Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Tahun 2004
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan menggema di tengah keheningan.
"Raisa..." Sebuah suara berat memanggil dari balik pintu.
Raisa tersentak. Matanya langsung terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang.
Dengan gerakan cepat, ia bangkit dari tempat tidur, selimut pink masih melilit sebagian tubuhnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Syukurlah, hanya mimpi," bisiknya lega, napasnya masih tersengal-sengal. Ia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri.
Raisa mengamati sekelilingnya. Ia berada di sebuah kamar kos sederhana yang pernah menjadi tempat tinggalnya dua puluh tahun silam. .
Butuh beberapa saat bagi Raisa untuk benar-benar menyadari apa yang terjadi. Ia mengerutkan kening, mencoba mencerna situasi yang membingungkan ini.
"Aku... ada di mana?" tanyanya lirih, suaranya bergetar.
"Tidak, ini tidak mungkin," gumam Raisa, termenung. Ia mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian sebelumnya, apa yang telah membawanya ke tempat ini.
"Aku belum mati," katanya sambil meraba-raba beberapa bagian tubuhnya, memastikan bahwa ia masih hidup dan bernapas.
"Ini tidak masuk akal," ucap Raisa sambil menatap setiap sudut ruangan dengan tatapan kosong.
Perhatiannya kemudian tertuju pada jam dinding bergambar Manchester United yang tergantung persis di depan tempat tidurnya.
"Nasib kita sama-sama tragisnya di masa depan," kata Raisa sambil menggelengkan kepala.
Kemudian, Raisa menoleh ke samping. Di sana, tampak sebuah komputer PC lengkap dengan CPU, monitor tabung, dan keyboard yang menguning. Benda itu berada tepat di samping tempat tidurnya.
"Ini luar biasa," Raisa tampak antusias. Ia segera beranjak dari tempat tidur, kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia merasakan sensasi yang aneh, namun nyata.
"Kakiku berpijak. Syukurlah, aku bukan hantu," bisiknya lega.
"Euh... HP Nokia..."
Raisa melihat sebuah ponsel Nokia 6600 tergeletak di atas meja, di antara keyboard dan sebuah MP3 player berwarna hitam.
Raisa mulai menyentuh benda-benda itu dengan hati-hati. Ia merasa seperti menyentuh artefak dari masa lalu.
"Aku bisa menyentuhnya," ucap Raisa takjub. Kemudian, dengan gerakan perlahan, ia meletakkan kembali ponsel itu di atas meja.
"2004!" serunya. Matanya tertuju pada sebuah kalender dinding yang tergantung di dekat jendela.
"Aku kembali," bisiknya. Pikiran itu kini memenuhi benaknya, membuatnya semakin bingung dan tak percaya.
Sterofoam berwarna pink yang berada persis di atas meja belajarnya tak luput dari perhatiannya. Di sana, tampak beberapa foto polaroid yang ditempel menggunakan paku pin berwarna pink.
"Teman-temanku," kata Raisa sambil asyik memperhatikan foto-foto itu satu per satu.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras dan mendesak.
"Raisaa..." Sebuah suara familiar memanggil namanya dari luar.
Raisa menoleh ke arah pintu kamarnya. Jantungnya berdegup semakin kencang.
"I-iya..." sahut Raisa gugup. Ia segera beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
Kreek...
Pintu terbuka perlahan.
"Euh..." Raisa terkejut. dia sedikit mundur ke belakang, matanya membulat.
Orang yang ada di hadapannya tampak keheranan melihat reaksinya.
"Iih, kamu kenapa?" tanya orang itu dengan nada bingung.
Raisa menatap sosok itu dengan tatapan tak percaya. dia merasa seperti melihat hantu.
"Kamu nggak ke kampus? Hari ini kan UTS," kata sosok itu lagi, mengingatkan.
Namun, Raisa tak bereaksi. Ia hanya berdiri mematung, raut wajahnya terlihat kosong.
"Cha?" Sosok bernama Mutia itu memanggil Raisa dengan nama panggilannya.
"Euh, iya..." sahut Raisa linglung.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Mutia sambil menggoyangkan kedua telapak tangannya.
Lagi-lagi, Raisa terhanyut dalam pikirannya sendiri.
"Hallo, Raisa..." ucap Mutia lagi, kali ini dengan nada suara yang sedikit lebih keras.
Raisa tersentak kaget. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali,Tiba-tiba, Raisa memeluk Mutia dengan erat.
Bruuk...
"Astaga, Raisa!" Mutia tampak terkejut dengan tindakan tiba-tiba Raisa.
