Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Hari H Yang di Harapkan
Setelah Lila mengatakan kata-kata yang membuat Rara menangis senyum, hubungan mereka semakin erat. Lila mulai memanggil Rara "Bu" tanpa dipaksa, dan dia selalu menunggu Rara pulang kerja setiap sore. Mereka sering bermain layang-layang di taman Alun-Alun Sorong, membuat kue bersama di dapur, dan membaca cerita sebelum tidur.
Satu hari, Rama mengajak Rara dan Lila pergi ke pantai Pasir Putih di Sorong. Hari itu langit cerah, dan ombak memukul pantai dengan suara lembut. Lila bermain pasir dengan teman-teman yang baru dia kenal, sementara Rara dan Rama duduk di atas tikar, melihat matahari yang mulai terbenam.
"Kamu tahu apa, Rara?" ujar Rama, memegang tangan Rara. "Sejak kamu datang, hidupku dan Lila jadi lebih bahagia. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu."
Rara tersenyum, memandangnya dengan mata yang penuh cinta. "Aku juga tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu dan Lila, Rama. Kamu berdua adalah segalanya bagiku."
Rama mendekat dan mencium bibir Rara perlahan. Angin sepoi-sepoi menyemprot wajah mereka, dan matahari terbenam memancarkan cahaya emas ke permukaan laut—momen romansa yang mereka tunggu-tunggu selama lama, setelah semua kesulitan yang lewati.
"Saya mau melamar kamu lagi, Rara," ujar Rama tiba-tiba, mengambil kotak kecil dari saku celananya. "Kali ini, dengan Lila di sisi kita. Aku tidak mau menyembunyikan apa-apa lagi. Maukah kamu menjadi istriku dan ibu Lila yang sah?"
Lila yang sedang bermain pasir mendengar kata-kata itu dan berlari ke arah mereka. Dia memegang tangan Rara dan berkata: "Bu, tolong ya mau jadi ibu aku. Lila mau hidup bersama Bu dan Ayah selamanya."
Rara menangis senyum, mengangguk dengan kencang. "Ya, Rama! Ya, Lila! Aku mau banget!"
Rama meletakkan cincin baru di jari Rara—cincin yang memiliki dua batu permata, satu untuk dia dan satu untuk Lila. Lila bersorak senang, dan mereka berdua memeluk Rara dengan erat. Di kejauhan, matahari terbenam sepenuhnya, meninggalkan cahaya senja yang indah di langit.
Mereka memutuskan untuk mengadakan pernikahan di akhir bulan depan, di gereja kecil di pinggir pantai Pasir Putih—tempat yang penuh makna bagi mereka berdua. Rara dan Lila bekerja sama membuat undangan pernikahan dengan gambar kucing dan bunga mawar, sementara Rama mempersiapkan tempat resepsi yang dipenuhi bunga kesukaan Rara dan makanan kesukaan Lila.
Hari pernikahan tiba dengan cepat. Rara mengenakan gaun putih yang sederhana tapi cantik, dengan renda yang dibuat dari benang sutra. Dia memakai jilbab putih yang dihiasi bunga melati, dan cincin yang diberikan Rama ada di jari tangannya. Lila memakai gaun biru muda dengan dasi merah, dan dia menjadi pengantar cincin—sekaligus "pengantar" Rara ke depan panggung.
"Saya mau bawa Bu ke Ayah," ujar Lila dengan senyum lebar, memegang tangan Rara.
Mereka berjalan ke depan panggung bersama-sama, sementara lagu pernikahan dimainkan. Semua tamu tersenyum, dan banyak orang menangis terharu melihat momen itu—anak kecil yang menerima ibu tiri dengan sepenuh hati, dan pasangan yang menemukan cinta kembali setelah semua rintangan.
Saat mereka sampai di depan panggung, Rama berdiri dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Dia melihat Rara dan Lila dengan mata yang penuh cinta, dan dia tahu bahwa ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupnya.
