudaranya. Di tengah ruangan itu, ketujuh ksatria terbaik Aethelgard itu berlutut dengan satu kaki di depan Aurora. Mereka menghunus pedang masing-masing dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga membentuk payung baja di atas kepala sang putri.
"Kami, tujuh pangeran Valerius," ucap Alistair dengan suara yang menggema ke seluruh ruangan, "bersumpah demi darah yang mengalir di nadi kami dan demi cahaya matahari Aethelgard. Kami akan menjadi perisaimu saat musuh menyerang, menjadi pedangmu saat kau menuntut keadilan, dan menjadi dinding yang tak tergoyahkan bagi jiwamu. Tidak akan ada lagi air mata yang jatuh karena kehinaan selama kami masih bernapas."
Aurora menatap kakak-kakaknya satu per satu. Ia melihat penyesalan di mata Alistair, kasih sayang di mata Gideon, dan tekad baja di mata Benedict.
"Kakak..." Aurora bersuara, suaranya kini lebih stabil. "Terima kasih. Tapi aku tidak ingin hanya dilindungi. Ajari aku. Ajari aku cara menggenggam pedang, ajari aku cara membaca strategi, dan ajari aku cara menjadi seorang Valerius yang layak. Aku tidak ingin Malakor atau Morena tertawa lagi saat melihatku."
Mendengar permintaan itu, Alistair tersenyum tipis—sebuah senyum bangga. "Darah ayahanda memang mengalir kuat di dalam dirimu, Aurora."
Di sisi lain, jauh di utara, di dalam benteng batu Noxvallys yang gelap, suasana sangat berbeda. Morena sedang menjerit amarah, membanting semua cermin yang ada di kamarnya. Wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena kebencian yang meluap-luap.
"Aku seharusnya membunuhnya di penjara itu!" teriak Morena. "Sekarang dia duduk di sana, mengenakan gaunku, memakan makananku, dan dicintai oleh pangeran-pangeranku!"
Raja Malakor duduk di kursi batunya, menatap bola kristal yang memperlihatkan persiapan perang di Aethelgard. "Tenanglah, Morena. Biarkan mereka merayakan reuni kecil itu. Kau lupa bahwa aku masih memiliki 'kunci' di dalam istana itu? Pengkhianat yang telah lama kutanam tidak akan membiarkan Aurora tidur dengan nyenyak."
Malakor berdiri, auranya hitam pekat menyelimuti ruangan. "Siapkan pasukan bayangan. Kita tidak akan menyerang dengan pasukan besar terlebih dahulu. Kita akan menyerang melalui mimpi, melalui racun, dan melalui orang-orang yang paling mereka percayai. Aethelgard akan jatuh dari dalam, dan kau, Morena, akan kuberikan kehormatan untuk memenggal kepala adikmu sendiri."
Morena berhenti merusak barang. Ia menatap telapak tangannya yang masih memiliki bekas luka palsu itu. Sebuah senyum licik kembali muncul. "Aku akan merobek mata birunya itu dengan tanganku sendiri, Ayah."
Di Aethelgard, Aurora berdiri di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang. Ia tahu kedamaian ini semu. Namun, saat ia merasakan Pulpen Cendana Emas yang kini terselip di pinggangnya, ia tahu ia tidak lagi sendiri. Ia memiliki tujuh naga yang siap membakar dunia demi dirinya, dan ia sendiri siap untuk bangkit dari abu masa lalunya.
Persiapan perang telah dimulai. Bukan hanya perang antar kerajaan, tapi perang antara dua wanita yang memperebutkan satu takhta—yang satu memiliki hak darah, dan yang lainnya memiliki haus akan kuasa.
Pagi itu, taman belakang istana Aethelgard yang biasanya tenang berubah menjadi medan "perang" kecil yang penuh dengan aura kompetitif. Sinar matahari menghangatkan rerumputan hijau, namun suhu di sana terasa lebih panas karena tatapan mata tujuh pria yang kini berkumpul mengelilingi satu gadis.
Aurora berdiri di tengah, mengenakan pakaian latihan berbahan kulit ringan yang pas di tubuhnya. Rambut pirangnya diikat tinggi, menampakkan leher jenjangnya dan wajahnya yang kini tampak lebih segar. Di tangannya, ia memegang pedang kayu ringan.
