Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari Melbourne
Kamar tidur utama di lantai dua itu tampak seperti kapal pecah. Baju-baju branded berserakan di lantai, kotak-kotak sepatu terbuka, dan beberapa tas tangan mewah tergeletak begitu saja di atas kasur.
Sisca duduk di tengah kekacauan itu dengan napas memburu. Matanya bengkak sisa menangis, tapi kini air mata itu telah kering, berganti dengan kilatan tekad yang nyalang.
"Nggak," desis Sisca, tangannya mencengkeram erat tas Hermes Birkin kesayangannya. "Aku nggak akan biarkan bank menyita ini. Aku nggak sudi jadi miskin cuma gara-gara perempuan kampung itu."
Di sudut kamar, Rendy duduk termenung sambil menatap lantai. Pria itu tampak pasrah, mentalnya sudah remuk sejak diusir dari kantor Alina.
"Ren, jangan diam aja dong!" bentak Sisca, melempar bantal ke arah suaminya. "Pikirin cara! Masa kita diem aja nunggu rumah ini disita lusa?"
"Mau cara apa lagi, Sis?" jawab Rendy lemah. "Semua aset Papa kamu sudah dijaminkan. Kontrak putus. Kita nggak punya uang tunai buat bayar bunga bank bulan ini. Terima kenyataan aja, kita harus pindah ke kontrakan."
"Kontrakan?!" Sisca melotot horor. "Kamu gila? Aku lagi hamil! Kamu mau anak kita lahir di tempat kumuh? Mau taruh di mana muka aku di depan teman-teman arisan?!"
Sisca bangkit berdiri, mondar-mandir dengan gelisah. Otaknya yang licik bekerja cepat, mencari celah, mencari jalan tikus yang bisa menyelamatkan gaya hidupnya.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada bingkai foto di meja rias. Foto liburan keluarga tahun lalu di Sydney. Di foto itu, Sisca merangkul seorang wanita paruh baya yang tampil glamor dengan latar Opera House.
"Tante Vina..." gumam Sisca.
Senyum merekah di bibirnya. Tante Vina—kakak kandung Papanya yang menikah dengan pengusaha properti sukses di Melbourne. Tante Vina yang tidak punya anak dan selalu memanjakan Sisca sejak kecil. Tante Vina yang tidak tahu menahu soal drama di Surabaya.
"Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi!" seru Sisca.
Ia menyambar ponselnya. Jemarinya dengan lincah mencari kontak 'Auntie Vina - AU'. Ia melihat jam dinding. Pukul tujuh malam di Surabaya, berarti sekitar pukul sebelas malam di Melbourne. Masih belum terlalu larut.
"Kamu mau ngapain?" tanya Rendy bingung.
"Mencari dewa penolong," jawab Sisca sambil memperbaiki tatanan rambutnya dan memoles sedikit bedak agar wajahnya terlihat pucat namun tetap cantik—wajah 'korban' yang sempurna.
Ia menekan tombol panggilan video.
Dering pertama. Dering kedua.
Layar ponsel menyala, menampilkan wajah wanita paruh baya yang sedang memakai masker wajah di kamar tidurnya yang mewah.
"Halo, Sisca sayang? Tumben telepon malam-malam?" sapa Tante Vina dengan logat campuran Indonesia-Inggris yang kental.
Sisca langsung berakting. Ia membiarkan bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Tante Vina..." panggil Sisca dengan suara serak yang dibuat-buat. "Sisca kangen Tante..."
"Lho? Kamu kenapa nangis, Nak? Ada apa? Papa Mama sehat kan?" Tante Vina langsung panik melihat keponakan kesayangannya bersedih.
"Papa sakit, Tan. Jantung Papa kumat tadi sore," isak Sisca. "Kami... kami lagi kena musibah besar."
Rendy menatap istrinya dengan takjub. Kemampuan Sisca berbohong dan memutarbalikkan fakta benar-benar kelas dunia.
"Musibah apa? Cerita sama Tante," desak Vina.
Sisca menarik napas panjang, lalu mulai menenun jaring kebohongannya.
"Bisnis Papa dihancurkan orang jahat, Tan. Ada saingan bisnis yang main kotor. Dia fitnah perusahaan Papa, sampai kontrak-kontrak besar diputus sepihak. Papa stres berat sampai sakit."
