Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMAN YANG TERLALU BAIK
Gelap. Apa aku mati? Sepertinya tidak. Aku masih merasakan sakit. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Sepertinya aku berhasil menghindari kematian. Aku hidup dan selamat. Entah itu berita baik atau buruk. Satu hal yang pasti, tidak ada tinju maupun tendangan yang diberikan padaku. Aku tidak mendengar suara Dimas dan teman – temannya. Aku tidak bisa bangkit untuk memastikannya. Aku hanya bisa terbaring dan melihat keatas.
Langit. Sebuah tempat yang tinggi dan indah. Tempat yang tidak bisa kucapai. Melihatnya dari bawah membuatku merasa kecil. Bagaimana ya rasanya diatas sana? Apakah tenang karena tidak ada yang mengganggu? Apakah damai karena tidak ada kebisingan? Atau malah, disana sunyi karena tidak ada siapa – siapa? Aku bertaruh kalau disana pasti menyenangkan. Meski tidak ada siapapun disana, setidaknya itu lebih baik daripada tempatku sekarang. Aku harap aku bisa pergi ke langit.
Pandanganku mulai buram. Sepertinya aku mengantuk. Padahal aku baru saja tidur sebelum perjalanan kesini. Aku tau! Aku pasti sangat mengantuk. Istirahatku masih kurang. Aku pasti sangat kelelahan atas apa yang terjadi. Aku sangat lelah. Aku ingin tidur sebentar. Iya, hanya sebentar. Biarkan aku menutup mata –
“JANGAN MATI!” Mengganggu sekali. Aku bahkan tidak bisa tidur. Aku tau ada orang yang datang, tapi aku tetap berusaha menutup mata. “Bertahanlah!” Dia menggoyang badanku, berusaha keras agar aku tetap tersadar. “Maaf!” Aku mengerti. Sepertinya sekarang bukan waktunya untuk tidur
“Kamu ngapain Awan?”
“Kamu masih hidup!” Awan terlihat senang. Dia memelukku untuk sesaat, setelahnya dia langsung mengangkat dan mengendongku menuju mobilnya. “Ayo cari obat dulu!” Dia bilang tidak jauh dari lokasi kami, ada tempat untuk istirahat. Aku tidak menolak. Lebih tepatnya tidak bisa menolak. Keadaanku sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan jenis perlawanan apapun.
Dijalan, Awan membawa mobil dengan lambat. Kecepatannya mungkin sekitar 40 km/jam. Mungkin dia takut aku terhentak jika ada jalan berlubang, atau bisa juga memang segitu kecepatan dia menyetir. Entah mana yang benar. Untuk motorku sendiri, sementara ditinggal. Awan bilang akan mengambilnya untukku setelah dia mengantarku ketempat yang dia maksud. Dia terlalu suka ikut campur. “Maaf.” Padahal dia melakukan hal baik, tapi selama perjalanan dia terus mengulang kata yang sama. Aku sudah bertanya tentang alasannya, tapi dia mengabaikanku dan tetap meminta maaf.
Kami sampai ditujuan. Benar seperti yang Awan katakan, tempatnya cocok untuk istirahat. Tapi, jujur tempatnya diluar perkiraanku. Tidak pernah terpikirkan olehku, ada orang yang akan mengajakku untuk duduk di kursi depan indomaret. Terlebih dalam keadaan babak belur. Tapi kembali lagi, keadaanku yang sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan jenis perlawanan apapun. Masih untung juga ada orang yang menolongku.
Awan membiarkanku duduk disalah satu bangku yang kosong. Dia masuk ke dalam dan tidak lama langsung kembali. Ketika keluar, aku melihat banyak sekali barang yang dia beli. Dia letakkan barang – barang tersebut diatas meja yang dekat dengan kami. Dia membeli banyak sekali obat – obatan, mulai dari yang berguna sampai yang tidak ada hubungannya dengan lukaku. Dia bahkan membeli obat diare. “Ngapain beli obat ini?”
“Itu saran dari penjaga kasirnya. Obat sakit perut.” Awan mengatakannya dengan ekspresi normal. Dia tampak serius. Membuatku berpikir kalau dia memang tidak mengerti apapun soal obat – obatan. Lebih baik aku tidak melanjutkan pembahasan. “Aku tinggal bentar ya!”
