NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Efisiensi Anggaran

​​"Total gaji untuk sepuluh pelayan, tiga tukang kebun, dua sopir, dan satu kepala pelayan yang ternyata maling... enam puluh juta per bulan. Ditambah tunjangan hari raya, uang makan, dan uang seragam."

​Elena mengetukkan penanya di atas meja marmer ruang tengah. Suara ketukan itu berirama, seolah sedang menghitung mundur sisa waktu orang-orang yang berdiri di hadapannya.

​Lima orang pelayan wanita yang tersisa berdiri menunduk. Tubuh mereka gemetar. Mereka baru saja melihat kepala pelayan mereka, Bu Suti, diseret polisi masuk ke mobil patroli. Sekarang, nasib mereka ada di ujung pena Nyonya Sora yang mendadak berubah menjadi malaikat pencabut nyawa.

​"Kalian tahu kenapa Bu Suti saya penjarakan?" tanya Elena tanpa mengangkat wajah dari kalkulator di ponselnya.

​"Ka... karena mencuri, Nyonya," cicit salah satu pelayan.

​"Bukan cuma itu," Elena mendongak. Tatapannya tajam menyapu wajah mereka satu per satu. "Karena dia tidak efisien. Dan kalian, yang selama ini diam saja melihat dia mencuri, itu namanya pembiaran. Dalam bisnis, pembiaran itu sama buruknya dengan pelaku utama."

​Mina, yang berdiri agak terpisah di samping Elena karena sudah "naik pangkat" jadi asisten dadakan, menelan ludah. Dia bersyukur kemarin dia memilih kubu yang benar.

​"Mulai hari ini, kalian berlima saya rumahkan," putus Elena tegas.

​Pekikan kaget terdengar serempak. "Nyonya! Jangan pecat kami! Kami punya cicilan motor! Kami punya anak sekolah!"

​"Saya tidak bilang pecat. Saya bilang dirumahkan sementara sampai audit HRD selesai," koreksi Elena, meski dalam kepalanya dia sudah berniat mengganti mereka dengan sistem yang lebih murah. "Gaji bulan ini dibayar penuh. Pesangon dua bulan gaji saya transfer sekarang. Silakan kemasi barang kalian. Kalian punya waktu satu jam sebelum gembok gerbang saya ganti."

​Tanpa menunggu protes lebih lanjut, Elena memberi isyarat pada Mina. "Mina, pastikan tas mereka diperiksa sebelum keluar. Jangan sampai ada sendok perak atau wagyu yang ikut jalan-jalan keluar lagi."

​Kelimanya bubar jalan dengan wajah sembab dan langkah gontai. Tidak ada yang berani membantah. Aura dominan Elena terlalu kuat.

​Setelah ruang tengah sepi, Elena menghela napas panjang. Dia memijat bahunya. Mengurus SDM (Sumber Daya Manusia) memang selalu melelahkan, tapi ini langkah krusial.

​"Nyonya..." Mina mendekat ragu-ragu. "Kalau mereka pergi semua, siapa yang bersihkan rumah sebesar ini? Rumah ini luasnya seribu meter, Nyonya. Lantai tiganya saja butuh tiga orang buat mengepel."

​Elena tersenyum tipis. Dia menunjukkan layar ponselnya pada Mina. Aplikasi jasa kebersihan profesional berwarna hijau.

​"Kita outsource, Mina. Jasa kebersihan panggilan. Datang pagi, pulang sore. Mereka bawa alat sendiri, cairan pembersih sendiri, dan bekerja sesuai SOP. Tidak ada drama, tidak ada gosip, dan biayanya cuma seperempat dari gaji lima orang tadi."

​Elena berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Sebuah mobil bak terbuka berwarna kuning cerah baru saja masuk. Logo perusahaan "CleanPro" terpampang di pintunya.

​"Lihat? Tim pengganti sudah datang. Efisiensi, Mina. Itu kunci kekayaan. Kairo harusnya berterima kasih padaku."

​Tepat saat tim kebersihan berseragam kuning itu mulai menurunkan peralatan vakum debu industri mereka, sebuah mobil van putih penuh bunga berhenti di gerbang.

​Seorang kurir pria turun dengan susah payah membawa buket bunga mawar merah raksasa. Ukurannya tidak masuk akal, mungkin berisi lima ratus tangkai. Kurir itu berjalan terhuyung-huyung menuju pintu utama.

