Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUTAN
"Bangsaaaaat!"
Setengah lamunan Salma pecah saat mendengar suara teriakan dari kelas sebelah. Ia segera beranjak dari kursinya lalu melangkah cepat keluar dari ruang guru.
Suara itu perlahan meredam. Hanya tersisa gumam samar yang menggantung di udara—bukan karena kehadiran Salma yang baru saja melangkah masuk ke kelas, melainkan karena salah satu murid tiba-tiba berdiri dan menghentikan pertengkaran itu.
“Udah cukup,” Ucapnya tegas, suaranya tidak keras, tapi cukup untuk memotong emosi yang nyaris meledak. Pandangannya menyapu dua orang yang sejak tadi saling menuding. "Ada Bu Salma!" Tambahnya.
Salma terdiam di ambang pintu. Tangannya saling mencengkeram, jemarinya dingin oleh gugup yang tiba-tiba menyeruak. Setelah menarik napas singkat, ia melangkah masuk, berdiri di antara keduanya yang masih saling menatap dengan sorot keras. “Ada apa ini?” Tanyanya.
Suaranya tidak tinggi, namun cukup untuk membuat keduanya terhenyak. Ruangan itu kembali sunyi. Beberapa pasang mata tertuju pada Salma, sebagian menunggu, sebagian lainnya menahan rasa ingin tahu. Detik-detik berjalan lambat, seolah kelas itu menahan napas.
"Kenapa kalian ribut di dalam kelas?!" Desak Salma menatap kedua murid tersebut. "Kalian tahu kan ini area sekolah yang harus kalian—"
"HAPPY BIRTHDAY BU SALMAAAAA...!" Celetuk seseorang.
Mata Bu Salma langsung tertuju pada seorang siswa laki-laki yang melangkah maju sambil membawa sebuah kue ulang tahun. Api lilin kecil di atasnya berpendar lembut, kontras dengan wajahnya yang tampak gugup namun berusaha tersenyum.
Pandangannya sempat bersembunyi di balik kerumunan murid lain, seolah mencari keberanian sebelum akhirnya benar-benar berdiri di hadapan gurunya. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap, dengan bahu yang lebih bidang dibandingkan teman-temannya—membuatnya tampak menonjol meski ia berusaha merendah.
Salma terenyuh. Dadanya terasa hangat oleh perhatian yang tak ia duga. Sorak kecil dan tawa tertahan dari murid-murid lain menyusul, memenuhi kelas dengan suasana akrab yang jarang tercipta.
“Its surprise for Bu Salma,” Ucap murid laki-laki itu akhirnya, suaranya sedikit bergetar namun tulus.
Bu Salma menutup mulutnya perlahan, matanya berkaca-kaca. Senyum yang terukir di wajahnya bukan sekadar senyum seorang guru, melainkan senyum seseorang yang merasa dihargai—bahwa kehadirannya di kelas ini, diam-diam, berarti. "Pu-Putra." Lirihnya.
Matanya kembali menyapu ke setiap murid lainnya. "Ka-Kalian... Ibu kan bukan wali kelas kalian. Tapi, kenapa kalian—"
"Ibu memang bukan wali kelas kita, kok." Sanggah Putra, laki-laki yang kini telah berhadapan dengan Salma, cukup dekat. Bahunya bidang, posturnya tegap seolah terbiasa menahan beban—entah latihan atau tanggung jawab yang ia pikul diam-diam. Tatapannya lurus, nada suaranya mantap tanpa terdengar kurang ajar, justru sarat keyakinan. "Tapi Ibu juga guru kita. Guru yang udah ngajarin kita."
"Ya ampun, kalian..." Lirih Salma, hatinya bukan lagi terenyuh. Ia tak menyadari air mata perlahan jatuh dari sarangnya.
"Ini ide Putra kok, Bu." Seru salah satu murid dari bangku belakang.
"Oh, ya...?" Dahi Salma berkerut memandang lurus Putra.
Ya. Meski guru-guru lain kerap mencap Putra sebagai murid berandal yang tak tahu aturan, tak punya sopan santun, dan selalu identik dengan masalah yang nyatanya ada sisi lain dari dirinya yang jarang dilihat. Ternyata di balik wajah keras dan sikap acuh yang sering ia pasang, Putra justru memiliki kepekaan yang tak semua orang punya. Ia mungkin tak pandai merangkai kata manis atau menundukkan kepala dengan tata krama berlebihan, tetapi caranya menghormati orang lain hadir dalam bentuk yang berbeda—lewat tindakan.
“Tiup lilinnya dulu dong, Bu?” Kata Putra dengan nada yang tak biasa. Lembut—jauh dari suara acuh yang biasanya terdengar saat ia membalas teguran atau melawan ketika berkali-kali ditagih tugas.
Kini, kalimat itu meluncur sederhana, tanpa sikap menantang, tanpa senyum mengejek. Hanya ketulusan yang berdiri telanjang di antara mereka.
Di hadapannya, Salma merasakan sesuatu bergetar pelan di dadanya. Ada haru yang tiba-tiba menyeruak, membuat napasnya tertahan sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk dan meniup setiap lilin yang tertancap pada kue utuh beraroma cokelat manis.
“Yeeeeee…!” Sorak murid-murid serempak. Tepuk tangan pecah memenuhi kelas, tawa riang berhamburan, ada yang bersiul, ada pula yang sengaja berlebihan menggoyangkan kursi. Di tengah keramaian itu, Bu Salma tertawa kecil, tawa yang lama tak ia rasakan.
Sementara Putra refleks mundur setengah langkah, tangannya segera menyodorkan kue itu pada Salma.
Salma menerimanya dengan kedua tangan, masih tersenyum, belum sepenuhnya paham ke arah mana kejutan ini akan berlanjut.
Putra lalu kembali melangkah mundur, jemarinya merogoh saku celananya dengan gerakan yang tampak kaku—seolah ia sedang menimbang keberanian terakhir yang tersisa.
Tanpa diduga, ia bersimpuh di hadapan Salma. Lututnya menyentuh lantai kelas yang dingin, punggungnya tegap, dan kepalanya sedikit tertunduk. Gerakannya tenang, penuh hormat, seperti seorang pengawal yang mempersembahkan sesuatu kepada ratunya.
Kelas pun mendadak kembali sunyi. Riuh sorak sebelumnya luruh begitu saja, tergantikan oleh napas tertahan dan tatapan tak percaya. Dalam pikiran mereka masing-masing, ini di luar dari skenario mereka.
Putra mengulurkan tangannya. Di telapak itu terbaring sebuah gelang dari tali goni sederhana—anyamannya kasar, warnanya cokelat pucat, tanpa hiasan mewah. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan makna. Tali itu terikat rapi, kuat, seakan dibuat dengan kesabaran dan niat yang tulus.
"Buat Bu Salma." Ungkap Putra.
Salma menerimanya sambil tertawa kecil, antara dirinya terkejut , haru, tak percaya, kagum, semua campur aduk menjadi perasaan aneh sekaligus bahagia.
Ada sebuah persembahan kecil, bukan dari kemewahan, melainkan dari hati seorang murid yang memilih caranya sendiri untuk menunjukkan hormat dan terima kasih.
****