NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: The Confrontation

​​"Dengar ya, Sora. Aku tidak punya waktu seharian untuk meladeni tingkah kekanak-kanakanmu ini."

​Kairo melangkah masuk sepenuhnya ke dalam kamar. Suara pintu yang dibantingnya tadi masih menyisakan gema, tapi pria itu seolah tidak peduli.

 Dia berjalan lurus menuju sofa tempat Elena duduk, mengabaikan fakta bahwa istrinya baru saja lolos dari maut—atau setidaknya, baru saja mencoba lolos.

​Elena tidak bergeming. Dia masih memegang tumpukan kertas hangat itu di tangan kanannya, sementara tangan kirinya yang diperban bertumpu santai di sandaran sofa. Dia menatap Kairo dari ujung kaki sampai ujung kepala.

​"Siapa yang memintamu meladeni?" balas Elena tenang. Suaranya datar, tanpa getaran emosi sedikitpun. "Aku tidak memintamu pulang. Kau bisa kembali ke kantor, atau ke mana pun kau biasa menghabiskan waktu saat sedang muak melihat wajahku."

​Kairo terhenti. Langkah kakinya yang berat mendadak mati di tengah karpet tebal.

​Alis tebal pria itu menukik tajam. Dia menatap Elena dengan sorot mata aneh.

 Biasanya, kalimat sekasar itu akan dibalas dengan tangisan histeris Sora. Biasanya, Sora akan berteriak, "Kenapa kamu jahat sekali, Mas?!" atau "Aku cuma butuh perhatianmu!"

​Tapi wanita di depannya ini... dia justru terlihat bosan.

​"Jangan memancingku," geram Kairo. Dia merogoh saku jas dalamnya dengan gerakan kasar.

​Pria itu mengeluarkan buku cek dan sebuah pena emas. Dengan gerakan cepat, dia menuliskan tanda tangan di lembar kosong, lalu merobeknya dengan bunyi krrrt yang nyaring.

​Lembar cek itu melayang di udara, lalu jatuh tepat di pangkuan Elena.

​"Ambil," perintah Kairo dingin. Tatapannya merendahkan, seolah dia sedang melempar tulang pada anjing liar. "Isi sendiri nominalnya. Berapa pun yang kau mau. Beli tas baru, beli perhiasan, atau sewa satu pulau sekalian kalau itu bisa membuatmu diam. Asal kau berhenti mempermalukan nama Diwantara dengan drama bunuh diri kampungan ini."

​Elena menatap lembar cek kosong di pangkuannya.

​Kertas bernilai tak terhingga itu tergeletak begitu saja di atas bathrobe putihnya. Bagi Sora yang asli, kertas ini adalah tiket surga. 

Sora pasti akan langsung menghapus air mata, memeluk kaki Kairo, dan berterima kasih sambil merencanakan belanja besok.

​Tapi bagi Elena, ini adalah penghinaan profesional.

​Elena mengambil cek itu dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari, seolah memegang tisu bekas pakai yang menjijikkan.

​"Kau pikir semua masalah bisa selesai dengan ini?" tanya Elena pelan, mengangkat cek itu sejajar dengan wajahnya.

​Kairo mendengus remeh. Dia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Bukankah itu bahasamu, Sora? Bahasa uang? Jangan munafik. Kau menikahiku karena uangku, kan? Jadi ambil saja dan berhenti cari masalah."

​"Kau benar. Uang memang bahasa universal," aku Elena. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang dingin. "Tapi maaf, Tuan Kairo. Nilai tawar cek ini terlalu rendah untuk harga diriku yang sekarang."

​Srek!

​Elena meremas cek itu menjadi bola kertas kecil dalam satu gerakan tangan. Lalu, dengan ketepatan seorang pebasket profesional, dia menjentikkan bola kertas itu tepat ke arah dada Kairo.

​Bola kertas itu memantul di kemeja putih mahal Kairo, lalu jatuh menggelinding tidak berharga di lantai.

​Mata Kairo membelalak. Dia menatap bola kertas di lantai, lalu beralih menatap wajah Elena dengan ekspresi tidak percaya. Rahangnya mengeras sampai terdengar bunyi gemeretak gigi.

​"Kau..." Kairo maju satu langkah, auranya menggelap. "Apa maumu sebenarnya? Kau mau menantangku?"

​"Aku tidak menantangmu. Aku bernegosiasi," potong Elena cepat.

