NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Darah Samudera di Nadi Manusia

Udara di halaman mercusuar Navasari mendadak berubah. Oksigen yang tadinya segar dan tipis khas pegunungan, kini terasa berat, asin, dan menyesakkan, seolah-olah atmosfer telah berubah menjadi cairan transparan yang menekan paru-paru. Air hitam yang meluap dari sumur tua itu bukan sekadar air; ia bergerak dengan kecerdasan yang ganas dan purba. Cairan itu melilit pergelangan kaki Elian seperti rantai besi yang membeku, menariknya dengan sentakan yang sanggup mematahkan tulang.

Elian berpegangan erat pada pilar batu fondasi mercusuar. Kuku-kukunya mencengkeram lumut dan permukaan batu yang kasar hingga berdarah, namun tarikan itu terlalu kuat. Setiap inci pergeseran tubuhnya meninggalkan jejak goresan di tanah yang kini mulai becek oleh air laut yang mustahil ada di ketinggian ini.

"Alana! Jangan lepaskan jangkarnya! Tetap di sana!" Elian berteriak, suaranya parau, hampir tenggelam oleh deru angin yang kini membawa suara gemuruh ombak dari kejauhan yang tak terlihat.

Alana berdiri di balkon menara kristal, wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ngeri. Cahaya indigo di tubuhnya berkedip-kedip liar seperti lampu yang kehabisan daya. Ia terjepit dalam dilema yang menyiksa: jika ia melompat turun untuk menarik Elian, koneksinya dengan "Akar Bumi" akan terputus. Perisai yang melindungi desa akan pecah seperti kaca tipis, dan ratusan moncong senjata di luar sana akan meratakan Navasari dalam hitungan detik.

"Elian, aku tidak bisa menjangkaumu! Sesuatu menahanku!" Alana menangis, air mata indigonya jatuh dan membeku sebelum menyentuh lantai. Garis-garis emas di lengannya kini membelitnya, mengunci kakinya pada struktur menara. Bumi Navasari menolak untuk melepaskan pelindungnya, meskipun itu berarti membiarkan sang kekasih terseret ke kegelapan.

"Lepaskan dia! Dia bukan milik tanah ini!" Sebuah suara berat dan basah menggelegar dari arah sumur, getarannya membuat kaca-kaca jendela rumah kakek Surya retak seribu.

Sesosok figur muncul dari dalam luapan air hitam. Ia tidak memiliki wajah yang tetap, hanya sebuah bentuk humanoid yang terdiri dari air laut yang pekat dan berpendar biru tua yang dalam. Entitas itu menatap Elian dengan sepasang lubang cahaya di kepalanya—bukan dengan kebencian, melainkan dengan semacam pengakuan yang dingin dan mengerikan.

"Elian... kau tidak pernah bertanya-tanya mengapa Surya begitu menyayangimu? Mengapa seorang pria yang terobsesi pada langit memilih anak yatim piatu sepertimu untuk menjaga hartanya yang paling berharga?" entitas itu bicara, suaranya menyerupai gesekan batu-batu besar di dasar samudera. "Bukan karena kebaikan hatimu, Nak. Tapi karena kau adalah 'Surat' yang ia curi dari palung kami lima puluh tahun yang lalu."

Elian tertegun. Genggamannya pada pilar batu melemah seiring dengan hantaman informasi itu. Bayangan masa kecilnya, ingatan tentang wajah ibunya yang lembut namun samar, mendadak terasa seperti fragmen film yang diputar di atas layar yang terbakar.

"Bohong! Aku lahir di desa ini!" teriak Elian, namun di dalam relung jiwanya, sesuatu yang dingin mulai terbangun. Luka di telapak tangannya—bekas luka yang ia dapatkan saat membangkitkan Alana—kini tidak lagi mengeluarkan darah merah segar. Cairan yang merembes dari sana berwarna biru gelap, pekat seperti tinta cumi, dan ia merasakan jantungnya mulai berdetak dalam ritme yang aneh... ritme yang sama dengan gelombang pasang yang menghantam lempeng tektonik.

"Surya mengkhianati perjanjian dua alam," lanjut entitas itu. "Dia mencurimu dari laboratorium Leviathan dan membawamu ke puncak gunung ini, berharap kesucian tanah dan tipisnya udara Navasari bisa menghapus asal-usul samudera di nadimu. Tapi laut tidak pernah melupakan apa yang dipinjam darinya. Tanpa darahmu, Alana tidak akan pernah bisa stabil di bumi. Dan tanpa darahmu, kami tidak bisa membuka gerbang terakhir untuk mengklaim kembali permukaan dunia yang telah kalian rusaki."