​"Permisi! Paket mingguan untuk Nyonya Sora Diwantara!" teriak kurir itu ceria.

​Mina yang baru saja membukakan pintu untuk tim kebersihan langsung melirik Elena.

​"Itu langganan Nyonya," bisik Mina. "Toko Bunga Fleur de Paris. Nyonya Sora yang pesan sendiri setiap minggu supaya... yah, supaya kalau ada tamu, mereka pikir Tuan Kairo romantis dan sering kirim bunga."

​Elena menatap tumpukan mawar merah itu dengan tatapan menilai.

​"Berapa harganya?" tanya Elena pada si kurir.

​Kurir itu meletakkan buket raksasa itu di lantai teras sambil menyeka keringat. "Totalnya lima juta lima ratus ribu, Bu. Sudah autodebet dari kartu kredit Bapak seperti biasa."

​"Lima juta setengah untuk sampah organik yang bakal layu dalam tiga hari?" Elena tertawa sinis. Tawa yang membuat si kurir bingung. "Bawa pulang."

​"Hah?" Kurir itu melongo. "Maksudnya, Bu?"

​"Saya bilang bawa pulang. Saya batalkan langganannya mulai detik ini," kata Elena tegas. "Saya tolak barangnya. Batalkan transaksinya. Kalau tokomu menolak refund, bilang saja saya akan tulis ulasan buruk di semua platform media sosial kalau bunga layu ini dijual seharga emas."

​"Ta... tapi Bu, ini sudah dipotong tangkainya. Tidak bisa dijual lagi..."

​"Itu bukan urusan saya. Itu risiko bisnis," potong Elena. Dia menunjuk gerbang. "Saya alergi buang-buang uang. Bawa pergi atau saya suruh tukang kebun buat jadi kompos."

​Kurir itu menatap Elena, lalu menatap Mina, lalu menatap buket bunga raksasa itu dengan wajah mau menangis. Akhirnya, dengan gerutu panjang, dia menyeret kembali buket itu ke mobilnya.

​Mina geleng-geleng kepala takjub. "Nyonya Sora yang dulu bakal nangis kalau telat dikirim bunga sejam saja. Nyonya yang sekarang malah ngusir rejeki."

​"Itu bukan rejeki, Mina. Itu liabilitas," koreksi Elena sambil berbalik masuk. "Rumah ini butuh uang tunai, bukan dekorasi makam."

​Sementara itu, di lantai 45 Diwantara Tower.

​Suasana rapat direksi terasa tegang seperti biasanya jika Kairo memimpin. Namun, ada yang berbeda hari ini. Kairo tidak sedang memarahi direktur pemasaran yang targetnya meleset. Dia justru terlihat tidak fokus.

​Mata elang Kairo berkali-kali melirik ke ponsel pintarnya yang tergeletak di meja rapat. Layarnya gelap.

​Diam.

​Hening.

​Biasanya, di jam-jam genting seperti ini—jam sepuluh sampai jam dua belas siang—ponsel Kairo akan berisik dengan notifikasi dari bank.

​Ting! Transaksi Kartu Kredit Platinum: IDR 15.000.000 di Salon & Spa.

Ting! Transaksi Kartu Kredit Platinum: IDR 25.000.000 di Butik High End.

Ting! Transaksi Kartu Kredit Platinum: IDR 8.000.000 di Restoran Mewah.

​Itu adalah pola harian Sora. Kairo sengaja membuka blokir kartu kredit istrinya pagi ini. Setelah kejadian live streaming dan analisis saham di meja makan semalam, Kairo ingin menguji teorinya.

​Dia berpikir, Sora pasti akan balas dendam dengan belanja gila-gilaan setelah kartunya aktif lagi.

​Kairo sudah siap mental. Dia bahkan sudah menyiapkan sarkasme pedas untuk menyindir Sora nanti malam: "Sudah puas menghabiskan uangku, Nyonya Konsultan?"

​Tapi ponselnya membisu.

​Tidak ada notifikasi. Nol. Nihil.

​"Pak Kairo?" panggil Direktur Operasional ragu-ragu. "Bagaimana menurut Bapak tentang proposal efisiensi pabrik Cikarang?"

​Kairo tersentak dari lamunannya. Dia menatap jajaran direksi yang memandangnya cemas.

