NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Seblak Level Lima di Ruangan Steril

Belum terdiagnosa secara medis adalah kondisi yang sangat mengkhawatirkan bagi Adrian, apalagi saat ia menyadari bahwa di dalam plastik itu terdapat sebuah surat kecil yang berisi jadwal harian miliknya secara mendetail. Adrian menatap ngeri pada deretan tulisan tangan yang mencatat jam keberangkatannya dari rumah hingga jadwal operasinya di rumah sakit besok pagi. Kantong plastik berisi kerupuk pedas itu kini terasa seperti sebuah bom waktu yang siap meledakkan reputasi profesionalnya dalam sekejap mata.

"Bagaimana mungkin bocah sekolah ini bisa mengetahui jadwal pribadi saya sampai ke menit terkecil?" gumam Adrian sambil meremas pinggiran meja makan dengan sangat kencang.

Keesokan paginya, Adrian melangkah masuk ke rumah sakit dengan tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi daripada saat ia menghadapi ujian spesialis bedah. Dia sengaja melewati jalur belakang agar tidak berpapasan dengan Lala yang mungkin saja sudah bersiaga di depan gerbang utama dengan segala aksi konyolnya. Namun, saat ia membuka pintu ruang kerjanya yang sangat steril dan harum aroma cairan pembersih, sebuah pemandangan mengerikan langsung membuat jantungnya nyaris melompat keluar.

"Selamat pagi dokter pujaanku, aku sudah menyiapkan sarapan paling istimewa agar hari ini Dokter tidak lesu saat membedah perut orang!" seru Lala dengan riang.

"Keluar sekarang juga sebelum saya memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu secara paksa dari gedung ini!" bentak Adrian dengan wajah yang memerah padam karena marah.

Lala sama sekali tidak bergeming dari kursi kebesaran Adrian dan justru mulai membuka bungkus makanan dari plastik transparan yang aromanya sangat menyengat memenuhi ruangan. Uap panas mengepul dari sebuah mangkuk besar yang berisi kerupuk basah, ceker ayam, dan kuah merah kental yang terlihat sangat pedas. Bau kencur serta cabai yang sangat kuat itu seketika menodai kebersihan udara di ruangan yang seharusnya bebas dari segala jenis bau makanan.

"Ini seblak level lima paling enak seantero kota, Dokter harus mencoba satu suap saja agar semangat hidupnya kembali membara!" kata Lala sambil menyodorkan sendok plastik ke arah mulut Adrian.

"Bawa pergi benda berbau tajam ini sekarang juga, kamu sudah benar-benar merusak standar kebersihan ruangan medis saya!" jawab Adrian sambil menepis tangan Lala hingga kuah merah tersebut hampir mengenai jas putihnya.

Lala merengut pendek sambil meletakkan kembali sendoknya ke dalam mangkuk dengan perasaan yang sedikit kecewa namun tetap terlihat penuh semangat. Dia menatap Adrian dengan mata bulatnya yang jernih seolah sedang memohon agar sang dokter mau sedikit saja menghargai usahanya yang sudah bangun pagi-pagi sekali. Ketegangan di antara mereka berdua membuat suasana di dalam ruangan yang sempit itu terasa sangat mencekam dan panas seperti kuah cabai di depan mereka.

"Kenapa Dokter selalu memandangku sebagai pengganggu, padahal aku hanya ingin memberikan perhatian tulus agar Dokter tidak jatuh sakit?" tanya Lala dengan nada suara yang tiba-tiba melirih sedih.

"Perhatianmu itu salah tempat dan salah waktu, kamu masih seorang siswi sekolah yang seharusnya fokus belajar daripada menguntit laki-laki dewasa!" sahut Adrian dengan nada yang tidak kalah tajam.

Lala tiba-tiba berdiri tegak lalu mendekatkan wajahnya ke arah Adrian hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan secara tidak sengaja. Adrian terkesiap dan tanpa sadar menahan napas saat mencium aroma parfum stroberi yang bercampur dengan aroma pedas dari seblak yang masih mengepul. Gadis itu menatap lurus ke dalam mata Adrian dengan sebuah tekad yang sangat kuat dan tidak tergoyahkan oleh gertakan apa pun dari sang dokter kulkas.

"Aku akan terus mengganggu sampai Dokter sadar bahwa kehadiranku adalah satu-satunya hal yang tidak tertulis dalam buku kedokteran mana pun!" bisik Lala dengan penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

"Jangan pernah berharap terlalu tinggi karena saya tidak memiliki waktu untuk mengurusi drama remaja yang sangat tidak masuk akal sehat ini," balas Adrian sambil mundur satu langkah untuk menciptakan jarak aman.

Adrian segera menyambar mangkuk seblak itu dan membawanya menuju tempat pembuangan sampah limbah cair di sudut ruangan dengan gerakan yang sangat kasar. Namun, saat ia hendak membuang makanan tersebut, Lala justru menarik lengan jas Adrian hingga membuat sang dokter kehilangan keseimbangan tubuhnya secara mendadak. Mangkuk itu pun terlepas dari tangan Adrian dan isinya tumpah membanjiri lantai keramik yang putih bersih serta mengenai ujung sepatu pantofel milik sang dokter.

"Lihat apa yang sudah kamu lakukan, lantai ini baru saja dibersihkan dengan cairan pembunuh kuman!" teriak Adrian sambil menunjuk ke arah ceceran kuah merah yang terlihat sangat berantakan.

"Maafkan aku Dokter, aku tidak sengaja menarik tangan Dokter karena takut seblaknya dibuang sia-sia begitu saja!" jawab Lala dengan wajah yang sangat pucat karena merasa bersalah.

Adrian tidak menjawab lagi dan segera mengambil alat komunikasi di dinding untuk memanggil petugas kebersihan guna membereskan kekacauan yang sangat luar biasa menyedihkan ini. Dia memijat pangkal hidungnya dengan rasa frustrasi yang sudah mencapai titik didih tertinggi di dalam otaknya yang cerdas. Lala hanya bisa berdiri terpaku di sudut ruangan sambil meremas ujung seragam sekolahnya dengan perasaan yang sangat tidak karuan sama sekali.

"Pergi dari sini sekarang juga sebelum saya benar-benar melaporkan namamu ke kepala sekolah atas tindakan perusakan fasilitas rumah sakit," perintah Adrian dengan suara yang sangat rendah namun sangat menakutkan.

Lala mengangguk pelan lalu berjalan lunglai menuju pintu keluar tanpa mengucapkan satu patah kata pun sebagai pembelaan dirinya seperti biasanya. Sebelum ia benar-benar menghilang, Lala sempat menoleh sejenak dan melihat Adrian yang sedang membersihkan sepatunya dengan lembaran kertas tisu dalam kemarahan yang membisu. Gadis itu menutup pintu dengan pelan dan meninggalkan Adrian di dalam ruangan yang kini masih dipenuhi oleh sisa-sisa aroma pedas yang sangat memusingkan kepala.

Sangat memusingkan kepala bagi Adrian saat ia menyadari bahwa di balik ceceran kuah seblak itu, ada sebuah benda yang terjatuh dari saku seragam Lala yang tadi sempat tertarik olehnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!