Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dibawah sinar matahari yang terik, Jihan terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Adrenalin dari perkelahian, ditambah harapan yang baru tumbuh di dadanya, membuatnya tak lagi merasakan lelah. Pikirannya berkecamuk. Darah menetes perlahan dari pelipisnya, tapi ia tak peduli. Seluruh fokusnya hanya tertuju pada satu hal: segera tiba di rumah dan membagikan kabar yang ia bawa.
Dengan napas tersengal, ia akhirnya sampai di depan gubuk kecil mereka yang reot. Tanpa sempat mengatur napas atau menghapus darah yang mengalir di wajahnya, ia mendorong pintu kayu tua yang berderit, lalu menerobos masuk.
Suasana remang dan sunyi segera menyelimuti begitu ia melangkah ke dalam. Di atas pembaringan sederhana, ibunya terbaring lemah. Mendengar langkah kaki putranya, wanita itu menoleh ke arah pintu, seakan menanti kepulangan Jihan yang sebelumnya pergi begitu saja. Namun, senyum hangat yang biasanya menyambutnya kini tak lagi tampak, tergantikan oleh raut cemas yang membayang di wajah pucatnya.
"Jihan, apa yang terjadi pada pelipismu?"
Suaranya terdengar lebih kuat dari yang pernah Jihan dengar selama berbulan-bulan, sebuah energi yang jelas lahir dari kepanikan seorang ibu. Matanya tak lepas dari jejak darah yang mengotori wajah putranya, mengabaikan kondisi lemahnya sendiri.
Melihat kepanikan itu, Jihan menggeleng cepat. Sambil berusaha mengatur napasnya yang masih memburu, ia mengangkat satu tangan, sebuah isyarat agar ibunya tenang.
"Bukan apa-apa, Bu."
Namun, naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi begitu saja.
Mengabaikan ucapan putranya, Wulandari bertumpu pada lengannya yang kurus dan gemetar, berusaha memaksa tubuhnya untuk bangkit duduk di pembaringan. Setiap inci gerakan itu adalah sebuah perjuangan yang menyakitkan, terlihat dari kerutan dalam di keningnya dan cara ia menahan napas untuk menahan nyeri.
Melihat perjuangan ibunya, Jihan tak bisa hanya diam. Ia bergegas ke sisi pembaringan dan dengan lembut menahan bahu ibunya, merasakan getaran lemah dari tubuh ringkih itu di bawah telapak tangannya.
“Ibu, sudah, jangan bergerak,”
“Jihan mohon, berbaringlah lagi.”
Wulandari menggelengkan kepalanya pelan.
“Ambil kain bersih dan air, Nak. Biar Ibu obati.”
Melihat Wulandari memaksa diri, hati Jihan terasa perih. Ia segera berlutut di sampingnya, memohon agar ibunya tidak perlu mencemaskannya.
“Biar Jihan saja bu…”
Namun, Wulandari hanya membalasnya dengan tatapan yang teguh. Tatapan itu bukan permintaan, melainkan sebuah perintah lembut yang lahir dari kasih sayang. Sama seperti Jihan yang merawatnya kemarin, hari ini ibunya pun ingin menunjukkan baktinya, sekalipun hanya dengan perbuatan kecil seperti ini.
Menghela napas pasrah, Jihan akhirnya mengalah. Ia berdiri dan melangkah ke bagian belakang gubuk, lalu kembali tak lama kemudian. Di tangannya ada sebuah baskom kecil berisi air hangat dan secarik kain bersih, yang ia letakkan dengan sangat hati-hati di sisi pembaringan Wulandari.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena menahan sakitnya sendiri, Wulandari mencelupkan kain itu, memerasnya, lalu mulai menyeka tepi luka di pelipis putranya. Sentuhannya nyaris tanpa bobot, begitu hati-hati seolah sedang membersihkan porselen yang paling berharga.
Jihan memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam sensasi dingin dari kain basah yang beradu dengan hangatnya tangan ibunya yang rapuh. Dalam keheningan itu, ia tidak perlu berkata apa-apa, dan ibunya tidak perlu bertanya. Ikatan batin di antara mereka terasa begitu kuat, begitu nyata.
Sebuah ironi yang indah sekaligus menyakitkan. Di saat ia berjuang keras untuk merawat ibunya, justru wanita yang terbaring lemah inilah yang tetap menjadi sauh kekuatannya; satu-satunya tempat ia untuk pulang.
Setelah memastikan lukanya bersih, Wulandari menatap putranya dengan tatapan penuh tanya, menunggu penjelasan. Ia tahu Jihan pergi ke pasar untuk membeli obat untuknya, namun tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa putranya pulang dalam keadaan terluka. Jihan membuka mata, lalu dengan lembut mengambil alih kain dari tangan ibunya dan menggenggam tangan itu dengan erat.
