NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: TEKAD UNTUK MELAWAN

#

Klinik melepas Dyon jam tujuh malam. Dokter bilang dia harus istirahat total seminggu—nggak boleh kerja berat, nggak boleh kecapekan. Rusuk patah butuh waktu sembuh.

Tapi... istirahat berarti nggak kerja. Nggak kerja berarti nggak makan.

Dyon nggak bilang itu ke dokter. Cuma senyum tipis, bilang "baik, Dok" meskipun dia tau besok pagi jam tiga dia harus bangun lagi buat cuci motor.

Ismi ngantar dia sampe depan gubuk. Naik ojek bareng—Dyon di tengah, Ismi di belakang, pegang pinggangnya hati-hati biar nggak sakit. Sepanjang jalan Ismi diem aja. Sesekali ngelap matanya yang masih basah.

Sampai di gang sempit menuju gubuk, Ismi turun duluan. Bantuin Dyon turun—pelan, hati-hati. Tangan Dyon gemetar pegang bahu Ismi buat keseimbangan.

"Makasih, Ismi," kata Dyon pelan. Suaranya masih serak. "Buat... buat semuanya. Buat obatnya. Buat—"

"Jangan," Ismi potong cepat. Matanya merah lagi—kayak mau nangis. "Jangan ucapin makasih. Aku... aku cuma lakukan yang harusnya manusia lakukan."

Dyon senyum pahit. "Tapi... nggak semua manusia kayak kamu."

Ismi diam. Gigit bibir bawah—kayak nahan sesuatu. Terus dia ngeluarin dompet dari tas sekolahnya. Ambil beberapa lembar uang—seratus ribuan, ada lima lembar.

"Ini," Ismi sodorkan ke Dyon. "Buat... buat makan. Buat istirahat. Kumohon... jangan kerja dulu."

Dyon langsung geleng—cepat, sampe kepala pusing. "Nggak, nggak bisa. Aku... aku nggak bisa terima ini—"

"TERIMA!" Ismi bentak. Suaranya tinggi—nggak biasa. Matanya berkaca-kaca. "Kumohon, Dyon... terima. Aku... aku nggak kuat liat kamu sakit lagi. Nggak kuat."

Tangannya gemetar nyodorin duit itu. Dyon lihat tangannya yang kecil, kuku-kukunya yang bersih, cincin perak di jari manis.

Pelan-pelan, Dyon terima uang itu. Tangannya gemetar—bukan karena sakit, tapi karena... malu. Malu nerima bantuan. Malu nggak bisa berdiri sendiri.

"Aku... aku janji bakal balikin," bisik Dyon.

"Nggak usah," Ismi geleng. Senyum tipis—meskipun air matanya ngalir. "Ini... ini bukan utang. Ini... hadiah. Dari teman."

Teman.

Kata itu hangat. Bikin dada Dyon sesak—tapi sesak yang berbeda. Bukan sakit. Tapi... penuh.

"Ismi... kenapa kamu... kenapa kamu sebaik ini?" tanya Dyon. Matanya mulai panas.

Ismi ngelap air matanya cepat. "Karena... karena aku percaya. Allah menempatkan kita di jalan orang yang butuh pertolongan bukan tanpa alasan. Mungkin... mungkin aku ditempatkan di jalanmu... buat nolong."

Dyon nggak bisa nahan lagi. Nangis—diem, air mata jatuh gitu aja.

Ismi peluk dia. Lembut. Hati-hati sama rusuknya yang patah.

"Kamu nggak sendirian," bisik Ismi di telinga Dyon. "Inget itu."

Mereka lepas pelukan. Ismi mundur pelan—senyum sedih. "Aku... aku harus pulang. Orang tua mulai cari-cari. Tapi... besok aku ke sekolah. Kalau kamu nggak masuk, aku... aku datang ke sini. Bawain makanan."

"Ismi—"

"Nggak ada tapi," Ismi potong. Dia balik badan, jalan ke arah jalan raya buat cari ojek lagi. "Istirahat yang cukup, Dyon. Kumohon."

Dyon cuma bisa nonton Ismi pergi. Siluetnya makin kecil, terus hilang di tikungan gang.

Dia berdiri di depan gubuk sendirian. Pegang uang lima ratus ribu itu erat-erat. Ini... ini uang paling banyak yang pernah dia pegang sejak orang tuanya meninggal.

Masuk gubuk. Gelap. Dingin. Bau lembab menyambut seperti biasa.

