NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan Bawah Tanah dan Sembilan Lawan

Sore hari berikutnya, udara di Sarang Naga Patah terasa lebih tebal dari biasanya. Kerumunan penonton yang berkumpul di tribun tampak lebih bergairah, sorak-sorai mereka menggema lebih keras. Gelanggang bertahan hidup adalah tontonan langka yang selalu menarik perhatian.

Xu Hao, masih dengan jubah hitam sederhana dan tanpa senjata yang terlihat, sudah berada di ruang tunggu peserta khusus di bawah tribun. Ruangan ini lebih besar, lebih gelap, dan berisi sembilan orang lainnya. Semuanya kultivator dengan aura yang tidak bisa diremehkan, minimal Soul Transformation akhir, bahkan beberapa terasa telah menyentuh ambang Void Fusion.

Mata-mata penuh kalkulasi saling menyapu. Tidak ada percakapan. Setiap orang adalah musuh potensial.

Pengawas Gor masuk, diikuti oleh dua penjaga yang membawa peti besi. "Dengar baik-baik, kalian sampah berharga," gumam Gor, suaranya dipenuhi sikap sinis.

"Kalian akan diturunkan ke Hutan Batu di bawah koloseum ini. Lingkungannya gelap, penuh dengan formasi ilusi dan rintangan alam. Empat makhluk telah dilepaskan: sepasang Serigala Bayang dengan cakar bisa memotong baja, seekor Ular Batu yang bisa menyatu dengan lingkungan, dan seekor Burung Pemangsa Besi yang terbang di antara pepohonan batu. Tingkat mereka setara Soul Transformation akhir, hampir Void fusion."

Dia berjalan pelan di antara mereka. "Aturannya tetap. Bertahan enam jam. Bisa kerja sama, bisa saling bunuh. Tidak ada wasit di dalam. Siapa pun yang keluar sebelum waktunya, atau mengaktifkan token penyelamat darurat yang akan kalian bawa," dia menunjuk peti besi yang berisi sepuluh medali kayu gelap, "akan dianggap kalah. Token hanya bisa digunakan sekali, dan butuh waktu tiga napas untuk mengaktifkannya. Cukup waktu bagi makhluk atau peserta lain untuk membunuhmu."

Seorang peserta, pria bertubuh kekar dengan pedang besar di punggung, bertanya dengan suara parau. "Bagaimana cara menentukan pemenang?"

"Jika ada yang bertahan sendirian sampai akhir, dia menang. Jika lebih dari satu yang bertahan, maka yang memiliki bukti pembunuhan terbanyak, baik makhluk atau peserta yang menang. Kepala atau inti kristal sebagai bukti. Kalau imbang, maka duel terakhir."

Gor tersenyum tak senang. "Sekarang, ambil tokenmu. Dan ingat, penonton di atas membayar mahal untuk melihat darah. Jangan mengecewakan mereka."

Xu Hao maju, mengambil sebuah medali kayu. Terasa dingin dan berat, dengan formasi sederhana di dalamnya. Dia mengikatnya di ikat pinggangnya.

Setelah semua mengambil token, Gor memimpin mereka ke sebuah pintu besi berat di ujung ruangan. Pintu itu terbuka dengan suara berderit, menunjukkan sebuah lorong batu yang menurun tajam ke dalam kegelapan. Udara lembab dan berbau tanah basah serta lumut menyergap.

"Masuk. Pintu akan tertutup. Enam jam dari sekarang, pintu akan terbuka lagi di lokasi yang berbeda. Selamat berburu, atau menjadi buruan."

Para peserta saling memandang sejenak. Lalu, tanpa kata, mereka mulai masuk ke dalam lorong, satu per satu, dengan jarak yang sengaja dijaga. Xu Hao berada di posisi tengah.

Lorong itu panjang dan berliku. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka tiba di sebuah ruang batu yang lebih luas. Dari langit-langit, akar-akar aneh menggantung, memancarkan cahaya kehijauan samar yang memberikan penerangan minimal. Di depan mereka, beberapa jalan bercabang menuju ke kegelapan.

Di sinilah mereka berpisah.

Seorang peserta, wanita dengan rambut pendek dan mata tajam, langsung melesat masuk ke salah satu jalan tanpa ragu. Yang lain mengikuti, memilih jalan berbeda untuk menghindari konflik dini. Xu Hao memilih sebuah jalan di sisi kiri, yang tampaknya menurun lebih dalam.