​"Cek sistem perbankan kita," kata Kairo tiba-tiba, tidak nyambung dengan topik rapat.

​Direktur Keuangan bingung. "Maaf, Pak? Sistem payroll?"

​"Bukan. Sistem kartu kredit korporat dan kartu tambahan keluarga," Kairo mengetuk meja dengan jari telunjuknya. "Apa ada gangguan jaringan hari ini? Apa server bank sedang down?"

​"Setahu saya lancar, Pak. Tadi pagi saya pakai untuk bayar vendor, sukses," jawab sang Direktur Keuangan.

​Kairo mengernyit. Jaringannya lancar. Kartunya aktif. Limitnya unlimited.

​Lalu kenapa Sora tidak belanja?

​Apakah dia sakit? Atau... apakah dia benar-benar serius dengan omong kosong "resign" itu?

​Keheningan notifikasi ini justru jauh lebih mengganggu daripada rentetan tagihan ratusan juta. Kairo merasa seperti nakhoda kapal yang tiba-tiba kehilangan sinyal radar. 

Dia tidak tahu istrinya sedang apa, ada di mana, dan merencanakan apa.

​"Rapat bubar," Kairo berdiri mendadak, membuat semua orang kaget.

​"Tapi Pak, kita belum memutuskan..."

​"Saya bilang bubar. Lanjutkan besok. Saya harus pulang," potong Kairo sambil menyambar jasnya. "Ada aset yang perlu saya audit secara personal."

​Pukul tujuh malam.

​Mobil sedan hitam Kairo memasuki pelataran rumahnya. Langit sudah gelap, tapi ada yang aneh dengan rumahnya malam ini.

​Biasanya, rumah gedongan ini bersinar terang benderang seperti istana Disneyland. Lampu sorot taman menyala semua, lampu kristal di lobi menyilaukan mata, dan air mancur di depan pintu menyembur deras dengan lampu warna-warni norak. Sora benci kegelapan. Dia suka rumahnya terlihat hidup dan mahal.

​Tapi malam ini, rumah itu temaram.

​Lampu taman mati. Air mancur mati. Hanya lampu teras utama yang menyala dengan cahaya warm white yang lembut dan... hemat energi.

​"Apa listriknya dicabut PLN?" gumam Kairo saat turun dari mobil.

​Dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi Smart Home. Matanya membelalak melihat grafik konsumsi energi hari ini.

​Grafiknya terjun bebas. Turun 60% dari rata-rata harian.

​Kairo menekan tombol Device Status.

AC Ruang Tamu: OFF.

AC Ruang Makan: OFF.

Lampu Kristal Utama: OFF.

Pemanas Kolam Renang: OFF.

​"Apa-apaan ini..." desis Kairo. Dia masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar.

​Begitu pintu terbuka, udara sejuk alami menyambutnya, bukan udara dingin membeku khas AC sentral yang biasanya disetel di suhu 18 derajat. Lobi rumah terasa lebih... tenang. Tidak ada aroma pewangi ruangan menyengat yang biasa disemprotkan setiap jam. Gantinya adalah aroma samar pembersih lantai antiseptik yang bersih dan klinis.

​Dan sepi. Terlalu sepi.

​Biasanya, begitu dia pulang, lima atau enam pelayan akan berbaris menyambut, mengambil tasnya, menawarkan minuman. Sora akan turun tangga dengan gaun heboh.

​Sekarang? Kosong.

​"Sora!" panggil Kairo. Suaranya menggema di ruangan kosong.

​Tidak ada jawaban.

​Kepanikan yang tidak rasional mulai merayap di dadanya. Apakah wanita itu kabur? Apakah dia benar-benar pergi membawa uang hasil jualan tas kemarin?

​Kairo berjalan cepat menuju ruang tengah.

​Di sana, di bawah sorotan lampu baca LED yang terarah, dia menemukan istrinya.

​Elena duduk di sofa panjang. Dia tidak memakai gaun. Dia memakai setelan piyama satin polos berwarna navy yang terlihat nyaman. Rambutnya dicepol asal dengan pensil. Kacamata anti-radiasi bertengger di hidungnya.

​Di pangkuannya ada laptop yang menyala. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, menghasilkan bunyi tak-tak-tak yang cepat dan konstan. Di meja di depannya, ada tumpukan buku tebal—bukan majalah fashion, tapi buku Hukum Perdata dan Manajemen Aset.

