NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Kota Asing dan Jejak yang Dihapus

Matahari Surabaya tepat berada di atas ubun-ubun ketika Alina melangkah keluar dari pintu kaca lobi rumah sakit. Hawa panas langsung menyergap, bercampur dengan debu jalanan dan asap knalpot yang pekat. Biasanya, Alina akan mengeluh kepanasan, segera mencari tempat berteduh atau memesan taksi ber-AC. Namun hari ini, ia membiarkan terik itu membakar kulitnya. Rasa panas di luar tidak sebanding dengan rasa dingin yang membekukan organ-organ di dalam tubuhnya.

Tiga hari.

Hanya butuh tiga hari bagi Alina untuk masuk ke gedung putih itu sebagai calon ibu yang penuh harap, dan keluar sebagai wanita yang kehilangan segalanya.

Ia meremas struk pembayaran rumah sakit di tangannya sebelum membuangnya ke tempat sampah. Tabungannya terkuras habis. Hampir tujuh puluh persen simpanannya lenyap untuk membayar biaya rawat inap dan prosedur kuretase yang menyakitkan itu. Tidak ada asuransi yang menanggung, dan tentu saja, tidak ada sepeser pun bantuan dari Rendy. Pria itu benar-benar lenyap ditelan bumi, memblokir semua akses komunikasi, seolah Alina adalah virus mematikan.

Alina menyeret tas pakaiannya. Langkahnya tertatih. Nyeri di perut bagian bawahnya masih terasa menyengat setiap kali ia melangkah terlalu lebar, pengingat fisik yang kejam bahwa rahimnya baru saja dipaksa kosong.

Ia berdiri di pinggir jalan raya, menatap lalu lalang kendaraan. Kota ini masih sama. Masih macet, masih bising. Tapi bagi Alina, Surabaya mendadak terasa asing. Setiap sudut jalan seolah menyimpan ranjau kenangan—warung soto tempat mereka sarapan, taman kota tempat mereka berkencan—semuanya kini terasa beracun.

"Aku harus pergi," gumamnya pada angin berdebu. "Aku harus menghilang."

Langkah pertama adalah memutus rantai kehidupan lamanya.

Tanpa pulang ke kosan terlebih dahulu, Alina nekat mengarahkan taksi online-nya menuju gedung perkantoran di pusat kota, tempat ia bekerja sebagai staf administrasi bank. Ia perlu menyelesaikan semuanya hari ini juga.

Ketika ia melangkah masuk ke ruangan divisinya, suasana kantor sedang sibuk. Suara ketikan keyboard dan tawa renyah rekan-rekannya terdengar begitu kontras dengan keheningan di dalam kepala Alina. Ia merasa seperti hantu yang berjalan di antara manusia hidup.

"Ya ampun, Alina!" Seruan Rini, rekan semeja kerjanya, memecah konsentrasi. "Kamu ke mana aja tiga hari ini? Kita semua khawatir! Kamu sakit? Muka kamu pucat banget."

Alina tersenyum tipis dan kaku. "Aku... cuma butuh istirahat, Rin. Maaf bikin khawatir."

Tanpa banyak bicara, Alina berjalan lurus menuju ruangan Pak Budi, manajer operasional. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena ia merasa seperti penipu yang sedang menyusup di kehidupan orang normal. Di sana, ia meletakkan selembar surat pengunduran diri.

Pak Budi mengerutkan kening. "Resign? Mendadak begini? Kamu yakin, Alina? Apa karena masalah pribadi? Saya dengar gosip kamu putus sama Rendy?"

Nama itu membuat perut Alina mual. Ia meremas rok kerjanya, menahan gejolak emosi.

"Bukan, Pak," jawab Alina dengan suara datar. "Orang tua saya di kampung sakit keras. Saya harus pulang untuk merawat mereka. Tidak mungkin saya bolak-balik Surabaya."

Bohong. Tapi Alina butuh alasan yang tidak bisa didebat. Ia butuh pintu keluar yang cepat dan bersih.

Pak Budi menghela napas panjang, tampak kecewa namun akhirnya mengangguk. "Ya sudah kalau itu alasannya. Keluarga memang nomor satu."

Satu jam kemudian, Alina keluar dari gedung itu dengan membawa sebuah kardus kecil berisi barang-barang pribadinya. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia hanya ingin lenyap. Gaji terakhir dan sedikit uang pesangon yang ia terima tunai hari itu menjadi satu-satunya pelampung nyawanya.

Langkah kedua adalah mencari tempat persembunyian.