Begitu masuk ke dalam terowongan sempit, suasana berubah total. Suara dari belakang menghilang, digantikan oleh keheningan yang hampir lengkap, hanya terganggu oleh tetesan air dan desis angin yang melewati celah batu. Cahaya akar menyala semakin jarang, dan kegelapan semakin pekat. Namun bagi kultivator Soul Transformation, penglihatan dalam gelap adalah hal dasar.

Xu Hao berjalan perlahan, kesadarannya yang mencapai Dao Awakening menyebar dengan sangat halus, memetakan lingkungan sekitar. Dia merasakan struktur batu yang kompleks, lorong-lorong yang saling terhubung seperti sarang semut, dan... beberapa keberadaan yang bergerak. Bukan manusia. Lebih besar, lebih primitif, dengan aura kekerasan dan kelaparan. Monster-monster itu.

Dia juga merasakan aura peserta lain yang tersebar, beberapa sudah bergerak cepat, beberapa diam menunggu seperti laba-laba.

Tiba-tiba, dari kegelapan di depan, sepasang mata merah menyala muncul. Lalu, dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, sebuah bayangan hitam melesat ke arahnya. Serigala Bayang. Tubuhnya seperti asap padat, cakar depannya berkilat seperti pisau obsidian.

Xu Hao tidak menghindar. Tangannya bergerak cepat, menepis serangan cakar itu dengan lengan bawah yang telah dilapisi energi padat.

Kreek! Suara logam beradu.

Cakar itu meninggalkan goresan putih di kulit energinya. Kekuatan di balik serangan itu cukup untuk membelah batu besar.

Serigala itu mendarat dengan anggun, lalu menggeram, menunjukkan gigi-gigi tajam berwarna hitam. Matanya penuh kecerdasan berburu.

Xu Hao mengambil sikap bertahan sederhana. Ini adalah kesempatan untuk mengukur makhluk lokal secara langsung. Serigala itu menyerang lagi, kali ini dengan serangan beruntun: cakar, gigitan, lalu ekor yang menyapu. Setiap gerakannya cepat dan efisien, dirancang untuk membunuh.

Xu Hao bertahan, menghindar, mempelajari polanya. Sekitar dua puluh jurus kemudian, dia merasa sudah cukup. Saat Serigala Bayang melompat untuk menggigit lehernya, Xu Hao melangkah masuk, tangannya menembus pertahanan dan mendarat tepat di dada binatang itu. Bukan pukulan keras, tapi sebuah sentakan energi yang dipadatkan, merusak organ dalam.

Serigala itu terlempar, mengeluarkan suara kesakitan yang teredam, lalu tak bergerak. Xu Hao mendekat, memastikan binatang itu mati. Lalu, dengan gerakan cepat, dia mengeluarkan inti kristal berwarna hitam pekat dari kepala serigala itu. Itu bukti pertamanya.

"Cukup bagus untuk permulaan." Gumamnya.

Dia menyimpan inti kristal, lalu melanjutkan perjalanan. Sekarang dia punya gambaran. Monster-monster di sini kuat, tangguh, dan pintar, tapi tidak memiliki variasi teknik seperti kultivator. Mereka mengandalkan insting, kecepatan, dan kekuatan fisik yang disempurnakan.

Beberapa jam berlalu. Xu Hao bertemu dan mengalahkan dua peserta lain yang mencoba menyergapnya. Satu menggunakan racun gas yang menyebar di lorong, tapi Xu Hao dengan mudah menahannya dengan sirkulasi energi internal yang kuat. Yang satu lagi ahli jebakan, tapi kecerdasan Xu Hao dalam membaca lingkungan dan pemahaman ruang yang mendasar membuatnya bisa menghindari semua perangkap dan akhirnya melumpuhkan lawannya dengan serangan tekanan titik.

Xu Hao mengambil token mereka. Sekarang dia memiliki satu inti monster dan dua token peserta. Itu belum cukup untuk memastikan kemenangan.

"Aku Butuh lebih banyak."

Di suatu tempat yang lebih dalam, dia mendengar suara pertempuran sengit: ledakan energi, teriakan, dan raungan monster. Dia memutuskan untuk mendekat dengan hati-hati.

