Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Masa Lalu
Kemenangan di Aula Giok terasa hambar bagi Li Hua. Meskipun musuh-musuhnya telah jatuh, rasa sakit di kakinya kini telah menjalar hingga ke pinggang. Ia tidak lagi bisa berdiri tanpa bantuan, dan kulitnya yang semula seputih giok kini mulai menampakkan garis-garis hitam halus, seperti akar pohon yang mati.
kaisar tidak pernah meninggalkan permaisuri dari sisinya. Ia membawa tabib-tabib terbaik, ahli alkimia, bahkan pendeta dari gunung suci, namun semua menggelengkan kepala.
"Ini bukan racun, Yang Mulia," ucap seorang pendeta tua. "Ini adalah penolakan raga. Tubuh Permaisuri Xuan adalah wadah bagi kecantikan yang dangkal, sedangkan jiwa di dalamnya terlalu kuat dan membawa luka yang sangat dalam. Jika luka itu tidak disembuhkan di tempat asalnya, raga ini akan hancur."
Tamu yang Tidak Diundang
Malam itu, saat badai salju pertama mulai turun, seorang pria tua berpakaian compang-camping muncul di gerbang istana. Ia tidak membawa senjata, hanya sebuah cermin perunggu yang retak di tengahnya.
"Aku datang untuk menagih hutang pada wanita yang mencuri wajah dewi," serunya di depan para pengawal.
kaisar, yang sudah putus asa, memerintahkan pengawal untuk membawa pria itu masuk. Di dalam paviliun yang hangat, pria itu berdiri di depan ranjang Li Hua. Li Hua tersentak; ia mengenali pria itu. Dia adalah Si Buta He, peramal jalanan yang dulu sering memberinya sisa makanan saat ia masih menjadi pengemis buruk rupa.
"Kau..." bisik Li Hua parau.
"Li Hua, kau sudah melangkah terlalu jauh," ucap Si Buta He, meski matanya tertutup kain putih, ia seolah bisa melihat langsung ke jiwa Li Hua. "Kau menukar deritamu dengan kemegahan, tapi kau lupa bahwa takdir tidak suka dicurangi."
kaisar menghunus pedangnya sedikit. "Apa maksudmu, Orang Tua? Berikan penawarnya atau kau tidak akan keluar dari sini hidup-hidup."
Si Buta He tertawa kering. "Penawarnya bukan pada ramuan, Kaisar. Penawarnya adalah kebenaran. Jiwa Li Hua terjebak karena ia masih membenci dirinya yang dulu. Ia mencintai raga cantik ini, tapi ia jijik pada kenangan buruk rupanya. Penyakit itu adalah manifestasi dari kebencian dirinya sendiri."
Pria tua itu menyodorkan cermin perunggu yang retak ke depan wajah Li Hua. "Lihatlah ke dalam, Ratu. Apa yang kau lihat?"
Li Hua menatap cermin itu. Awalnya, ia melihat wajah Permaisuri Xuan yang sempurna. Namun, perlahan bayangan itu retak. Di balik retakan itu, muncul wajah aslinya yang penuh luka, hidung yang bengkok, dan mata yang penuh kesedihan.
Li Hua menjerit dan mencoba memalingkan muka. "Jauhkan itu dariku! Aku tidak ingin melihatnya!"
"Jika kau tidak bisa mencintai wanita buruk rupa itu, maka raga cantik ini akan menolakmu selamanya," suara Si Buta He bergema. "Kau harus kembali ke tempat semuanya dimulai. Ke tempat di mana kau mati."
Perjalanan ke Lembah Kematian
Tanpa mempedulikan protokol, Tian Long membawa Li Hua yang lemah menuju gang sempit di Distrik Barat—tempat Li Hua tewas di kehidupan sebelumnya. Di sana, salju menutupi tumpukan sampah yang sama.
"Mengapa kita di sini?" tanya Tian Long sambil mendekap Li Hua yang menggigil.
"Aku harus memaafkan diriku," bisik Li Hua.
Ia merangkak turun dari dekapan Tian Long, membiarkan gaun merah mahalnya terseret di atas tanah kotor. Dengan sisa tenaganya, ia menuju ke sudut di mana ia menghembuskan napas terakhirnya dulu. Di sana, ia melihat seorang gadis pengemis kecil yang sedang menggigil, wajahnya cacat—persis seperti dirinya dulu.
Li Hua menyadari bahwa anak itu bukan sekadar pengemis. Anak itu adalah proyeksi dari jiwanya yang tersisa di dunia ini.
Li Hua memeluk anak kecil yang kotor itu. Ia mencium keningnya yang penuh luka. "Maafkan aku karena pernah membencimu. Maafkan aku karena menganggapmu sebagai kutukan. Kau adalah bagian dariku, dan kau pantas untuk dicintai."
Seketika, cahaya putih yang menyilaukan meledak dari tubuh Li Hua. Garis-garis hitam di kakinya menghilang. Rasa sakit yang menghantuinya selama berminggu-minggu lenyap, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa.
Saat cahaya itu meredup, Li Hua berdiri. Ia masih memiliki wajah cantik Permaisuri Xuan, namun matanya kini memancarkan kedamaian yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Namun, saat ia berbalik ke arah Tian Long, Si Buta He sudah menghilang. Dan di tangan Li Hua, cermin perunggu yang retak itu kini telah utuh kembali.
"Kau sudah kembali," ucap kaisar dengan suara serak karena lega.
"Tidak, yang mulia," jawab Li Hua sambil tersenyum tulus. "Aku baru saja benar-benar tiba."