​Dia berdiri tegak, menyodorkan tumpukan dokumen yang baru saja diprint-nya ke depan wajah Kairo. Kertas-kertas itu hampir menabrak hidung mancung sang CEO.

​"Baca," perintah Elena. Nadanya bukan permohonan. Itu perintah.

​Kairo menepis tangan Elena kasar, tapi matanya sempat menangkap judul besar di halaman depan dokumen itu.

​PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET 

​Dua detik berlalu dalam keheningan total.

​Kairo tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan penuh ejekan.

​"Pengakhiran kerjasama?" ulang Kairo dengan nada geli yang menyakitkan. Dia merebut dokumen itu dari tangan Elena, bukan untuk membacanya, tapi untuk mengejeknya. "Sejak kapan pernikahan kita dianggap kerjasama? Kerjasama itu butuh dua pihak yang setara, Sora. Kau cuma benalu yang menempel di pohon besar."

​"Benalu ini sadar diri dan ingin turun dari pohon," balas Elena tak kalah tajam. "Justru karena aku sadar posisi kita tidak setara, aku mengajukan resign. Aku mengundurkan diri sebagai istrimu."

​Kata "Resign" terdengar asing di mulut Sora. Kairo menatap istrinya tajam. Dia mulai membalik halaman dokumen itu dengan kasar. Matanya bergerak cepat membaca poin-poin yang diketik Elena.

​Pelunasan hutang kartu kredit...

Apartemen studio...

Uang tunai 5 Miliar...

​Mata Kairo menyipit saat membaca angka-angka itu.

​"Lima miliar?" Kairo mendengus sinis, matanya berkilat marah. "Jadi ini harga nyawamu? Kau bikin drama sayat tangan di kamar mandi cuma untuk memeras lima miliar dariku? Kenapa tidak minta sepuluh miliar sekalian?"

​"Karena aku realistis," jawab Elena tenang, menyilangkan tangan di dada. Dia bersandar di pinggiran meja rias, menatap Kairo tanpa rasa takut. "Lima miliar itu angka yang masuk akal untuk pesangon kerja keras selama satu tahun menjadi istrimu. Menahan emosi menghadapi sikap dinginmu, pura-pura bahagia di depan media, dan mengurus rumah tangga yang kosong melompong ini. Itu pekerjaan berat, Kairo. Dan kau bos yang pelit."

​"Kerja keras?" Kairo membanting dokumen itu ke meja kaca hingga menimbulkan suara brak yang keras. Gelas kopi Elena bergetar. "Kerja kerasmu cuma menghabiskan limit kartu kredit dan mempermalukanku di pesta sosialita!"

​"Makanya aku berhenti!" sentak Elena. Suaranya meninggi satu oktaf, memotong bentakan Kairo.

​Napas Elena memburu. Dia menunjuk dokumen di meja itu dengan telunjuknya.

​"Aku tahu aku istri yang buruk. Aku tahu kau membenciku. Aku tahu kau jijik melihatku. Makanya aku memberimu jalan keluar! Tanda tangani kertas itu, transfer uangnya, dan kau tidak perlu melihat wajahku lagi seumur hidupmu. Kita selesai. Kau bebas, aku bebas. Kita bicara bisnis di pengadilan agama minggu depan."

​Elena menatap lurus ke dalam mata hitam legam Kairo.

​"Aku serius, Kairo. Aku tidak main-main. Aku muak dengan pernikahan ini. Aku muak denganmu."

​Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja. Itu bukan perasaan Elena, tapi entah kenapa, rasanya sangat memuaskan untuk diucapkan. Mungkin sisa-sisa jiwa Sora di dalam tubuh ini sedang bersorak kegirangan.

​Kairo terdiam.

​Kata-kata "Aku muak denganmu" menggantung di udara.

​Selama ini, Sora selalu bilang "Aku mencintaimu". Sora selalu bilang "Jangan tinggalkan aku". Sora rela melakukan hal-hal bodoh hanya demi dilirik oleh Kairo.

​Tapi sekarang, wanita ini bilang dia muak?

​Ekspresi marah di wajah Kairo perlahan berubah. Kemarahannya tidak surut, tapi berubah bentuk. Dari kemarahan karena diganggu, menjadi kemarahan karena... ditolak.

​Ego laki-lakinya terusik.

​Dia, Kairo Diwantara, pria yang dikejar ribuan wanita, baru saja dicampakkan oleh istri yang selama ini mengemis cintanya?

​"Kau muak?" bisik Kairo pelan. Suaranya terdengar jauh lebih berbahaya daripada teriakannya tadi.

