NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kecurigaan sang ibu tiri

Kecurigaan sang ibu tiri yang mulai menyadari ada sesuatu yang disembunyikan di dalam kamar itu membuat suasana menjadi semakin berbahaya bagi Anindira. Ratna, sang ibu tiri, melangkah perlahan mengelilingi kamar dengan mata yang menyipit tajam layaknya seekor burung pemangsa.

Ia menyentuh permukaan meja rias dengan ujung jarinya seolah sedang mencari partikel debu yang tidak pada tempatnya.

Hidungnya mengendus udara dengan gerakan yang sangat halus namun penuh dengan ketajaman insting yang menakutkan. Ia merasakan sisa aroma asap yang sangat samar meski jendela kamar sudah terbuka lebar sejak tadi sore.

Anindira mengepalkan tangan di balik punggungnya sambil berusaha menjaga agar detak jantungnya tidak terdengar oleh wanita itu.

"Ada bau hangus yang sangat aneh di ruangan ini, apakah kamu sedang mencoba membakar bukti rahasiamu, Dira?" tanya Ratna dengan nada suara yang sangat meragukan.

Anindira menelan ludah dengan susah payah sambil mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tetap terlihat lesu dan hancur. Ia tidak boleh membiarkan Ratna mengetahui tentang kotak warisan ibunya atau jalan rahasia yang baru saja ia temukan.

Dengan sisa keberanian yang ada, ia menatap mata ibu tirinya tanpa menunjukkan rasa takut yang sedang bergejolak hebat di dalam dada.

"Aku hanya tidak sengaja menjatuhkan lilin aroma saat sedang merasa sangat pusing tadi," jawab Anindira dengan suara yang diusahakan tetap parau.

"Jangan mencoba membodohiku karena aku tahu persis jenis api apa yang meninggalkan bau sekering ini," sanggah Ratna sambil berjalan menuju arah lemari pakaian besar.

Jantung Anindira seolah berhenti berdetak saat melihat tangan Ratna terulur untuk menyentuh bingkai kayu lemari yang sangat tua itu. Ia takut jika Ratna secara tidak sengaja menekan tuas rahasia yang menghubungkan kamar ini dengan lorong perlindungan.

Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipis Anindira saat ia melihat Ratna mulai menggeser beberapa tumpukan pakaian gantung.

"Apa yang Mama lakukan? Bukankah Mama bilang aku harus bersiap untuk pergi besok pagi?" tanya Anindira dengan nada yang sengaja dibuat sedikit meninggi.

"Aku hanya ingin memastikan anak tiriku yang tercinta ini tidak membawa barang yang memalukan ke tempat pengasingannya," sahut Ratna dengan senyum yang sangat licik.

Ratna tiba-tiba berhenti menggeledah saat matanya menangkap sebuah lekukan yang tidak wajar pada dinding di balik lemari. Ia mengetukkan punggung jarinya ke arah papan kayu tersebut untuk mendengarkan pantulan bunyi yang dihasilkan.

Suara bergema yang terdengar menunjukkan bahwa ada ruang kosong yang cukup luas di balik struktur bangunan kamar tersebut.

Anindira segera bergerak maju dan sengaja menjatuhkan sebuah vas bunga kristal di atas meja hingga pecah berkeping-keping. Suara dentuman kristal yang menghantam lantai seketika mengalihkan perhatian Ratna dari dinding rahasia tersebut.

Ratna memekik kaget sambil menatap pecahan kaca yang kini berserakan di sekitar kaki mereka yang tidak beralas kaki.

"Lihatlah betapa cerobohnya kamu, apakah kehamilan ini juga membuat otakmu ikut tumpul?" maki Ratna sambil melangkah menjauh dari pecahan kaca.

"Maafkan aku, kepalaku benar-benar berputar dan pandanganku mendadak menjadi sangat gelap," rintih Anindira sambil memegangi kepalanya dengan akting yang sangat meyakinkan.

Ratna mendengus kasar lalu memperbaiki letak selendang sutra yang tersampir di bahunya dengan gerakan yang sangat angkuh. Ia memutuskan untuk mengakhiri inspeksinya malam itu karena merasa tidak ingin mengotori kakinya dengan pecahan kristal yang tajam.

Namun, sebelum melangkah keluar dari pintu, ia sempat melemparkan pandangan penuh ancaman yang membuat bulu kuduk Anindira berdiri tegak.

"Jangan berpikir kamu bisa bernapas lega karena besok pagi aku sendiri yang akan menyeretmu ke mobil," ujar Ratna dengan suara yang sangat dingin dan penuh dengan kebencian.

Anindira jatuh terduduk di atas lantai setelah pintu kamar kembali terkunci dengan rapat dan sunyi. Ia segera merangkak menuju kolong tempat tidur untuk memastikan kotak kayu pemberian Bi Inah masih tersimpan dengan aman di sana.

Tangannya gemetar hebat saat menyentuh permukaan kayu usang yang kini menjadi satu-satunya harapan untuk melarikan diri dari neraka ini.

Ia tahu bahwa ia tidak memiliki banyak waktu lagi sebelum fajar menyingsing dan mobil pengasingan itu datang menjemputnya. Anindira mulai mengemasi beberapa helai pakaian sederhana dan menyimpan cincin biru ibunya ke dalam sebuah kantong kecil yang tersembunyi.

Pikirannya terus berputar memikirkan bagaimana caranya ia bisa melewati lorong rahasia itu tanpa memancing kecurigaan penjaga rumah yang berjaga di luar.

Suara langkah kaki ayah yang sedang berbicara dengan nada marah terdengar dari ruang tengah hingga sampai ke telinga Anindira. Ia bisa merasakan bahwa amarah sang ayah sudah tidak bisa lagi diredam oleh alasan apa pun yang ia berikan nanti.

Dengan tekad yang bulat, ia mematikan lampu kamar dan membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya yang sedang bersiap untuk melakukan sebuah pengakuan besar.

Anindira melangkah menuju arah lemari dan bersiap untuk membuka kembali pintu rahasia yang menjadi satu-satunya jalan menuju kebebasan. Ia tahu bahwa mulai malam ini, hidupnya sebagai putri bangsawan yang manja telah berakhir selamanya dan digantikan oleh perjuangan yang sangat keras.

Pengakuan yang mengguncang rumah akan menjadi senjata terakhir yang ia gunakan sebelum ia menghilang di balik kegelapan malam yang sangat sunyi.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!