Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 TAMAN
Pagi menjelang siang ketika Sari menggandeng tangan kecil Queen keluar dari halaman belakang rumah. Udara terasa lebih segar dibandingkan di dalam rumah megah yang sering kali terlalu sunyi.
Angin berembus pelan, membawa aroma bunga dari taman-taman sekitar kompleks elit itu.
Queen melompat kecil di samping Sari, gaun sederhananya berkibar ringan. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar penuh antusias.
“Kak Sari, kita ke taman yang ada ayunannya ya!” pinta Queen riang.
Sari tersenyum lembut. “Iya, Nona. Kita ke sana pelan-pelan.”
Langkah mereka menyusuri jalan kompleks yang rapi. Pohon-pohon palem berjajar di kiri kanan, bunga warna-warni tertata indah, dan rumah-rumah besar berdiri megah dengan gerbang tinggi. Dunia yang sangat berbeda dari desa tempat Sari dibesarkan.
Namun hari ini, perasaan asing itu tak terlalu mengganggunya. Tangannya hangat menggenggam tangan Queen. Tawa kecil anak itu menjadi penguat yang tak ternilai.
Sesampainya di taman, Queen langsung bersorak kecil. “Waaah!”
Taman itu luas, dengan rumput hijau terpangkas rapi, ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan berwarna cerah. Beberapa anak kecil sudah bermain, masing-masing ditemani oleh pengasuh atau pelayan mereka.
Queen berlari kecil menuju ayunan.
“Hati-hati, Nona,” seru Sari sambil mengejar.
Sari membantu Queen duduk di ayunan, memastikan pengaman terpasang dengan baik. Ia mendorong perlahan, lalu sedikit lebih kuat saat Queen tertawa semakin lepas.
“Lebih tinggi, Kak Sari!” teriak Queen.
Sari tertawa. “Baik, tapi pegang yang kuat.”
Tawa Queen terdengar renyah, jernih, seperti lonceng kecil yang bergema di taman. Sari memejamkan mata sejenak, menikmati momen itu.
Terima kasih, Ya Tuhan, batinnya. Terima kasih karena anak ini bisa bahagia.
Ia benar-benar bersyukur. Setelah kejadian-kejadian yang membuat hatinya gelisah, melihat Queen tertawa seperti ini seolah menjadi penghapus lelah dan ketakutannya.
Tak jauh dari mereka, beberapa pelayan lain juga tengah menemani anak-anak majikan mereka. Ada yang duduk di bangku taman sambil mengawasi, ada yang ikut bermain.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun mendekat sambil menggandeng anak kecil laki-laki.
“Kamu pelayan baru di rumah Tuan Ammar, ya?” sapanya ramah.
Sari menoleh dan tersenyum sopan. “Iya, Mbak.”
“Aku Rina. Pelayan di rumah sebelah,” katanya sambil tersenyum. “Itu Nona Queen, kan?”
Sari mengangguk. “Iya, Mbak.”
Rina menatap Queen yang sedang tertawa di ayunan. “Lucu banget. Jarang lihat dia main keluar.”
“Iya,” jawab Sari pelan. “Baru kali ini saya ajak keluar.”
Tak lama, dua pelayan lain ikut bergabung. Mereka saling memperkenalkan diri, berbincang ringan sambil tetap mengawasi anak-anak yang bermain.
“Kamu harus ekstra hati-hati jaga Nona Queen,” ujar seorang pelayan bernama Lilis dengan nada setengah berbisik. “Ibunya galak.”
Sari terdiam sejenak. “Nyonya Sabrina?”
Lilis mengangguk cepat. “Iya. Kalau soal kerjaan atau anak, dia bisa keras banget.”
Rina menyahut, “Padahal jarang juga ngurus sendiri.”
Mereka saling bertukar pandang, seolah sepakat dalam diam.
Sari menunduk. “Saya akan berhati-hati.”
“Kamu jangan tersinggung ya,” ujar Rina lembut. “Kami cuma mengingatkan. Kalau sampai Queen jatuh atau rewel, biasanya pelayan yang kena.”
