Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA RATUS JUTA
🌼🌼🌼🌼🌼
Dentuman bas dari lantai bawah kelab malam itu terasa hingga ke ulu hati, namun bagi Melisa, kebisingan itu adalah penyelamat. Di ruangan VVIP yang pengap oleh asap cerutu ini, tawa terbahak-bahak para kolega Harvey menjadi tirai yang menyembunyikan kehancurannya. Mereka terlalu mabuk untuk peduli pada ketegangan yang baru saja memercik antara sang dokter bedah ternama dan pelayan botol di hadapan mereka.
Laluna, rekan kerja sekaligus satu-satunya sahabat Melisa di tempat ini, meremas bahu Melisa sekilas. Matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam.
"Mel, kalau kau tidak kuat, biar aku yang ambil alih meja ini," bisik Laluna lirih.
Melisa menggeleng pelan. "Aku butuh uangnya, Luna. Pergilah."
Laluna menghela napas panjang, memberikan tatapan simpati terakhir sebelum mundur perlahan. Kini, Melisa benar-benar sendirian di "medan tempur" masa lalunya.
Harvey menggeser sebuah gelas kristal berisi cairan amber ke arah Melisa. Matanya yang tajam mengunci pergerakan wanita itu. "Minum," perintahnya singkat. Suaranya dingin, berwibawa, dan penuh tuntutan.
Melisa menatap gelas itu. Ia tahu ini bukan sekadar minuman; ini adalah simbol penyerahan diri. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meraih gelas itu.
"Baik, Dokter Harvey. Jika ini yang Anda inginkan," ucap Melisa. Suaranya stabil meski hatinya perih.
Ia meminum wiski itu dalam satu tegukan besar. Rasa terbakar merambat cepat dari lidah ke kerongkongannya, memicu batuk kecil yang segera ia tahan. Ia tetap berdiri tegak, menantang tatapan Harvey yang tampak terkejut melihat kenekatannya.
"Sudah?" tanya Melisa datar. "Ada instruksi lain?"
Harvey mendengus sinis, membuang muka ke arah rekan-rekannya. "Tetap di sini. Jangan beranjak satu inci pun."
Malam itu pun berubah menjadi siksaan yang panjang. Melisa menjadi bayangan yang patuh. Setiap kali gelas Harvey tersisa setengah, Melisa segera menuangkannya. Setiap kali Harvey merogoh cerutu, Melisa sudah memantikkan api di depannya.
"Kau cekatan sekali sekarang," sindir Harvey di sela obrolannya tentang pembangunan rumah sakit baru. "Pelatihan di tempat seperti ini pasti sangat ketat, ya?"
Melisa hanya diam. Ia bahkan tidak berkedip saat tangan Harvey sengaja menyentuh bahunya dengan kasar saat pria itu tertawa, seolah sedang memamerkan barang milik pribadi kepada rekan-rekannya. Harvey ingin menunjukkan kasta mereka: Harvey adalah sang penyelamat yang sukses, sementara Melisa hanyalah puing-puing dari masa lalu yang kini bisa ia beli.
**
Menjelang pukul tiga pagi, riuh rendah itu mereda. Satu per satu kolega Harvey berpamitan, membawa sisa-sisa kesenangan mereka keluar. Pintu VVIP tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan, aroma alkohol yang basi, dan dua jiwa yang saling menyimpan luka.
Harvey menyandarkan kepalanya ke sofa. Wajahnya yang arogan kini tampak lelah, matanya memerah karena pengaruh alkohol dan kurang tidur.
"Duduklah," perintahnya.
Melisa tetap bergeming di samping meja botol. "Saya lebih nyaman berdiri, Tuan."
"Duduk, Melisa! Jangan buat aku mengulanginya," bentak Harvey.
Melisa akhirnya duduk di ujung sofa, menjaga jarak sejauh mungkin. Harvey menoleh, menatapnya dengan tatapan yang kini lebih manusiawi namun tetap terasa tajam.
"Berapa?" tanya Harvey tiba-tiba. Suaranya serak.