Di Atas Menara

Alana merasakan guncangan hebat di dalam sistem "Akar Bumi". Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit: selama ini, bukan hanya energinya yang menjaga desa ini tetap tersembunyi. Keberadaan Elian di sampingnya selama bertahun-tahun bertindak sebagai "grounding" atau penawar bagi radiasi langitnya yang tajam. Elian adalah peredam, penyeimbang, dan jangkar yang sebenarnya bagi jiwa Alana yang terlalu ringan.

"Alana, dengarkan aku!" Elian menatapnya dari bawah, air mata bercampur air garam mengalir di pipinya yang kotor. "Jika mereka membutuhkan darahku untuk membuka palung, maka aku harus pergi. Jika aku tetap di sini, frekuensiku yang mulai aktif akan menghancurkanmu. Kita adalah dua kutub yang didesain untuk tidak pernah bersatu dalam satu raga!"

"Tidak, Elian! Aku akan turun! Aku akan menghancurkan sumur itu!"

"Jangan! Jika perisainya runtuh, semua orang di desa ini akan mati!" Elian melepaskan pegangannya pada pilar batu secara sengaja. "Jaga Navasari, Alana. Jaga surat-surat kita. Aku akan mencari jawaban di bawah sana... aku akan menuntut kebenaran dari apa pun yang kakek tinggalkan di bawah laut."

Dengan satu sentakan kuat, tangan-tangan air hitam itu menarik Elian masuk ke dalam mulut sumur yang gelap. Air hitam itu meledak ke atas membentuk pilar raksasa, lalu menyusut kembali ke dalam tanah dengan sangat cepat, meninggalkan halaman mercusuar yang basah, berbau garam, dan sunyi senyap yang mematikan.

Alana terjatuh berlutut di balkon. Perisai Navasari mendadak berubah warna dari indigo bening menjadi biru gelap yang hampir hitam, memancarkan aura gravitasi yang sangat kuat hingga burung-burung yang terbang di dekatnya jatuh ke tanah. Ia bisa merasakan frekuensi Elian, namun frekuensi itu kini bergerak menjauh dengan kecepatan yang mustahil, turun menembus lapisan kerak bumi, menuju ke kedalaman yang tak terjangkau oleh cahaya bintang paling terang sekalipun.

Tiga Jam Kemudian

Pasukan militer di luar barikade mulai mundur perlahan dalam ketakutan. Mereka melihat kubah desa yang kini tidak lagi memancarkan cahaya pelangi, melainkan aura kegelapan yang mengintimidasi, seolah-olah desa itu telah berubah menjadi benteng samudera di tengah pegunungan.

Di dalam menara, Alana berdiri di depan meja kristalnya yang retak. Ia tidak menangis lagi. Matanya kini sepenuhnya berubah—iris indigonya dikelilingi oleh warna biru gelap samudera dengan tepian emas langit. Sebuah penyatuan tiga kekuatan: Langit, Tanah, dan Air.

Ia mengambil pena kristalnya dan menulis di permukaan meja, namun kali ini pesannya tidak ditujukan ke angkasa. Ia menulis pesan yang dirancang untuk merambat melalui molekul air tanah, mengalir ke sungai-sungai, dan berakhir di samudera terjauh.

"Untuk Leviathan yang menyembunyikan cintaku di dalam kegelapanmu...

Kau pikir kau telah mengambil kuncinya. Tapi kau lupa, aku adalah Navigator yang telah menyatu dengan tanah ini. Aku akan membalikkan seluruh samudera ini, aku akan mengeringkan palungmu hanya untuk menjemputnya kembali. Dan saat aku sampai di sana, pastikan kau siap menghadapi murka dari satu-satunya manusia yang kini memiliki izin dari semesta untuk menghancurkanmu."

Alana memecahkan meja kristalnya dengan satu hantaman tangan. Seluruh energi di Navasari bergetar hebat. Ia menyadari satu hal yang membebaskannya: ia tidak lagi terikat pada menara itu sebagai penjaga yang pasif. Ia telah menjadi penguasa frekuensi.

Di dasar Palung Jawa yang abadi, di dalam sebuah ruangan kaca yang dikelilingi oleh kegelapan air biru tua yang pekat, Elian terbangun. Ia tidak merasa sesak; ia merasa bisa bernapas dengan lebih lega daripada saat ia berada di gunung. Di depannya, berdiri seorang pria yang mengenakan pakaian pelaut kuno yang basah, namun wajahnya persis seperti Elian dua puluh tahun ke depan. Pria itu tersenyum tenang dan berkata, "Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Elian. Alana sedang dalam perjalanan menuju jebakan paling indah yang pernah dirancang kakek Surya untuk menyatukan kembali dua dunia yang terbelah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!