NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Gema dari Palung Terdalam

Fajar di Navasari tak lagi membawa sapuan warna jingga yang biasa menyapa penduduk desa. Cahaya matahari pagi kini terbiaskan oleh kubah energi transparan yang menyelimuti seluruh lembah, menciptakan fenomena pelangi abadi yang melingkari cakrawala seperti mahkota dewa. Penduduk desa berjalan keluar dari rumah mereka dengan langkah ragu, menatap tanah yang mereka pijak dengan rasa takjub sekaligus ngeri. Rumput-rumput di sekitar mercusuar kini memiliki pendaran biru elektrik halus di setiap ujungnya, seolah-olah bumi Navasari sedang bernapas dalam irama yang sama dengan detak jantung Alana.

Di puncak menara kristal yang kini kokoh dan dingin, Alana berdiri mematung. Matanya yang kini memiliki corak emas permanen menatap tajam ke arah kompas di tangan Elian. Jarum kompas kuno itu tidak lagi menunjuk ke kutub utara, tidak juga berputar mencari sinyal langit. Jarum itu bergetar hebat dengan frekuensi yang menyakitkan telinga, menunjuk ke arah selatan jauh melampaui daratan hijau, menuju sebuah titik koordinat mati di tengah kegelapan Samudera Hindia.

"Jangkar telah terpancang. Saatnya memanen dunia."

Kalimat itu muncul di permukaan kaca kompas, seolah tertulis dengan tinta emas cair yang membakar permukaannya. Elian merasakannya hawa dingin yang menusuk dari benda kecil itu, sebuah peringatan yang tidak berasal dari atas awan, melainkan dari kedalaman yang tak terjangkau cahaya.

"Siapa mereka, Alana?" Elian bertanya, suaranya parau. Ia berdiri di ambang pintu kristal, tempat di mana ia masih bisa melihat Alana, namun ada jarak tak kasat mata yang kini memisahkan mereka. Alana kini memancarkan aura dingin yang konstan, seperti embun pagi yang membeku menjadi es abadi. "Siapa yang mengirim pesan sesadis ini melalui peninggalan Arlo?"

"Aku tidak tahu pasti," jawab Alana, suaranya kini memiliki lapisan gema yang menyerupai suara ombak di kejauhan. "Tapi frekuensi ini... ini sangat berbeda. Ini bukan frekuensi ringan milik langit yang penuh cahaya. Ini jauh lebih berat, lebih tua, dan penuh dengan tekanan ribuan atmosfer. Ini adalah frekuensi yang berasal dari bawah air. Arlo pernah memberitahuku bahwa kakek Surya tidak hanya menyembunyikan rahasia di atas langit, tapi juga di bawah palung terdalam."

Di Luar Perisai Navasari

Dunia di luar kubah pelangi Navasari sedang mengalami kegilaan kolektif. Hilangnya desa itu dari semua radar militer, citra satelit, dan navigasi GPS menciptakan kepanikan internasional. Media-media besar menyebutnya sebagai "Lembah Yang Hilang", sementara para ilmuwan dari berbagai negara berbondong-bondong mendirikan kamp penelitian darurat di perbatasan kabut hijau yang tak bisa ditembus. Mereka mencoba menembaknya dengan laser, gelombang sonar, bahkan bom asap, namun semuanya terpental seolah menghantam dinding berlian.

Namun, di tengah hiruk-pikuk militer tersebut, sebuah kapal riset hitam tanpa bendera dan tanpa nama sedang berlabuh tenang di atas Palung Jawa. Di dalam dek bawah tanah kapal tersebut, suasana sangat hening. Barisan teknisi dengan seragam abu-abu metalik seragam yang sama dengan yang dikenakan Arthur Vance sedang memantau sebuah tabung raksasa berisi cairan kental yang terhubung ke dasar laut melalui kabel serat optik berlapis titanium yang sangat tebal.

"Sinyal dari Akar Bumi di Navasari sudah mencapai titik jenuh," lapor salah satu teknisi dengan suara tanpa emosi. "Navigator di atas sana telah mengaktifkan protokol sinkronisasi penuh. Seperti yang direncanakan Arthur, energinya kini merambat melalui lempeng tektonik, mencari jalannya menuju pusat saraf bumi."

Seorang pria dengan suara berat dan parau berdiri di kegelapan dek. "Bagus. Jika dia adalah Jangkar di daratan, maka kita butuh Penyeimbang di lautan untuk menarik simpulnya. Aktifkan Proyek Leviathan. Kirimkan 'surat balasan' kita kepada gadis itu. Biarkan dia tahu bahwa dia tidak memenangkan perang; dia hanya membuka gerbang untuk pemain yang sebenarnya kembali ke permukaan."

