NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Bab 32 Testing Minum Racun

Langkah kaki Jaccob terdengar terburu-buru di koridor rumah besar keluarga Leach. Tap! Tap! Tap!

Wajahnya pucat, matanya merah, dan punggung tangannya penuh goresan memar.

“Aku harus bicara sama Anita,” katanya cepat, suaranya serak karena kurang tidur.

Dion Leach yang sedang duduk di ruang tamu mendongak pelan. Tatapannya tajam, seolah sedang menilai Jaccob dari ujung kepala sampai kaki.

“Wajahmu kayak habis berantem,” ucapnya dingin. “Kau berkelahi?”

Jaccob menggeleng cepat. “Nggak. Tapi aku punya sesuatu yang penting banget buat dikasih tahu ke Anita. Ini darurat.”

Suara langkah halus terdengar dari tangga. Klik... klik... klik...

Anita muncul, menuruni anak tangga dengan rambutnya yang panjang terurai bebas. Matanya tajam, tapi tenang.

“Cepat juga kamu, ya,” katanya, nada suaranya datar namun mengandung sindiran halus. “Percobaannya baru kemarin kubilang.”

Dion menatap mereka bergantian. “Percobaan apa?” tanyanya curiga.

Jaccob menelan ludah. Glek. “Aku cuma mau tahu satu hal... gimana kamu bisa tahu tentang halusinogen N3?”

Anita melipat tangan di dada, bibirnya tersungging tipis. “Kamu nggak perlu tahu aku dapat info dari mana. Sekarang jawab, hasilnya mirip dengan gejala Dion, kan?”

Thud... thud...

Langkah berat terdengar dari arah tangga lain. Drake Leach, kakek Dion, turun perlahan dengan tongkat kayu di tangan.

Aura wibawanya langsung mengisi ruangan.

“Ada apa ini?” suaranya parau tapi tegas.

Begitu mendengar kata halusinogen, ekspresinya langsung berubah menjadi serius. “Jaccob, jelaskan!”

Jaccob menghela napas dalam, suaranya bergetar. “Aku... melakukan tes yang disarankan Anita.”

Semua mata menatapnya. Ia melanjutkan dengan cepat, “Aku membeli cairan halusinogen N3. Itu bahkan nggak tercatat di daftar medis internasional. Aku ingin membuktikan omongannya.”

Dion menajamkan mata. “Kau bilang... kau mencoba racun itu sendiri?”

Jaccob mengangguk. “Ya. Tadi malam.”

Nada suaranya berat, seperti orang yang baru saja keluar dari neraka.

Begitu cairan itu masuk ke tubuhnya, dunianya berubah.

Whoosh! Suara-suara aneh berbisik di telinganya, penglihatannya kabur, pikirannya kacau.

Dia meraung seperti binatang buas. GRAAAH!

Meninju tembok sampai kulit tangannya sobek, menghantam lemari, menghancurkan kaca. BRANG!

Ia menyerang siapa pun yang mendekat. Saat sadar, tubuhnya penuh luka dan darah menetes di lantai.

“Itu sebabnya tanganmu luka,” ujar Dion pelan, alisnya berkerut.

Jaccob hanya mengangguk lemah. “Aku... bahkan nggak tahu siapa diriku tadi malam.”

Drake Leach menatapnya dalam-dalam. “Jadi gejalanya sama seperti serangan Dion dulu?”

“Persis sama,” jawab Jaccob lirih. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol. Klik.

Sebuah video diputar di layar.

Di sana, Jaccob tampak seperti orang gila: tubuhnya gemetar, matanya kosong, menjerit tanpa kendali. RAWR!

Ia memukul, menendang, menghancurkan benda apa pun di hadapannya.

Asistennya yang mencoba mendekat malah dipukul hingga terjatuh.

Adegan itu membuat bulu kuduk berdiri.

Ruangan mendadak hening.

Hanya terdengar suara napas berat. Huff... huff...

Drake Leach menatap layar itu lama, lalu memejamkan mata sejenak. Ketika membuka lagi, suaranya rendah tapi bergetar menahan emosi.

“Jadi... Dion bukan sakit jiwa.”

Ia menatap cucunya. “Dia diracuni.”

Kata diracuni bergema di udara, menimbulkan ketegangan yang menggantung.

Jaccob menatap Anita, matanya penuh rasa ingin tahu.

“Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal ini? Racun ini bahkan tim medis internasional pun nggak punya akses!”

Anita tersenyum kecil, tenang tapi menusuk. “Wolfy aja bisa ngerti bahasa manusia. Masa kamu nggak bisa ngerti logika sederhana?”

“Eh..... !” Jaccob mendengus kesal. “Kamu tuh ya.....”

“Anak durhaka,” potong Anita lembut tapi tajam. “Sekarang panggil aku ‘Ayah’.”

