NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:859
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahpahaman

Dua minggu setelah acara hari anak, surat dari penerbit tiba di sekolah—"Hati yang Bersama" benar-benar akan dicetak lagi, dengan jumlah yang dua kali lipat dari cetakan pertama. Lila, Siti, Dina, dan Rian berjumpa di ruang klab sastra pada pagi hari, mata-mata mereka bersinar penuh harapan.

"Penerbit bilang kita bisa tambah cuplikan cerita baru loh! Cerita tentang hari-hari kita sesudah peluncuran buku," ujar Lila sambil membaca suratnya berulang-ulang, tak percaya.

Siti langsung mengeluarkan buku catatannya yang berwarna biru muda. "Aku udah tulis beberapa halaman tentang waktu kita main ke taman bareng Ayah Rama dan Ibu Rara kemarin! Bisa kan ditambahin, Kak Lila?"

"Pasti bisa, sayang! Kita bikin yang paling bagus buat pembaca," jawab Lila dengan senyum.

Selama seminggu berikutnya, mereka sibuk menyusun naskah tambahan. Dina membantu menggambar ilustrasi baru untuk bagian cerita yang ditambah, sedangkan Rian minta saran dari teman-teman di kelas tentang bagian mana yang paling menarik. Semua terasa lancar, sampai hari Rabu pagi—ketika telepon dari penerbit mendarat di tangan Pak Anton.

"Pak Anton, maaf ganggu. Ada masalah nih dengan cetakan kedua," suara pria dari penerbit terdengar cemas. "Kita baru sadar, ada kesalahan dalam perjanjian awal—kalau mau tambah naskah dan ilustrasi, biaya cetak akan naik sekitar 30%. Dan kita harus memutuskan hari ini, soalnya jadwal cetak sudah dekat."

Pak Anton segera memanggil Lila, Rama, dan Rara ke ruang guru. Setelah memberitahu mereka, suasana menjadi tenang seketika. Lila mengangkat bahu dengan ragu. "30%? Itu bukan angka kecil. Kalau biaya naik, apakah harga buku juga harus dinaikkan? Pembaca pasti kecewa."

Rama duduk dan memegang tangannya. "Jangan panik dulu. Kita bisa bicara lagi dengan penerbit, tanya apakah ada cara lain untuk mengurangi biaya. Atau, apakah kita bisa nahan penambahan naskah dulu untuk cetakan kedua, dan simpan untuk cetakan ketiga?"

Siti yang sedang berdiri di samping Lila tiba-tiba menangis. "Aku udah nulis banyak loh, Ayah. Apakah cerita ku tidak bagus sampai harus dibuang?"

Lila cepat memeluknya. "Bukan begitu, sayang. Ceritamu sangat bagus—cuma kita punya masalah kecil dengan biaya. Kita pasti akan cari cara agar cerita itu bisa keluar, janji."

Sore hari, mereka semua berjumpa dengan perwakilan penerbit di kantin sekolah. Wanita bernama Ms. Ani yang datang terlihat juga kesulitan. "Maaf ya, semuanya. Ini kesalahan kami juga dalam membuat perjanjian. Tapi biaya cetak kertas dan tinta memang naik akhir-akhir ini."

Rian tiba-tiba mengangkat tangan. "Kak, apa kalau kita bantu bikin desain sampul baru sendiri? Kalau penerbit tidak perlu bayar desainer luar, bisa kan mengurangi biaya?"

Dina juga ikut bicara, masih sedikit gemetar. "Aku juga bisa bantu gambar ilustrasi dengan lebih cepat, jadi tidak perlu biaya tambahan untuk waktu pengerjaan. Bisa kan, Kak Ani?"

Ms. Ani melihat mereka semua—wajah Lila yang penuh semangat, Siti yang masih mengeringkan air mata, Rian yang penuh ide, dan Dina yang berani menawarkan bantuan. Dia tersenyum perlahan. "Kalian sungguh luar biasa. Baik deh, kita coba. Kalau desain sampul dan ilustrasi dibuat oleh kalian, kita bisa kurangi biaya naik menjadi cuma 10%. Dan itu bisa kita bagi bersama-sama, ya?"

Semua langsung bersorak kegembiraan. Siti melompat ke pelukan Dina. "Terima kasih, Dina! Ceritaku bisa keluar!"

Malam harinya, mereka berkumpul di rumah Rama dan Rara. Meja makan dipenuhi kertas, pena, dan laptop. Lila dan Siti menyusun ulang naskah tambahan agar lebih ringkas tapi tetap menarik. Dina mulai menggambar desain sampul baru—dengan gambar mereka berempat yang sedang duduk di lapangan sekolah, matahari terbenam di latar belakang. Rian membantu mengedit gambarnya dengan aplikasi di laptop.

Rara membawa camilan dan teh hangat. "Jangan terlalu malam ya, semuanya. Besok masih ada pelajaran."

"Baik, Bu. Cuma ini penting banget buat kita," jawab Lila tanpa mengangkat mata dari kertasnya.

Hari demi hari, mereka bekerja sama dengan penuh semangat. Sampai akhirnya, hari yang ditentukan tiba. Mereka mengirim desain sampul dan naskah tambahan ke Ms. Ani. Beberapa jam kemudian, teleponnya mendarat lagi.

"Lila, semuanya! Ini hebat! Desainnya luar biasa, naskahnya juga sangat bagus. Penerbit setuju—cetakan kedua akan dilanjutkan dengan biaya yang sudah disepakati! Kita bisa mulai cetak minggu depan!"

Suara kegembiraan menggema di rumah Rama. Siti berlari ke kamar dan mengambil buku catatannya, menunjuk ke bagian yang dia tulis. "Lihat, Ayah! Ceritaku akan ada di buku!"

Rama memeluk semua mereka. "Ini bukti bahwa masalah kecil tidak akan menghancurkan harapan kita—asalkan kita bekerja sama dan tidak menyerah."

Di malam itu, mereka berdiri di teras rumah, melihat bintang-bintang yang bersinar. Lila memegang tangan Rama, sementara Siti berdiri di tengah mereka, memegang medali penghargaan dari hari anak. "Kita benar-benar bisa melewati apa saja ya, Kak Lila?"

"Ya, sayang. Bersama-sama, kita bisa," jawab Lila dengan senyum yang penuh harapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!