NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Bunga Mawar

Mungkin salah satu hal yang harus Alissa syukuri dengan terjebaknya dia di dunia novel adalah, menjadi orang kaya. Ralat, maksudnya menjadi istri orang kaya.

Walaupun peran Sean sebagai antagonis, tapi kekayaan laki-laki itu tidak main-main. Tentu saja, jika tidak bagaimana bisa dia memiliki mansion besar dengan banyak pelayan dan penjaga.

Tidak hanya sebagai pengusaha. Sean Balrick juga berkecipung di pasar gelap. Transaksi narkoba dan senjata secara illegal sudah sering laki-laki itu lakukan.

Tidak ada keluarga yang tahu tentang bisnis Sean yang satu ini. Laki-laki itu menutup rapat rahasianya sampai tamatnya novel.

Hah, untunglah Alissa sudah membaca novel itu sampai tamat. Setidaknya dia memiliki sedikit clue untuk keberlangsungan hidupnya di dunia novel ini.

"Sayang sekali, tokoh Alissa akan mati di tangan Sean." gumam Alissa setelah meminum jus buah naga.

Saat ini ia tengah bersantai di balkon kamarnya. Menikmati pemandangan taman mansion yang bunganya tengah bermekaran.

"Jika saja nyawaku sedang tidak dipertaruhkan, aku lebih memilih tetap menjadi istri Sean dan menikmati kekayaan psikopat itu." monolog Alissa tampak seperti candaan.

Di tengah waktu bersantainya, matanya tak sengaja menangkap sosok laki-laki yang tidak asing, sedang membersihkan senapan di kursi taman. Alissa seperti pernah melihatnya. Tapi, di mana?!

Melihat laki-laki yang hanya memakai singlet hitam sehingga menunjukan otot-otot tubuhnya itu, Alissa bertompang dagu. Mengagumi betapa indahnya pemandangan di bawah sana.

"Romeo? Mana perutmu? Aku ingin melihatnya."

"Ah, Nyonya! Apa yang kau lakukan!"

"Romeo, tunjukkan perutmu!"

"Nyonya saya bukan Romeo. Saya Rion. Bukan Romeo."

"Ahh, iya!" Alissa menjentikkan jempol dan jari tengahnya.

"Aku ingat sekarang. Dia Rion. Laki-laki yang menjadi korban cabulku waktu itu." seru perempuan itu diakhiri dengan ringisan yang dipenuhi rasa malu.

Alissa juga tidak tahu apa sebabnya. Tiba-tiba saja dia ingin mengelus perut sixpack waktu itu. Mungkinkah dia....mengidam? pikir Alissa mulai menuduh kandungannya.

Mengingat kandungannya, ia mengelus perutnya lembut. Berkembanglah yang baik di sana!

Merasa tidak enak hati, Alissa keluar dari kamarnya. Turun dan menghampiri Rion. Dia harus meminta maaf atas tindakan lancangnya kan? Sekalian...ehem. cuci mata.

"Rion!"

Sang pemilik nama menoleh. Sedikit terkejut ketika mendapati istri tuannya itu. Astaga, mau apalagi dia?! Nampaknya laki-laki itu sedikit trauma bertemu dengan Alissa.

"Nyonya?"

"Kau sedang apa?" tanya Alissa basa-basi dan ikut bergabung duduk di depan Rion yang dibatasi oleh meja bundar berwarna putih.

"Membersihkan senjata, Nyonya." meskipun menurutnya pertanyaan Alissa adalah pertanyaan bodoh, Rion tetap menjawabnya dengan sopan.

Bagaimanapun, dia adalah istri seseorang yang telah menggajinya.

"Sebenarnya aku ingin meminta maaf." Alissa mengutarakan maksud tujuannya.

Rion menghentikan kegiatannya mengelap senapan miliknya. "Meminta maaf untuk apa, Nyonya?"

"Tentang sikapku kemarin malam. Sungguh! Aku khilaf waktu itu."

Lawan bicara Alissa itu termenung sejenak. Mengingat peristiwa yang membuatnya harus menerima sepuluh cambukan dan bogeman di wajahnya.

Rion pikir, karena mabuk, maka Alissa sudah melupakan kejadian itu. Tidak disangka, Nyonyanya itu masih mengingatnya bahkan meminta maaf padanya sekarang.

"Haha...tidak apa-apa Nyonya. Saya maklum karena Nyonya sedang mabuk." balas Rion dengan senyum kikuknya.

"Aku juga berpura-pura mabuk malam itu." gumam Alissa dengan ringisan

"Anda mengatakan sesuatu, Nyonya?"

"Ah, tidak. Tidak ada." Alissa menyengir. Jangan sampai laki-laki itu tahu jika Alissa hanya berpura-pura mabuk. Mau ditaruh di mana muka cantiknya ini.

Alissa memandangi sekitar. Taman ini cukup membuatnya betah. Apalagi dengan warna-warni bunga yang bermekaran, hingga harum alami menyeruak masuk ke dalam hidung memberikan kenyamanan.

"Wah, Rion lihatlah. Indah sekali bunga mawar itu!" seru Alissa menunjuk tanaman mawar merah hati yang menjulang tinggi.

Rion mengikuti arah pandang Alissa. Menatap bunga yang melambangkan cinta itu dengan mata menyipit karena sinar matahari.

"Indahnya bunga tidak seindah kecantikan anda Nyonya."

Blush.

Pipi Alissa memerah tersipu. Maklum saja, jiwanya itu tidak pernah mendapatkan pujian semacam itu dari lawan jenis.

"Benarkah yang kau katakan, Rion?" tanya Alissa dengan senyum malu-malunya.

Rion mengangguk pasti. "Tentu saja. Nyonya adalah perempuan tercantik di dunia ini."

Alissa menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Kau membuatku malu...."

"Nyonya."

"Ya, Rion?"

"Tolong, katakan pada Tuan untuk menaikkan gajiku ya?"

Perkataan Rion sontak membuat Alissa melunturkan senyumnya. Ia pandangi Rion dengan tatapan datar.

"Kau merayuku ternyata ada udang di balik batu ya!" kata Alissa kesal.

Yang dituduh hanya menyengir tanpa rasa bersalah. "Tidak ada yang gratis di dunia ini, Nyonya."

"Menyebalkan!"

Alissa cemberut. Bersedekap dada dan membuang muka. Pipinya mengembung lucu. Rion yang melihat itu sejenak merasa terdiam terpesona.

Sebenarnya apa yang ia katakan adalah sebuah kejujuran. Alissa memang cantik. Sangat cantik malah. Apalagi wajah alami tanpa riasannya itu, membuat Alissa tampak seperti anak remaja.

Rion sedikit heran. Biasanya Alissa selalu tampil glamor dengan wajah penuh riasan. Dan kini perempuan yang duduk di hadapannya itu jauh terlihat lebih segar dengan wajah polosnya.

Jika saja Alissa bukan istri tuannya, dia akan---astaga Rion! Apa yang kau pikirkan.

"Rion!"

"Hah?! Ke--kenapa Nyonya?!" laki-laki itu sontak berdiri karena terkejut. Tiba-tiba saja Alissa memanggilnya dengan nada yang sangat tinggi.

"Kau tuli ya?!" amuk Alissa karena berkali-kali dia memanggil bawahan Sean itu, tapi tidak dipedulikan.

"Ma--maaf, Nyonya." astaga, karena terlalu mengagumi kecantikan istri tuannya, Rion sampai melamun.

"Aku ingin mawar itu. Tolong petikkan untukku!" titah Alissa menunjuk mawar yang tadi dia bicarakan.

"Tapi, Nyonya. Mawar itu---

"Tidak ada tapi-tapian! Kau tadi sudah membuatku kesal. Jangan menambah kesalahanmu!"

"Nyonya, bunga itu--" Rion tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Bunga itu kenapa? Ada racunnya?" tanya Alissa mulai jengah.

"Bunga itu milik Stella!"

Bukan Rion, melainkan seseorang yang baru saja memasuki taman mansion-lah yang menjawabnya.

Alissa menoleh. Tentu saja dia mengenali suara laki-laki yang akhir-akhir ini selalu menyapa gendang telinganya.

"Kau ini pelit sekali! Aku hanya meminta satu tangkai, bukan satu taman." kata Alissa menatap laki-laki dengan jas hitam itu sebal.

Sean mendengus mendengarnya. "Ini bukan perkara satu atau dua. Masalahnya, aku tidak rela sesuatu milik Stella dirusak."

"Aku tidak merusaknya!" bantah Alissa tak terima.

"Memetik sama saja merusak." balas Sean tidak mau kalah.

"Kau!" Alissa menunjuk Sean dengan tatapan nyalang setelah itu terdengar geraman tertahan dari perempuan itu.

"Jika begitu, cepat ceraikan aku! Setelah itu nikahi Stella! Dasar incest!" Alissa berteriak marah.

Lebih dari itu. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia terluka dengan perkataan Sean.

Mati-matian Alissa menahan tangisnya. Entahlah, ia tidak tahu kenapa menjadi emosional. Mungkinkah ini yang dinamakan hormon kehamilan.

"Sean Balrick. Aku benar-benar membencimu!"

Samar-samar, Sean masih mendengar umpatan Alissa yang telah meninggalkan taman. Tapi itu bukan fokusnya saat ini.

Sean tatap Rion dengan mata tajamnya. Tentu saja laki-laki itu tidak lupa dengan peristiwa Alissa ingin menelanjangi salah satu bawahannya ini.

"Sedang apa kau dengan Alissa?" tanya Sean dingin.

"Ka--kami...Nyo--Nyonya yang menghampiri saya Tuan. Dia ingin meminta maaf tentang peristiwa kemarin malam." Rion berdoa, semoga punggungnya tidak lagi menerima cambukan.

"Lain kali jangan ladeni dia." Alissa, dia sudah banyak berubah. Dan itu membuat Sean terusik.

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!