NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Di Dalam Gate

Kami duduk di depan Guru Choi di ruang observasi kecil yang penuh dengan layar holografis dan peta Gate. Udara berbau disinfektan dan logam dingin. Joon-ho sudah mengunggah semua data dari tabletnya—rekaman drone, statistik pertempuran, peta gerakan, bahkan detak jantung kami yang terekam dari sensor di seragam.

Guru Choi menatap data itu dengan ekspresi tak terbaca. Tangannya yang penuh bekas luka mengetuk meja perlahan.

“Efisiensi tim: 62%,” ucapnya akhirnya, suara parau. “Untuk pertama kali, tidak buruk. Tapi kalian tahu di mana kesalahan terbesar?”

Kami saling pandang. Seo-yeon menggeleng pelan. Ji-woo diam. Joon-ho seperti hendak menjawab, tapi Guru Choi bicara lebih dulu.

“Kalian tidak mengeksplorasi Gate.”

Kami bingung.

“Misi kalian clear Goblin, ya. Itu selesai. Tapi Gate bukan sekadar arena berburu. Setiap Gate adalah dunia—dengan ekologi, geologi, bahkan kadang peradaban sendiri. Kalian masuk, bunuh monster, keluar. Itu seperti masuk perpustakaan lalu hanya membaca sampul bukunya.”

Dia menggeser layar, menunjukkan peta Gate F-07 yang lebih detail. “Di sini—ada sumber air aneh dengan kandungan mineral tidak dikenal. Di sini—jejak hewan besar yang bukan Goblin. Di sini—tanaman dengan pola pertumbuhan melingkar seperti simbol tertentu.”

Aku melihat peta itu. Kami melewati semua titik itu, tapi tidak pernah berhenti untuk memperhatikan.

“Sebagai hunter, tugas kita bukan hanya membunuh monster. Tapi memahami Gate. Karena suatu hari, Gate bisa menjadi ancaman besar—atau sekutu besar. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.”

Joon-ho mengangguk pelan. “Jadi, yang Anda maksud… kami harus melakukan observasi ekologi juga?”

“Tepat. Misi selanjutnya, selain clear monster, bawa sampel tanaman, air, tanah. Catat cuaca, suhu, pola binatang. Itu data berharga untuk penelitian.” Guru Choi menutup layar. “Tapi untuk hari ini, kalian berhasil. Nilai misi: B-minus.”

Seo-yeon menghela napas lega. Ji-woo sedikit tersenyum. Nilai B-minus untuk tim remedial seperti kami adalah prestasi.

“Sekarang pulang, istirahat. Besok latihan lagi. Dan Min-jae—” Guru Choi menatapku. “Kamu ada peningkatan dalam kontrol telekinesis, tapi masih kasar. Besok kita latihan presisi lagi.”

“Ya, Guru.”

Kami keluar dari ruangan. Di koridor, Seo-yeon langsung berseru, “B-minus! Aku kira kita dapat C atau D!”

“Dengan statistik kita, seharusnya B-plus,” gerutu Joon-ho. “Tapi faktor observasi Gate memang tidak kita lakukan. Itu pengurangan wajar.”

“Sudah bagus, kok,” kata Ji-woo. “Yang penting selamat.”

Aku mengangguk, tapi pikiranku masih pada kata-kata Guru Choi. *Gate adalah dunia.* Selama ini aku melihat Gate hanya sebagai tempat monster—bahaya yang harus dibersihkan. Tapi ternyata, di dalamnya ada ekosistem lengkap, mungkin sejarah, mungkin rahasia.

Saat kami berjalan keluar gedung akademi, Joon-ho mendekat.

“Min-jae. Masih ingat janji kita? Saya sudah siap akses ke arsip malam ini.”

“Malam ini? Cepat juga.”

“Waktu berharga. Semakin cepat kita selidiki, semakin cepat kita dapat jawaban.” Dia menatapku. “Jam 9 malam, perpustakaan bawah tanah. Saya tunggu.”

Aku mengiyakan.

---

**🕘 21.00 — Perpustakaan Bawah Tanah Akademi**

Aku tidak tahu akademi memiliki perpustakaan bawah tanah. Letaknya di bawah gedung utama, diakses melalui pintu tersembunyi di belakang rak buku tua di perpustakaan biasa. Joon-ho sudah menunggaku di depan lift tua yang berkarat.

“Hanya siswa dengan izin khusus yang boleh masuk,” katanya sambil menempelkan kartu akses ke sensor. Lift bergemuruh turun.

“Kartu itu dari mana?”

“Pinjam dari senior yang berhutang budi.” Joon-ho tidak menjelaskan lebih lanjut.

Lift berhenti. Pintu terbuka ke ruangan luas dengan langit-langit rendah, dipenuhi rak-rak berisi dokumen fisik—kertas, folder, bahkan gulungan perkamen. Bau apek dan debu memenuhi udara.

“Arsip lama,” jelas Joon-ho. “Sebelum era digital penuh. Data tentang eksperimen lab tahun-tahun awal ada di sini. Sistem keamanan digital tidak mencakup area ini dengan ketat—karena dianggap tidak penting.”