Wajah Jaccob langsung merah padam. Ia ingat tantangannya kemarin, “Kalau kamu bisa buktikan, aku bakal panggil kamu Ayah.”

Kini, ia tak bisa mengelak.

Giginya beradu. Krek!

“...Ayah,” gumamnya pelan tapi jelas.

Anita tersenyum puas. “Nah, begitu lebih sopan.”

Dion hanya menggeleng, menahan senyum tipis. Sementara Drake Leach tampak tertegun melihat kelakuan cucu dan rekannya itu.

“Anita,” ucap Drake akhirnya, nada suaranya penuh wibawa. “Kau tahu lebih banyak dari yang kau tunjukkan. Siapa yang bisa melakukan hal ini pada Dion?”

Anita menarik napas pelan. Huft...

“Waktu aku sering nongkrong di Klub Moonshine, aku pernah dengar seseorang menyebut racun jenis ini,” katanya tenang.

“Efeknya... persis seperti serangan Dion. Saat kulihat pertama kali, aku tahu ini bukan penyakit mental. Ini racun saraf yang dikendalikan dosis.”

Dion menatapnya tajam, diam tapi penuh tanya.

Ia tahu Anita menyembunyikan sesuatu, tapi memilih tak menekan.

Jaccob, masih kesal, langsung menyahut, “Kebetulan banget, ya. Dengar dari siapa, sih? Jangan-jangan kamu......”

Anita melirik dingin. “Jangan tanya ayahmu seperti itu, dasar nggak tahu sopan santun. Dan satu hal lagi…”

Matanya berkilat, bibirnya tersenyum tipis. “Aku nggak tertarik jadi janda.”

“...”

Jaccob langsung menutup mulutnya. Glek.

Drake Leach menatap Jaccob lagi. “Kamu sudah disuntik penawarnya, kan?”

“Iya, Kek. Itu sebabnya aku masih hidup dan bisa ngomong sekarang,” jawabnya lirih.

Tatapan Drake berubah lembut, penuh harap.

“Kalau begitu... penawar itu juga bisa digunakan untuk Dion, kan?”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Dion menatap Anita, yang kini diam lama sebelum menjawab.

Detak jam di dinding terdengar jelas. Tik... tok... tik... tok...

Anita akhirnya tersenyum samar, nyaris misterius.

“Bisa,” katanya pelan. “Tapi penawar itu bukan sesuatu yang mudah didapat.”

Suara angin malam berdesir lembut di luar jendela... sementara di dalam rumah Leach, harapan baru perlahan.

“Ya , aku baik-baik saja,” kata Jaccob pelan, menatap Dion Leach yang berdiri di seberangnya.

Nada suaranya berat, seolah masih menyimpan beban dari malam penuh kekacauan itu. “Tapi aku nggak yakin... apakah penawarnya bisa bekerja untukmu, Dion.”

Huft... napas Dion terdengar pelan tapi tegang.

Penawar yang disuntikkan ke tubuh Jaccob memang menunjukkan hasil, tapi komposisinya mirip dengan Lidoderm 7, versi yang lebih lemah. Daya tekan racunnya terbatas.

Artinya, kemungkinan besar, tidak akan mempan untuk Dion.

Anita menatap mereka berdua tanpa ekspresi, tapi matanya tajam menelusuri situasi.

“Neurotoksin dalam tubuh Dion bukan halusinogen N3,” katanya tenang, tapi dingin. “Jadi penawar itu sia-sia.”

Ruangan seketika mendadak hening.

Drake Leach, yang sedari tadi duduk di kursi kayu besar di ruang tamu, menatap Anita dengan dahi berkerut.

“Bagaimana kamu tahu itu?” tanya Jaccob cepat, nadanya penuh rasa tidak percaya.

Anita hanya menatapnya datar, bibirnya melengkung tipis.

“Aku sudah menduganya,” ucapnya ringan, seolah semua ini sudah lama ia perhitungkan.

Jaccob menggertakkan gigi. Krek!

Ia ingin membantah, tapi entah kenapa, ada sesuatu di tatapan Anita yang membuatnya bungkam.

Ia hanya menunduk, tangannya mengepal kuat di atas lutut. Dug!

Sementara itu, Drake Leach perlahan memalingkan wajah. Guratan kecewa tergambar jelas di wajah tuanya.

Harapan yang baru saja tumbuh... layu begitu saja. Srek... srek... seperti daun kering yang diremas angin.

Jaccob menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menggeram pelan. Brugh!

Tinju kanannya menghantam bantal berkali-kali. Bugh! Bugh!

“Siapa otak gila yang menciptakan halusinogen kayak begini?” geramnya. “Sialan!”

Anita tidak menanggapi.

Pikirannya melayang jauh. Ia tahu lebih banyak daripada siapa pun di ruangan itu.

Halusinogen N3... racun yang seharusnya tidak pernah ada.

