NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kucing Garong

​​Bau busuk yang menyengat langsung menusuk hidung begitu Elena menurunkan kaca jendela mobilnya sedikit.

​Di depannya, sebuah truk oranye besar milik Dinas Kebersihan DKI Jakarta sedang berhenti di lampu merah perempatan Mampang. Truk itu penuh muatan. Cairan lindi yang menjijikkan menetes dari bak belakangnya, meninggalkan jejak basah di aspal panas Jakarta.

​Bagi kebanyakan orang, berada di belakang truk sampah adalah mimpi buruk. Mereka akan buru-buru menyalip atau menutup hidung rapat-rapat.

​Tapi bagi Elena, truk bau itu adalah malaikat penyelamat.

​"Target terkunci," gumam Elena sambil tersenyum miring.

​Lampu lalu lintas berubah hijau. Truk itu melaju lambat dengan suara mesin yang berisik. Elena mengikutinya dengan sabar.

​Dia menunggu momen yang pas. Tidak bisa sembarangan berhenti di tengah jalan raya yang macet.

​Kesempatan itu datang lima menit kemudian. Truk sampah itu menepi sebentar di sebuah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di pinggir jalan untuk memadatkan muatan. Sopirnya turun sebentar untuk merokok dan ngobrol dengan tukang sapu jalan.

​Elena memarkirkan mobil-nya tepat di belakang truk itu, terhalang oleh bodi truk yang besar sehingga tidak terlihat dari jalan raya.

​"Waktunya operasi," bisik Elena.

​Dia tidak mematikan mesin. Dengan gerakan gesit yang tidak lazim bagi seorang wanita berpakaian rapi, Elena membuka pintu, membungkuk rendah, dan menyelinap ke bagian belakang mobilnya sendiri.

​Dia tidak peduli rok mahalnya menyapu aspal berdebu.

​Tangannya meraba saku, mengeluarkan sarung tangan karet tipis yang tadi dia beli di minimarket.

​Dia tiarap sebentar, meluncurkan tangannya ke sasis bawah mobil.

​Di sana, menempel pada besi as roda, ada benda kecil hitam itu.

​GPS Tracker militer.

​Magnetnya sangat kuat. Elena harus menggunakan kedua tangannya dan mengerahkan tenaga untuk menariknya lepas.

​Kletek!

​Benda itu terlepas. Lampu indikatornya masih berkedip merah genit. Bip. Bip.

​"Kau mau tahu aku di mana, Kairo?" Elena berbicara pada alat kecil itu. "Baiklah. Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat wisata paling wangi di Jakarta."

​Elena merangkak maju sedikit, mendekati bumper belakang truk sampah yang karatan dan penuh noda tanah.

​Dengan sekali gerakan mantap, dia menempelkan alat pelacak itu ke besi penyangga truk.

​Trak.

​Menempel sempurna. Tersembunyi di antara lumpur dan karat. Tidak akan ada yang menyadarinya.

​Elena buru-buru kembali ke mobilnya, melepas sarung tangan karet, dan menyemprotkan hand sanitizer banyak-banyak.

​Sopir truk selesai merokok. Dia naik kembali ke kabin truknya. Mesin diesel menderu. Truk oranye itu mulai bergerak lagi, membawa serta "mata" Kairo menuju destinasi akhirnya: TPA Bantargebang, Bekasi.

​Elena tertawa kecil. Dia memutar setir, mengambil jalur kanan, berbalik arah menuju apartemennya di Kuningan.

​"Dah, Sayang. Selamat menikmati tumpukan sampah."

​Sementara itu, di lantai 50 gedung Diwantara Tower.

​Suasana di ruang kerja CEO terasa dingin membeku, padahal suhu AC normal.

​Kairo Diwantara tidak sedang memeriksa berkas kontrak atau memantau harga saham. Dia sedang duduk di kursi kebesarannya, memegang ponsel dengan kedua tangan, matanya terkunci pada layar peta digital.

​Di depannya, Reza sedang membacakan jadwal harian.

​"...dan jam dua nanti ada rapat evaluasi dengan tim HRD, lalu jam empat..."

​"Diam, Reza," potong Kairo tanpa mengalihkan pandangan.

​Reza langsung menutup mulut. Dia melirik bosnya bingung. Sejak tadi pagi, bosnya bertingkah aneh. Seperti remaja yang sedang memantau pacarnya lewat fitur Find My Friends, tapi versi psiko.

​Di layar ponsel Kairo, titik merah berlabel ASSET 01 sedang bergerak.

​Kairo mengerutkan kening.

​"Kenapa dia ke arah timur?" gumam Kairo.

​Seharusnya, kalau Elena mau ke apartemen barunya di Kuningan, dia belok kiri di perempatan Mampang. Tapi titik merah itu malah lurus, masuk ke jalan Gatot Subroto arah Cawang.

​"Mungkin dia mau lewat jalan tikus?" pikir Kairo. "Atau dia mau beli perabot di IKEA Cakung?"

​Titik itu bergerak dengan kecepatan stabil. Masuk tol dalam kota.