“Tapi kenapa data ayahku ada di sini?”

“Karena eksperimennya dianggap ‘gagal’ atau ‘terlalu berisiko’. Arsip seperti itu biasanya disimpan di tempat seperti ini—tersembunyi tapi tidak dihancurkan, untuk berjaga-jaga.”

Dia mengajakku ke sudut ruangan, di rak bertanda “Proyek Dimensi 1998–2010”. Joon-ho menarik satu folder tebal berdebu.

“Dr. Kang Min-soo. Proyek ‘Dimensional Resonance Stabilization’. Dibiayai oleh Ouroboros Research Division.”

Aku membuka folder. Foto ayahku—lebih muda, tersenyum, berdiri di depan alat besar seperti generator. Laporan tertanggal 15 tahun lalu. Diagram, formula, catatan tangan yang sulit kubaca.

“Inti penelitiannya: menggunakan resonansi psionik manusia untuk menstabilkan Gate. Teorinya, jika seseorang memiliki frekuensi psionik yang cocok dengan frekuensi Gate, mereka bisa memperkuat atau melemahkan koneksi antar dunia.”

“Dan… ayahku adalah subjeknya?”

“Bukan. Tapi dia mencari ‘resonator alami’—orang dengan kemampuan psionik langka yang bisa beresonansi dengan Gate.” Joon-ho membalik halaman. “Di sini: daftar kandidat. Kebanyakan hunter dengan kemampuan spatial atau dimensional.”

Mataku tertumbuk pada satu nama di daftar itu.

**Kang Min-jae (8 tahun)**

*Catatan: Potensi resonator kuat. Frekuensi match 89% dengan Gate tipe-3. Namun terlalu muda, eksperimen ditunda.*

Aku membeku. “Ini… aku?”

Joon-ho mengangguk. “Menurut data, ayahmu mencatatmu sebagai kandidat sejak kecil. Tapi dia menolak menjadikanmu subjek—menurut catatan ini, dia menulis: ‘Tidak akan mengorbankan anak untuk sains.’ ”

Jantungku berdebar kencang. Ayah… melindungiku?

“Lalu, apa yang terjadi dengan eksperimennya?”

Joon-ho membalik ke halaman terakhir. Laporan singkat, tertanggal 10 tahun lalu.

**Insiden Lab #7**

*Tanggal: 12 November 2013*

*Lokasi: Ouroboros Research Facility, Seoul*

*Korban: Dr. Kang Min-soo (hilang), 3 asisten lab (luka berat), 1 subjek uji (meninggal)*

*Penyebab: Overload resonansi tak terkontrol. Gate mini collapse.*

*Status: Proyek dihentikan. Data disegel.*

“Hilang?” bisikku. “Bukan meninggal?”

“Tidak ada jenazah ditemukan. Hanya dinyatakan hilang dalam kecelakaan dimensi.” Joon-ho menatapku. “Tapi ada yang aneh. Seminggu setelah insiden, ada laporan aktivitas Gate tidak wajar di sekitar lokasi lab—Gate kecil muncul dan hilang dalam hitungan jam. Sepertinya… ada kebocoran.”

“Artinya ayahku mungkin… terjebak di antara dimensi?”

“Mungkin. Atau dia sengaja masuk ke dimensi lain untuk menyelamatkan sesuatu—atau seseorang.” Joon-ho menunjukkan catatan tambahan di margin, tulisan tangan terburu-buru: *“Jika terjadi kegagalan, cari ‘Editor’s Gate’.”*

Editor’s Gate. Kata yang sama dengan judul perjalananku. Kebetulan?

“Apa itu Editor’s Gate?” tanyaku.

“Tidak ada data resmi. Tapi dari konteksnya, sepertinya merujuk pada Gate khusus—mungkin Gate yang bisa ‘mengedit’ realitas, atau dimensi. Atau… metafora untuk sesuatu.” Joon-ho menutup folder. “Ini baru permukaan. Masih banyak dokumen lain. Tapi kita harus hati-hati—kalau ketahuan mengakses arsip ini, kita bisa dikeluarkan dari akademi.”

Aku mengangguk, pikiran kalut. Ayahku bukan sekadar ilmuwan yang mati dalam kecelakaan. Dia hilang. Dan mungkin masih hidup di suatu tempat—di antara dimensi.

“Kita lanjut lain waktu,” kata Joon-ho. “Sekarang kita keluar sebelum patroli malam lewat.”

Kami meninggalkan perpustakaan bawah tanah dengan diam-diam. Saat aku sampai di kamar, ponsel bergetar.

**Pesan dari Joon-ho:** *Besok saya cari data tentang ‘Editor’s Gate’. Jangan cerita ke siapa-siapa.*

**Balas:** *Mengerti. Terima kasih.*

Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Dua matahari hijau di Gate F-07 masih terbayang di mataku. Dunia lain. Mungkin ayahku ada di salah satu dunia seperti itu—terjebak, menunggu diselamatkan.

Dan entah kenapa, kata “Editor’s Gate” terasa seperti kunci—untuk masa laluku, dan mungkin untuk masa depanku.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!