Kembali ke Mercusuar

Di dalam menara, Elian mencoba mendekati Alana, bermaksud menyentuh tangannya untuk memberikan dukungan. Namun, kali ini ada penghalang yang lebih kuat dari sekadar membran energi. Ada tekanan gravitasi yang tidak wajar di sekitar Alana; seolah-olah ruang di sekitar gadis itu menjadi sangat padat. Setiap langkah Elian terasa seperti berjalan di dalam lumpur yang tebal.

"Elian, jangan mendekat!" Alana menarik tangannya dengan raut sedih. "Tubuhku sekarang secara otomatis menarik energi dari tanah untuk menjaga perisai desa agar tetap stabil. Semakin aku dekat denganmu, semakin besar energi yang kusedot dari oksigen di sekitarmu. Aku takut... aku takut aku akan mencekikmu tanpa sengaja karena rakusnya raga baruku ini terhadap energi."

"Aku tidak peduli pada energi itu, Alana! Kita sudah melewati neraka bawah tanah untuk bisa bersama, bukan untuk membuatmu menjadi pajangan di dalam menara kristal ini!" Elian memukul dinding kristal dengan tangan kosongnya, menciptakan bunyi dentuman yang tumpul.

Tiba-tiba, lantai mercusuar yang terbuat dari kristal indigo bergetar hebat. Bukan guncangan gempa tektonik, melainkan sebuah nada rendah yang sangat panjang, mirip suara paus purba yang sedang meratap di dasar samudera. Alana tersentak, ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, wajahnya menegang menahan sakit.

"Suara itu... Elian, kau dengar?"

"Aku tidak dengar apa-apa, Alana. Hanya suara angin," jawab Elian cemas.

"Mereka sedang bicara padaku, Elian. Langsung ke dalam sistem saraf 'Akar Bumi'. Dari bawah laut... jauh di selatan. Mereka bilang... mereka memiliki sisa memori kakek Surya yang tidak ada di buku harian mana pun. Mereka bilang Arlo tidak pergi ke langit karena keinginan sendiri atau tugas ilmiah, tapi karena dia sedang melarikan diri dari sesuatu yang 'mereka' ciptakan di bawah sana."

Mata Alana mulai memancarkan cahaya biru yang gelap, menyerupai warna samudera terdalam di malam hari. Ia mulai menulis secara obsesif di dinding kristal menara. Namun kali ini, ia tidak menggunakan huruf-huruf rasi bintang yang indah; ia menggunakan simbol-simbol kuno yang menyerupai riak air yang saling bertabrakan sebuah kode rahasia laut.

"Untuk yang tertidur di kedalaman yang sunyi...

Aku adalah Jangkar yang kalian cari, namun aku bukan milik kalian untuk dipanen. Jika kalian mencoba menyentuh tanah Navasari ini, aku akan mengubah setiap akar di bawah kaki kalian menjadi duri yang akan menghancurkan palung kalian sendiri."

Alana mengirimkan pesan itu bukan dengan melepaskannya ke udara, melainkan dengan menghantamkan telapak tangannya ke lantai kristal. Gelombang energi indigo merambat turun dengan kecepatan suara, menembus lapisan granit purba, menuju langsung ke dasar lempeng bumi yang terhubung dengan samudera.

Beberapa menit kemudian, kompas di tangan Elian mulai mengeluarkan asap putih. Kaca permukaannya retak seribu, lalu meledak menjadi serpihan kecil yang tajam. Sebuah pesan terakhir muncul di udara di hadapan mereka, terbentuk dari uap air yang membeku secara instan:

"KAMI TIDAK DATANG UNTUK MENYENTUH TANAHMU, ALANA. KAMI DATANG UNTUK MENGAMBIL ELIAN. KARENA DARAHNYA ADALAH KUNCI TERAKHIR YANG KAMI BUTUHKAN UNTUK MEMBUKA GERBANG PALUNG YANG TELAH DIKUNCI SURYA."

Wajah Elian memucat. Tiba-tiba, sumur tua di halaman mercusuar yang sudah kering selama puluhan tahun mulai mengeluarkan suara gemuruh. Air hitam yang pekat dan berbau garam samudera meluap keluar dengan kekuatan dahsyat, meskipun mereka berada ribuan meter di atas permukaan laut. Dari dalam luapan air itu, muncul tangan-tangan yang terbuat dari cairan hitam yang pekat dan liat.

Alana menjerit, mencoba memutuskan koneksi fisiknya dengan "Akar Bumi" untuk menyelamatkan Elian yang kini mulai ditarik oleh tangan-tangan hitam itu menuju sumur. Namun, Alana menyadari jebakan yang mengerikan: jika ia melepas koneksinya, kubah perisai Navasari akan runtuh seketika, dan militer yang haus darah di luar sana akan menghancurkan desa dalam hitungan detik.

Elian ditarik perlahan, kakinya terseret di atas tanah yang kini mulai becek oleh air laut hitam, sementara di kejauhan, permukaan laut mulai terlihat naik secara mustahil, seolah-olah seluruh samudera sedang mencoba mendaki gunung Navasari untuk menjemput miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!