"Ingat, Aurora," ucap Benedict dengan suara berat dan wajah yang sangat serius. Ia berdiri tepat di belakang Aurora, memposisikan tangan besarnya di atas tangan Aurora untuk mengoreksi kuda-kuda gadis itu. "Pedang bukan hanya alat untuk menebas. Ia adalah perpanjangan dari jiwamu. Fokuskan kekuatanmu pada pergelangan tangan, bukan bahu."
Posisi Benedict yang begitu dekat—bahkan napasnya terasa di telinga Aurora—membuat suasana mendadak sunyi.
"Ehem!" Suara dehaman keras Alistair memecah keheningan. Pangeran tertua itu berdiri tidak jauh dari sana sambil melipat tangan di depan dada. "Benedict, kurasa posisimu terlalu dekat. Dia bisa kesulitan bernapas."
"Aku sedang mengajarinya, Kak," jawab Benedict datar tanpa melepaskan pegangannya. "Kuda-kudanya goyah. Aku harus menopangnya."
"Menopang atau mengambil kesempatan?" sahut Gideon ketus. Si bungsu itu sedang duduk di atas pagar pembatas sambil mengupas buah apel dengan belati kecil, namun matanya menatap tajam ke arah tangan Benedict. "Aku juga bisa melakukan itu. Lagipula, aku lebih ringan. Kalau aku yang menopangnya, Aurora tidak akan keberatan."
"Kau masih anak kecil, Gideon. Kembali makan apelmu," timpal Caspian yang entah sejak kapan sudah membawa buku besar tentang Strategi Pertempuran Jarak Pendek.
"Aurora, jangan dengarkan mereka. Menurut buku ini, posisi kaki yang benar adalah selebar bahu. Biarkan aku mengukurnya."
Caspian maju dengan sebuah pengukur kain, hendak berlutut di depan kaki Aurora. Namun, sebelum ia sempat menyentuh ujung sepatu Aurora, Fabian sudah lebih dulu menarik kerah baju Caspian ke belakang.
"Jangan berlebihan, Kak! Mengukur kaki? Kau mau jadi penjahit atau pangeran?" Fabian tertawa keras, lalu ia beralih pada Aurora dengan senyum paling menawan miliknya.
"Aurora, abaikan mereka yang kaku ini. Latihan pedang itu membosankan. Bagaimana kalau kita latihan memanah saja? Aku akan memelukmu dari belakang agar bidikanmu akurat."
"PELUK?!" Teriak keenam pangeran lainnya secara serempak.
Aurora hanya bisa mengerjapkan mata, wajahnya merona merah melihat tingkah kakak-kakaknya yang biasanya sangat berwibawa di depan rakyat, namun kini terlihat seperti anak ayam yang berebut cacing.
"Bisa kita mulai latihannya?" tanya Aurora pelan, mencoba menahan tawa.
"Tentu saja," ucap Evander, pangeran yang paling lembut. Ia maju membawa sebotol air dan sapu tangan sutra. "Tapi sebelumnya, pakailah ini. Matahari terlalu terik, aku tidak ingin kulitmu yang indah ini terbakar."
"Evander! Kita sedang latihan perang, bukan piknik!" protes Alistair.
"Kesehatan kulit adalah bagian dari pertahanan diri, Kak," jawab Evander tenang sambil mulai menyeka keringat di dahi Aurora dengan sangat lembut.
Wajah Benedict mendadak berubah gelap. Ia merebut sapu tangan itu dari tangan Evander. "Biar aku saja. Tangannya sedang memegang pedang, dia tidak bisa bergerak bebas."
"Tapi tanganku yang satu lagi kosong, Kak Benedict," ucap Aurora polos.
"Tetap saja! Berbahaya!" tegas Benedict yang kini justru sibuk menyeka dahi Aurora dengan gerakan yang sangat kaku, hingga dahi Aurora memerah karena digosok terlalu keras.
"Kak, kau menyeka dahinya atau sedang mengamplas kayu?" ejek Darian yang sedari tadi hanya menonton sambil bersandar di pohon.
Darian maju dan memberikan Aurora sebuah bunga kecil yang ia petik dari semak-belukar. "Ini untukmu. Agar kau tetap semangat meskipun dikelilingi oleh pria-pria aneh ini."
Gideon langsung melompat dari pagar.