Xu Hao tiba di sebuah ruang gua yang lebih luas, diterangi oleh kristal-kristal fosfor di dinding. Di tengah ruangan, tiga peserta sedang bertarung melawan Ular Batu yang besar. Ular itu panjangnya lebih dari sepuluh meter, kulitnya seperti batu pecah, dan gerakannya mengelabui karena bisa menyatu dengan lantai dan dinding batu.

Ketiga peserta itu tampaknya telah membentuk aliansi sementara. Satu pria menggunakan tombak berapi, satu wanita menggunakan cambuk energi, dan satu lagi pria tua menggunakan teknik ilusi untuk mengganggu ular itu. Mereka terkoordinasi dengan baik, tapi ular itu tangguh. Beberapa kali serangan mereka hanya memantul dari kulit batunya, dan ekor ular itu hampir mengenai wanita itu.

Xu Hao bersembunyi di balik Batu besar, mengamati. Ini adalah kesempatan. Jika dia ikut campur, dia bisa mengambil inti ular itu, atau... mengambil keuntungan saat mereka lemah.

Tapi sebelum dia memutuskan, sesuatu yang lain terjadi. Dari langit-langit gua, dengan desis yang hampir tak terdengar, Burung Pemangsa Besi menyambar. Burung itu sebesar manusia, dengan paruh dan cakar logam murni yang berkilau. Sasaran utamanya adalah pria pengguna tombak api.

Pria itu, yang sedang fokus pada ular, terlambat menyadari. Cakar burung itu mencengkeram bahunya, menusuk jauh ke dalam daging dan tulang. Dia berteriak kesakitan.

"Aaaahhhhkkk!"

Wanita dengan cambuk berusaha membantu, tapi ular itu memanfaatkan gangguan untuk menyapu ekornya, menjatuhkan pria tua pengguna ilusi.

Situasi langsung berubah menjadi kekacauan total.

Xu Hao melihat peluang. Dia melesat keluar dari persembunyian, bukan menuju ular atau burung, tapi menuju pria pengguna tombak yang sedang terluka parah dan berusaha mengaktifkan tokennya. Tapi tangannya yang satu terluka, gerakannya lambat.

Sebelum pria itu bisa menyentuh token di ikat pinggangnya, Xu Hao sudah ada di sampingnya. Tangannya yang satu menekan titik di leher pria itu, memutus aliran energi, sementara tangan lainnya dengan cepat mengambil token dan sebuah kantong kecil dari sabuknya.

"Maaf," gumam Xu Hao, begitu rendah hingga hanya pria itu yang mendengar. Lalu dia mendorong tubuh pria itu ke arah ular yang sedang menganga.

Ular itu dengan refleks menerkam, mengunyah tubuh korban dengan gigi-gigi batu yang besar. Itu memberikan waktu bagi Xu Hao untuk mundur.

Wanita dengan cambuk dan pria tua itu melihat kejadian itu, wajah mereka berubah marah dan ketakutan. "Bajingan Hina!" Teriak mereka.

Tapi mereka tidak punya waktu untuk membalas. Burung Pemangsa Besi sudah menukik lagi, sementara ular itu, setelah menelan korbannya, memutar perhatiannya pada mereka.

Xu Hao tidak tinggal. Dia melesat masuk ke sebuah lorong samping, meninggalkan kekacauan di belakang. Dia sekarang memiliki tiga token peserta dan satu inti monster. Tapi dia perlu lebih banyak.

Dia berjalan cepat melalui lorong-lorong, menghindari beberapa jebakan formasi yang sudah dia rasakan. Lalu, di sebuah persimpangan, dia bertemu dengan seorang peserta lain. Pria bisu yang pernah dia lihat di arena, yang hanya menggunakan pedang.

Pria bisu itu berdiri di tengah persimpangan, pedangnya masih dalam sarung, tapi tangannya sudah di gagang. Matanya yang dingin menatap Xu Hao, seolah sudah menunggu.

Tidak ada kata. Tidak perlu bicara.

Xu Hao berhenti, memperkirakan jarak. Pria bisu ini berbeda. Aura-nya lebih terfokus, lebih berbahaya. Dia bukan peserta acak.

Keduanya diam selama beberapa saat, seperti dua harimau mengukur satu sama lain. Lalu, hampir bersamaan, mereka bergerak.