Sari mengangguk pelan. Ia paham betul posisi mereka. Dunia majikan adalah dunia dengan aturan yang tak tertulis, tapi dampaknya sangat nyata.
Di sisi lain taman, Queen turun dari ayunan dan berlari kecil ke arah perosotan. Sari refleks berdiri dan mengikutinya.
“Nona, pelan-pelan,” katanya sambil menahan Queen agar tidak tergelincir.
Queen tertawa. “Kak Sari ikut!”
Sari tersenyum, lalu duduk di samping perosotan, membiarkan Queen meluncur. Tawa anak itu kembali pecah, membuat beberapa pelayan lain tersenyum melihatnya.
“Queen kelihatan dekat banget sama kamu,” ujar Rina dari bangku taman.
Sari tersipu. “Queen anaknya manis.”
“Anak-anak memang begitu,” sahut Lilis. “Mereka tahu siapa yang tulus.”
Kalimat itu membuat Sari terdiam. Ia menatap Queen yang kini duduk di rumput, sibuk memetik bunga kecil. Wajah polos itu tampak begitu damai.
“Kak Sari,” panggil Queen sambil mengangkat bunga. “Buat Kak Sari.”
Sari menerima bunga itu, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Nona.”
Rina tersenyum. “Hati-hati, nanti bisa makin disayang.”
Ucapan itu terdengar seperti candaan, tapi Sari menangkap makna di baliknya. Ia menghela napas pelan.
“Aku cuma melakukan tugasku,” jawabnya lirih.
Namun di dalam hatinya, Sari tahu ia sudah terlanjur menyayangi Queen lebih dari sekadar kewajiban.
Beberapa waktu kemudian, matahari semakin terik. Sari memutuskan mengajak Queen duduk di bangku taman.
“Kita minum dulu ya,” ujarnya sambil membuka botol minum.
Queen mengangguk patuh.
Sari memperhatikan sekeliling. Anak-anak lain masih bermain, para pelayan saling bercakap ringan. Ada rasa kebersamaan kecil yang jarang ia rasakan sejak datang ke kota.
Namun di balik itu semua, peringatan tadi terus terngiang.
Ibu Queen galak.
Sari teringat wajah Sabrina yang cantik dan dingin. Jarang hadir, namun namanya selalu menjadi bayang-bayang yang menuntut kehati-hatian.
Sari menatap Queen lembut. “Nona, nanti kalau Mama pulang, Queen harus dengar Mama ya.”
Queen menunduk sebentar, lalu mengangguk. “Mama jarang pulang.”
Kalimat itu begitu polos, namun menusuk.
Sari tersenyum kecil, menahan sesak di dada. “Tapi Mama sayang Queen.”
Queen tidak menjawab. Ia hanya bersandar di sisi Sari, kepalanya menyentuh lengan gadis itu.
Sari menegakkan tubuh, memastikan Queen nyaman. Dalam hatinya, ia berjanji akan menjaga anak itu sebaik mungkin selama ia masih diberi kepercayaan.
Tak lama kemudian, mereka pamit dari taman. Sari menggandeng tangan Queen kembali menuju rumah megah itu.
Di belakang mereka, beberapa pelayan masih saling berbincang.
“Pelayan baru itu kelihatan tulus,” ujar Rina pelan.
“Iya,” sahut Lilis. “Semoga kuat. Rumah Tuan Ammar itu… rumit.” Bisiknya
Sari tentu tak mendengar percakapan itu. Ia hanya fokus pada langkah kecil Queen di sampingnya dan tawa renyah yang masih tersisa di udara.
Namun ia tahu, kebahagiaan sederhana hari ini harus selalu dijaga dengan kewaspadaan. Karena di balik taman hijau dan rumah-rumah mewah itu, ada aturan, tatapan, dan batas-batas yang tak boleh ia langgar.
Dan di sanalah Sari berdiri di antara rasa syukur, kasih sayang, dan kehati-hatian yang harus terus ia peluk erat.
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...