Alina tidak mungkin kembali ke kosan lamanya di Wonokromo. Bau Rendy masih terlalu pekat di sana. Ia hanya mampir sebentar di jam kerja—memastikan lorong kosan sepi—untuk mengemasi sisa bajunya ke dalam satu koper besar dengan gerakan kilat, lalu meninggalkan kunci dan uang sewa terakhir di meja.

Sore harinya, saat langit Surabaya mulai jingga, Alina sudah berada di dalam taksi yang membawanya ke Rungkut—kawasan industri yang padat, berdebu, dan jauh dari gemerlap kota.

Ia sengaja memilih daerah ini. Daerah buruh. Tempat di mana orang-orang sibuk bertahan hidup sehingga tidak punya waktu mengurusi hidup orang lain. Rendy dan Sisca tidak mungkin sudi menginjakkan kaki di daerah yang udaranya berbau asap pabrik seperti ini.

Taksi berhenti di depan sebuah gang sempit. Alina menyeret kopernya menembus gang itu hingga tiba di sebuah bangunan bertingkat dua dengan cat hijau lumut yang mengelupas.

"Cari kos, Mbak?" tanya pemilik kos, wanita paruh baya bertubuh tambun. "Lantai dua pojok. Lima ratus ribu sebulan. Kamar mandi luar."

"Saya ambil."

Tanpa menawar, Alina menyerahkan uangnya. Ia menaiki tangga sempit menuju lantai dua. Kamar itu kecil, hanya 2x3 meter. Hanya ada kasur busa tipis di lantai, lemari plastik reot, dan kipas angin berdebu.

Panas. Pengap. Suram. Tapi bagi Alina, ini sempurna. Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang tahu ia mantan pacar direktur yang dicampakkan.

Alina meletakkan kopernya di sudut ruangan. Tubuhnya yang lemah merosot duduk di kasur tipis. Ia merangkak menuju cermin kusam di dinding. Wajahnya tirus, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat. Ia terlihat seperti hantu.

Tangannya bergerak menyentuh rambutnya. Rambut hitam panjang sepinggang yang terurai berantakan.

Dulu, Rendy sangat memuja rambut ini.

"Jangan dipotong ya, Al. Aku suka wangi rambutmu. Kamu kelihatan anggun," kata Rendy dulu.

Alina meraih gunting kecil dari tasnya. Sejenak, niat itu muncul. Memotong habis rambut ini. Membuang mahkota yang disukai pengkhianat itu. Memangkasnya hingga cepak agar ia terlihat garang dan mematikan.

Bilah gunting sudah terbuka, siap melahap helai rambut hitam itu. Tangan Alina gemetar.

Namun, di detik terakhir, ia berhenti. Ia menatap matanya sendiri di cermin dengan tajam.

Jika ia memotong rambut ini karena trauma pada Rendy, bukankah itu artinya Rendy masih mengendalikan hidupnya? Bukankah itu artinya ia mengubah dirinya karena pria itu?

"Tidak," desis Alina. Ia melempar gunting itu ke lantai.

Rendy tidak berhak menentukan apakah rambutnya harus panjang atau pendek. Rambut ini adalah miliknya.

Alina mengambil karet rambut hitam dari pergelangan tangannya. Dengan gerakan kasar namun tegas, ia menarik seluruh rambut panjangnya ke belakang, memilinnya kuat-kuat, lalu menggelungnya menjadi sebuah cepol yang sangat ketat di belakang kepala. Tidak ada lagi helai rambut yang menjuntai membingkai wajah. Tidak ada lagi kelembutan.

Wajahnya kini terekspos sepenuhnya. Garis rahangnya terlihat lebih keras. Tanpa bingkai rambut yang lembut, wajah Alina terlihat dingin, kaku, dan siap berperang.

"Alina yang dulu sudah mati," bisiknya pada cermin. "Rambut ini tidak akan terurai lagi untuk laki-laki manapun."

Malam itu, diiringi suara bising dari gang, Alina membuka aplikasi lowongan kerja di ponselnya. Ia mencari pekerjaan di mana ia bisa tenggelam dan tak terlihat.

Admin Gudang Logistik. Shift Malam. Lokasi: Kawasan Industri Rungkut.

Alina menekan tombol 'Kirim Lamaran'. Malam ini, ia tidur meringkuk di atas kasur busa keras, memeluk perutnya yang kosong. Ia memulai segalanya dari nol. Bukan untuk mencari bahagia, tapi untuk menyusun kekuatan pembalasan.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!