revisi
ternyata di platform ini,tidak suka Pace lambat/banyak kata
jadi kita merivisi semua dari bab 1
Shi Yan adalah seorang pecandu olahraga ekstrem yang tidak lagi merasakan tantangan dalam hidup, hingga maut menjemputnya dan melemparkannya ke dunia yang jauh lebih kejam. Terbangun di sebuah kolam mayat yang membusuk, ia mewarisi warisan kuno yang mengerikan: kemampuan untuk menyerap energi dari mereka yang mati.
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Shi Yan tidak memilih jalan pahlawan. Dengan Martial Spirit yang haus darah dan hati yang sedingin es, ia mendaki puncak kekuasaan di atas tumpukan tulang musuhnya. Baginya, setiap kematian adalah nutrisi, dan setiap peperangan adalah tangga menuju keilahian. Di dunia ini, kau hanya punya dua pilihan: Menjadi mangsa, atau menjadi sang Pembantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukma Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Menempa Diri
Bintang-bintang menerangi langit malam yang gelap, mengelilingi bulan sabit yang cerah. Cahaya bulan yang dingin menembus dedaunan, menyinari Hutan Kegelapan yang sunyi.
Di Yalan dan Hu Long sedang berpatroli, sementara Zhao Xin beristirahat sambil bersandar di pohon dengan napas yang teratur.
Luo Hao berdiri tegak di dekat pohon purba lainnya, tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya sedikit pun. Di dahan pohon yang rimbun di atasnya, Mu Yu Die sedang tidur dengan tenang. Perjalanan panjang seharian ini membuatnya kelelahan, apalagi ia belum bisa menggunakan Qi Mendalamnya secara bebas.
"Tap! Tap!"
Alis tebal Luo Hao berkerut saat melihat Shi Yan mendekat. Ia bertanya dengan terkejut, "Masih belum tidur?"
"Ya," Shi Yan mengangguk singkat. Ia berdiri di samping Luo Hao dan berbisik, "Apakah musuh tidak akan mudah menemukan kita di sini?"
"Tentu saja tidak," Luo Hao tersenyum. "Di hutan ini tidak ada jalur tetap. Ditambah banyaknya binatang buas dan prajurit liar di jalur kiri ini, orang-orang Dunia Kegelapan akan kesulitan melacak jejak kita. Justru monster dan prajurit gila di area inilah yang lebih perlu kita waspadai."
Shi Yan merenung sejenak, lalu bertanya lagi, "Paman Luo, apakah kau butuh banyak Qi Mendalam untuk melepaskan medan gravitasi?"
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Luo Hao bingung.
"Aku ingin menempa diriku dengan bantuan medan gravitasimu. Di bawah tekanan besar, tubuhku akan dipaksa melampaui batas. Aku ingin tahu di mana batas kekuatanku," jawab Shi Yan serius. Latihan biasa tidak pernah membuatnya puas; ia selalu mencari sensasi yang memacu gairah.
"Menempa diri dengan medan gravitasiku?" Mata Luo Hao berbinar, ia mengangguk. "Ide bagus, tapi apa kau yakin? Jika musuh datang saat kau kelelahan, kau tidak akan bisa melawan."
"Aku tidak berencana menggunakan Qi Mendalam," Shi Yan tersenyum tipis.
"Apa?! Kau ingin menempa diri hanya dengan kekuatan fisik murni?" Luo Hao terkejut bukan main.
"Benar."
Luo Hao terdiam cukup lama. "Kau baru saja mencapai Ranah Nascent, memang baik untuk melatih tubuh agar terbiasa. Tapi mencoba medan gravitasiku tanpa perlindungan Qi... itu gila. Kau yakin bisa menahannya?"
"Aku ingin mencoba," jawab Shi Yan tenang.
"Baiklah! Ikut aku," Luo Hao mengangguk dan berjalan menjauh tanpa suara. Shi Yan mengikutinya.
Tepat setelah mereka pergi, Mu Yu Die yang tadinya tidur di atas pohon perlahan membuka matanya. Ia mendengar semuanya.
"Baru mencapai Ranah Nascent dan sudah ingin menempa diri di bawah medan gravitasi tanpa Qi? Apakah pria ini benar-benar gila?" gumam Mu Yu Die penasaran. Ia turun dari pohon dengan lincah dan diam-diam mengikuti mereka.