​Kairo mulai gelisah. Dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja mahoni.

​"Dia masuk tol arah Cikampek," desis Kairo. "Mau ke mana dia? Bandung? Puncak? Sendirian?"

​Kecurigaan Kairo berkembang liar.

​Apakah Elena mau menemui seseorang di luar kota?

​Apakah dia mau kabur lagi?

​"Reza," panggil Kairo tajam.

​"Y... ya, Pak?"

​"Cek jadwal penerbangan atau kereta api atas nama Sora  hari ini. Sekarang."

​Reza buru-buru membuka tabletnya. "Baik, Pak... sebentar... Tidak ada, Pak. Tidak ada booking tiket apapun."

​Kairo kembali menatap layar ponselnya. Titik merah itu terus bergerak menjauh dari pusat kota Jakarta.

​Semakin jauh. Semakin mencurigakan.

​Mobil itu melaju di jalan tol Bekasi.

​"Bekasi?" Kairo bingung. "Ngapain istriku ke Bekasi? Di sana panas. Debu. Tidak ada mal mewah yang menjual tas Hermes."

​Kairo mencoba berpikir positif. Mungkin Elena mau survei lokasi proyek Cikarang? Mengingat kemarin Elena yang memberinya data soal proyek itu.

​"Ah, mungkin dia mau pamer ke lapangan. Memastikan auditnya benar," Kairo mencoba menenangkan diri.

​Tapi, sepuluh menit kemudian, teori itu hancur.

​Titik merah itu tidak keluar di gerbang tol Cikarang.

​Titik itu keluar di gerbang tol Bekasi Barat, lalu menyusuri jalan raya Narogong yang terkenal rusak dan penuh truk kontainer.

​Jantung Kairo mulai berdegup tidak enak.

​Jalan raya itu... itu bukan jalan menuju kawasan elite. Itu jalan menuju kawasan industri berat dan...

​Mata Kairo membelalak saat melihat titik itu berbelok masuk ke area yang di peta Google ditandai dengan warna abu-abu luas.

​TPA BANTARGEBANG.

​Kairo berdiri dari kursinya saking kagetnya. Ponselnya nyaris terlepas.

​"Bantargebang?!" teriak Kairo.

​Reza yang sedang minum air tersedak. "Uhuk! Kenapa Pak? Sampah?"

​"Istriku!" seru Kairo horor. "Istriku ada di tempat pembuangan sampah akhir!"

​Otak Kairo langsung memutar skenario terburuk.

​Bukan perselingkuhan. Ini lebih parah.

​Penculikan.

​Perampokan.

​Pembunuhan.

​Siapa yang waras pergi ke gunung sampah terbesar di Asia Tenggara naik Mini Cooper? Kecuali kalau... mayatnya dibuang di sana?

​"Tidak... tidak mungkin..." wajah Kairo pucat pasi.

​Dia melihat titik merah itu berhenti.

​Berhenti tepat di tengah-tengah gunungan sampah di Zona 3.

​Kairo merasa mual. Dia membayangkan Elena yang cantik, dengan kulit putih dan baju mahalnya, kini tergeletak tak berdaya di antara tumpukan plastik bekas dan sisa makanan basi.

​"Siapkan mobil! Sekarang!" bentak Kairo pada Reza. "Panggil Danu! Bawa tim keamanan! Kita ke Bekasi sekarang juga! Istriku dalam bahaya!"

​Reza panik, ikut tertular histeria bosnya. "Ba... baik Pak! Saya telepon polisi juga?"

​"Jangan dulu! Kita pastikan!"

​Kairo menyambar jasnya. Tapi sebelum dia lari keluar, dia memutuskan untuk mencoba satu hal terakhir.

​Menelepon Elena.

​Jika ponselnya masih aktif, berarti ada harapan. Jika yang mengangkat penculik, Kairo akan bayar berapapun.

​Dengan tangan gemetar, Kairo menekan tombol panggil di layar pelacak itu.

​Di saat yang sama, di Apartemen Kuningan lantai 35.

​Suasana di sana sangat damai.

​AC menyala dingin di suhu 18 derajat. Aroma kopi Arabica yang baru diseduh memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma pewangi ruangan lavender mahal.

​Elena sedang duduk santai di kursi kerjanya, kaki dinaikkan ke atas meja. Dia sudah mandi, mengenakan bathrobe putih tebal yang nyaman. Rambutnya dibungkus handuk.

​Di layar monitor di depannya, terpampang data-data perusahaan saingan yang sedang dia pelajari untuk "proyek" berikutnya.

​Hidup terasa indah. Tenang. Tanpa gangguan.

​Drrt... Drrt...

​Ponsel Elena yang tergeletak di meja bergetar.

​Layar menyala. Nama pemanggil: POSESIF FREAK (KAIRO).

​Elena melirik jam. Pukul dua siang.

​"Tumben," gumam Elena. "Biasanya dia sibuk jam segini. Kenapa nelpon? Kangen?"

​Elena membiarkan dering itu berbunyi tiga kali. Dia menyesap kopinya pelan, menikmati sensasi memegang kendali.

