NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Leon menamai alat buatannya "SORA", kependekan dari Small Observational Responsive Assistant.

Alat kecil sebesar kaleng susu, terbuat dari limbah elektronik dan kamera sisa. Tapi kemampuannya luar biasa, bisa mendeteksi gerakan, mengenali suara, dan mengirimkan peringatan ke perangkat ponsel.

Bukan alat mata-mata. Tapi alat perlindungan. Untuk single mom. Untuk orang-orang seperti Elena.

Dan saat alat itu selesai ia rakit, Leon diam-diam mengirimkan prototype-nya ke sebuah startup teknologi keamanan kecil di Jerman. Ia menggunakan identitas palsu, “Leo S. Arden, umur 17, homeschooling student.” Tak ada yang menebak bahwa itu hanyalah bocah lima tahun di kamar loteng.

Dua minggu kemudian, email itu datang.

Subjek: Proposal Anda – SORA

Dear Leo,

Kami sangat terkesan dengan rancangan dan demo video yang Anda kirimkan. Kami tertarik membeli hak penggunaan desain awal Anda seharga €12.000, dengan kemungkinan kerjasama lisensi jangka panjang.

Leon membaca email itu sambil menggigit bibirnya, berusaha keras menahan senyum lebar.

Ia bukan memikirkan uang itu untuk membeli mainan atau gadget.

Tapi langsung memikirkan...

“Mama bisa pindah ke tempat yang lebih baik. Mama bisa berhenti bekerja di tiga tempat sekaligus. Mama bisa tidur tanpa memeluk tagihan listrik.”

Namun saat Elena pulang sore itu, ia hanya menemukan Leon yang sedang menggambar dinosaurus dengan krayon di meja kecilnya.

“Bagaimana harimu, sayang?”

“Seru, Mama. Aku baca buku tentang bintang-bintang.”

Elena tersenyum, mengecup rambut putranya.

Ia tidak tahu, bintang-bintang yang dimaksud Leon adalah jalur satelit komunikasi yang ia gunakan untuk mengirim data ke server perusahaan teknologi di Munich.

Ia juga tidak tahu bahwa anak lima tahun itu baru saja membuat keputusan bisnis senilai 12 ribu euro… demi dirinya.

Leon menatap ibunya malam itu saat Elena terlelap di sofa dengan jaket masih melekat di bahu.

Ia mengambil selimut kecil, menutupi tubuh ibunya pelan.

Lalu ia berbisik,

“Aku akan jadi anak baik selamanya… tapi Mama, tunggulah sebentar. Aku akan mengubah dunia kita, dan menemukan Papa.”

***

Pagi itu hujan turun pelan-pelan di Ghent. Elena baru saja pulang dari shift malam di kafe, matanya merah dan tubuhnya terasa berat. Ia membuka pintu rumah kontrakan dengan satu tangan sambil membawa tas belanja berisi susu, telur, dan roti keras yang didiskon setengah harga.

Leon, seperti biasa, sudah bangun. Duduk di pojok jendela dengan buku cerita di tangan dan wajah ceria menyambutnya.

“Mama capek?” tanyanya pelan.

Elena tersenyum lelah. “Sedikit. Tapi Mama baik-baik saja. Ada kamu, kan?”

Mereka sarapan bersama dalam diam. Leon diam-diam mengamati wajah ibunya yang pucat, garis lelah yang makin dalam di bawah mata. Ia tahu Mama menolak untuk menyerah, tapi tubuhnya sudah bicara banyak.

Dan hari ini, waktunya “kejutan” itu datang.

Pukul sepuluh pagi, Elena membuka email lamanya sambil menyesap teh. Sebagian besar isinya spam, promosi hotel, diskon sepatu.

Tapi satu pesan membuatnya nyaris tersedak.

Subjek: Selamat! Anda pemenang utama E-Lottery Eropa!

Kode tiket Anda: #GHE04-67293

Total hadiah: €12.000

Harap periksa rekening Anda. Dana telah ditransfer melalui sistem verifikasi instan.

Kami senang bisa membuat harimu lebih cerah hari ini!

Elena menatap layar dengan dahi berkerut. “Apa ini?”

Ia ingat, beberapa minggu lalu ia memang membeli tiket e-lottery online seharga satu euro. Hanya iseng. Tidak pernah mengharapkan apa pun.

Dengan jari gemetar, ia membuka aplikasi rekening bank.

Matanya membelalak.

Saldo: €12.437,19

Air matanya langsung menetes, jatuh ke atas ponselnya.

“Ya Tuhan... ini nyata?” gumamnya. “Aku menang? Aku… menang?”

Leon yang sedang menggambar di sudut meja pura-pura kaget. “Mama kenapa?”

Elena memeluk Leon tiba-tiba, erat, kuat.

“Kita menang, Leon! Mama menang lotre! Kita bisa pindah ke tempat baru. Mama bisa berhenti kerja malam!”

Leon hanya tersenyum, kecil dan hangat.

“Wah… Mama hebat banget.”

---

Di malam harinya, saat Elena tidur dengan senyum lelah dan mata sembab karena menangis bahagia, Leon duduk di depan laptop tuanya. Di balik layar, ia membuka folder berlabel: SORA Transactions → Payouts → "Code: Project Mama"

Ia melihat kembali log transaksi dari akun perusahaan teknologi Munich ke rekening ibunya, yang lebih dulu ia hubungkan secara diam-diam melalui jaringan verifikasi palsu e-lottery sederhana. Tidak ada jejak digital yang bisa mengarah ke dirinya.

Semuanya bersih. Aman. Dan terlihat… seperti mukjizat kecil.

Di samping jendela, hujan masih turun. Tapi bagi Leon, malam itu hangat.