Pria bisu itu menghunus pedang. Gerakannya begitu cepat hingga hanya terlihat kilatan cahaya perak. Sebuah garis pemotong yang sempurna, mengandung hukum pedang yang mendalam, meluncur ke arah Xu Hao.

Xu Hao tidak mencoba menangkis. Dia menggunakan pemahaman ruangnya, mendistorsi ruang di depannya sedikit saja. Garis pedang itu tiba-tiba membelok, menyerang dinding batu di sampingnya dan memotong masuk sedalam satu meter.

Pada saat yang sama, Xu Hao sudah mendekat, tangannya menebas ke arah leher pria bisu itu. Tapi pria bisu itu bereaksi cepat, pedangnya sudah kembali, menangkis serangan dengan gagang pedang.

Deng!

Mereka saling berhadapan, pertukaran jurus yang cepat dan mematikan. Pria bisu itu memiliki teknik pedang yang luar biasa, setiap gerakannya efisien dan tepat sasaran. Xu Hao, yang membatasi diri pada teknik fisik dan manipulasi energi dasar, sedikit terdesak. Dia harus menggunakan lebih banyak keahlian.

Dia mulai memadukan gerakannya dengan sedikit pemahaman hukumnya, membuat langkahnya tak terduga, serangannya tiba-tiba berubah arah. Pria bisu itu terlihat sedikit kewalahan, tapi tidak panik. Matanya tetap dingin, beradaptasi.

Pertarungan berlangsung selama mungkin lima menit, tapi terasa seperti satu jam. Lorong sempit itu penuh dengan bekas potongan pedang dan lubang akibat serangan energi. Keduanya sama-sama mendapat luka kecil.

Xu Hao akhirnya melihat sebuah celah. Saat pria bisu itu mengayunkan pedang vertikal, dia menggunakan distorsi ruang sekali lagi, membuat pedang itu melenceng sedikit. Cukup untuk tangannya yang satu menyentuh pergelangan tangan pria bisu itu, mengirimkan gelombang energi yang mengganggu. Pedang itu terlepas.

Tapi pria bisu itu tangkas. Bahkan tanpa pedang, dia menyerang dengan tangan kosong, jurus-jurusnya masih berbahaya. Xu Hao menahan serangan, lalu memberikan pukulan telak ke dada lawan. Pria bisu itu terlempar ke belakang, menghantam dinding batu.

Dia berdiri lagi, tapi napasnya sudah tidak teratur. Darah mengalir dari sudut mulutnya. Matanya masih menatap dingin, lalu tangannya meraih token di pinggangnya.

Xu Hao tidak menghentikannya. Dia menghormati lawan yang tangguh. Pria bisu itu mengaktifkan token, dan tubuhnya tertutup cahaya sebelum menghilang, dikeluarkan dari hutan.

Tidak ada kata, Tidak perlu bicara.

Xu Hao mengambil pedang yang terjatuh. Itu senjata bagus, tapi terlalu mencolok. Dia menyimpannya di dalam cincin penyimpanannya untuk nanti diteliti. Lalu dia mengambil token yang ditinggalkan pria bisu itu. Sekarang dia punya empat token dan satu inti.

Waktu terus berjalan. Dari perasaannya, mungkin sudah empat jam berlalu. Dia mendengar lebih sedikit suara pertempuran. Peserta mungkin sudah banyak yang tersingkir.

Dia memutuskan untuk berburu monster yang tersisa. Dengan kesadarannya yang luas, dia mencari aura makhluk yang kuat. Dia menemukan seekor Serigala Bayang yang terluka di sebuah gua kecil, dan dengan cepat mengakhirinya. Dua inti sekarang.

Lalu, di dekat sebuah sungai bawah tanah, dia bertemu dengan Burung Pemangsa Besi yang sedang minum. Burung itu waspada, dan langsung menyerang begitu merasakan kehadirannya. Pertarungan sengit terjadi. Burung itu cepat dan lincah di udara, serangannya tajam. Xu Hao harus menggunakan lebih banyak kemampuan, bahkan sedikit menggunakan teknik es untuk membatasi gerakannya. Akhirnya, dengan sebuah loncatan dan serangan energi terpusat, dia berhasil menusuk mata burung itu dan merusak otaknya. Inti ketiga.

Sekarang dia memiliki tiga inti monster dan empat token peserta. Itu harusnya cukup untuk memenangkan gelanggang.