​Pada dering keempat, dia menggeser tombol hijau.

​Dia menekan tombol loudspeaker, lalu meletakkan ponselnya kembali ke meja.

​"Halo?" sapa Elena dengan suara malas dan serak-serak basah, seolah baru bangun tidur siang.

​"Sora?! Kamu di mana?!"

​Suara teriakan Kairo meledak dari speaker ponsel, begitu keras dan panik sampai Elena harus menjauhkan telinganya sedikit.

​Elena tersenyum geli. Dia bisa membayangkan wajah Kairo yang merah padam di kantornya.

​"Ssshhh... jangan teriak-teriak, Kairo," tegur Elena santai. "Telingaku bukan toa masjid. Aku di mana? Ya menurutmu aku di mana?"

​"Jawab aku dengan jujur!" Kairo terdengar seperti orang yang mau kena serangan jantung. "Kamu baik-baik saja? Ada orang di sekitarmu? Kamu terluka?"

​Elena mengerutkan kening pura-pura bingung, meski dia tahu persis kenapa Kairo panik.

​"Hah? Terluka? Aku cuma lagi manicure, Kairo. Kukuku baru dipoles, belum kering. Memangnya kenapa?" bohong Elena lancar.

​"Manicure?!" suara Kairo meninggi satu oktaf. "Jangan bohong! GPS... maksudku, instingku bilang kamu ada di tempat yang... tidak wajar!"

​Hampir saja. Kairo hampir keceplosan bilang soal GPS.

​Elena tertawa dalam hati. Pria ini lucu kalau sedang panik.

​"Instingmu perlu dikalibrasi, Sayang," jawab Elena sambil mengetikkan sesuatu di keyboard komputernya. "Aku sedang di salon langganan. Di daerah... hmm, selatan. Tempatnya privat, tenang, dan wangi aromaterapi."

​Hening sejenak di seberang telepon. Elena bisa mendengar napas Kairo yang memburu.

​"Wangi?" tanya Kairo ragu. "Kamu yakin tempatnya wangi?"

​"Tentu saja. Wangi melati dan cendana," Elena menghirup aroma kopinya. "Kenapa nadamu aneh begitu? Memangnya kamu mencium bau apa?"

​Elena menyeringai lebar. Dia membayangkan "posisi" Elena di peta GPS Kairo sekarang. Pasti sedang dikelilingi lalat dan bau busuk sampah ribuan ton.

​"Kairo?" panggil Elena lagi saat tidak ada jawaban. "Halo? Sinyalmu jelek ya? Atau hidungmu yang bermasalah?"

​Di kantornya, Kairo menatap layar ponselnya dengan horor. Titik merah itu diam tak bergerak di tengah lautan sampah Bantargebang. Tapi suara istrinya terdengar tenang, ada suara musik jazz samar di latar belakang (Elena memutar musik), dan dia bilang sedang manicure.

​Kairo bingung setengah mati.

​Apakah alat pelacaknya rusak? Atau istrinya punya kemampuan teleportasi?

​Atau... dia sedang dipermainkan?

​"Kamu... benar-benar di salon?" tanya Kairo, suaranya melemah, kehilangan taringnya.

​"Iya, Bapak CEO yang terhormat," jawab Elena, menekan nada jengkel yang dibuat-buat. "Aku sedang menikmati me-time. Jadi tolong, jangan ganggu aku dengan paranoia-mu itu. Kecuali kalau kau mau menyusul ke sini dan memijat kakiku."

​Kairo terdiam. Dia melihat titik merah di peta, lalu mendengar suara Elena.

​Logika Kairo error.

​"Oke..." bisik Kairo akhirnya, terdengar sangat bodoh. "Mungkin... mungkin aku salah lihat. Lanjutkan saja. Jangan pulang malam-malam."

​"Tentu. Dah."

​Klik.

​Elena mematikan sambungan telepon.

​Tawa Elena meledak. Dia tertawa lepas di apartemen kosong itu sampai perutnya sakit.

​"Rasakan itu," kata Elena sambil menyeka air mata di sudut matanya. "Itu pelajaran pertama, Suamiku. Jangan pernah coba-coba memasang kalung anjing pada serigala."

​Elena kembali menatap layar komputernya.

​Di layar terpisah, dia membuka peta GPS truk sampah itu (dia meretas sistem pemantauan Dinas Kebersihan DKI).

​Truk itu baru saja menumpahkan muatannya. Mungkin… mungkin saja, lat pelacak mahal Kairo sekarang terkubur di bawah dua ton sampah pasar induk Kramat Jati.

​"Semoga alat itu tahan air lindi," kekeh Elena. "Sayang kalau rusak. Harganya mahal."

​Dia kembali menyeruput kopinya.

​Babak pertama dimenangkan oleh Elena. Tapi dia tahu, Kairo bukan orang bodoh selamanya. Pria itu pasti akan curiga kenapa pelacaknya ada di Bekasi sementara istrinya pulang dengan mobil yang bersih dan wangi.

​"Aku harus siap-siap," pikir Elena. "Dia pasti akan memeriksa mobilku nanti malam."

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!