NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Gadis Sekolah Menengah Atas di Markas Komando

Menutup mata adalah hal terakhir yang dilakukan sang ayah sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Isak tangis Maya Anindya pecah seketika hingga tubuhnya terguncang hebat di samping ranjang rumah sakit yang kini terasa sangat sunyi. Dia merasa dunianya runtuh dalam sekejap tanpa menyisakan harapan sedikit pun untuk masa depan yang cerah.

"Cukup tangisannya, sekarang berdiri dan ikut saya," ucap Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat dingin dan menusuk. Suaranya seperti es yang membekukan udara di ruangan yang sudah dingin.

Maya Anindya mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata serta tatapan yang penuh dengan kilatan amarah. Setiap butir air mata yang menetes terasa seperti bara yang membakar kulitnya. Dia tidak percaya bahwa pria di hadapannya bisa bersikap sekejam itu di saat jasad ayahnya bahkan belum menjadi dingin. Keberanian muncul di dalam dadanya untuk menentang sosok yang terlihat seperti tembok batu yang tak tergoyahkan itu.

"Anda tidak punya hati karena menyuruh saya pergi saat ayah saya baru saja tiada!" teriak Maya Anindya dengan suara yang serak dan parau. Suaranya hanya bisa terdengar lemah, namun kekerasannya cukup membuat Arga berhenti sejenak.

Arga Dirgantara tidak bergeming sedikit pun melainkan justru melangkah maju hingga ujung sepatunya menyentuh lantai di bawah kaki sang gadis. Jarak antara mereka semakin dekat, membuat Maya merasa terkurung dan tertekan. Rahangnya terlihat sangat mengeras dan tatapan matanya semakin menajam seolah sedang memberikan tekanan mental yang luar biasa besar. Dia segera mencengkeram lengan Maya Anindya agar gadis itu berdiri dari posisinya yang sedang bersimpuh lemas.

"Waktu kita sangat terbatas karena musuh tidak akan menunggu tangisanmu selesai," tegas Arga Dirgantara sambil menarik paksa tubuh mungil itu. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan menerima penolakan.

Cengkeraman tangan yang sangat kuat dan kokoh itu membuat Maya Anindya tidak memiliki pilihan selain mengikuti langkah kaki sang perwira yang sangat lebar. Dia berusaha melangkah seiring dengan Arga, namun langkahnya selalu tertinggal dan membuatnya ter踉跄. Mereka menyusuri lorong rumah sakit yang sangat panjang dan sepi menuju sebuah mobil dinas berwarna hijau tua yang sudah menunggu di depan pintu keluar. Gadis itu terus meronta namun tenaga pria berseragam itu jauh lebih perkasa dibandingkan dengan kekuatan tangannya yang kecil.

"Lepaskan saya atau saya akan berteriak sekeras mungkin agar semua orang tahu kejahatan Anda!" ancam Maya Anindya dengan napas yang memburu. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara takut, marah, dan kesedihan membuat dia sulit bernapas.

Arga Dirgantara justru mempercepat langkahnya tanpa memedulikan ancaman siswi remaja yang kini sudah resmi menjadi tanggung jawab penuhnya. Dia tidak mau membuang waktu lagi karena rasa bahaya yang terus tumbuh di dalam hatinya. Dia membukakan pintu mobil dengan kasar lalu mendorong Maya Anindya masuk ke dalam kursi penumpang dengan gerakan yang sangat cepat serta efisien. Pria itu segera mengunci semua pintu dari arah kemudi dan menjalankan mesin kendaraan tersebut hingga suaranya menggelegar di pelataran parkir.

"Berteriaklah sesukamu karena di Markas Komando tidak ada satu orang pun yang akan menolongmu keluar dari genggamanku," ucap Arga Dirgantara sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Suaranya tegas dan pasti, membuat Maya menyadari bahwa ancamannya bukan omong kosong, dia benar-benar akan dibawa ke tempat yang tidak akan memberikan jalan keluar baginya.

 

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!