"Anak ku hilaaaaang, kemana anak ku pergi?"
Beberapa waktu terakhir ini banyak anak anak dan juga orang tua mati tenggelam, mereka di temukan bila sudah empat atau tiga hari di dalam air sehingga keadaan tubuh sudah mengembung.
Sebelum tenggelam ada yang bilang bahwa mereka berjalan dengan pandangan kosong, mereka tidak di makan buaya karena tidak ada gigitan di tubuh mereka.
Apa yang membawa mereka kedalam air?
mungkin kah ada sebuah misteri sehingga mereka semua meninggal di dalam air?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Terluka
Buaaaaaak.
Ratu ular terlempar begitu jauh dan belum sempat dia berdiri malah hantu Air ini bergerak cepat dan menusukkan akar rambut itu ke dalam mulut Purnama sehingga sampai pada bagian perut juga, namun meski begitu dia tetap tidak berhenti dan terus mengisi perut Purnama dengan akar rambut hitam itu sehingga Purnama menjadi kejang.
Tidak pernah ratu ular mengalami hal seperti ini karena dia juga belum memiliki wawasan berkelahi dengan iblis air sehingga bisa di katakan sedikit kaget dan tidak tahu trik, karya yang melihat kakaknya diperbuat seperti itu maka dia pun berusaha keras agar bisa melepaskan diri dari jerat akar hitam ini.
Namun segala upaya sudah di lakukan tapi tetap saja Arya belum mampu melepaskan diri karena rambut hitam itu begitu erat membeli tubuh dia dan berulang kali menenggelamkan ke dalam air, hantu Air ini begitu kejam dan dia cukup kuat sehingga kakak beradik ular masih harus berusaha keras agar bisa lepas dari dia.
Untung tak lama kilatan cahaya merah menyambar keras kearah tubuh hantu Air ini sehingga dia terpental jauh dan tidak sanggup untuk berdiri lagi lalu menghilang di dalam air, Xavier ingin mengejar namun dia sadar kalau diri nya adalah kekuatan api sehingga bila masuk dalam air maka hanya akan jadi makanan hantu itu saja.
"Purnama!" Xavier cepat memapah Purnama yang tergeletak ingin muntah.
"Buat aku muntah sekarang, Xavier!" Purnama berteriak panik."
"Lah gimana cara nya ini, aduh aku bingung kalau masih di air ini. ayo kita kedaratan saja dulu!" Xavier membawa Purnama dan berteriak pada Arya juga.
"Woi Arya! cepat bangun dan pergi kedaratan, besok lagi kita kejar dia." teriak Xavier.
"Ah sialan, aku kalah di buat hantu air itu!" Arya mengusap wajah dan segera pergi menuju daratan.
"Perut ku mual tapi tidak bisa muntah, aaaah rasa nya tidak enak sekali ini." kesal Purnama yang masih memegang perut.
Dewa iblis belum menjawab lagi karena dia masih memikirkan dan membawa Purnama untuk pergi ke pinggir sungai saja karena bila di dalam sini ada kemungkinan nanti hantu air itu akan menarik mereka, sedangkan kondisi Purnama sudah lemah begini sehingga dia perlu istirahat dan memulihkan tenaga agar kembali jreng seperti semula.
Di daratan sana semua orang sudah senang karena Pak Roni sudah selamat dan ini semua juga berkat dari Purnama bersama dengan Arya, sekarang justru mereka berdua yang terluka dan harus mendapat pengobatan juga dari tabib yang ada di agensi milik Ratu ular ini karena mereka terluka bagian dalam dari hantu air.
"Kenapa dengan Purnama ini?" Pak RT bingung karena mereka tidak melihat dewa iblis.
"Kak kamu kenapa?!" Nolan cepat membantu Purnama.
"Purnama termakan rambut dari hantu air, kita harus pulang untuk bertanya obat pada Gun." jelas Xavier.
"Astaga berarti ini parah, ayo aku akan menggendong mu sekarang." Nolan berjongkok dan menyuruh Purnama naik kepundak dia.
"Cepat lah, ayo kita bertanya pada Gun!" Arini juga sudah tidak sabar.
"Mbak Pur apa butuh sesuatu?" Gito juga mendekat karena Purnama terlihat sangat lemas sekali.
"Kalau tidak kita kerumah sakit saja bareng, biar aku juga membawa Pak Roni." seru Pak RT yang sudah tidak sabar.