Ia sendiri, di kehidupan sebelumnya, pernah bekerja di laboratorium tempat racun itu diciptakan, bukan untuk membunuh, tapi untuk mencari vaksin. Namun, satu kesalahan fatal membuat formula itu bermutasi jadi senjata saraf mematikan.

Klik... klik... suara langkah haknya pelan terdengar di lantai marmer.

Ia mendongak, menatap Dion dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Aku mau pergi ke Klub Moonshine,” katanya datar. “Kau ikut denganku.”

Dion mengangguk tanpa banyak bicara. “Oke.”

Mata Jaccob membulat. Hah?!

Ia melompat dari sofa. “Kamu serius, Anita? Kamu istri orang! Mau ngapain ke tempat kayak gitu, malah ngajak Dion segala!”

Ia tahu betul reputasi Klub Moonshine.

Tempat yang identik dengan musik keras, minuman mahal, dan godaan duniawi.

Tapi Anita tak menoleh. Ia hanya berjalan ke arah pintu. Klak!

“Kalau kau masih pengin hidup, Jaccob, jangan ikut campur.”

Dion sempat meliriknya dengan ekspresi dingin, lalu BRUK! Ia menendang lutut Jaccob dengan ringan namun tegas.

“Mulai sekarang, panggil dia Nyonya Leach,” katanya tanpa emosi.

“...”

Jaccob menatap mereka bergantian, ia kehilangan kata. Huft... ya ampun...

Beberapa menit kemudian, di halaman depan mansion Leach.

Mesin mobil VROOM! hidup, lalu melaju keluar dari gerbang besi besar.

Anita di belakang kemudi, wajahnya fokus menatap jalan. Lampu sore menyoroti garis rahangnya yang tegas.

Di sebelahnya, Dion bersandar di kursi penumpang, memperhatikannya dalam diam.

Ada sesuatu yang selalu membuatnya bingung setiap kali melihat perempuan itu.

Rasanya seperti... menatap seseorang yang memakai banyak lapisan topeng.

Ia ingin membuka satu persatu....

selapis... selapis lagi...

Tapi di balik itu semua, ia tetap tak tahu siapa Anita sebenarnya.

Ia mengembuskan napas pelan. Huft.

Namun pada akhirnya, pikirannya berbisik,

nggak peduli siapa dia, aku udah milih percaya padanya.

Anita tetap diam. Ia tak bertanya apa pun, tak menjelaskan apa pun.

Dalam diam, keduanya seperti saling memahami tanpa perlu kata.

---

Mereka tiba di depan Klub Moonshine sebelum matahari tenggelam.

Pintu klub masih tertutup, lampu-lampu di dalam belum menyala.

Begitu masuk, aroma alkohol sisa semalam masih terasa di udara. Hmmm...

Dan di sana, berdiri Hendra Yates dengan senyum lebar tapi postur agak pincang.

Begitu melihat Anita, wajahnya berbinar seperti anak anjing yang melihat tuannya datang.

“Tuan!” serunya spontan, tapi saat melihat Dion berdiri di samping Anita, suaranya tercekat.

Eh... ups.

Anita hanya menatapnya, lalu tersenyum samar. “Hendra, lakukan seperti biasa di depan Dion.”

“Ah ...... siap, Tuan!” seru Hendra dengan semangat yang agak gugup.

“Semuanya sudah siap dari pagi. Hari ini cuma kita bertiga, nggak ada yang bakal ganggu sampai fajar.”

Tap... tap... tap... Ia berjalan mendekat, tapi langkahnya tampak aneh. Setiap kali melangkah, tubuhnya meringis sedikit.

Dion memicingkan mata. “Kau kenapa?” tanyanya datar.

Anita memperhatikan postur Hendra, lalu menaikkan satu alis. “Kamu dipukuli?”

Hendra malah terkekeh kecil, heh... heh...

“Ah, nggak apa-apa, Tuan. Aku udah biasa. Toh kakinya nggak patah.”

Nada suaranya setengah bangga, setengah menggoda, seolah luka itu sebuah medali.

Anita menggeleng kecil, senyumnya tipis. “Masih sama keras kepalanya.”

Dion menatap sekeliling ruangan yang kosong dan remang, meja bar masih ditutup kain hitam.

“Apa yang mau kita lakukan di sini?” tanyanya akhirnya.

Anita menatap lurus ke depan, ke arah panggung utama Klub Moonshine yang tertutup tirai beludru.

Suara tirai itu berdesir lembut ketika ia berjalan mendekat. Srek... srek...

“Aku mau menunjukkan sesuatu,” katanya pelan, tapi nadanya berat dan misterius.

“Dan mungkin... malam ini, kita akan tahu siapa yang berani menyentuh keluarga Leach.”

Dun... dun... suara bass dari sistem klub yang tiba-tiba menyala, menggema di ruang kosong.

Sementara angin malam berhembus masuk melalui celah pintu, membawa aroma dingin yang menandakan malam baru saja dimulai.

---

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!