"Maksud Anda, Dokter?"
"Jangan berpura-pura bodoh. Kita berdua tahu kau tidak akan sudi menginjakkan kaki di lubang maksiat ini jika tidak terdesak," Harvey memajukan duduknya, mengamati wajah Melisa yang pucat. "Berapa biaya yang kau butuhkan untuk pengobatan suamimu malam ini? Sampai kau rela menghambakan diri pada pria yang dulu kau buang?"
Pertanyaan itu menghantam dada Melisa seperti palu godam. Rahangnya mengeras. Ada pergulatan hebat di batinnya—antara rasa malu yang membakar dan kenyataan bahwa administrasi rumah sakit tidak akan menerima "harga diri" sebagai alat pembayaran.
"Bukan urusan Anda," bisik Melisa.
"Bukan urusanku?" Harvey tertawa hambar. "Kau melayaniku semalaman, menyalakan apiku, menuangkan minumanku... dan kau bilang bukan urusanku? Aku ingin tahu harga dari kesetiaan yang kau bangga-banggakan itu."
Melisa menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut. Keheningan kembali merayap. Harvey menunggu, berharap Melisa akan menangis, menyerah, dan memohon agar ia bisa pulang ke bangsal rumah sakit untuk menjaga suaminya. Harvey ingin Melisa mengaku kalah.
Namun, diamnya Melisa justru menyulut amarah Harvey. Ia berdiri dengan gerakan kasar, merapikan jasnya yang kusut.
"Ternyata kau memang sudah berubah sepenuhnya," ucap Harvey dengan nada merendahkan yang kental. "Jika uang memang lebih berharga daripada harga dirimu, silakan teruskan pekerjaan rendahan ini. Aku pergi."
Harvey melangkah tegap menuju pintu. Saat tangannya sudah menggenggam gagang pintu, sebuah suara kecil namun jernih menghentikannya.
"Dua ratus juta."
Langkah Harvey membeku. Ia tidak berbalik, namun bahunya tampak menegang.
"Itu biaya operasi jantung dan perawatan intensif untuk satu bulan ke depan," lanjut Melisa. Suaranya kini datar, tanpa emosi, seolah ia sedang membacakan laporan keuangan. "Jika Anda bertanya berapa nominal yang membuatku bertahan di sini malam ini... itu jawabannya."
Harvey perlahan berbalik. Matanya memancarkan rasa pedih yang amat dalam, yang ia tutupi dengan senyum sinis yang dipaksakan.
"Dua ratus juta?" Harvey tertawa pendek, suaranya bergetar. "Kau pikir kau layak mendapatkan angka itu hanya dengan menuangkan minuman? Kau pikir dirimu semahal itu?"
Melisa berdiri, menatap Harvey tanpa gentar. Air matanya sudah kering. Yang tersisa hanyalah keberanian seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan.
"Saya akan melakukan apa pun yang diperintahkan perusahaan ini kepada saya, Tuan. Dan malam ini, Anda adalah tamu VVIP saya. Jika menurut Anda pelayanan saya tidak sebanding dengan angka itu, Anda boleh pergi."
Harvey berjalan mendekat, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma parfum Melisa yang bercampur asap rokok. Ia meraih dagu Melisa, memaksanya menatap lebih dalam.
"Apa pun?" bisik Harvey berbahaya. "Kau bilang... apa pun?"
"Apa pun," jawab Melisa tegas.
Harvey melepaskan cengkeramannya, lalu merobek secarik kertas dari buku cek di saku jasnya. Ia menuliskan sesuatu dengan cepat dan melemparkan kertas itu ke atas meja.
"Datang ke apartemenku besok jam 4 sore. Jika kau terlambat satu menit saja, anggap cek itu hanya sampah."
Harvey berbalik dan keluar tanpa menoleh lagi. Melisa menatap kertas di atas meja itu dengan pandangan kabur. Di sana tertulis angka yang ia butuhkan, namun ia tahu, besok pagi, ia mungkin akan kehilangan bagian terakhir dari jiwanya.
***
Bersambung..
.....................
...Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰...