Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAKIM, PUBLIK, DAN KEBERANIAN SEORANG ANAK
Mentari pagi menyinari bangunan pengadilan Bandung dengan cahaya yang terang dan jernih. Hari ini, pengadilan untuk kasus pembunuhan Pak Hadian akan dimulai. Qinara berdiri di depan cermin kamar penginapan, mengenakan baju kemeja putih yang rapi dan rok biru tua—baju yang Pak Rio katakan cocok untuk seorang saksi, sederhana tapi terlihat sopan.
Pak Santoso berdiri di belakangnya, membelai kepala Qinara dengan lembut. "Nak, jangan takut. Semua orang ada di sini untukmu. Ayahmu juga akan menyertainya dari surga," ucapnya dengan nada penuh kasih.
Qinara mengangguk, tapi tangan dia masih gemetar. Dia melihat wajahnya di cermin—gadis kecil yang dulu ceria dan bahagia, sekarang telah berubah menjadi orang yang kuat dan penuh tekad. Dia tahu bahwa hari ini, semua mata akan tertuju padanya. Dia harus berbicara dengan jujur tentang apa yang dia lihat dan rasakan, bahkan jika itu menyakitkan.
Pak Rio tiba di kamar dengan Pak Slamet, yang juga akan bersaksi hari ini. Pak Slamet terlihat sedikit cemas, tapi matanya penuh tekad. "Kita siap, Nak. Kita akan bersama-sama melewati ini," katanya kepada Qinara.
Mereka berangkat ke pengadilan dengan mobil Pak Rio. Jalanan ke pengadilan penuh dengan mobil dan orang—banyak wartawan dan publik yang ingin menyaksikan pengadilan yang telah menjadi perbincangan di seluruh negeri. Qinara melihat mereka dari jendela mobil, dan merasa tekanan yang besar. Tapi dia juga merasa tekad yang lebih kuat—dia akan tidak pernah menyerah.
Ketika tiba di pengadilan, mereka langsung diantarkan ke ruang sidang. Ruangan itu luas dan terasa dingin, dengan kursi yang tersusun rapi di sekitar meja hakim. Di satu sisi, ada kursi untuk terdakwa—Arman dan Laras akan duduk di sana. Di sisi lain, ada kursi untuk saksi dan publik. Semua kursi sudah terisi, dan suasana ruang sidang terasa tegang.
Qinara duduk di kursi saksi bersama Pak Slamet. Dia melihat ke arah meja hakim, di mana Hakim Siti—wanita tua yang telah mengizinkan penangkapan Arman dan Laras—sedang duduk dengan wajah serius. Di belakang hakim, ada bendera Indonesia yang terbang tinggi, menjadi simbol keadilan dan kebenaran.
Beberapa menit kemudian, Arman dan Laras dibawa ke ruang sidang oleh pengawal. Laras menangis, menyembunyikan wajah di tangan. Arman hanya berdiri dengan wajah kosong, tidak menunjukkan rasa bersalah apapun. Dia melihat Qinara dengan tatapan kejam, seolah ingin membunuhnya dengan pandangannya.
Hakim memukul genta, dan semua orang berdiri. "Sidang dimulai," katanya dengan suara yang kuat dan jelas.
Jaksa penuntut umum Pak Adi berdiri dan mulai membaca tuduhan. "Kami menuduh Laras dan Arman telah melakukan pembunuhan dengan niat terhadap Hadian, pengusaha pertambangan yang sukses. Kami juga menuduh mereka telah melakukan penggelapan harta senilai milyaran rupiah yang menjadi milik Hadian dan warisannya, Qinara."
Setelah membaca tuduhan, Pak Adi memanggil saksi pertama: Pak Slamet. Pak Slamet berdiri dan berjalan ke meja saksi. Dia membaca sumpah untuk berbicara jujur, kemudian mulai menceritakan apa yang dia lihat pada hari kecelakaan.
"Aku sedang bekerja di sawah di dekat jalan raya Jakarta-Bandung, ketika aku melihat mobil hitam sedang mengemudi dengan cepat. Tiba-tiba, truk besar keluar dari jalan buntu dan menabrak mobil itu dengan keras. Mobil hitam terbalik dan terjatuh ke tebing. Truk itu berhenti sebentar, lalu melarikan diri," katanya dengan suara tegas.
"Apakah Anda bisa mengenali pengemudi truk itu?" tanya Pak Adi.