Nyalain lampu—bohlam redup yang sering kedip-kedip. Dia duduk di kasur tipis. Taruh uang di samping bantal—hati-hati, kayak barang paling berharga di dunia.

Matanya ngeliatin dinding gubuk. Ada foto—satu-satunya foto yang dia punya. Difoto ulang pakai hape butut terus diprint murahan di fotokopian, dilaminating pakai plastik bening yang udah kuning.

Foto keluarga.

Bapak. Ibu. Dyon kecil—umur sepuluh tahun mungkin. Mereka bertiga lagi duduk di teras rumah lama, rumah yang udah dijual. Bapak senyum lebar—giginya ompong satu di depan. Ibu peluk Dyon dari belakang—senyumnya lembut, matanya sipit kayak bulan sabit. Dyon kecil cengir—ompong juga, baju kaos lusuh tapi bersih.

Bahagia.

Waktu itu... mereka bahagia.

Dyon ambil foto itu. Pegang erat. Jarinya ngelus wajah ibu—plastiknya dingin.

"Ma..." suaranya gemetar. "Ma... Pa... maafin Dyon."

Air mata jatuh lagi. Netes ke plastik foto—bikin wajah ibu jadi kabur.

"Dyon... Dyon lemah. Dyon nggak kuat kayak Bapak. Nggak sabar kayak Ibu. Dyon... Dyon pengen nyerah."

Tangannya ngepal—foto hampir remes.

"Tapi... tapi Dyon nggak bisa nyerah. Soalnya... soalnya kalau Dyon nyerah, siapa yang doa-in Mama Papa? Siapa yang inget Mama Papa?"

Dia peluk foto itu ke dada. Nangis keras—seluruh tubuh bergetar.

"Dyon janji... Dyon janji akan bangkit. Aku... aku nggak akan menyerah. Aku... aku akan buktiin. Buktiin kalau anak Mama Papa bukan sampah. Bukan pengemis. Bukan... bukan orang yang layak diinjak-injak."

Suaranya makin keras—teriak di gubuk sepi.

"AKU AKAN BUKTIIN! AKU NGGAK AKAN KALAH!"

Dia taruh foto di samping bantal—hati-hati. Terus berdiri. Rusuk masih nyeri—tapi dia paksa.

Push-up.

Posisi. Tangan di lantai—lantai dingin, kasar. Perban di rusuk ngebuat gerak terbatas. Tapi dia paksa.

Satu.

Nyeri nusuk rusuk. Dia gigit bibir—keras, sampe berdarah.

Dua.

Tangan gemetar. Keringat ngalir.

Tiga.

"Akh!" dia jatuh. Rusuk berasa mau copot.

Tapi dia coba lagi. Bangun. Posisi push-up lagi.

Empat.

Lima.

Jatuh lagi. Napasnya ngos-ngosan. Matanya kabur—air mata campur keringat.

"Bangkit... bangkit, Dyon..." dia bisik ke diri sendiri. "Mereka... mereka bisa patahkan tulang... tapi nggak akan... nggak akan pernah bisa patahkan tekad..."

Sit-up.

Tidur telentang. Tangan di belakang kepala. Angkat badan—perut kram, rusuk nyut-nyutan.

Satu.

Dua.

Tiga—jatuh.

Bangun lagi. Coba lagi.

Empat.

Lima—jatuh.

Lagi.

Lagi.

Lagi.

Sampai tangannya nggak kuat lagi angkat badan. Sampai kakinya mati rasa. Sampai napasnya kayak orang lari maraton.

Dia tergeletak di lantai gubuk. Dada naik turun cepat. Keringat nggenang di bawah punggung.

Matanya merem.

Tapi... ada yang beda.

Ada... api.

Api kecil di dadanya. Api yang bilang "jangan menyerah". Api yang bilang "kamu lebih kuat dari yang kamu kira".

"Mereka bisa... bisa patahkan tulangku," bisiknya pelan—ke langit-langit seng berkarat. "Tapi nggak akan pernah... nggak akan pernah bisa patahkan tekadku."

Dia tersenyum—tipis. Pahit. Tapi... nyata.

Mata merem pelan. Kecapekan. Kesakitan.

Tapi di matanya—sebelum gelap sepenuhnya—ada kilau.

Kilau tekad.

Kilau untuk melawan.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi tekad saja nggak cukup. Di dunia yang penuh monster berdasi, aku butuh lebih dari sekadar semangat. Aku butuh... kekuatan. Dan entah gimana caranya—aku akan dapetin itu.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!