​Elena bahkan tidak menoleh saat Kairo datang. Dia terlalu fokus.

​Kairo berdiri di belakang sofa, menatap layar laptop istrinya. Dia mengharapkan melihat situs belanja online atau drama Korea.

​Tapi yang dia lihat adalah spreadsheet Excel dengan ribuan baris data angka, grafik pivot, dan rumus-rumus rumit yang membuat kepala pening.

​"Kau..." Kairo kehabisan kata-kata.

​Elena berhenti mengetik. Dia menekan tombol save, lalu perlahan memutar kepalanya menatap Kairo dari balik kacamata.

​"Sudah pulang?" tanya Elena datar. "Tumben cepat. Biasanya jam segini masih entertain klien di kelab malam."

​"Jangan mengalihkan topik," Kairo melangkah memutari sofa, berdiri menjulang di depan Elena. "Kenapa rumah ini gelap gulita? Kemana semua pelayan? Kenapa air mancur mati?"

​"Pelayan? Aku rumahkan. Mereka tidak efisien. Sekarang kita pakai jasa cleaning service harian," jawab Elena tenang, kembali menatap layar laptop.

 "Air mancur boros listrik dan air. Tagihan listrik bulan lalu dua puluh juta. Bulan ini, targetku turun jadi lima juta. Efisiensi, Kairo. Kamu CEO, masa harus dijelaskan konsep dasar penghematan?"

​Kairo mendengus kasar. Dia menjatuhkan dirinya di sofa tunggal di depan Elena, menatap wanita itu dengan tatapan menyelidik.

​"Dan kartu kreditmu," serang Kairo. "Aku sudah buka blokirnya tadi pagi. Reza sudah konfirmasi limitnya aktif. Kenapa tidak ada transaksi?"

​Elena tertawa kecil tanpa suara. Dia menutup laptopnya perlahan.

​"Oh, jadi kamu menunggu notifikasi?" Elena menyandarkan punggungnya, menatap Kairo geli. "Maaf mengecewakanmu. Aku tidak belanja hari ini."

​"Kenapa?" desak Kairo. Rasa penasarannya membuncah. "Kau sakit? Kau butuh dokter?"

​Pertanyaan itu terdengar konyol bahkan di telinga Kairo sendiri. Istrinya terlihat sangat sehat, bahkan lebih segar daripada sebelumnya. Matanya yang dulu sering sembab kini jernih dan tajam.

​"Aku sehat walafiat, Tuan Kairo," jawab Elena. Dia mengambil gelas air putih di meja, meminumnya sedikit.

​"Lalu kenapa kau tidak menghamburkan uang seperti biasa? Kau mau main tarik ulur denganku?"

​Elena meletakkan gelasnya. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap mata suaminya lekat-lekat.

​"Karena prioritas keuanganku sudah berubah," kata Elena serius.

​"Prioritas apa? Tas baru? Sepatu?"

​"Bukan."

​Elena tersenyum miring. Senyum yang membuat bulu kuduk Kairo meremang waspada.

​"Aku sedang berhemat. Aku menabung setiap sen yang bisa kuselamatkan dari rumah boros ini."

​"Menabung untuk apa?" tanya Kairo, suaranya merendah.

​Elena menepuk tumpukan buku Hukum Perdata di meja dengan telapak tangannya.

​"Untuk menyewa pengacara perceraian terbaik di kota ini," jawab Elena santai namun mematikan. "Pengacara yang bagus tarifnya per jam, Kairo. Dan karena kamu menolak menandatangani proposal dariku kemarin, sepertinya kita akan perang panjang di pengadilan. Perang butuh modal. Jadi maaf, tidak ada bunga mawar atau baju baru bulan ini. Uangnya masuk ke tabungan perangku."

​Elena berdiri, menjepit laptopnya di ketiak, dan mengambil buku-buku hukum itu.

​"Selamat malam, Suamiku. Nikmati rumah barumu yang hemat energi ini. Jangan lupa matikan lampu kalau sudah selesai melamun."

​Elena melenggang pergi menaiki tangga, meninggalkan Kairo sendirian di ruang tengah yang remang-remang. Pria itu ternganga, menatap kosong ke arah tangga. Bukan karena marah, tapi karena dia baru sadar...

​Istrinya benar-benar serius ingin meninggalkannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kairo Diwantara merasa takut.

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!