Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Elgard
Elgard terus menarik tangan Bianca hingga sampai ke mobilnya. Dia tak peduli meski Bianca terus memberontak. Elgard juga langsung mendorong Bianca masuk ke dalam mobilnya begitu saja.
"Apa yang kau lakukan El?!!"
"Duduklah dengan tenang, aku akan mengantarmu pulang!"
"El, kau kau gila? Di sana ada kekasihmu tapi kau membawaku pergi. Kau mau membuat masalah baru untukku?!!"
"Jangan pedulikan dia!!" Elgard langsung mengendarai mobilnya menjauh dari tempat tadi.
"Berhenti dan turunkan aku El!!" Perintah Bianca dengan tegas.
"Tidak akan! Lagi pula, bisa-bisanya kau masuk ke sana bersama Kevin! Kau tau mereka semua pasti akan menghina dan merendahkanmu! Bosmu itu hanya diam saja tanpa membelamu! Kalau aku tidak membawamu pergi, apa kau akan terus ada di sana dengan semua hinaan dari mereka begitu?!" Elgard kesal sendiri.
Sebenarnya bisa saja Elgard memberi pelajaran pada mereka terlebih dahulu, tapi untuk saat ini dia lebih memilih membawa Bianca pergi. Untuk urusan itu, dia akan pikirkan setelah ini.
"Itu sudah biasa untukku!"
"Sudah biasa bukan berarti harus kembali di ulang secara terus-menerus. Kau harus bisa melawan mereka!"
Dari nada bicaranya, Elgard terdengar kesal dan marah, namun sebenarnya bukan pada Bianca, tapi pada orang-orang yang menghina Bianca padahal dia tidak salah apa-apa.
"Lalu aku harus melawan mereka pakai apa? Yang mereka percayai adalah yang mereka lihat, bukan pada kenyataan yang sebenarnya!" Balas Bianca tak kalah kesal.
"Maksudmu?"
"Sudahlah!" Bianca memalingkan wajahnya melihat ke samping. Menjelaskan semuanya pada Elgard juga sama saja. Itu tidak akan menyelesaikan masalahnya karena menurutnya, Elgard juga memiliki pikiran seperti orang-orang kalau Ayahnya memang bersalah.
Elgt terdiam, dia teringat akan bantahan Bianca atas tuduhan teman-teman kuliahnya tadi. Bianca dengan tegas mengatakan kalau Ayahnya bukan koruptor.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya aku harus mencari tau!"
Dulu Elgard masih kuliah, dia belum bisa berbuat apa-apa waktu itu. Dia tidak punya power, terlebih dengan Ayahnya yang dominan seperti itu. Satu hal lagi, dulu dia masih begitu tergila-gila pada Meriana hingga bersikap tak peduli.
"Sampai sini saja, terima kasih!" Bianca langsung turun dari mobil Elgard dan berjalan cepat agar pria itu tidak menahannya lagi.
Tapi percuma saja, Bianca tetap merasa jika Elgard mengikutinya dari belakang.
"El!!" Bianca menoleh menatap tajam pada pria yang bertubuh tinggi itu, tatapannya seolah mengatakan kalau jangan lagi mengikuti dirinya.
"Kenapa? Aku hanya ingin makan, kau tidak lihat tadi kalau aku belum sempat makan? Aku sudah membawamu pergi dari sana, menyelamatkanmu dari orang-orang itu, seharusnya kau memasakkan makan malam untukku sebagai imbalan kan?"
Elgard tak menunggu jawaban dari Bianca, dia malah berjalan mendahului Bianca seolah dirinya adalah Tuan rumah.
Bianca menatap punggung tegap berbalut jas berwarna navy itu. Ingin rasanya dia menarik pria itu untuk pergi dari sana, tapi rasanya tak mungkin. Tenaganya tak bisa melawan Elgard karena dengan tubuhnya yang mungil jika dibandingkan dengan tubuh Elgard, dia jelas kalah telak.
Meminta Elgard pergi dengan suaranya saja jelas tak didengarkan oleh pria bebal itu.
Bianca melangkah dengan malas, harus sampai kapan dia bersinggungan dengan masa lalunya itu.
Atau mungkin pergi jauh adalah solusinya. Meninggalkan tempat itu, lagi pula di sini dia banyak rentenir yang mencarinya atas hutang-hutang Kakaknya. Sepertinya pergi memang lebih baik untuk menghindar dari semuanya.
"Semua bahan makanan yang kau bawa tinggal ini, sebagian busuk dan sudah ku buang!" Bianca menunjukkan isi dari lemari pendinginnya.
"Kalau begitu akan ku hitung sebagai hutang!" Jawab Elgard dengan santai.
"Apa?"
"Aku sudah bilang, masak dan makanlah semua itu karena kalau tidak habis atau terbuang akan ku hitung sebagai hutang. Sebenarnya aku membawa semua itu ke sini karena aku ingin kau makan makanan yang sehat dan bergizi, bukan makan mie instan dan nasi tanpa lauk!"
"Aku tidak.."
"Aku tau kau pasti mengatakan jika tidak membutuhkannya. Makanya awalnya aku menjadikan hutang sebagai alasan untuk memaksamu memasak untukku, padahal itu hanya alibi agar kau mau ikut makan yang enak. Aku tau kau membenciku, aku tau kau tidak mau menerima sebuah bantuanku. Tapi tolong jangan keras kepala Bee, aku tulus membantumu. Ini hanya soal makanan, tidak ada yang lain. Aku juga tidak akan mengungkitnya terus-menerus masalah hutang dan semuanya kalau kau diam dan menerimanya!" Akhrinya Elgard mengatakan niatnya yang sesungguhnya.
Dia lelah dengan sikap keras kepala Bianca. Tapi Elgard terkadang maklum karena Bianca pasti sengaja membentengi dirinya sendiri dari masa lalu.
"Aku hanya ingin membantumu Bee, sungguh. Aku terima kalau kau membenciku, maka ijinkan aku menebusnya satu per satu!"
"Tapi El, aku benar-benar tidak mau berhubungan lagi denganmu dalam hal apa pun itu. Tolong biarkan hidupku berjalan seperti sebelumnya!" Baru kali ini Bianca bicara dengan begitu lembut dan menghiba pada Elgard semenjak pertemuan mereka kembali.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat!" Jawab Elgard setelah berpikir beberapa saat.
"Apa?" Bianca tak sabar ingin mendepak Elgard dari hidupnya.
"Ubahlah hidupmu menjadi lebih baik dulu, baru setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi!" Entah mengapa mulut dan hari Elgard rasanya bertentangan.
"Aku sedang berusaha!" Jawab Bianca.
"Dengan bekerja menjadi sekretaris Kevin?"
"Bukankah itu lebih baik daripada bekerja serabutan menjadi badut dan menjadi pelayan di club?"
"Kau punya impian menjadi peracik parfum Bee! Kejarlah impianmu itu!"
"Itu tidak mungkin, aku sudah berusaha tapi tidak membuahkan hasil!" Bianca tersenyum masam karena berkali-kali gagal.
"Itu tandanya kau belum bertemu jalannya. Keluarkan nomorku dari daftar blokirmu, aku akan mengenalkanku pada seseorang yang bisa membantumu!"
"Siapa?" Tanya Bianca penasaran.
"Roy Moremans!"
"A-apa? Roy Moremans, d-dia?"
"Iya, dia peracik parfum terkenal yang akan membantumu mengikuti jejaknya!"
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur