Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 - Sticky Notes
"Sayang?" panggil Robi.
Wanita itu menoleh. "Lohhhh kak Obi? Kok bisa di sini?" Ternyata itu adalah Aprilia, tunangan Robi yang sedang mengerjakan proyek Wedding Organizer-nya bersama sahabatnya, Tasya.
"Dunia sempit banget ya," kekeh Robi menghampiri April dan mengecup keningnya singkat.
"Aku lagi nemenin Mila. Laptopnya mati, mau minta tolong Valen benerin."
"Duduk sini aja bareng kami kalau gitu," ajak Tasya ramah sembari menggeser berkas pernikahan.
Valen pun menarik kursi di samping Mila. Ia mulai mengeluarkan obeng kecil untuk mengecek laptop Mila. Suasana meja itu menjadi sangat ramai; April dan Tasya sibuk membahas rundown pernikahan sebulan lagi, Robi asyik menggoda tunangannya, dan Mutia tak henti mencuri pandang pada Valen dan Mila.
"Gue cuma bantuin sebentar, kok. Kayaknya ini cuma masalah static charge di baterainya. Jangan panik ya, Mila," ucap Valen lembut tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
Mila hanya bisa mengangguk kaku, menatap jemari Valen yang lihai bergerak di atas laptopnya. Duduk sedekat ini dengan Valen—ditambah ada Kak April yang terus meliriknya dengan senyum penuh arti—membuat Mila merasa jantungnya berdegup jauh lebih cepat daripada saat laptopnya mati tadi.
"Lucu banget sih Mila sama Valen, gue gulung juga nih bumi!" celetuk Mutia membuat Robi, Aprilia, dan Tasya tertawa ngakak.
Kini suasana di meja pojok Wangsa Cafe itu terasa begitu kontras. Di satu sisi, April dan Tasya sedang berdebat seru soal warna taplak meja untuk resepsi bulan depan, sementara Robi asyik mencomot kentang goreng milik April sambil sesekali memperhatikan adiknya yang tampak gugup itu. Mutia sendiri sibuk memainkan ponselnya, meski telinganya dipasang tajam-tajam ke arah Mila dan Valen.
Mila duduk mematung. Jaraknya dengan Valen hanya terpaut satu kursi yang dikosongkan. Ia bisa mencium aroma kopi yang seolah sudah menjadi identitas pria di sampingnya itu.
"Oke, coba kita lihat..." gumam Valen.
Jari-jarinya yang panjang dan bersih bergerak lincah menekan kombinasi tombol di keyboard laptop Mila. Setelah beberapa saat melakukan prosedur hard reset, sebuah logo buah apel yang digigit muncul di layar hitam tersebut.
"Wih, Nyala!" pekik Mila tanpa sadar, hampir saja melompat dari kursinya.
"Alhamdulillah... akhirnya calon adik ipar nggak jadi nangis bombay," goda April sambil tertawa kecil dari seberang meja.
Valen tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat tulus dan entah kenapa terasa sangat menenangkan di mata Mila.
"Belum selesai. Saya cek dulu draf revisi kamu, takutnya ada file yang korup karena mati mendadak tadi." Valen mulai menggerakkan kursor. Mila baru saja akan berterima kasih ketika ia menyadari sesuatu.
Matanya membelalak saat melihat Valen membuka folder bernama SKRIPSI_BISMILLAH_LULUS.
"Eh, jangan yang itu!" cegah Mila terlambat.
Layar laptop itu kini menampilkan draf bab dua Mila. Namun, bukan teks akademis tentang teori akuntansi yang membuat Mila ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga, melainkan sticky notes digital berwarna merah muda yang menempel di pojok layar.
Di sana tertulis dengan huruf kapital besar:
REVISI MATI-MATIAN SEBELUM OMA DATANG. KALAU ENGGAK LULUS, SIAP-SIAP DIJODOHIN SAMA PILIHAN OMA YANG MUNGKIN KAKAKNYA TUA ATAU BOTAK! SEMANGAT MILA!
Hening sejenak.
Robi yang ikut mengintip dari balik bahu Valen langsung meledakkan tawanya sampai tersedak kentang goreng. "Hahaha! Tua atau botak, Mil? Parah banget pikiran lo!"
Wajah Mila sudah tidak bisa didefinisikan lagi warnanya. Merah padam sampai ke telinga. Ia segera merebut laptopnya dari tangan Valen.
"Makasih! Makasih banyak ya, udah nyala kok, sisanya biar Mila cek sendiri!"
Valen berdehem, mencoba menahan tawa yang jelas sekali terpancar dari binar matanya. "Tenang saja, Mila. Kayaknya pilihan Oma kamu itu nantinya nggak bakal seburuk itu. Gak mungkin kan Oma kamu menyerahkan tuan putri kecilnya ke orang botak dan tua, kecuali Oma kamu berhutang padanya."
"Tau dari mana lo, Len?" sahut Robi yang ikut terpingkal.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya, Guys!
Love you, All❤️