"Ya, Pak. Pengemudi truk itu laki-laki tinggi berambut hitam—itu orang yang duduk di sana," kata Pak Slamet, menunjuk ke arah Arman. "Dan ada seorang wanita dengan rambut pirang di dalam truk itu—itu istri Hadian, Laras."
Suara kaget terdengar dari publik. Arman marah dan ingin berdiri, tapi pengawal menahannya. Laras menangis semakin keras, menyebut namanya sendiri dengan suara lirih.
Pengacara Arman dan Laras kemudian melakukan pertanyaan balas. Mereka mencoba merendahkan kesaksian Pak Slamet, mengatakan bahwa dia adalah orang tua yang lupa dan memiliki dendam pada terdakwa. Tapi Pak Slamet tetap tegas. "Aku tidak lupa, dan aku tidak memiliki dendam. Aku hanya ingin memberitahu kebenaran," katanya.
Setelah Pak Slamet selesai bersaksi, giliran Qinara tiba. Dia berdiri dengan hati-hati, tangan dia masih gemetar. Dia berjalan ke meja saksi, dan melihat ke arah hakim. Hakim Siti melihatnya dengan mata yang penuh kasih, seolah memberinya kekuatan.
"Siapakah namamu dan berapa usiamu?" tanya Pak Adi.
"Nama saya Qinara, usia saya enam tahun," jawab Qinara dengan suara lirih. Semua orang di ruang sidang mendengarkan dengan seksama, tidak ingin melewatkan satu kata pun yang dia ucapkan.
"Qinara, bisakah Anda menceritakan apa yang Anda ketahui tentang kematian ayahmu?"
Qinara mengangguk dan mulai berbicara. Dia menceritakan bagaimana dia seringkali memergoki ibunya berbicara lirih di telepon, bertemu dengan Arman di tempat-tempat tersembunyi, dan pertengkaran hebat antara ayah dan ibunya malam sebelum ayahnya meninggal.
"Ayahku marah pada ibuku karena dia berselingkuh. Dia berkata dia akan mengajukan perceraian dan mengambil semua harta. Malam itu, aku mendengar ibunya berbicara dengan Arman di telepon. Dia berkata, 'Kita harus mengakhiri semua ini sebelum dia pergi ke luar kota,'" kata Qinara, air mata mulai menumpuk di matanya.
"Setelah ayahku meninggal, ibunya membawa Arman dan anaknya ke rumah. Dia mengusirku dan tidak mau aku membawa apapun kecuali pakaian di tubuhku dan kotak pemberian ayahku. Aku tahu ibunya dan Arman membunuh ayahku untuk mengambil hartanya," lanjut Qinara dengan suara yang semakin tegas.
Pak Adi kemudian meminta Qinara untuk menunjukkan kotak pemberian ayahnya. Di dalam kotak itu, ada foto-foto kenangan dan surat yang ayahnya tulis—surat yang menunjukkan betapa banyak ayahnya mencintainya dan berharap padanya. Semua orang di ruang sidang melihat kotak itu dengan rasa hormat, menyadari bahwa itu adalah satu-satunya yang tersisa dari Pak Hadian.
Pengacara Arman, seorang pria tua dengan suara yang keras dan mengancam, kemudian melakukan pertanyaan balas. "Qinara, apakah Anda yakin bahwa Anda mendengar ibunya berbicara seperti itu? Anda cuma anak kecil, mungkin Anda salah dengar atau membuatkan cerita?"
Tears streamed down Qinara's face, but her voice was steady. "Tidak, Pak. Aku tidak salah dengar. Aku mendengar dengan jelas. Ibunya ingin membunuh ayahku. Aku tidak membuatkan cerita—semua yang aku katakan adalah kebenaran."
"Ataukah Anda hanya marah pada ibunya karena dia mengusirkannya? Mungkin Anda ingin membalas dendam?" tanya pengacara itu lagi, mencoba merendahkan dia.
Qinara marah. Dia berdiri tegak dan melihat pengacara itu dengan mata yang penuh kebenaran. "Aku tidak marah, Pak. Aku sedih karena aku kehilangan ayahku. Aku hanya ingin mendapatkan keadilan untuknya. Dia adalah orang yang baik dan tidak layak mati seperti itu."