Sisca tidak menyebut nama Alina. Ia tidak menyebut soal korupsi mark-up kardus yang dilakukan ayahnya. Ia memosisikan keluarganya sebagai korban konspirasi jahat.
"Sekarang... rekening perusahaan dibekukan sementara. Padahal kami butuh dana cepat buat operasional dan bayar cicilan bank lusa. Kalau nggak, rumah Papa mau disita, Tan... Sisca takut. Sisca lagi hamil, Tante..." tangis Sisca pecah, kali ini air matanya keluar sungguhan karena ketakutan akan kemiskinan.
Di seberang telepon, wajah Tante Vina mengeras. Naluri pelindungnya muncul.
"Kurang ajar sekali orang itu! Siapa yang berani main-main sama keluarga Santoso?" omel Tante Vina. "Sudah, kamu jangan nangis. Kasihan baby-nya. Kamu butuh berapa buat nutupin masalah ini sementara?"
Sisca menghentikan tangisnya sejenak, melirik Rendy dengan senyum kemenangan sekilas, lalu kembali menatap layar.
"Dua... dua miliar, Tan. Buat nebus jaminan di bank dan muter modal awal lagi. Nanti kalau bisnis Papa udah jalan, Sisca janji balikin."
Rendy terbelalak. Dua miliar adalah angka yang fantastis.
Tante Vina tampak berpikir sejenak. Bagi dia yang suaminya raja properti di Melbourne, dua miliar rupiah (sekitar 200 ribu dolar Australia) adalah uang yang besar tapi tidak sampai membuatnya bangkrut.
"Oke," putus Tante Vina tegas. "Tante akan transfer besok pagi. Anggap ini pinjaman lunak tanpa bunga. Tapi ingat, pastikan Papa kamu sembuh dan bangkit lagi. Jangan biarkan orang jahat itu menang."
"Terima kasih, Tante! Terima kasih banyak! Tante penyelamat hidup Sisca!" seru Sisca girang.
"Ya sudah, kamu istirahat. Don't stress out. Tante urus transfernya besok."
Sambungan terputus.
Sisca melempar ponselnya ke kasur dan berteriak kegirangan. "YES! YES! KITA SELAMAT!"
Ia berlari memeluk Rendy yang masih bengong.
"Kamu denger itu, Ren? Dua miliar! Kita bisa bayar utang bank lusa! Rumah ini aman! Mobil kamu aman!"
Rendy melepaskan pelukan istrinya perlahan. Ia merasa lega karena tidak jadi bangkrut, tapi di sisi lain, ia merasa ngeri.
"Sis, kamu bohongin Tante Vina. Kamu nggak bilang kalau Papa kamu emang salah karena mark-up harga. Gimana kalau Tante Vina tahu?"
Sisca mendengus, kembali duduk di depan meja rias dan mulai membersihkan wajahnya.
"Tante Vina nggak perlu tahu detailnya. Yang penting dia tahu kita 'dizolimi'. Itu kuncinya."
Sisca menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah ketakutan tadi sudah hilang, berganti dengan wajah angkuh yang familiar.
"Dua miliar..." gumam Sisca. "Itu cukup buat napas. Dan cukup buat nyusun rencana balik."
Ia teringat wajah Alina di pesta. Wajah yang meremehkannya.
"Alina pikir dia sudah menang karena berhasil memutus kontrak Papa? Dia salah besar," ucap Sisca dingin. "Sekarang aku punya modal lagi. Aku nggak akan cuma bertahan. Aku akan cari cara buat ngejatuhin dia dari menara gadingnya."
Rendy menatap istrinya dengan khawatir. "Sis, udah lah. Kita bayar utang, terus hidup tenang aja. Jangan cari gara-gara lagi sama Alina. Dia dilindungi Wisnu Abraham."
"Justru itu, Ren!" potong Sisca tajam. "Alina cuma kuat karena dia nempel sama Wisnu. Kalau kita bisa bikin Wisnu nggak percaya lagi sama dia... Alina bakal ditendang ke jalanan. Dan saat itu terjadi, aku yang bakal ketawa paling keras."
Malam itu, di kamar mewah yang batal disita bank, Sisca Angela tidak tidur karena sedih. Ia tidur dengan senyum licik, memimpikan dua miliar rupiah yang akan menjadi bahan bakar barunya untuk memulai ronde kedua melawan Alina.
Perang belum berakhir. Alina boleh memenangkan pertempuran pertama, tapi Sisca baru saja mendapatkan bala bantuan dari selatan.