NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Hidung Naga

Matahari pagi belum terbit sepenuhnya ketika Ren Zhaofeng meninggalkan Gua Nomor 9. Dia tidak menggunakan jalan utama. Dia melompat dari bayangan tebing ke bayangan pohon, menekan aura keberadaannya hingga titik nol dengan bantuan kontrol otot Tahap 8-nya.

Tujuannya adalah Puncak Teratai Es, tempat tinggal pribadi Ye Qingyu.

Penjagaan di sana ketat, tapi bagi Zhaofeng yang bisa mendengar rotasi leher para penjaga dan gesekan baju mereka, menyusup masuk adalah permainan ritme. Dia bergerak saat mereka berkedip, berhenti saat mereka menahan napas.

Dia mendarat tanpa suara di balkon kamar Ye Qingyu di lantai dua paviliun.

"Siapa?!"

Ye Qingyu sedang bermeditasi di dalam. Pedang Beku-nya melayang dari pangkuannya, siap menebas ke arah jendela.

"Saya," bisik Zhaofeng dari balik tirai.

Ye Qingyu menurunkan pedangnya, menghela napas panjang saat mengenali suara itu. Dia membuka pintu balkon. "Kau tahu ini melanggar selusin aturan sekte? Menyusup ke kamar murid wanita, apalagi di Puncak Inti?"

"Nyawa kita lebih penting dari aturan," Zhaofeng masuk, langsung menutup pintu dan memasang jimat peredam suara. Dia meletakkan Daftar Pengkhianat di meja rias Ye Qingyu. "Baca ini. Baris terakhir."

Ye Qingyu mengerutkan kening, mengambil gulungan itu. Matanya menyusuri daftar nama. Wajahnya yang biasanya dingin berubah menjadi topeng horor saat sampai di bagian bawah.

"Tetua Agung..." suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. "Ini... ini bencana. Ada tiga Tetua Agung di sekte ini. Awan, Petir, dan Racun. Jika salah satu dari mereka adalah pengkhianat..."

"Maka Ketua Sekte sedang tidur dengan musuh," sambung Zhaofeng. "Kita harus menyerahkan ini padanya. Langsung. Tanpa perantara."

Ye Qingyu menggeleng pelan, wajahnya pucat. "Ada masalah besar, Zhaofeng. Ketua Sekte sedang dalam Pengasingan Tertutup selama tiga hari untuk memulihkan Qi setelah membuka gerbang makam kemarin. Puncak Utama disegel total."

"Dan siapa yang memegang kendali sekte sementara?" tanya Zhaofeng, meski dia sudah bisa menebak jawabannya.

"Berdasarkan giliran... Tetua Agung Racun," jawab Ye Qingyu.

Mata Zhaofeng menyipit di balik kainnya. "Kebetulan yang sangat menarik."

Jika Tetua Agung Racun adalah pengkhianatnya—yang sangat masuk akal mengingat afiliasinya dengan racun dan ular—maka saat ini dia memegang otoritas tertinggi. Menyerahkan bukti padanya sama dengan menyerahkan leher untuk dipenggal.

"Kita tidak bisa menunggu tiga hari," kata Zhaofeng. "Zhang Yun sudah tahu aku punya daftar ini. Mereka gagal bernegosiasi semalam. Mereka akan bergerak hari ini untuk membungkamku, dan mungkin kau juga."

"Lalu apa rencanamu?" Ye Qingyu menatap Zhaofeng. Dia melihat ketenangan yang mengerikan di wajah pemuda buta itu.

Zhaofeng tersenyum tipis.

"Kita tidak bisa mengetuk pintu depan Puncak Utama karena dijaga anak buah Tetua Agung. Jadi... kita akan merobohkan dindingnya."

"Maksudmu?"

"Kita buat keributan. Keributan yang begitu besar, begitu masif, sampai Ketua Sekte terpaksa keluar dari pengasingannya karena darurat sekte."

Ye Qingyu terbelalak. "Kau gila. Kau mau menyerang sekte sendiri?"