"Teh Mutia!" ucap Raisa pelan, suaranya terdengar berat menahan tangis.
"Euh..." Mutia tampak bingung melihat tingkah aneh Raisa. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya itu tiba-tiba bersikap seperti ini.
"Kamu kenapa?" tanya Mutia heran sambil mengelus kepala Raisa perlahan.
Bukannya menjawab, Raisa malah mendekap Mutia semakin erat, sampai-sampai Mutia merasa sesak.
"Lepas, lepas," Mutia mencoba melepaskan diri dari dekapan Raisa dengan sekuat tenaga.
"Aku kangen sama Teteh," kata Raisa sambil terisak. Air matanya mulai membasahi pundak Mutia.
"Dih, aneh. Tiap hari juga ketemu," sahut Mutia, dan akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari dekapan Raisa. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
"Kamu lagi sakit?" Mutia memegang kening Raisa, memeriksa suhu tubuhnya.
"Nggak demam, kok," kata Mutia lagi.
Sekarang Raisa menangis. Air matanya mulai deras berjatuhan ke pipi.
"Kamu kenapa sih, Cha?" tanya Mutia semakin keheranan.
"Sekarang tahun 2004 kan, Teh?" kata Raisa masih menangis.
Wajah Mutia tampak bingung. Ia menatap Raisa dalam-dalam, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang aneh itu.
"Bukan, sekarang tahun sebelum Masehi!" jawab Mutia asal saja.
"Teh, aku nanya serius," ucap Raisa sedikit merengek. Mutia agak melongo melihat tingkah Raisa yang semakin aneh.
"Kalau ini tahun 2004, berarti..." Raisa berdialog dengan dirinya sendiri, Mutia yang melihat hal itu mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Wah, kesurupan nih anak," ucap Mutia pelan sambil memperhatikan Raisa dengan tatapan waspada.
Mutia mulai komat-kamit membaca ayat kursi, berharap bisa mengusir roh jahat yang mungkin merasuki Raisa.
"Digta!" Ucap Raisa tiba-tiba, tangannya mengguncang bahu Mutia dengan kasar.
"Raisa, istigfar!" Mutia mulai ketakutan. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan orang yang kerasukan setan.
"Teh, aku harus nemuin dia," ucap Raisa dengan semangat yang tiba-tiba muncul.
"Nemuin siapa?" Belum juga Mutia selesai bicara, Raisa sudah menutup pintu kamarnya dengan keras.
Bruk...
"Astaga!" Mutia kaget bukan main. Ia memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Cha, kamu baik-baik aja kan?" teriak Mutia, belum beranjak dari tempat itu.
Namun, tak terdengar jawaban apa pun dari Raisa.
"Cha!" Mutia agak berteriak sekarang, mencoba memastikan bahwa Raisa baik-baik saja.
"Aku nggak apa-apa, Teh," sahut Raisa dari dalam kamarnya.
"Bener nih?" kata Mutia masih sedikit cemas.
Namun, tak terdengar suara apa pun dari dalam sana. Setelah menunggu beberapa saat, Mutia akhirnya menyerah.
"Terserah deh," gumam Mutia pasrah. Ia pun akhirnya pergi dari tempat itu.
Sedangkan di dalam kamarnya, Raisa sedang fokus dengan pikirannya sendiri. Ia mencoba menyusun rencana untuk bertemu dengan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Kira-kira dia seperti apa sekarang?" kata Raisa sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tak lama kemudian, Raisa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
Raisa segera membuka lemari pakaiannya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Hampir semua bajunya berwarna pink.
"Yang benar saja," ucap Raisa dengan nada terkejut.
Tanpa banyak berpikir, Raisa mengambil pakaian yang ada di dekatnya. Ia tidak peduli dengan warna atau modelnya.
Setelah itu, ia segera mengambil tas selempang yang tergantung di pintu kamarnya.
Warnanya sih hitam, tapi motifnya polkadot pink. Raisa hanya bisa menghela napas melihat tas itu.
"Ada apa sih sama seleraku dulu,"
Namun, pada akhirnya, ia pun tidak begitu menghiraukan motif tas itu. Ia lebih fokus pada tujuannya saat ini.
"Ups, hampir lupa," katanya seraya meraih HP dan MP3 playernya. Benda-benda itu adalah barang-barang yang sangat berharga baginya dulu.
"Dompet aman, headset aman," ucap Raisa lagi sambil menutup resleting tasnya. Ia memastikan bahwa semua barang yang ia butuhkan sudah ada di dalam tas.