"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Gembala.
Tak lama, dari balik kegelapan, muncul seorang wanita paruh baya mengenakan seragam perawat yang robek, pria muda dengan tangan penuh oli yang masih memegang kunci inggris, dan seorang anak kecil memeluk boneka beruangnya yang lusuh.
Ketiganya tampak gemetar, ketakutan menatap Bumi dengan penuh harapan. Meskipun sorot mata mereka penuh dengan keputus-asaan.
"Tolong..." kata perawat itu, air mata tampak mengalir di wajahnya yang kotor. "Kami melihat apa yang kau lakukan di toko tadi. Tolong jangan bunuh kami... Kami hanya ingin bertahan hidup."
Bumi tertegun. Layar sistemnya muncul, memberikan pilihan yang tidak ia duga.
[ Quest Sampingan Terdeteksi: The Shepherd (Sang Gembala)
Tujuan: Lindungi warga sipil yang tidak berdaya.
Hadiah: Poin Reputasi & Pembukaan Fitur 'Party System'. ]
[ Peringatan penting! Membawa beban akan mengurangi kecepatan gerak Anda sebesar 40%! ]
Bumi menatap palu godamnya, lalu menatap anak kecil yang meringkuk itu. Di dunia di mana orang saling bunuh untuk mendapatkan poin, permintaan bantuan seperti ini hanya akan menjadi beban berat semata.
Jika ia membawa mereka, tentara bayaran itu akan lebih mudah menemukannya. Tapi jika ia meninggalkan mereka...
Bumi hendak bicara ketika telinganya menangkap suara desis yang sangat aneh dari atas dinding bangunan.
Desisan tajam, bukan dari ular ataupun manusia. Namun lebih mirip gesekan kuku tajam di atas beton.
Bumi mendongak ke arah langit-langit gang yang gelap. Di sana, di antara kabel-kabel listrik yang menjuntai, ia melihat sepasang mata merah yang memantulkan cahaya retakan langit.
Makhluk itu merayap dengan posisi terbalik, tubuhnya yang aneh dan mengerikan terlihat panjang juga kurus.
"Jangan bergerak," bisik Bumi dengan suara yang sangat rendah, tangannya perlahan mengangkat palu godamnya kembali.
"Sesuatu yang lebih buruk dari tentara bayaran itu saat ini ada di atas kita."
Namun apa yang terjadi membuat keadaan langsung kacau!
HUAAAAA!!
Anak kecil itu, justru menangis dengan sangat keras, dan di saat itulah, makhluk di atas mereka merambat ke bawah dengan mulut terbuka lebar yang dipenuhi ribuan gigi kecil.
"Aduh!" Bumi dan lainnya langsung mengeluh.
Pemuda itu cepat bergerak.
"Structural Burst!"
Bumi tidak menghantamkan palunya ke arah makhluk itu. Sebaliknya, ia menghantamkan kepala baja palu godamnya ke dinding beton gang yang ada di samping.
DUAR!
Ledakan energi ungu yang terpancar dari palunya merontokkan lapisan semen dan bata, membuat awan debu tebal dan serpihan tajam yang terlempar ke udara.
Dan benar saja, efek kejut itu memaksa monster merayap itu terdiam lalu membelok dan melompat lagi ke arah lain yang lebih gelap dengan suara ძesisan yang mengerikan.
"Lari! Masuk ke dalam apotek itu!" bentak Bumi kepada tiga warga sipil yang mematung ketakutan.
Genta, yang sudah lebih dulu beradaptasi dengan perintah cepat Bumi, segera menyambar tangan Rian, anak kecil yang memegang boneka beruang.
Sementara itu, Sarah- perawat dan Budi—montir muda yang memegang kunci inggris—berlari dengan kaki gemetar masuk ke dalam reruntuhan apotek yang pintunya sudah jebol. Bumi masuk paling terakhir, matanya terus memindai langit-langit menggunakan Eyes of the Merchant, mencari siluet panas dari monster tersebut.
Di dalam apotek yang pengap dan berbau obat-obatan kedaluwarsa, Bumi segera menggeser sebuah lemari pajangan kaca yang berat untuk menutupi pintu masuk.
"Bere" napasnya terengah dengan keringat dingin membasahi punggungnya. Status Fisik miliknya membuat staminanya pulih lebih cepat daripada manusia normal, namun beban mental untuk melindungi tiga nyawa tambahan mulai terasa berat pundaknya.
"Terima kasih... Ya Tuhan, terima kasih..." Sarah jatuh terduduk di lantai yang kotor, mencoba mengatur napasnya yang pendek.