“Maaf, Bu,”
“Pil penyembuh yang kita butuhkan… sudah habis di pasar.”
Rasa sakit yang tajam, lebih perih dari penyakit di tubuhnya sendiri, menusuk hatinya. Ia menatap wajah lelah itu, melihat bagaimana putranya berusaha tegar demi dirinya, dan rasa bersalah yang berat terasa menghimpit dadanya.
Anak ini telah berjuang begitu keras. Dan ia merasa hanya bisa membalasnya dengan menjadi beban, menyeretnya ke dalam jurang keputusasaan yang sama.
“Anakku,” panggilnya lembut, tangannya yang rapuh balas menggenggam tangan Jihan.
“Dengarkan Ibu baik-baik.”
“Lupakan soal pil dan obat. Bagi Ibu, obat yang paling mujarab adalah dirimu. Selama kau ada di sisi Ibu, sehat, dan bisa tersenyum… itu sudah lebih dari cukup.”
Mata Jihan berkaca-kaca mendengar ucapan tulus itu.
" Justru karena aku ingin Ibu sehat dan bisa melihatku tersenyum lagi, Bu,”
“Karena itulah aku berjuang. Dan… aku membawa kabar baik.”
Jihan tidak membiarkan ibunya bertanya lebih jauh. Dengan cepat namun jelas, ia menceritakan semua yang terjadi: pertarungannya dengan Gading yang tak terhindarkan, dan informasi berharga yang ia dapatkan sebagai gantinya.
"Lusa pagi,”
“Perguruan Pedang Awan akan datang ke desa untuk mengadakan seleksi murid.”
Mendengar nama besar itu, Wulandari terdiam. Genggaman tangannya pada tangan Jihan tanpa sadar mengerat. Ia bisa melihatnya dengan jelas sekarang, api tekad yang menyala terang di mata putranya, sebuah api yang lahir dari keputusasaan dan kini berkobar liar karena secercah harapan.
Wulandari tahu betul betapa berbahayanya dunia bela diri. Dalam benaknya, tergambar jelas sebuah dunia asing dan kejam, dunia para pendekar yang dipenuhi pertarungan, ambisi, dan darah. Dunia yang bisa menelan putranya yang polos, tanpa pernah memberinya kesempatan untuk kembali.
“Jihan…”
“Dunia para pendekar itu… berbahaya, Nak.”
Jihan tidak goyah. Sebaliknya, tatapannya yang semula tajam kini melembut, dipenuhi empati untuk ketakutan terbesar ibunya. Ia balas meremas tangan Wulandari dengan lembut, seolah ingin menyalurkan keyakinannya.
"Lebih berbahaya mana dengan melihat Ibu seperti ini setiap hari?"
Pertanyaannya tidak menuntut jawaban, karena keduanya tahu kebenarannya. Ia menatap sekeliling gubuk mereka yang sempit dan pengap, pada selimut tipis yang menutupi tubuh ibunya, pada pil obat yang tak lagi mempan. Itulah bahaya yang nyata, yang menggerogoti mereka perlahan-lahan setiap hari.
Ia kembali menatap mata ibunya, menumpahkan seluruh keyakinan dan janjinya dalam setiap kata.
“Ini adalah kesempatan kita, Bu. Kesempatan yang diberikan oleh Langit,”
“Aku akan ikut seleksi itu.”
“Aku akan menjadi kuat, sekuat para pendekar abadi itu. Aku akan belajar, dan aku akan menemukan cara untuk menyembuhkan Ibu.”
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, tatapannya lurus dan jujur, mengunci pandangan ibunya.
“Aku janji.”
Janji itu menggantung di udara yang senyap, terasa lebih kokoh dari kayu ulin yang membangun balai desa. Air mata akhirnya mengalir di pipi Wulandari yang tirus, namun kali ini rasanya sungguh berbeda. Janji yang baru saja diucapkan Jihan itu bukan lagi sekadar kata-kata di dalam dirinya; itu adalah sauh yang kini mengikat harapan mereka berdua.
Oleh karena itu, yang mengalir bukan lagi air mata keputusasaan yang dingin, melainkan air mata haru yang hangat, yang lahir dari campuran rasa takut akan bahaya dan harapan yang membuncah. Setelah hampir lima tahun terbaring pasrah, putranya baru saja memberinya sebuah alasan…. alasan terkuat, untuk kembali berjuang dan berharap.
Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Jihan. Itu adalah jawaban tanpa kata yang menyiratkan segalanya… restu, doa, sekaligus ketakutan.
Di dalam gubuk kecil yang remang itu, takdir mereka mulai ditempa, seperti bara kecil yang akhirnya menemukan embusan angin untuk berkobar.