NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedai Teh Penjagal

Hujan turun deras di Hutan Pinus Mati, mencuci debu jalanan namun gagal menghilangkan bau amis darah yang samar di udara.

Ren Zhaofeng berjalan sendirian di jalan setapak berlumpur. Topi caping bambunya meneteskan air hujan, menutupi sebagian wajahnya. Di punggungnya, sebuah bungkusan kain panjang menyembunyikan Pedang Hitam.

Sudah tiga hari sejak dia meninggalkan Sekte Awan Hijau.

"Dunia luar..." gumam Zhaofeng, mendengarkan suara rintik hujan yang menghantam dedaunan. "Jauh lebih bising daripada sekte."

Di sekte, suara didominasi oleh latihan dan diskusi teknik. Di sini, suara didominasi oleh ketakutan, keserakahan, dan penyergapan.

Di depannya, sebuah bangunan kayu reot terlihat di persimpangan jalan. Sebuah bendera usang bertuliskan "Teh" berkibar lemas.

Kedai Teh Simpang Tiga.

Zhaofeng melangkah masuk.

Suasana di dalam kedai hangat dan remang. Ada tiga meja yang terisi.

Di meja pojok, dua pedagang gemuk sedang berbisik ketakutan. Di meja tengah, empat pria berwajah garang dengan senjata tergeletak di meja sedang minum arak murahan. Dan di meja dekat pintu, seorang pendekar wanita bercadar sedang minum teh sendirian.

Saat Zhaofeng masuk, suara percakapan terhenti sesaat. Semua mata tertuju padanya.

Seorang pelayan bungkuk dengan handuk kotor di bahu menghampiri.

"Tuan mau pesan apa? Teh hangat? Atau arak penghangat darah?" tanya pelayan itu, suaranya serak dan menjilat.

"Teh polos. Dan sepiring mantou," jawab Zhaofeng, duduk di meja kosong yang paling sudut.

Dia meletakkan bungkusan pedangnya di meja. Dug. Suaranya berat, membuat meja kayu itu bergetar.

Empat pria garang di meja tengah saling bertukar pandang. Salah satu dari mereka, yang memiliki bekas luka di pipi, menyeringai dan memberikan kode mata pada si pelayan.

Zhaofeng "melihat" semua itu.

Dia mendengar detak jantung pelayan itu yang berakselerasi saat melihat bungkusan pedang Zhaofeng. Dia mendengar gesekan pisau yang disembunyikan di balik lengan baju si pelayan.

Dan yang lebih penting, dia mencium bau aneh dari dapur. Bau daging yang... bukan daging hewan.

"Kedai Penjagal," batin Zhaofeng datar.

Ini adalah jebakan klasik bagi para pelancong. Merampok harta, membunuh orangnya, dan menjadikan dagingnya isian mantou.

Pelayan itu kembali membawa teko teh dan piring berisi mantou kukus yang masih mengepul.

"Silakan, Tuan Muda," kata pelayan itu sambil menuangkan teh. "Ini teh terbaik kami."

Zhaofeng mengangkat cangkir teh itu. Dia tidak meminumnya. Dia hanya mencium aromanya.

"Kau memasukkan Bubuk Tulang Lemas ke dalam teh ini," kata Zhaofeng santai, seolah mengomentari cuaca. "Dosisnya cukup untuk melumpuhkan gajah."

Senyum pelayan itu membeku. "Tuan bercanda..."

"Dan mantou ini..." Zhaofeng menusuk salah satu mantou dengan sumpit. "Daging di dalamnya... berasal dari paha manusia yang kau bunuh kemarin sore. Mayatnya masih kau simpan di gudang bawah tanah, kan? Aku bisa mendengar tetesan darahnya."

Tess... Tess...

Wajah pelayan itu berubah pucat pasi, lalu menjadi garang. "Bunuh dia!"

Empat pria di meja tengah serentak menendang meja dan mencabut golok mereka.

"Dasar bocah buta sok tahu! Karena kau sudah tahu, jadilah isian mantou kami berikutnya!" teriak Si Bekas Luka.

Mereka menerjang. Kultivasi mereka rata-rata Penempaan Tubuh Tahap 6. Cukup kuat untuk merampok pedagang, tapi sampah bagi Zhaofeng.

Zhaofeng tidak berdiri. Dia masih duduk.

Tangan kanannya menyentuh bungkusan kain di meja.

Sring!

Dia tidak mencabut pedangnya sepenuhnya. Dia hanya mendorong gagang pedangnya keluar satu inci, lalu memasukkannya kembali.

KLIK.

Sebuah gelombang getaran tak terlihat menyebar dari sarung pedang.

"Seni Pedang Tanpa Wujud: Gema Riak."

CRAK! CRAK! CRAK! CRAK!

Empat pria yang sedang melompat di udara itu tiba-tiba kaku. Golok di tangan mereka hancur berkeping-keping.

Lalu, kaki mereka patah serentak.

"ARGHHH!"

Mereka jatuh bergelimpangan di lantai, menjerit kesakitan.

Si pelayan bungkuk yang hendak menusuk Zhaofeng dari belakang terpaku ngeri. Pisau di tangannya terlepas.