"Namaku Sarah. Ini Budi," dia menunjuk pria muda di sampingnya yang menggenggam kunci inggris hingga buku jarinya memutih, "dan ini Rian." Anak kecil itu hanya bisa meringkuk di pelukan Sarah, tubuhnya gemetar hebat.
Bumi tidak menjawab sapaan itu. Ia justru menatap layar sistemnya yang terus-menerus memberikan peringatan berwarna merah di sudut pandangan matanya.
[ Peringatan: Party System Tidak Stabil
Kecepatan Gerak Anda saat ini berkurang 40%(Penyesuaian Kecepatan Kelompok).]
[ Efek: Konsumsi Stamina Meningkat 15% saat Bertarung di Dekat Warga Sipil. ]
"Bumi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Genta berbisik, mendekati pemuda itu yang masih waspada di dekat pintu. "Kita tidak bisa membawa mereka selamanya. Para tentara bayaran dari Iron Cage itu pasti akan menyisir area ini. Mereka punya alat-alat yang canggih. Membawa mereka... sama saja bunuh diri secara perlahan."
Genta mengatakan kegelisahannya.
Bumi menatap ketiga orang itu satu per satu. Dalam rona hijau Eyes of the Merchant, ia melihat potensi yang berbeda. Sarah bukan hanya seorang perawat; sorot matanya yang takut tetap menunjukkan keteguhan seorang penyintas yang tidak mudah menyerah.
Budi memiliki otot lengan yang terlatih sebagai montir; tangannya yang kasar mungkin bisa membantu Genta memperbaiki peralatan atau bahkan membuat barikade yang lebih kokoh.
"Dunia ini sudah tidak lagi mengenal belas kasihan," ucap Bumi dengan suara yang dingin dan datar, matanya menatap tajam ke arah Sarah dan Budi. "Aku tidak akan menjadi pahlawan kalian. Aku tidak punya niat untuk menjadi martir. Jika kalian ingin mengikutiku, kalian harus membuktikan bahwa kalian berguna. Jangan hanya menjadi beban untukku! Aku tak sebaik itu."
Budi, sang montir, mengangkat kunci inggrisnya dengan tangan yang masih gemetar namun penuh tekad. "Aku bisa memperbaiki apa saja, Mas. Berikan aku alat, atau biarkan aku mempreteli mesin mobil di jalanan, aku bisa buat kendaraan atau barikade yang kuat. Tolong... jangan tinggalkan aku. Di luar sana, orang-orang sudah berubah menjadi binatang!"
Sarah mengangguk cepat, suaranya kini lebih stabil. "Aku punya pengetahuan medis. Aku tahu di mana supermarket 'Mega Mart' di ujung jalan ini. Mereka punya stok suplai darurat, antibiotik, dan makanan kaleng yang disimpan di gudang bawah tanah yang tidak diketahui publik. Tapi tempat itu... sejak blackout terjadi, tempat itu menjadi sarang bagi monster jelek merayap itu."
Bumi terdiam sejenak. Lengannya masih terasa nyeri akibat benturan dengan gada Baskoro tadi, dan ia tahu Genta membutuhkan asupan kalori yang lebih baik agar tidak jatuh sakit di lingkungan yang ekstrem ini.
Jujur saja, hanya pada Genta, Bumi mempunyai hutang balas budi yang cukup banyak. Jadi tak ada alasan baginya untuk meninggalkan Genta sendirian.
[ Quest Kelompok Terdeteksi: Ekspedisi Mega Mart]
· Tujuan: Mengamankan suplai medis dan makanan.
· Hadiah: Peningkatan Kapasitas Inventaris & Poin Reputasi "Leader". ]
Bumi memejamkan mata sesaat. Keputusannya sekarang akan menjadi fondasi bagi kelangsungan hidupnya di masa depan.
Jika ia memilih menjadi penyendiri, ia mungkin akan kuat dengan sangat cepat, namun ia akan selalu rentan jika dikepung oleh organisasi besar seperti tentara bayaran tadi.
Jika ia membangun kelompok, ia akan bergerak lambat di awal, namun ia akan memiliki mata dan tangan tambahan untuk mengguncang tatanan Iron Cage.
"Baiklah," Bumi akhirnya bicara, suaranya menggema di apotek yang sunyi. "Kita akan bergerak menuju Mega Mart sebelum fajar menyingsing. Tapi dengar baik-baik... jika salah satu dari kalian membahayakan kelompok karena kecerobohan atau kepanikan bodoh, aku tidak akan ragu untuk meninggalkan kalian begitu saja di belakang. Paham?"
****