"Rara, aku bersumpah akan mencintaimu selamanya, merawatmu, dan selalu ada di saat kamu butuh," ujar Rama di depan pendeta dan semua tamu. "Aku juga bersumpah akan melindungi Lila bersama mu, dan membuatnya bahagia sepanjang hidupnya. Kamu berdua adalah keluarga ku yang lengkap."
Rara melihat Rama dan Lila, hati dia penuh kebahagiaan. "Rama, aku bersumpah akan mencintaimu selamanya, merawatmu, dan membangun masa depan bersama. Lila, aku bersumpah akan mencintaimu seperti anakku sendiri, melindungimu, dan selalu ada ketika kamu butuh. Kamu adalah bagian dari kehidupanku yang paling berharga."
Saat mereka mencium satu sama lain, semua tamu bersorak dan melemparkan bunga mawar. Lila berlari ke depan panggung dan memeluk keduanya, membuat semua orang lebih terharu. Setelah upacara, mereka pindah ke tempat resepsi di pantai, di mana tamu menari, makan, dan memberikan doa kepada pasangan baru.
Malam tiba, dan semua tamu mulai pulang satu per satu. Akhirnya, hanya Rara, Rama, dan Lila yang tersisa di pantai. Mereka duduk di atas tikar, menonton bintang-bintang yang bersinar terang dan ombak yang memukul pantai dengan suara lembut.
"Bu, apakah kita akan selalu bersama?" tanya Lila, melepas tangan Rara.
"Ya, sayang. Selalu, selama kita ada satu sama lain," ujar Rara, memeluknya erat. "Kita adalah keluarga sekarang—tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Setelah satu tahun pernikahan, kehidupan mereka semakin bahagia. Lila sudah masuk kelas dua SD, dan dia menjadi murid yang cerdas dan aktif di sekolah. Dia sering menceritakan tentang Bu Rara kepada teman-temannya, dan berkata bahwa Bu Rara adalah ibu terbaik di dunia.
Rara telah menyelesaikan buku pertamanya—sebuah novel anak-anak yang berjudul Kucing Kiki dan Keluarga yang Bahagia, yang diinspirasi oleh Lila dan boneka kucingnya. Buku itu laris manis di seluruh Indonesia, dan banyak orang menyukainya karena cerita yang hangat dan penuh cinta. Rama juga mendapatkan promosi di kantor—dia menjadi manajer proyek, dan dia selalu mendukung pekerjaan Rara.
Satu hari, Rara merasa tidak enak badan. Dia sering merasa lelah dan mual, terutama di pagi hari. Rama membawanya ke dokter, dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa dia hamil dua bulan.
"Kita akan punya anak baru, Rara!" ujar Rama dengan senyum lebar, memeluknya.
Lila yang mendengar kata-kata itu berlari ke arah mereka dan berkata: "Aku mau adik perempuan, Bu! Aku mau main sama dia dan ajarkan dia baca cerita!"
Rara menangis senyum, memeluk Lila dan Rama. "Aku juga senang banget, sayang. Kita akan punya keluarga yang lebih lengkap."
Selama kehamilan, Lila selalu membantu Rara melakukan pekerjaan rumah. Dia membawa air untuk Rara, membantu memasak makanan yang mudah dicerna, dan selalu menanyakan keadaan bayi di perut Bu. Rama juga selalu ada di samping Rara—dia membawanya ke dokter setiap minggu, membelikan makanan yang dia inginkan, dan menyanyikan lagu untuk bayi di perutnya.
Pada hari yang ditentukan, Rara melahirkan seorang gadis yang sehat. Mereka memberi nama padanya—Siti, sebagai penghormatan kepada ibu kandung Lila. Lila melihat adiknya dengan mata yang cerah, dan dia berkata: "Adikku cantik banget. Aku akan melindunginya selamanya."
Setelah itu, kehidupan mereka semakin sibuk tapi bahagia. Lila membantu merawat adiknya—dia membaca cerita untuknya, memegang tangannya, dan selalu ada ketika dia menangis. Rara dan Rama bekerja sama merawat kedua anak mereka, dan mereka selalu menghabiskan waktu bersama di akhir pekan—bermain di taman, pergi ke pantai, atau hanya duduk di rumah membaca buku.