"Bukan menyerang. Membangunkan," koreksi Zhaofeng. "Ada Menara Lonceng Naga di tengah alun-alun sekte. Jika lonceng itu dibunyikan sembilan kali, itu tanda bahaya pemusnahan sekte. Semua Tetua, termasuk Ketua Sekte dalam pengasingan, wajib keluar."

"Menara itu dijaga oleh Pengawal Inti! Dan membunyikan Lonceng Naga tanpa alasan darurat nyata adalah hukuman mati!"

"Kita punya alasan darurat nyata," Zhaofeng menunjuk daftar itu. "Tapi aku butuh bantuanmu. Aku tidak bisa memanjat menara itu sambil melawan penjaga sendirian."

Ye Qingyu terdiam sejenak. Dia menatap Zhaofeng, lalu menatap pedangnya. Dia adalah putri kebanggaan sekte, simbol aturan. Tapi dia tahu, aturan tidak bisa menyelamatkan sekte dari racun di dalamnya.

"Baiklah," Ye Qingyu mengikat rambutnya. Tatapannya menajam. "Aku akan menjadi pengalihanmu. Jika kita mati, kita mati sebagai pahlawan."

Siang harinya. Matahari tepat di atas kepala.

Suasana di gerbang Puncak Utama tenang seperti biasa. Para murid berlalu lalang. Penjaga gerbang berdiri bosan.

Tiba-tiba, ledakan es raksasa terjadi di gerbang.

BOOM!

Suhu udara turun drastis. Badai salju lokal tercipta entah dari mana.

"Serangan musuh?!"

Para penjaga berlarian panik. Mereka melihat Ye Qingyu berdiri di tengah badai salju itu, rambutnya memutih, matanya menyala biru. Auranya meledak-ledak tidak terkendali.

"Minggir! Ada iblis di dalam tubuhku! Aku butuh Ketua Sekte!" teriak Ye Qingyu, aktingnya sempurna—meniru gejala Penyimpangan Qi. Dia menebaskan pedang es ke sembarang arah, membekukan jalanan, menciptakan kekacauan massal tanpa membunuh siapa pun.

"Gawat! Dewi Ye mengalami penyimpangan Qi!"

"Tahan dia! Jangan sakiti dia!"

Seluruh penjaga Puncak Utama, termasuk beberapa Diakon yang bersembunyi, berkerumun mencoba menahan Ye Qingyu. Siapa yang berani melukai jenius nomor satu sekte? Mereka ragu-ragu, dan keraguan itu menciptakan celah.

Di tengah kekacauan itu, sesosok bayangan melesat melewati atap-atap bangunan, tak terdeteksi karena perhatian semua orang tertuju pada "Dewi Gila" di gerbang.

Zhaofeng mencapai kaki Menara Lonceng Naga.

Menara ini tingginya seratus meter, dibangun dari batu obsidian licin. Tidak ada tangga di luar.

"Maafkan aku, Naga Tua," bisik Zhaofeng.

Dia menempelkan telapak tangannya ke dinding menara. Dia mengaktifkan Medan Gravitasi pada telapak tangan dan kakinya—membalikkan polaritasnya untuk menempel.

Dia berlari vertikal ke atas dinding menara.

"Hei! Lihat! Ada orang di menara!" teriak seorang murid yang kebetulan mendongak.

"Siapa itu?! Hentikan dia!"

Panah dan serangan Qi mulai ditembakkan ke arah Zhaofeng dari bawah.

Zhaofeng tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya sambil berlari vertikal, menghindari serangan dengan Langkah Pedang Hantu. Panah-panah itu hanya mengenai bayangannya.

Sepuluh detik. Itu waktu yang dia butuhkan untuk mencapai puncak.

Zhaofeng melompat masuk ke dalam anjungan lonceng.

Di sana, tergantung Lonceng Naga raksasa dari perunggu kuno. Pemukulnya sebesar batang pohon kelapa, terkunci oleh segel sihir.

Zhaofeng tidak punya waktu membuka segel pemukul.