Suara kekaguman terdengar dari publik. Hakim Siti melihat Qinara dengan rasa hormat. "Cukup, Pak Pengacara. Kita sudah mendengar cukup banyak dari saksi ini. Anak kecil ini telah menunjukkan keberanian yang luar biasa," katanya.
Setelah Qinara selesai bersaksi, Pak Rio menyampaikan pembelaan. Dia menunjukkan bukti surat wasiat, catatan keuangan yang menunjukkan bahwa Arman dan Laras telah mengambil uang dari perusahaan Pak Hadian, dan laporan polisi tentang kecelakaan yang bukanlah kebetulan.
"Yang terhormat Hakim, bukti yang kita miliki adalah sangat kuat. Laras dan Arman telah melakukan kejahatan yang tidak dapat dimaafkan. Mereka telah membunuh seorang pria yang baik hanya untuk mengambil hartanya, dan telah mengusir anaknya dari rumah sendiri. Mereka harus mendapatkan hukuman yang pantas," kata Pak Rio dengan suara tegas.
Setelah semua saksi selesai bersaksi, hakim memberitahu bahwa dia akan mempertimbangkan putusan dan mengumumkannya esok pagi. Semua orang di ruang sidang keluar dengan hati yang penuh harapan dan ketegangan. Qinara merasa lelah tapi lega—dia telah melakukan yang terbaiknya.
Mereka kembali ke penginapan dengan suasana yang tenang. Semua orang bangga padanya—dia telah menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk seorang anak berusia enam tahun. Pak Santoso memeluknya dengan erat. "Kamu luar biasa, Qinara. Ayahmu pasti sangat bangga padamu," katanya.
Malam itu, Qinara tidak bisa tidur. Dia membaca surat ayahnya lagi dan lagi, memikirkan apa yang akan terjadi esok. Apakah hakim akan memberikan putusan yang adil? Apakah Arman dan Laras akan mendapatkan hukuman yang pantas?
Keesokan pagi, mereka kembali ke penginapan. Ruang sidang semakin ramai—lebih banyak wartawan dan publik yang ingin mendengar putusan. Qinara duduk di samping Pak Rio dan Pak Santoso, tangan dia menggenggam erat tangan Pak Santoso.
Hakim Siti masuk ke ruang sidang, dan semua orang berdiri. Wajahnya serius dan penuh pertimbangan. Dia berdiri di depan meja dan mulai berbicara.
"Setelah mempertimbangkan semua bukti dan kesaksian yang diajukan selama pengadilan, saya memutuskan untuk mengesahkan tuduhan terhadap Laras dan Arman. Kedua terdakwa terbukti bersalah melakukan pembunuhan dengan niat terhadap Hadian dan penggelapan harta senilai milyaran rupiah."
Suara kegembiraan terdengar dari seluruh ruang sidang. Qinara menangis sejadi-jadinya—akhirnya, ayahnya mendapatkan keadilan.
"Hukuman yang akan diberikan adalah penjara seumur hidup untuk kedua terdakwa, dan pengembalian semua harta yang dicuri kepada waris Hadian, yaitu Qinara," lanjut Hakim Siti.
Laras menangis sejadi-jadinya, akhirnya menyadari kesalahannya. Arman hanya berdiri dengan wajah kosong, seolah tidak percaya pada putusan yang diberikan. Pengawal membawa mereka keluar dari ruang sidang, dan semua orang menyambut Qinara dengan sorakan kegembiraan.
Mereka keluar dari pengadilan dan dikelilingi oleh wartawan. Mereka bertanya banyak pertanyaan tentang perjuangannya dan harapannya untuk masa depan. Qinara menjawabnya dengan senyum. "Aku senang ayahku mendapatkan keadilan. Sekarang, aku ingin fokus pada pelajaranku dan menjadi pengacara yang baik untuk membantu orang lain yang menderita," kata dia.
Pak Rio membimbing Qinara keluar dari kerumunan. Di luar pengadilan, matahari bersinar terang, memberikan cahaya pada masa depan yang cerah. Qinara memandang langit dan berdoa kepada ayahnya. "Ayah, terima kasih telah memberiku kekuatan untuk melakukannya. Kamu bisa tenang sekarang—kejahatan telah dibayar. Aku akan membuatmu bangga, ayah. Aku akan menjadi orang yang kamu harapkan."
Perjuangan yang panjang telah berakhir. Keadilan telah menang. Dan Qinara siap untuk memulai hidup baru yang penuh harapan dan harapan.