​Dia melangkah maju perlahan. Tatapannya terkunci pada bibir Elena yang baru saja mengucapkan kalimat laknat itu.

​Elena merasakan alarm bahaya berbunyi di kepalanya. Insting bertahan hidupnya berteriak: Mundur, Elena. Pria ini tidak stabil.

​Elena mencoba mundur selangkah, tapi pinggangnya membentur meja rias. Dia terperangkap.

​"Ya, aku muak," Elena memaksakan diri untuk tetap mendongak, menantang tatapan predator itu. "Kenapa? Kaget karena istrimu yang bodoh akhirnya punya otak? Cepat tanda tangani dan keluar dari kamarku."

​"Kamarmu?" Kairo tertawa pelan. Tawa yang tidak ada lucunya sama sekali. "Ini rumahku, Sora. Setiap inci dari tempat ini milikku. Termasuk kau."

​Tangan Kairo bergerak cepat menyambar dokumen di atas meja.

​Elena pikir pria itu akan mengambil pena untuk tanda tangan. Dia sudah siap tersenyum kemenangan.

​Tapi Kairo tidak mengambil pena.

​Kedua tangan kekar pria itu mencengkeram tumpukan kertas itu di kedua sisinya.

​Sreeet!

​Bunyi kertas robek terdengar memilukan.

​Mata Elena terbelalak. "Apa yang kau lakukan?!"

​Kairo merobek "Proposal Pengakhiran Kerjasama" yang sudah disusun Elena dengan susah payah itu menjadi dua bagian. Lalu dia menumpuknya, dan merobeknya lagi menjadi empat. Lalu delapan.

​Pria itu menghancurkan kontrak Elena tanpa mengedipkan mata, seolah sedang merobek sampah.

​"Itu... itu hasil kerjaku!" protes Elena marah. Dia mencoba merebut serpihan kertas itu, tapi Kairo melempar potongan-potongan kertas itu ke udara.

​Serpihan kertas putih menghujani mereka berdua seperti salju di neraka.

​"Omong kosong," desis Kairo. Dia menepis tangan Elena yang mencoba memukul dadanya. "Bisnis? Pengadilan? Kau pikir semudah itu?"

​Kairo maju satu langkah besar, menghilangkan jarak di antara mereka. Tubuh tingginya menjulang di atas Elena, menutupi cahaya lampu, menciptakan bayangan gelap yang menelan tubuh kecil Elena.

​Dia menghentakkan kedua tangannya ke pinggiran meja rias, tepat di sisi kiri dan kanan pinggang Elena. Mengurungnya sepenuhnya.

​Elena terjebak. Di belakangnya meja rias yang keras, di depannya dada bidang Kairo yang naik turun menahan emosi. 

Aroma maskulin pria itu—campuran musk, tembakau mahal, dan feromon kemarahan—langsung menyerbu hidung Elena, membuatnya sesak napas.

​"Kau pikir pernikahan ini pintu putar hotel? Bisa masuk dan keluar kapan saja kau mau?" Kairo menundukkan wajahnya, mendekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

​Mata hitamnya menatap Elena dengan intensitas yang membakar. Ada api posesif yang menyala di sana. Api gila yang tidak seharusnya ada pada pria yang membenci istrinya.

​"Kau menandatangani kontrak seumur hidup saat kau memaksa masuk ke keluargaku setahun lalu, Sora," bisik Kairo serak. Suaranya bergetar rendah, mengirimkan sensasi aneh ke sepanjang tulang punggung Elena.

​Elena menahan napas. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena cinta, tapi karena adrenalin murni menghadapi bahaya. Dia menatap balik mata itu, mencoba mencari celah rasionalitas.

​"Kontrak bisa dibatalkan kalau ada penalti," balas Elena nekat, suaranya sedikit tercekat tapi tetap keras kepala. "Aku bayar penaltinya. Lepaskan aku."

​"Tidak ada penalti berupa uang," Kairo memiringkan kepalanya sedikit, menatap bibir Elena lalu kembali ke matanya. Senyum miring yang kejam terukir di wajah tampannya.

​"Kau mau main bisnis denganku? Baik. Aturan pertamaku: Aku tidak pernah melepaskan asetku. Sekalipun aset itu sampah."

​Tangan kanan Kairo terlepas dari meja, bergerak naik menyentuh dagu Elena, mencengkeramnya lembut tapi memaksa wanita itu untuk terus mendongak menatapnya.

​"Kau ingin keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sayang. Rapat belum selesai, dan kau masih milikku."

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!