Dia mencabut Pedang Hitam-nya.

"Bangun!"

Dia memukul lonceng itu dengan sisi datar pedangnya, menyalurkan seluruh getaran Penempaan Tubuh Tahap 8 dan resonansi pedang.

Teknik Resonansi Maksimal.

TENG!!!

Suara itu bukan hanya keras. Itu adalah gelombang kejut fisik yang terlihat oleh mata telanjang. Riak udara menyebar dari menara.

Kaca-kaca jendela di radius satu kilometer pecah. Murid-murid yang lemah di bawah sana jatuh pingsan sambil menutup telinga.

TENG!! (Dua)

Getarannya mengguncang fondasi gunung.

TENG!!! (Tiga)

Di dalam ruang pengasingan terdalam di perut gunung, Ketua Sekte membuka matanya. Meditasinya terganggu paksa.

"Lonceng Naga?!"

Zhaofeng terus memukul. Tangannya mulai retak dan berdarah karena getaran balik yang mengerikan dari lonceng kuno itu. Tapi dia tidak berhenti.

TENG!!!! ... TENG!!!!

Hitungan kedelapan.

Angin bergemuruh. Awan di langit terbelah.

TENG!!!!!! (Sembilan).

Gema terakhir memudar, meninggalkan dengungan yang menyakitkan di telinga semua orang.

Hening yang mencekam.

Lalu, tekanan udara di seluruh sekte berubah menjadi berat.

SWOSH! SWOSH! SWOSH!

Tiga sosok mendarat di udara, mengelilingi puncak menara. Tiga aura Ranah Jiwa Baru menekan Zhaofeng dari segala arah.

Dan sedetik kemudian, ruang di depan Zhaofeng terbelah. Ketua Sekte melangkah keluar dari kehampaan, wajahnya merah padam karena amarah dan Qi yang belum stabil.

"REN ZHAOFENG!" suara Ketua Sekte menggelegar seperti petir. "Apa alasanmu membunyikan Lonceng Kematian?! Jika ini lelucon, aku akan menghancurkan jiwamu menjadi debu sekarang juga!"

Zhaofeng berdiri di atas pagar menara, darah menetes dari tangannya yang gemetar. Dia dikepung oleh dewa-dewa sekte ini. Satu gerakan salah, dia tamat.

Dia tidak berlutut.

Dia mengeluarkan Daftar Pengkhianat dari cincinnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.

"Saya membunyikan lonceng bukan untuk kematian saya, Ketua!" teriak Zhaofeng lantang, suaranya diperkuat ke seluruh penjuru sekte. "Tapi untuk kematian pengkhianat yang berdiri di samping Anda!"

Zhaofeng menunjuk lurus ke arah salah satu sosok di udara—pria tua bungkuk dengan tongkat ular.

"Tetua Agung Racun! Apakah Anda mengenali buku ini?! Daftar gaji dari Aliansi Ular Hitam!"

Suasana meledak.

Tetua Agung Racun menyipitkan matanya. Wajahnya yang keriput berubah sangat gelap.

"Bocah fitnah!" teriak Tetua Agung Racun. "Berani menuduhku? Mati!"

Dia mengangkat tongkatnya. Seekor ular energi hijau raksasa meluncur untuk menelan Zhaofeng dan bukti itu.

Serangan pembungkam! Tanpa interogasi!

Tindakan itu justru mengonfirmasi segalanya di mata Ketua Sekte yang cerdas.

"BERHENTI!" Ketua Sekte bergerak.

Sebuah telapak tangan raksasa dari awan putih muncul, menahan serangan ular hijau itu.

BOOM!

Ledakan energi di atas menara mengguncang langit.

Perang saudara telah dimulai di puncak tertinggi.

1
Nanik S
Gadis Cantik....
Nanik S
Gagang pedang yang berlokasi dg pecahan... cari celah
Nanik S
Gagang pedang.... yang dicari Zhaofeng ada diKlan Phonik
Nanik S
Garis darah Zhao feng atau Xiao Yu dg gadis yang ada didalam kereta
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!