"Ampun! Ampun, Tuan Pendekar!" pelayan itu jatuh berlutut, mengibaskan kepalanya ke lantai.

Zhaofeng mengabaikannya. Dia menoleh (mengarahkan telinga) ke meja dekat pintu.

Pendekar wanita bercadar itu tidak bergerak sedikit pun selama kekacauan tadi. Dia terus meminum tehnya dengan tenang.

"Nona," kata Zhaofeng. "Tehmu juga beracun. Kenapa kau meminumnya?"

Wanita itu meletakkan cangkirnya. Suaranya dingin dan jernih.

"Racun sampah seperti ini hanya bumbu penyedap bagiku."

Wanita itu berdiri. Dia mengenakan pakaian ketat berwarna ungu gelap dengan motif laba-laba perak. Aura kultivasinya... Pengumpulan Qi Tahap 2.

"Tapi kau menarik perhatianku," kata wanita itu, berjalan mendekati Zhaofeng. "Buta. Membawa pedang berat. Dan memiliki getaran Qi yang aneh. Kau cocok dengan deskripsi di poster buronan."

Dia mengeluarkan selembar kertas dari sakunya dan meletakkannya di meja Zhaofeng.

Itu adalah poster buronan yang dikeluarkan oleh Aliansi Ular Hitam.

DICARI: REN ZHAOFENG. Status: Pelindung Muda Sekte Awan Hijau. Harga Kepala: 50.000 Batu Roh. Keterangan: Hati-hati, target memiliki pendengaran iblis.

"Lima puluh ribu?" Zhaofeng tersenyum miring. "Hargaku naik cepat."

"Namaku Zi Zhu (Laba-laba Ungu)," kata wanita itu. "Aku adalah pemburu hadiah bayaran. Dan kepala itu... akan melunasi hutang judiku."

Zi Zhu menjentikkan jarinya.

Dari balik bayang-bayang atap kedai, lusinan benang sutra ungu yang sangat tipis meluncur turun, mengurung Zhaofeng seperti jaring laba-laba.

"Jaring Racun Ungu," kata Zi Zhu. "Semakin kau bergerak, semakin dalam benang ini memotong dagingmu."

Zhaofeng duduk diam di tengah jaring. Dia menyentuh salah satu benang dengan jari telunjuknya yang dilapisi Qi.

Ting.

Benang itu bergetar.

"Benang yang bagus," puji Zhaofeng. "Kuat, elastis, dan menghantar Qi dengan baik. Tapi..."

Zhaofeng berdiri.

"Setiap benang punya batas ketegangan."

Dia mencabut Pedang Hitam-nya. Kali ini sepenuhnya.

Aura berat Tahap 8 meledak, bercampur dengan Medan Gravitasi pedang.

Zhaofeng tidak memotong benang itu. Dia memukul udara di sekitarnya.

"Gema Penghancur!"

Getaran masif merambat melalui udara, menghantam benang-benang itu. Benang yang tegang itu tidak bisa menahan frekuensi getaran yang kacau.

PING! PING! PING!

Jaring laba-laba itu putus berantakan.

Zi Zhu terbelalak. "Dia menghancurkan Sutra Laba-laba Besi-ku dengan getaran udara?!"

Zhaofeng melangkah keluar dari sisa jaring. Dia menatap Zi Zhu.

"Kau pemburu bayaran, bukan pembunuh Aliansi," kata Zhaofeng. "Aku tidak suka membunuh orang yang hanya mencari makan. Pergilah. Dan beritahu semua pemburu hadiah di jalan ini..."

Zhaofeng mengangkat pedangnya, menunjuk ke arah barat.

"Aku sedang menuju Kota Perbatasan Barat. Jika mereka menginginkan kepalaku, suruh mereka mengantri di sana. Aku akan menyiapkan kuburan massal."

Zi Zhu menelan ludah. Instingnya berteriak bahaya. Pemuda di depannya ini... adalah monster yang menyamar jadi manusia.

"Kau akan menyesal, Ren Zhaofeng," Zi Zhu melompat mundur, menembus atap kedai, dan melarikan diri. "Aliansi sudah mengirim Tiga Taring Maut untuk memburumu! Kau tidak akan sampai ke perbatasan hidup-hidup!"

Zhaofeng membiarkannya pergi. Dia butuh penyebar pesan. Semakin banyak musuh yang datang padanya di jalan, semakin aman Sekte Awan Hijau di belakang sana.

Dia melirik pelayan dan empat bandit yang masih merintih di lantai.

"Kalian," kata Zhaofeng dingin. "Kedai ini bau darah. Bakar tempat ini. Dan serahkan diri ke otoritas kota terdekat. Jika aku mendengar kedai ini buka lagi..."

Dia meremas sebuah cangkir teh menjadi debu.

"...nasib kalian akan seperti cangkir ini."

Zhaofeng mengambil bungkusan pedangnya dan berjalan keluar, kembali ke tengah hujan.

"Tiga Taring Maut?" gumamnya. "Nama yang bagus untuk batu asahan."

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!