“Gakusah! Nanti aku bisa ambil sendiri.”
“Santai! Dekat kok.”
Aku tidak punya tenaga lagi untuk berdebat. Kubiarkan Awan melakukan hal yang dia inginkan. Selama menunggu, aku menetes sendiri luka – lukaku dengan obat yang diberikan Awan. Rasanya kurang berefek. Kulihat kembali barang – barang yang ada dimeja, ternyata ada alkohol. Aku tau kalau rasanya pasti akan sangat perih, tapi kalau tidak begitu, rasa sakitnya tidak berkurang. “AH!” Baru juga kutuangkan ke satu dari sekian banyaknya luka, perihnya tidak tertahankan. Sepertinya malam ini akan panjang.
Awan baru saja kembali. Kali ini dia membawa minuman. “Jus alpukat nih!” Dia memberikannya satu sambil duduk disebelahku. “Gimana lukanya?” Kugerakkan tangan dan kakiku didepannya, agar dia tau kalau aku sudah merasa lebih baik. “Maaf ya aku gak ngerti yang gituan.”
“Kamu dari tadi minta maaf mulu.” Aku mulai merasa kesal padanya. Bukan karena itu sesuatu yang buruk, tapi karena dia tampak merendahkan dirinya. Maksudku, dia sudah membantuku, tidak ada yang perlu dimaafkan dari hal itu. “Justru aku yang harusnya berterimakasih.”
“Kamu cuman gak ngerti.” Awan terlihat kurang percaya diri. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Apa ada rahasia yang dia sembunyikan dariku? Aku menunggu penjelasan darinya. “Sebenarnya, aku udah ada ….” Awan terlihat ragu untuk meneruskan kalimatnya. “Dari awal.”
“Terus?”
“Terus apaan? Aku liat kamu dipukulin!”
“Iya, lagian salahku juga berurusan sama Yasmine.”
“Bukan itu! Kamu gak ngerti?”
“Apa sih?”
Awan terlihat kesal padaku. Sebelumnya aku yang begitu padanya. Sekarang malah sebaliknya. Sepertinya kami sedang tidak nyambung. Bukan kami, sepertinya aku yang sedang tidak bisa berpikir dengan benar. “Aku ada disana. Liat kamu terus – terusan dipukul. Tapi aku gak ngapa – ngapain sampai semua selasai. Aku takut!” Perasaan yang dia tahan akhirnya berhasil tersampaikan padaku. “Kalau langsung nolongin kamu, bisa – bisa aku bernasip sama ….”
Awan memang terlalu baik. Dia memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Aku tidak berharap dia akan menolongku. Dia datang dengan sukarela meski aku tidak meminta. Siapa yang peduli jika dia sudah ada sejak awal dan tidak membelaku? Tidak ada yang peduli! Permintaan maaf pun tidak perlu. Jika itu aku, pasti aku akan melakukan hal yang sama dengannya. Malahan, aku tidak akan memiliih untuk membantu dan akan menghindar. Aku tidak ingin terlibat dengan masalah. Tapi Awan berbeda, dia tetap memilih membantuku meski tau ada kemungkinan buruk menimpanya. “Gakusah dipikirin. Justru bagus kamu gak terlibat gara – gara aku. Kamu nolong aja aku bersyukur!” Awan terlihat ragu awalnya, tapi setelah kuberikan senyuman, dia menerimanya.
Pertemananku dan Awan sudah berlangsung kurang lebih dua tahun. Aku tidak begitu mengerti kenapa dia mendekatiku, yang aku tau tiba – tiba dia ada dihidupku begitu saja. Aku sangat bersyukur atas kehadirannya. Orang baik sepertinya mau menerima diriku. Aku memang tidak pantas mengatakan ini, tapi hanya dia satu – satunya orang yang mau berteman denganku. Aku sadar kalau aku adalah orang yang membosankan, tidak ada yang akan membantah hal tersebut. Disatu sisi, dia adalah orang yang selalu terlibat dengan orang lain, sangat berbanding terbalik denganku. Aku sempat berpikir buruk tentangnya diawal, tapi hal tersebut langsung tersingkirkan. Kebaikannya benar – benar menghilangkan keraguanku.