Ia menutup laptopnya pelan, lalu berbaring di kasurnya yang sempit.

Dan sebelum tidur, ia membisikkan satu kalimat ke langit-langit kamar lotengnya.

“Tunggu, Papa. Aku akan datang… ”

***

Antwerp, Belgia – Tiga Bulan Kemudian

Apartemen kecil itu memiliki balkon mungil yang menghadap ke jalur trem, dengan suara bel sepeda dan aroma roti panggang dari kafe bawah sebagai latar pagi mereka. Tidak mewah, tapi lebih hangat, lebih bersih, dan... tidak bocor seperti loteng lama mereka di Ghent.

Elena masih sulit percaya bahwa semua ini terjadi hanya dalam waktu tiga bulan. Ia membayar uang sewa setahun di muka, membeli tempat tidur baru untuk Leon, dan menyekolahkan anak itu di sekolah internasional terbaik yang bisa dijangkau dengan trem. Semua berkat “keberuntungan lotre” yang ia pikir benar-benar datang dari langit.

“Gimana sekolahnya, sayang?” tanya Elena suatu malam sambil menyisir rambut Leon yang kini mulai tumbuh ikal di ujungnya.

Leon, yang duduk di karpet dengan tablet di pangkuannya, tersenyum tanpa menoleh. “Seru. Aku diajar guru matematika dari Prancis. Tapi... soal-soalnya mudah banget.”

Elena tertawa. “Itu kabar bagus, dong.”

“Kalau soal-soalnya terlalu mudah, berarti waktunya naik kelas,” gumam Leon pelan.

Elena tak menangkap nada itu.

---

Pagi-pagi keesokan harinya, Elena berdiri di depan cermin mengenakan kemeja putih dan blazer abu-abu muda. Rambutnya dikuncir sederhana. Wajahnya tidak bisa menutupi gugup.

Ia akan menghadiri tiga wawancara kerja hari itu, di tiga perusahaan berbeda: satu perusahaan jasa konsultan bahasa, satu firma riset pasar, dan satu lagi perusahaan teknologi besar yang bergerak di bidang sistem keamanan dan jaringan komunikasi, yang disebut-sebut sedang berkembang pesat sejak mendapat pendanaan dari London.

Leon sedang mengikat tali sepatunya sendiri di dekat pintu, sesekali mengintip ibunya diam-diam.

“Aku pulang sore, ya. Jangan lupa bawa bekalmu,” kata Elena sambil mengecup kepala putranya. “Doakan Mama diterima kerja.”

Leon tersenyum kecil. “Mama pasti diterima. Yang terakhir kelihatannya bagus.”

“Yang terakhir?” Elena memicingkan mata. “Dari mana kamu tahu perusahaan yang terakhir?”

Leon pura-pura sibuk merapikan tas sekolahnya. “Eee... tebak aja. Soalnya namanya keren. ThorneNet Secure. Kayak nama superhero.”

Elena tertawa kecil. “Iya, ya. Agak keren.”

---

Sore hari, Kantor Pusat ThorneNet Secure, Antwerp

Gedung itu berdiri menjulang dengan desain kaca hitam dan aksen baja. Elena duduk di ruang tunggu lantai dua belas, gugup, memperhatikan karyawan-karyawan yang berlalu-lalang dalam jas formal dan headset komunikasi di telinga.

Seorang wanita muda mendekatinya.

“Ms. Stratford? Tim kami sudah siap menerima Anda. Ikuti saya, ya.”

Elena mengikuti wanita itu melewati koridor bergaya minimalis, lalu masuk ke ruang konferensi dengan layar LED besar di dinding.

Wawancaranya berlangsung singkat, efisien, dan profesional. Tidak ada pertanyaan aneh. Tapi ada satu hal yang membuat Elena sedikit canggung, nama perusahaan itu. ThorneNet.

Nama itu... familiar. Tapi tidak langsung mengaitkan apa pun di otaknya. Mungkin karena pernah membaca nama yang mirip di jurnal ilmiah, atau... mungkin karena kenangan yang dikubur dalam-dalam.

Apa pun itu, Elena terlalu fokus mencari pekerjaan, dan terlalu lelah untuk menoleh ke belakang.

---

Namun, di kantor pusat Thorne International Holdings di London, beberapa data mulai terkumpul.

Seorang analis data dari divisi investasi sedang meninjau laporan internal dari cabang Belgia.

“Pak Thorne,” kata asistennya sambil menyerahkan tablet, “ada profil baru yang menarik dari wawancara hari ini. Namanya Elena Stratford. Pernah bekerja di Drexler BioLabs. Background medis dan linguistik. Laporan nilai akademiknya... luar biasa.”

Alexander Thorne yang sedang duduk di balik meja hitamnya, hanya mengangkat alis. Ia sedang sibuk meninjau laporan kerjasama antar divisi, tapi nama itu, Elena Stratford, menyentaknya.

Matanya terfokus.

Lidahnya membeku sesaat.

“Ulangi namanya.”

“Asisten riset, Elena Stratford. Dulu dari London. Pindah ke Belgia sekitar lima tahun lalu.”

Alexander menyandarkan punggung, matanya tajam menatap kosong ke layar.

Lima tahun lalu.

Drexler BioLabs.

Donor A.T.011.

Tangannya perlahan menggenggam tepi meja.

“…Lanjutkan prosesnya,” katanya datar.

---

Sementara itu, di apartemen kecil mereka, Leon duduk di depan laptopnya sambil memantau kabar perusahaan melalui jalur terbuka media.

Ketika notifikasi wawancara ibunya masuk, Leon hanya tersenyum.

“Langkah satu berhasil,” bisiknya pelan.

“Sekarang… waktunya masuk ke dalam dunia Papa.”

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!