"Darian! Jangan menggoda adikku sendiri dengan bunga layu itu!"
"Adikku juga, Gideon!" balas Darian.
Kekacauan semakin menjadi-jadi ketika Fabian mencoba menunjukkan cara memutar pedang yang benar, namun pedang kayunya justru terlepas dan mengenai pot bunga kesayangan Ratu Elara yang ada di dekat sana.
Prak!
Suasana seketika hening. Ketujuh pangeran itu membeku melihat hancurnya pot bunga mawar biru langka milik ibu mereka.
"Siapa yang melakukannya?" tanya sebuah suara lembut namun dingin dari arah balkon. Ratu Elara berdiri di sana dengan mata yang menyipit.
Secara serempak, enam pangeran menunjuk ke arah Fabian. Fabian, yang panik, langsung menunjuk ke arah pangeran tertua. "Alistair yang menyuruhku bergerak lebih cepat, Bunda!"
"Alistair?" Ratu mengangkat alisnya.
"Bukan aku! Benedict yang menyenggol sikuku!" bela Alistair.
"Aku? Aku sedang memegang tangan Aurora agar dia tidak jatuh!" sahut Benedict tak mau kalah.
Aurora akhirnya tidak bisa menahan tawa lagi. Tawa yang sangat renyah dan tulus meledak dari bibirnya—suatu hal yang mustahil terjadi saat ia masih berada di Noxvallys. Suara tawa itu membuat ketujuh pangeran berhenti berdebat. Mereka terpesona melihat betapa cantiknya adik mereka saat tertawa lepas tanpa beban.
O
Sore harinya, setelah latihan yang lebih mirip sirkus itu selesai, Aurora duduk di bangku taman sendirian. Ia menatap matahari yang mulai tenggelam. Tiba-tiba, sebuah jubah hangat tersampir di bahunya. Ia menoleh dan menemukan Benedict berdiri di sana.
"Latihannya berantakan, ya?" tanya Benedict sambil duduk di sampingnya.
"Sedikit. Tapi aku menyukainya. Aku merasa... memiliki keluarga," jawab Aurora tulus.
Benedict menatap wajah Aurora. Matanya yang biasanya tajam kini melunak. "Maafkan kami jika kami terlalu berlebihan. Selama delapan belas tahun, kami merasa gagal menjagamu. Sekarang setelah kau di sini, rasanya kami ingin memberikan seluruh dunia padamu dalam satu hari."
Aurora menyandarkan kepalanya di bahu Benedict yang kokoh. "Aku hanya butuh kalian, Kak. Bukan dunia."
Benedict terdiam, hatinya menghangat. Ia mengacak rambut Aurora pelan. Namun, keheningan romantis itu hancur saat terdengar suara gemerisik dari balik semak-semak di belakang mereka.
Gubrak!
Enam pangeran lainnya jatuh bertumpang tindih dari balik semak-semak. Rupanya mereka sedari tadi menguping pembicaraan Aurora dan Benedict.
"Gideon! Kakimu mengenai hidungku!" teriak Fabian.
"Caspian, singkirkan buku tebalmu dari punggungku!" protes Alistair.
"Aku hanya ingin memastikan Benedict tidak mengatakan hal-hal aneh!" bela Gideon sambil mencoba berdiri dan merapikan bajunya yang penuh daun kering.
Aurora tertawa lagi sambil menggelengkan kepala. Meskipun bahaya dari Malakor dan Morena masih mengintai di luar sana, berada di tengah-tengah kakak-kakaknya yang konyol dan posesif ini membuatnya merasa bahwa ia sanggup menghadapi apa pun.
"Sudahlah," Aurora berdiri dan merentangkan tangannya. "Ayo masuk. Bunda bilang ada pai daging untuk makan malam."
"Pai daging?!" Gideon matanya berbinar. "Aku akan sampai di sana duluan!"
"Jangan lari, Gideon! Kau masih punya utang latihan fisik denganku!" teriak Alistair mengejarnya.
Malam itu, istana Aethelgard dipenuhi oleh tawa dan kehangatan yang tak akan pernah bisa dibeli dengan emas mana pun. Di balik tembok tinggi itu, sang Putri tidak lagi merasa seperti budak, melainkan seperti matahari yang dicintai oleh tujuh naga penjaganya.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.