"Ini sudah cukup. Sekarang waktunya menunggu."

Dia mencari tempat untuk bersembunyi dan menunggu waktu habis. Dia menemukan sebuah ceruk tinggi di dinding gua, terlindung oleh tirai akar bercahaya. Dia naik ke sana, duduk bersila, dan mengamati sekeliling.

Satu jam terakhir berlalu dengan tenang. Sesekali dia mendengar langkah kaki atau suara berdebam di kejauhan, tapi tidak ada yang mendekati tempat persembunyiannya.

Ketika waktu hampir habis, sebuah suara gemuruh menggema di seluruh hutan bawah tanah, diikuti oleh cahaya terang yang muncul di beberapa titik. Itu adalah tanda pintu keluar telah terbuka.

Xu Hao melompat turun, dan dengan cepat menuju sumber cahaya terdekat. Di sana, sebuah portal energi berputar di tengah sebuah ruang batu. Beberapa peserta lain juga muncul dari berbagai arah. Dia melihat wanita dengan cambuk tadi, sendirian, terluka parah. Juga dua peserta lain yang tidak dikenalnya, juga dalam kondisi buruk. Tampaknya hanya lima dari sepuluh peserta yang bertahan.

Mereka saling memandang dengan waspada, tapi tidak ada yang menyerang. Mereka semua masuk ke dalam portal.

Xu Hao merasa dirinya terangkat, lalu muncul kembali di ruang tunggu bawah koloseum. Pengawas Gor sudah menunggu dengan beberapa penjaga.

"Keluar semua? Hanya lima?" Gor menggerutu. "Biasa saja. Sekarang, tunjukkan bukti kalian."

Satu per satu, peserta yang bertahan meletakkan inti monster dan token yang mereka kumpulkan. Wanita dengan cambuk memiliki dua inti dan satu token. Dua peserta lain masing-masing memiliki satu inti dan satu token. Satu peserta lain hanya memiliki satu token, tanpa inti.

Lalu giliran Xu Hao. Dia mengeluarkan tiga inti monster berwarna hitam dan hijau tua, serta empat token peserta.

Gor mengangkat alis, terkesan. "Tiga inti, empat token. Jelas pemenangnya adalah Hei Feng."

Para peserta lain memandangnya dengan campuran kekaguman, kecemburuan, dan ketakutan. Wanita dengan cambuk itu mendesis, "Dia yang mencuri token Liu dan melarikan diri saat kami bertarung dengan ular!"

"Aturan tidak melarang itu," sahut Gor dengan senyum tak senang. "Yang penting bukti. Baik. Hadiah sepuluh kristal hukum tinggi dan pilihan satu senjata. Ikut aku."

Xu Hao mengikuti Gor ke sebuah gudang di belakang koloseum. Gor memberinya sebuah kantong kecil berisi sepuluh kristal yang memancarkan aura kuat. Lalu dia membuka sebuah rak berisi senjata-senjata: pedang, tombak, golok, bahkan beberapa alat eksotis.

"Pilih satu."

Xu Hao matanya menyapu rak. Kebanyakan senjata itu berkualitas lumayan untuk level Soul Transformation, tapi tidak ada yang istimewa. Lalu, di sudut, dia melihat sepasang sarung tangan. Terbuat dari kulit hitam tak dikenal, dengan tulang runcing di buku-buku jari. Aura-nya sederhana, tapi terasa... tangguh.

"Sarung tangan itu," katanya.

Gor mengangkat bahu. "Sarung tangan Banteng Batu. Meningkatkan kekuatan pukulan dan tahan terhadap elemen dasar. Pilihan membosankan, tapi terserah kau."

Xu Hao mengambil sarung tangan itu. Terasa dingin dan pas di tangannya. Dia menyimpannya.

"Kau sekarang punya reputasi, Hei Feng," kata Gor saat mereka keluar dari gudang. "Orang akan memperhatikanmu. Tawaran lebih berbahaya, atau lebih menguntungkan, akan datang. Siap atau tidak, itu urusanmu."

Xu Hao mengangguk, lalu pergi. Dia kembali ke Pondokan Awan Terkikis, dengan kantong berisi kristal tinggi dan sarung tangan baru. Langkah pertama di arena telah selesai dengan sukses. Tapi seperti kata Gor, ini baru awal. Perhatian berarti bahaya, tapi juga berarti kesempatan.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!