***
"Kita mulai dengan medan gravitasi lima kali lipat. Biasanya, hanya prajurit yang sudah terlatih khusus yang bisa menahan ini. Jika kau merasa tidak sanggup, segera berhenti," ucap Luo Hao memperingatkan.
"Untuk latihan pertama, larilah mengelilingiku. Jika kau bisa menyelesaikan sepuluh putaran tanpa Qi Mendalam, tubuhmu akan menjadi jauh lebih kuat. Ingat, jangan memaksakan diri!"
Seketika, gelombang kekuatan besar meledak dari tubuh Luo Hao.
Dalam sekejap, gravitasi di sekitar Luo Hao melonjak lima kali lipat! Area di sekelilingnya seolah runtuh. Udara menjadi sangat berat hingga terasa sesak di dada.
Shi Yan merasa seolah-olah seluruh sel tubuhnya diisi oleh pasir, dan punggungnya memikul beban ratusan kilogram. Otot lututnya menegang, dan jantungnya berdegup sangat kencang. Seluruh ototnya berada di bawah tekanan yang mengerikan.
Ia mencoba beradaptasi. Bahkan hanya untuk berdiri diam saja, ia sudah kesulitan bernapas.
'Sialan! Tekanan ini luar biasa!' batin Shi Yan. Ia menyadari bahwa siapa pun yang masuk ke medan gravitasi Luo Hao tidak akan bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Ini baru lima kali lipat. Bagaimana jika sepuluh kali lipat?
Shi Yan membuang semua pikiran yang mengganggu. Ia menggeram, lalu mulai berlari mengelilingi Luo Hao.
Tubuhnya gemetar. Kakinya terasa seperti terbuat dari logam seberat ribuan ton. Lari yang biasanya ringan kini menjadi siksaan yang paling mengerikan.
Satu putaran... kecepatannya berkurang setengah.
Tiga putaran... ia semakin lambat.
Lima putaran... Shi Yan sudah tidak lagi berlari, melainkan menyeret kakinya.
Pada putaran keenam, wajah Shi Yan merah padam. Urat-urat biru di lengannya menonjol seperti ular kecil yang siap meledak dari kulitnya.
Putaran kedelapan, Shi Yan terhuyung-huyung. Setiap langkah menghabiskan seluruh tenaganya. Tubuhnya gemetar hebat setiap kali kakinya menapak tanah.
Luo Hao tidak tega melihatnya. Ia berteriak, "Cukup! Ini latihan pertamamu, jangan terlalu keras! Kau sudah mencapai batasmu! Berhenti sekarang atau kau bisa mati kelelahan!"
Shi Yan mengangkat kepalanya. Matanya merah, seolah-olah darah akan menetes dari sana. Ia berujar parau, "Hehe... ini baru menarik. Mari kita lanjutkan!"
Luo Hao terpaku. Hanya satu kesimpulan di benaknya: 'Orang ini sudah gila!'
Di balik semak-semak, Mu Yu Die membekap mulutnya sendiri. Ia belum pernah melihat orang senekat Shi Yan.
Shi Yan menyelesaikan satu putaran lagi dengan tubuh yang sudah miring dan lunglai. Pada putaran terakhir, kakinya goyah. Ia bisa jatuh kapan saja, seolah nyawanya akan melayang setiap saat.
Namun, dengan sisa tenaga terakhirnya, ia menyelesaikan putaran itu langkah demi langkah. Setelah itu, sebuah senyum aneh muncul di wajahnya.
Luo Hao baru saja akan menghentikan medan gravitasinya saat Shi Yan berteriak lagi.
"Satu putaran lagi!"
"Apa?! Cukup! Jangan main-main!" teriak Luo Hao.
Sebelum Luo Hao sempat bereaksi, Shi Yan kembali bergerak. Kali ini ia tidak bisa berdiri lagi. Ia jatuh tersungkur, namun ia terus bergerak dengan cara merangkak menggunakan tangan dan kakinya seperti binatang buas.
Ia seolah sengaja mencari maut.
Setelah setengah jam yang menyiksa, Shi Yan akhirnya sampai di garis akhir dengan merangkak lambat seperti siput.
Mu Yu Die menatapnya dari balik semak-semak, benar-benar terpana dan tidak bisa berkata-kata.