Sedangkan saat ini Rehan dan Yoto sama sekali tidak berani mendekat karena mereka tadi sudah melihat bagaimana wujud Purnama ketika sedang berubah menjadi siluman ular, jelas sekarang ada rasa takut di dalam hati mereka sehingga memutuskan untuk berdiri jauh saja dari Purnama karena memang mental mereka tidak sanggup untuk mendekat.
Rehan yang paling parah karena tadi dia juga sempat bertatap mata dengan purnama dan kemungkinan besar pemuda itu tidak akan pernah berada lagi berbicara dengan Purnama, padahal sekarang bisa dibilang Purnama begitu lemas dan tidak sanggup untuk bergerak akibat sesuatu yang ada di dalam perut dia terasa begitu menyesakkan seolah ingin keluar.
"Kami pulang dulu, ayo cepat Nolan!" Arya juga basah kuyup dan memberi kode agar mereka cepat gerak.
"Loh kok pada pergi gitu aja, tapi emang sudah selesai ya masalah nya." Bambang jadi bingung sendiri.
"Tapi Mbak Pur lemah sekali itu seperti kesakitan." Gito tetap masih cemas.
"Ayo kita antarkan Pak Roni saja dulu, nanti kalau sudah siang biar aku lihat dia di rumah nya." ujar Bambang.
"Kalian berdua kenapa sih kok pucat begitu, takut apa lagi?!" Gito heran melihat Yoto dan Rehan.
"Ah tidak apa apa kok, ya sudah ayo antar dulu Pak Roni." Rehan tersadar dan segera bergerak.
Padahal sekarang rasa takut begitu besar di dalam hati dia Dan mungkin untuk beberapa saat ini Rehan tidak berani bertemu secara langsung dengan Purnama, sebab bayangan ekor ular itu terus saja melintas di dalam benak pemuda ini sehingga dia tidak mungkin bisa lupa hanya dalam waktu beberapa saat.
"Besok kau hapus ingatan dua pria itu, Arya." Purnama yang sedang di gendong Nolan masih sempat juga memberi perintah.
"Iya itu urusan besok, kita urus dulu keadaan mu ini." sahut Arya.
"Hueeeeeek, Hueeeeek!"
"KAKAK!" Nolan berteriak keras karena kepala dia kena muntah.
"Buahahaaaaaa rasakan itu, ah kepala Nolan kena muntah Purnama." Xavier terbahak bahak.
"Astaga, padahal sudah di halaman rumah tapi malah muntah di kepala Nolan." Arini pun ikut stres dengan kedua orang ini.
"Kakak kenapa sih tidak bilang kalau mau muntah!" protes Nolan karena dari kepala hingga punggung sudah penuh muntah.
"Pur, apa di dalam perut mu penuh dengan akar ya kok ini ada yang keluar." tunjuk Arini memperhatikan bentuk muntah Purnama.
Purnama juga ikut memperhatikan karena dia tidak mengetahui dengan jelas apa memang akar rambut itu tertinggal di dalam perut dia sehingga menyebabkan rasa mual yang begitu luar biasa, bila di lihat dari bentuknya maka pasti itu adalah rambut dari hantu air tadi.
"Aku harus mengeluarkan semua nya dari perut ku!" teriak Purnama.
"Ada apa ini kok ribut sekali, aku mau bobok cantik tidak bisa!" Maharani keluar dengan gaya kemayu.
"Mana Gun sekarang, Purnama terluka dan dia butuh tabib." jelas Arini.
"Aku panggil dia sekarang!" Maharani langsung berubah sikap ketika mendengar sang Adik sedang terluka.
"Ah aku mau mandi lah." Nolan masih sibuk sendiri karena penuh dengan muntah.
Arya yang segera memapah tubuh sang Kakak dengan penuh kasih sayang, sebab mereka juga sejak kecil dan sejak dalam perut selalu bersama, sehingga ikatan kasih sayang jelas lebih kuat di antara mereka.
Selamat sore besti, hari ini pas lima bab ya sayang ku.
aku jg setuju dgn ibu2 yg lain klo si kokop pindah dr desa pandan arum😌
udah di batai sama Purnama juga ga kapok...
apa perlu ya di bantai sama hantu air dulu baru dia kapok...
yang jadi suaminya aja sampai malu ya bang Thamrin...
lanjut mak... di Cileungsi lagi hujan lebat mak...
ap kopsah jdi ketua hantu air aja..cockk kayanya
udh insaf kan...
mantan kk ipar ku sekrang istriku...