Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. KONFIRMASI YANG MENGHUBUNGKAN DARAH
Setelah menemukan cincin warisan keluarga Wijaya dan memastikan identitas Ridwan, Siti segera mencari tempat yang sunyi untuk menghubungi Pak Wijaya—ayah dari Kakak Dewi dan kakek buyut Ridwan. Jaringan telepon di kantor perusahaan cukup stabil, dan dalam beberapa detik, panggilannya sudah terhubung.
“Pak Wijaya, ini Siti,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kegembiraan setelah telepon diangkat. “Saya punya kabar besar—saya telah bertemu dengan Ridwan, cucu Anda. Dia benar-benar hidup dan kini bekerja sebagai petugas keamanan di PT. Dewi Santoso dengan nama samaran Ridwan Saputra.”
Di ujung lain telepon, terdengar suara terkejut dan emosional dari Pak Wijaya. “Benarkah, Siti?” ujarnya dengan suara yang sedikit gemetar. “Setelah delapan tahun mengharapkan dan berdoa, akhirnya kita bisa bertemu dengannya?”
“Ya, Pak,” jawab Siti dengan suara yang jelas dan penuh dengan keyakinan. “Dia membawa cincin warisan keluarga yang dulu diberikan kepada Kakak Dewi untuk anaknya. Semua ciri fisiknya juga sangat mirip dengan Kakak Dewi ketika masih muda. Namun untuk menghilangkan segala keraguan dan untuk memperkuat kasus hukum kita, saya sarankan kita segera melakukan tes DNA untuk mengkonfirmasi hubungan darahnya.”
Pak Wijaya mengangguk dengan tegas melalui telepon. “Kamu benar sekali, Siti,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Kita akan segera berangkat ke Bandung besok pagi sekali. Saya akan menghubungi rumah sakit terbaik di kota untuk menyusun jadwal tes DNA. Selain itu, saya akan membawa tim pengacara dan beberapa anggota keluarga untuk mendukungnya.”
Pada pagi hari berikutnya, pesawat yang membawa Pak Wijaya, istri nya Bu Sri, serta beberapa anggota keluarga Wijaya mendarat di Bandara Husein Sastranegara sekitar jam sembilan pagi. Siti dan Mira telah menunggu mereka di bandara bersama Ridwan, yang kini mengenakan baju kasual putih bersih dan celana biru—penampilannya jauh berbeda dari ketika dia berjaga sebagai petugas keamanan.
Ketika Pak Wijaya melihat Ridwan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, matanya langsung berkaca-kaca dengan air mata. Dia berjalan dengan langkah yang cepat mendekati Ridwan, kemudian membawanya ke dalam pelukan yang erat dan penuh dengan cinta. “Anakku…” bisiknya dengan suara yang penuh dengan emosi. “Aku tidak pernah berhenti berharap bahwa kamu masih hidup. Kakakmu Dewi pasti sangat bangga dengan dirimu sekarang.”
Ridwan merasa air mata mengalir di pipinya—ini adalah pertama kalinya dia merasakan kehangatan pelukan keluarga darahnya setelah bertahun-tahun hidup di hutan dengan Kakek Sembilan. “Kakek,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu dan keluarga. Aku berjanji akan memberikan keadilan untuk ibu ku.”
Setelah saling berpelukan dan saling menyapa, mereka langsung pergi ke Rumah Sakit Umum Pusat Bandung yang telah menyediakan ruangan khusus untuk tes DNA. Dokter spesialis genetika yang menangani mereka menjelaskan bahwa proses tes akan memakan waktu sekitar dua hari kerja untuk mendapatkan hasil yang pasti.
“Tes DNA ini akan membandingkan materi genetik antara Bapak Wijaya dan Ridwan,” ujar dokter dengan suara yang jelas. “Jika hasilnya positif, itu akan menjadi bukti hukum yang kuat bahwa Ridwan adalah cucu kandung Bapak Wijaya dan ahli waris sah dari Dewi Wijaya.”
Setelah mengambil sampel darah dari Pak Wijaya dan Ridwan, mereka pergi ke hotel mewah yang terletak di kawasan Dago untuk beristirahat dan membahas langkah-langkah selanjutnya. Di ruang tamu suite hotel yang luas, mereka duduk bersama dengan tim pengacara yang telah datang bersama Pak Wijaya.
“Kita telah memiliki bukti yang sangat kuat dari sisi hukum,” ujar salah satu pengacara dengan suara yang jelas. “Surat wasiat asli Bu Dewi, dokumen tentang perpindahan aset ilegal, serta bukti pembunuhan yang dilakukan oleh Budi dan Ratna. Namun dengan hasil tes DNA yang positif, kita akan memiliki dasar yang tak terbantahkan bahwa Ridwan adalah ahli waris sah perusahaan dan semua hak miliknya harus dikembalikan.”
Pak Wijaya mengangguk dengan puas, kemudian melihat ke arah Ridwan dengan mata yang penuh dengan cinta dan harapan. “Setelah hasil tes keluar dan kita mendapatkan kepastian hukum,” ujarnya dengan suara yang tegas, “kita akan mengajukan gugatan hukum untuk mengembalikan semua aset yang dicuri serta meminta hukuman yang sepadan bagi mereka yang bersalah. Selain itu, kita akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan dan menjalankannya sesuai dengan visi dan misi Dewi.”
Ridwan mengangguk dengan tekad yang semakin kuat. “Saya akan bekerja sama dengan semua orang untuk mengembalikan kejayaan perusahaan,” katanya dengan suara yang jelas. “Saya ingin mengembangkan produk-produk obat tradisional yang dibuat dari resep ibu ku dan nenek ku, serta memastikan bahwa perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan—seperti yang diinginkan oleh ibu ku.”
Siti kemudian menunjukkan data keuangan yang dia kumpulkan selama bekerja di perusahaan. “Kita memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kesadaran akan tantangan yang ada. “Namun dengan dukungan dari karyawan yang setia dan keluarga Wijaya, saya yakin kita bisa membawa perusahaan kembali ke jalur yang benar.”
Pada malam hari, mereka makan bersama di restoran terbaik di hotel. Suasana makan malam hangat dan penuh dengan harapan—setelah bertahun-tahun hidup dalam kesedihan dan keraguan, keluarga Wijaya akhirnya bisa bersatu kembali dan melihat masa depan yang lebih cerah. Ridwan berbagi cerita tentang kehidupannya di hutan dengan Kakek Sembilan, tentang ilmu pengobatan tradisional yang dia pelajari, dan tentang bagaimana dia selalu menyimpan harapan untuk bertemu dengan keluarga ibunya.
Pak Wijaya mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian, kemudian mengambil tangan Ridwan dengan erat. “Kakek akan selalu mendukungmu dalam segala hal, anakku,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Kamu telah melalui banyak hal yang sulit, tapi itu telah membuatmu menjadi orang yang kuat dan penuh dengan nilai-nilai yang baik—nilai-nilai yang sama dengan yang dimiliki oleh ibumu.”
Di bawah cahaya lampu restoran yang hangat, Ridwan melihat ke sekeliling meja ke arah wajah-wajah keluarga yang mencintainya. Dia tahu bahwa tes DNA adalah langkah penting untuk mengkonfirmasi identitasnya secara hukum, tapi dalam hatinya, dia sudah tahu bahwa dia adalah bagian dari keluarga Wijaya—darah yang sama mengalir dalam dirinya dan dalam mereka. Dengan hasil tes yang akan datang dan bukti-bukti yang mereka miliki, dia merasa bahwa keadilan bagi ibunya sudah sangat dekat dan perusahaan akan kembali ke tangan yang benar.